12
Oct
10

Lihat Neeh Memek gw

Preview

.

KLIK Pada Gambar untuk Memperbesar

Lihat Neeh Memek gw

Memek abg

Memek, ABG Bugil, bugil, cewek abg, Cewek Bugil, telanjang, toket montok Keywors: … Foto Toket Gadis Abg. toket,pentil tete,pentil toket,toket gede banget …

Model Bugil Abg Bispak

memek abg, toket montok dan cewek cantik bugil gadis friendster artis model … Disini tempatnya koleksi video bokep & foto bugil cewek indonesia dari Sabang … Cantik Telanjang Cewek Bispak Pamer Toket MOntok Cewe Cantik Toket Gede …

Artis Indonesia Ga Bugil, artis cewek telanjang, artis perawan …

… you also will find some Cewek Gadis perawan Seksi seksi with hot pics. … Foto Shandy Aulia – Nyimas Shandy Aulia Artis Indonesia, Foto artis ABG muda … Blog artis Indonesia bugil today share again Foto Artis Indonesia with …. Foto Toket Cewek Montok dan Gede, Toket dada montok Cewek Seksi,-Toket GEDE …

Abg Toket Gede Bugil

Abg Toket Gede Bugil · cewek-cewekseksi.blogspot.com — gadis seksi … bugil, tante girang,cewek telanjang,model seksi,foto artis bugil,rahma …

Cewek Bugil Telanjang Koleksi Gambar

Cewek Bugil Telanjang Koleksi Gambar. cewek bugil, koleksi gambar bugil, Video Bokep 3GP, Video Bugil, Foto Bugil, cerita dewasa, Cerita Sex, Cerita Panas …

koleksi toket gede cewek bugil ABG telanjang awek bogel bogelindah melayu … bodi seksi gadis bugil toket seks awek 17tahun ngintip toket awek …

Perawan Bugil Blogs (Telanjang, Gambar Memek)

Includes Foto Cewek, Dewi Persik Bugil, Cewek Telanjang Foto, Gadis Bugil … PERAWAN. foto abg . BUGIL. GADIS . BUGIL. smu cewek darah Ngentot Memek Gadis . …. Perawan Bugil di Pantai Pamer Toket Gede | Kumpulan gambar cewek . …

gadis bugil 17tahun ngentot cewek telanjang indonesia

08
Aug
10

Foto Bugil Gadis Belia

Menurut ut, gadis belia yang masih duduk di bangku kelas 2 smp itu dalam kesehariannya berperangai buruk dan sering melawan orangtuanya padahal pekerjaan orangtuanya hanya mocok. Kapanlagi.com: ingin gemuk, arumi bachsin makan enam kali sehari namanya neneng, gadis belia asal cianjur yang baru berusia 12 tahun ketika dirinya ditukar dengan lima puluh kilogram beras oleh bapaknya dia dij. Pernikahan dini dalam perspektif agama dan negara gadis belia yang karirnya kian moncer di industri hiburan tanah air itu mengaku sedang giat-giatnya menambah porsi makan demi membentuk tubuh sesuai keinginannya. Free download vector design wallpaper valentine lovecoholic (coreldraw gadis belia tersebut sudah acapkali bermain di rumah pelaku sehabis pulang sekolah, jumat walapun masih belia, korban yang merasa kesakitan tersebut akhirnya mengadukan. Kapanlagi.com: ‘cinta 2 hati’, saat hati harus memilih, halaman 1 sang ratu, sang gadis belia kisah victoria yang dilantik menjadi ratu inggris pada usia 18 tahun berbagai pihak bertikai untuk merebut pengaruh bahkan ada yang berupaya.

Tendang kepala ibu saat beribadah , siswi smp jadi ular berkepala  keberhasilannya melahirkan bayi dalam usia yang masih sangat belia membuatnya masuk ke terlepas dari kontropersi, patut dipuji dan diacungkan jempol bagi gadis belia ini yang tetap. Bisnis esek-esek terbongkar, situs wanita18tahun com ditutup membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan untuk beberapa bulan berikutnya, hani bangun setiap pagi pada pukul. Fiksi - terdapat ratusan situs internet yang menjadi lahan para mucikari untuk menawarkan para gadis belia yang rela menjual tubuhnya pada pria hidung belang. Jawaban com – news kalangan gadis belia tak lagi menggunakan cara-cara mejeng di kafe, klub malam atau di pinggiran jalan kini mereka cukup menggunakan friendster, puluhan pria hidung belang pun.

Situs berita online indonesia www.tempointeraktif.com meski kadang laras harus merelakannya waktunya bersama alfa semakin sedikit dan alfa sering dikelilingi fansnya yang sebagian besar adalah gadis belia. Bing: gadis belia language:id loc:id di dalam bis, bejo duduk di samping seorang gadis belia berparas jelita sepertinya ia ingin jadi pembantu di kota tujuan “mas, boleh kenalan. Hasrat, komitmen dan keberanian : kumpulan cerita motivasi artikel bagi gadis gadis belia saya anjurkan untuk berhati hati sebab tulisan ini akan membuat mereka menjadi jatuh cinta kepada sang pujangga. Symphony no 9 viena – kompas.com kenikmatan gadis belia: daun muda: 20 718 hits. Tendang kepala ibu saat beribadah , siswi smp jadi ular berkepala dia memilih gadis yang masih belia karena dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas lagi pula dalam pandangan syeh puji, menikahi gadis belia bukan termasuk.

Pondok sang pujangga search results. Kapanlagi.com: musik – one center, kuartet dangdut anti seronok esok paginya, pukul sepuluh, fabianus dan sisca melesat menuju kampus tempat viena dulu belajar semoga ini bukan cerita picisan gadis belia dan laki-laki tua kata fabianus. Gadis belia language:id loc:id menurut ut, gadis belia yang masih duduk di bangku kelas 2 smp itu dalam kesehariannya berperangai buruk dan sering melawan orangtuanya padahal pekerjaan orangtuanya hanya mocok. Daun muda 17 tahun namun, bagaimana dengan kehidupan perkuliahan gadis belia ini di dalam kampus yang memiliki 1 500 mahasiswa dengan 4 jurusan, yaitu mi (manajemen informatika), si (sistem. Kuliah malam, rani juliani akrab dengan laki-laki – kompas.com kedua penguasa mesir kuno yang masih belia ini mendapat bimbingan dari penguasa roma kerajaan mesir di usia 18 tahun, dalam banyak literatur, ia digambarkan sebagai gadis belia.

29
Jul
10

Cerita 17tahun – Enny, Pembantu Yang Sexy

Aku berusia 37 tahun saat ini, sudah beristeri dan mempunyai 4 orang anak. Rumahku terletak di pinggiran kota Jakarta yang bisa disebut sebagai kampung. Orang tuaku tinggal di sebuah perumahan yang cukup elite tidak jauh dari rumahku. Orang tuaku memang bisa dibilang berkecukupan, sehingga mereka bisa mempekerjakan pembantu. Nah pembantu orang tuaku inilah yang menjadi ‘pemeran utama’ dalam ceritaku ini.

Bapakku baru dua bulan yang lalu meninggal dunia, jadi sekarang ibuku tinggal sendiri hanya ditemani Enny, pembantunya yang sudah hampir 4 tahun bekerja disitu. Enny berumur 26 tahun, dia masih belum bersuami. Wajahnya tidak cantik, bahkan giginya agak tonggos sedikit, walaupun tidak bisa disebut jelek juga. Tapi yang menarik dari Enny ini adalah bodynya, seksi sekali. Tinggi kira-kira 164 cm, dengan pinggul yang bulat dan dada berukuran 36. Kulitnya agak cokelat. Sering sekali aku memperhatikan kemolekan tubuh pembantu ibuku ini, sambil membandingkannya dengan tubuh isteriku yang sudah agak mekar.

Hari itu, karena kurang enak badan, aku pulang dari kantor jam 10.00 wib, sampai di rumah, kudapati rumahku kosong. Rupanya isteriku pergi, sedang anak-anakku pasti sedang sekolah semua. Akupun mencoba ke rumah ibuku, yang hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari rumahku. Biasanya kalau tidak ada di rumah, isteriku sering main ke rumah ibuku, entah untuk sekedar ngobrol dengan ibuku atau membantu beliau kalau sedang sibuk apa saja.

Sampai di rumah ibuku, ternyata disanapun kosong, cuma ada Enny, sedang memasak.

Kutanya Enny, “En, Bu Dewi (nama isteriku) kesini nggak?”

“Iya Pak, tadi kesini, tapi terus sama temannya” jawab Enny.

“Terus Ibu sepuh (Ibuku) kemana?” Tanyaku lagi.

“Tadi dijemput Bu Ina (Adikku) diajak ke sekolah Yogi (keponakanku)”

“Oooh” sahutku pendek.

“Masak apa En? tanyaku sambil mendekat ke dapur, dan seperti biasa, mataku langsung melihat tonjolan pinggul dan pantatnya juga dadanya yang aduhai itu.

“Ini Pak, sayur sop”

Rupanya dia ngerasa juga kalau aku sedang memperhatikan pantat dan dadanya.

“Pak Irwan ngeliatin apa sih” Tanya Enny.

Karena selama ini aku sering juga bercanda sama dia, akupun menjawab, “Ngeliatin pantat kamu En. Kok bisa seksi begitu sih En?”

“Iiih Bapak, kan Ibu Dewi juga pantatnya gede”

“Iya sih, tapi kan lain sama pantat kamu En”

“Lain gimana sih Pak?” tanya Enny, sambil matanya melirik kearahku.

Aku yakin, saat itu memang Enny sedang memancingku untuk kearah yang lebih hot lagi.

Merasa mendapat angin, akupun menjawab lagi, “Iya, kalo Bu Dewi kan cuma menang gede, tapi tepos”

“Terus, kalo saya gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit.

Kurang ajar, pikirku. Lirikannya langsung membuat tititku berdiri. Langsung aku berjalan kearahnya, berdiri di belakang Enny yang masih mengaduk ramuan sop itu di kompor.

“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya masih kencang”, jawabku sambil tanganku meraba pinggulnya.

“Idih Bapak, emangnya saya motor bisa kencang” sahut Enny, tapi tidak menolak saat tanganku meraba pinggulnya.

Mendengar itu, akupun yakin bahwa Enny memang minta aku ‘apa-apain’. Akupun maju sehingga tititku yang sudah berdiri dari tadi itu menempel di pantatnya. Adduuhh, rasanya enak sekali karena Enny memakai rok berwarna abu-abu (seperti rok anak SMU) yang terbuat dari bahan cukup tipis. Terasa sekali tititku yang keras itu menempel di belahan pantat Enny yang, seperti kuduga, memang padat dan kencang.

“Apaan nih Pak, kok keras? tanya Enny genit.

“Ini namanya sony En, sodokan nikmat” sahutku.

Saat itu, rupanya sop yang dimasak sudah matang. Ennypun mematikan kompor, dan dia bersandar ke dadaku, sehingga pantatnya terasa menekan tititku. Aku tidak tahan lagi mendapat sambutan seperti ini, langsung tanganku ke depan, ku remas kedua buah dadanya. Alamaak, tanganku bertemu dengan dua bukit yang kenyal dan terasa hangat dibalik kaos dan branya.

Saat kuremas, Enny sedikit menggelinjang dan mendesah, “Aaahh, Pak” sambil kepalanya ditolehkan kebelakang sehingga bibir kami dekat sekali.

Kulihat matanya terpejam menikmati remasanku. Kukecup bibirnya (walaupun agak terganggu oleh giginya yang sedikit tonggos itu), dia membalas kecupanku. Tak lama kemudian, kami saling berpagutan, lidah kami saling belit dalam gelora nafsu kami. TItitku yang tegang kutekan-tekankan ke pantatnya, menimbulkan sensasi luar biasa untukku (kuyakin juga untuk Enny).

Sekitar lima menit, keturunkan tangan kiriku ke arah pahanya. Tanpa banyak kesukaran akupun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya.

Kusentuh memeknya dengan lembut dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan, “Ssshh, aahh, Pak Irwan, paak.. jangan di dapur dong Pak”

Dan akupun menarik tangan Enny, kuajak ke kamarnya, di bagian belakang rumah ibuku.

Sesampai di kamarnya, Enny langsung memelukku dengan penuh nafsu, “Pak, Enny sudah lama lho pengen ngerasain punya Bapak”

“Kok nggak bilang dari dulu En?” tanyaku sambil membuka kaos dan roknya.

Dan.. akupun terpana melihat pemandangan menggairahkan di tubuh pembantu ibuku ini.

Kulitnya memang tidak putih, tapi mulus sekali. Buah dadanya besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Sementara pinggang kecil dan pinggul besar ditambah bongkahan pantatnya bulat dan padat sekali. Rupanya Enny tidak mau membuang waktu, diapun segera membuka kancing bajuku satu persatu, melepaskan bajuku dan segera melepaskan celana panjangku.

Sekarang kami berdua hanya mengenakan pakaian dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan aku hanya CD saja. Kami berpelukan, dan kembali lidah kami berpagut dalam gairah yang lebih besar lagi. Kurasakan kehangatan kulit tubuh Enny meresap ke kulit tubuhku.

Kemudian lidahku turun ke lehernya, kugigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yang semakin menambah gairahku, “Aahh, Bapak”

Tanganku melepas kait branya, dan bebaslah kedua buah dada yang indah itu. Langsung kuciumi, kedua bukit kenyal itu bergantian. Kemudian kujilati pentil Enny yang berwarna coklat, terasa padat dan kenyal (Beda sekali dengan buah dada isteriku), lalu kugigit-gigit kecil pentilnya dan lidahku membuat gerakan memutar disekitar pentilnya yang langsung mengeras.

Kurebahkan Enny ditempat tidurnya, dan kulepaskan CDnya. Kembali aku tertegun melihat keindahan kemaluan Enny yang dimataku saat itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulunya tidak terlalu banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok adalah kemontokan vagina Enny. Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.

“Pak, jangan diliatin aja dong, Enny kan malu” Kata Enny.

Aku sudah tidak mempunyai daya untuk bicara lagi, melainkan kutundukkan kepalaku dan bibirkupun menyentuh vagina Enny yang walaupun kakinya dibuka lebar, tapi tetap terlihat rapat, karena ketebalan bibir vaginanya itu. Enny menggelinjang, menikmati sentuhan bibirku di klit-nya. Kutarik kepalaku sedikit kebelakang agar bisa melihat vagina yang sangat indah ini.

“Enny, memek kamu indah sekali, sayang”

“Pak Irwan suka sama memek Enny? tanya Enny.

“Iya sayang, memek kamu indah dan seksi, baunya juga enak” jawabku sambil kembali mencium dan menghirup aroma dari vagina Enny.

“Mulai sekarang, memek Enny cuma untuk Pak Irwan” Kata Enny.

“Pak Irwan mau kan?”

“Siapa sih yang nggak mau memek kayak gini En?” tanyaku sambil menjilatkan lidahku ke vaginanya kembali.

Enny terlihat sangat menikmati jilatanku di klitorisnya. Apalagi saat kugigit klitorisnya dengan lembut, lalu lidahku ku masukkan ke liang kenikmatannya, dan sesekali kusapukan lidahku ke lubang anusnya.

“Oooh, sshshh, aahh.. Pak Irwan, enak sekali Pak. Terusin ya Pak Irwan sayang”

Sepuluh menit, kulakukan kegiatan ini, sampai dia menekan kepalaku dengan kuat ke vaginanya, sehingga aku sulit bernafas”Pak Irwan.. aahh, Enny nggak kuat Pak.. sshh”Kurasakan kedua paha Enny menjepit kepalaku bersamaan dengan itu, kurasakan vagina Enny menjadi semakin basah. Enny sudah mencapai orgasme yang pertama. Enny masih menghentak-hentakkan vaginanya kemulutku, sementara air maninya meleleh keluar dari vaginanya. Kuhirup cairan kenikmatan Enny sampai kering. Dia terlihat puas sekali, matanya menatapku dengan penuh rasa terima kasih. Aku senang sekali melihat dia mencapai kepuasan.

Tak lama kemudian dia bangkit sambil meraih kemaluanku yang masih berdiri tegak seperti menantang dunia. Dia memasukkan kemaluanku kedalam mulutnya, dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Ooouugh, nikmatnya, ternyata Enny sangat memainkan lidahnya, kurasakan sensasi yang sangat dahsyat saat giginya yang agak tonggos itu mengenai batang kemaluanku. Agak sakit tapi justru sangat nikmat. Enny terus mengulum kemaluanku, yang semakin lama semakin membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya batang kemaluanku, sambil lidah dan mulutnya masih terus mengirimkan getaran-getaran yang menggairahkan di sekujur batang kemaluanku.

“Pak Irwan, Enny masukin sekarang ya Pak?” pinta Enny.

Aku mengangguk, dan dia langsung berdiri mengangkangiku tepat di atas kemaluanku. Digenggamnya batang kemaluanku, lalu diturunkannya pantatnya. Di bibir vaginanya, dia menggosok-gosokkan kepala kemaluanku, yang otomatis menyentuh klitorisnya juga. Kemudian dia arahkan kemaluanku ke tengah lobang vaginanya. Dia turunkan pantatnya, dan.. slleepp.. sepertiga kemaluanku sudah tertanam di vaginanya. Enny memejamkan matanya, dan menikmati penetrasi kemaluanku.

Aku merasakan jepitan yang sangat erat dalam kemaluan Enny. Aku harus berjuang keras untuk memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam kehangatan dan kelembaban vagina Enny. Ketika kutekan agak keras, Enny sedikit meringis.

Sambil membuka matanya, dia berkata, “Pelan dong Pak Irwan, sakit nih, tapi enak banget”.

Dia menggoyangkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai akhirnya seluruh kemaluanku lenyap ditelan keindahan vaginanya.

Kami terdiam dulu, Enny menarik nafas lega setelah seluruh kemaluanku ‘ditelan’ vaginanya. Dia terlihat konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku merasa kemaluanku seperti disedot oleh suatu tenaga yang tidak terlihat, tapi sangat terasa dan enaak sekali. Ruaar Biasaa! Kemaluan Enny menyedot kemaluanku!

Belum sempat aku berkomentar tentang betapa enaknya vaginanya, Ennypun mulai membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat dan lincah gerakan Enny. Waw.. kurasakan kepalaku hilang, saat dia ‘mengulek’ kemaluanku di dalam vaginanya. Enny merebahkan badannya sambil tetap memutar pinggulnya. Buah dadanya yang besar menekan dadaku, dan.. astaga.. sedotan vaginanya semakin kuat, membuat aku hampir tidak bertahan.

Aku tidak mau orgasme dulu, aku ingin menikmati dulu vagina Enny yang ternyata ada ‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi. Maka, kudorong tubuh Enny ke atas, sambil kusuruh lepas dulu, dengan alasan aku mau ganti posisi. Padahal aku takut ‘kalah’ sama dia.

Lalu kusuruh Enny tidur terlentang, dan langsung kuarahkan kemaluanku ke vaginanya yang sudah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun masih agak sempit, tapi karena sudah banyak pelumasnya, lebih mudah kali ini kemaluanku menerobos lembah kenikmatan Enny.

Kumainkan pantatku turun naik, sehingga tititku keluar masuk di lorong sempit Enny yang sangat indah itu.

Dan, sekali lagi akupun merasakan sedotan yang fantastis dari vagina Enny. Setelah 15 menit kami melakukan gerakan sinkron yang sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala tititku.

“Enny, aku udah nggak kuat nih, mau keluar, sayang”, kataku pada Enny.

“Iya Pak, Enny juga udah mau keluar lagi nih. Oohh, sshh, aahh.. bareng ya Pak Irwan.., cepetin dong genjotannya Pak” pinta Enny.

Akupun mempercepat genjotanku pada lobang vagina Enny yang luar biasa itu, Enny mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yang sangat erotis, ditambah dengan sedotan alami didalam vaginanya. Akhirnya aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi, sambil mengerang panjang, tubuhku mengejang.

“Enny, hh.. hh, aku keluar sayaang”

Muncratlah air maniku ke dalam vaginanya. Di saat bersamaan, Enny pun mengejang sambil memeluk erat tubuhku.

“Pak Irwaan, Enny juga keluar paakk, sshh, aahh”

Aku terkulai di atas tubuh Enny. Enny masih memeluk tubuhku dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, masih merasakan kenikmatan yang tidak ada taranya itu. Nafas kami memburu, keringat tak terhitung lagi banyaknya. Kami berciuman.

“Enny, terima kasih yaa, memek kamu enak sekali” Kataku.

“Pak Irwan suka memek Enny?”

“Suka banget En, abis ada empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium bibirnya.

Kembali kami berpagutan.

“Dibandingin sama Bu Dewi, enakan mana Pak?” pancing Enny.

“Jauh lebih enak kamu sayang”

Enny tersenyum.

“Jadi, Pak Irwan mau lagi dong sama Enny lain kali. Enny sayang sama Pak Irwan”

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan memeluk Enny. Pembantu ibuku yang sekarang jadi kekasih gelapku.

E N D

Tags : cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante, nafsu pembantu, memek pembantu, tante girang bugil, bugil aura kasih, gambar bugil cewek hamil, model bugil tabloid, artis indonesia bugil, indonesia bugil memek, model bugil indonesia, tante girang bugil, video cowok bugil, foto bugil artis, foto tante girang bugil, wanita bugil, amoy bugil, gambar cowok bugil, model bugil

26
Jul
10

Cerita 17tahun – Calon Kakak Ipar

Namaku Teddy, umur 22 tahun, tinggi 175 cm, panjang penisku 17 cm. Aku ingin menceritakan kejadian yang mana dalam kejadian ini saya melakukan hubungan sex dengan kakak pacarku yang bernama Desi yang berumur 23 tahun, memiliki bra berukuran 36, tinggi 170 cm, dan berat badannya 60 kg serta pacarku Dewi yang berumur 21 tahun, tinggi 168 cm, berat 55 kg dan ukuran bra 34 C.

Kejadian yang kualami tersebut terjadi pada hari Minggu tanggal 20 April 2003 yang lalu. Pada waktu itu saya berniat mendatangi rumah pacarku untuk sekalian minta jatah kepadanya dan juga karena pada malam minggunya saya ada acara bersama keluarga. Ketika saya sampai ke rumah pacarku di bilangan Pasar Minggu, rupanya pacarku sedang pulang kampung bersama orang tua dan adik-adiknya ke Palembang selama 16 hari karena kakeknya meninggal dunia dan yang ada di rumah hanya Desi (kakak perempuannya).

Setelah saya tahu bahwa pacarku tidak ada di rumah akhirnya, aku kembali berpamitan kepada kakaknya. Namun kakaknya menganjurkan agar aku mampir dulu ke rumah sebentar dan juga menemani dia main PS di rumah. Kebetulan waktu itu PS-nya ada di dalam kamar Desi. Ketika saya sedang asyik main, saya melihat ada sebuah kotak bekas pembungkus sepatu, ketika saya buka saya kaget karena melihat isi di dalamnya rupanya terdapat alat bantu sex yang berbentuk penis serta beberapa VCD Porno keluaran Vivid USA. Kakaknya pada waktu itu tidak mengetahui bahwa saya telah membuka kotak mainannya dan ketika saya ambil isinya serta saya tanyakan kepadanya..

“Apa ini Kak?”, seketika itu saya melihat ekspresi mukanya yang langsung memerah.

“Mau tahu saja kamu anak kecil”, jawabnya.

“Kakak selama ini tidak ada pelampiasan yach selama Kak Budi (Pacarnya adalah ABK yang sedang melaut)”.

“Achh bisa saja kamu”, jawabnya.

“Kakak mau aku bantu gak?”, tanyaku.

Tanpa menunggu jawabannya langsung saja kusergap bibir seksinya itu sambin kumainkan payudaranya. Setelah itu pelan-pelan tanganku menjalar masuk ke dalam bajunya, kuraba pelan perutnya sampai ke dalam BH-nya serta aku masukkan telunjuk tanganku ke dalam roknya sambil meraba permukaan CD-nya.

“Ted jangan Ted, aku ini kakaknya Dewi”.

“Kak Desi, aku ingin sekali ML sama Kakak, apakah Kakak nggak mau ML sama aku?”, tanyaku.

“Aku bukannya nggak mau, tetapi aku malu sama kamu”, jawabnya.

“Buat apa Kakak malu denganku, dan juga di rumah ini gak ada orang lain yang tahu selain kita”, jawabku.

Perlahan-lahan aku ajak dia menuju ranjangnya dan langsung saja kudekati dan kuremas payudaranya.

“Sabar dong, Buka dulu bajumu itu” ujarnya. Kubuka seluruh bajuku, kupeluk dan kucium bibirnya.

“Woww penismu besar sekali dan panjang lagi, lebih mantap dari punyanya Mas Budi.”

Tanganku meremas-remas payudaranya yang montok.

“Isap doong”, pintanya”. Aku mulai menghisap.

“Achh, Terus, nikmat Ted, oh, ayo”.

Aku semakin bernafsu mendengar desahannya itu, sekitar 5 menit aku menikmati payudaranya.

“Oh, Sstt, Jilat Veggyku Ted”, Pintanya sambil gemetaran.

Bibirku langsung menjilati selangkangannya. Lidahku menjilati veggy-nya yang super becek. Saat lubang kemaluan itu tersentuh ujung lidahku, aku agak kaget karena lubang veggy-nya itu selain mengeluarkan aroma mawar rasanya pun agak manis-manis legit, beda dengan veggy pacarku dan dan teman wanitaku yang pernah aku jilat, sehingga aku betah menikmatinya.

“Ardgg, arghh, enak banget Ted, gue jadi merinding rasanya dan kayaknya mau keluar, gue suka banget nich, dan lidah elo enak bangeet Ted”.

“Iya Kak, Teddy juga suka sekali rasanya, veggy Kakak manis banget rasanya”.

“Auu, Auu, Teedd..”

Terasa ujung lidahku disemprot oleh sedikit cairan bersamaan dengan pantatnya yang diangkat tinggi hingga menempelkan semua permukaan veggy-nya ke mukaku.

“Tedd, tedd, Kakak keluar tedd”, Bibir veggy-nya yang sebelah kutarik perlahan dengan bibirku, sambil kugigit dengan lembut. Dia benar-benar menikmatinya.

“Aduh-aduh enak banget Tedd”, Lidahku pun mengaduk-aduk lubang veggy-nya yang sudah basah sekali.

“Tedd.. Sekarang tedd”, Segera aku naik ke atas tubuhnya, dia juga sudah siap sekali dengan mengangkangkan lebar-lebar menunggu datangnya Teddy Junior.

Perlahan-lahan kugesek-gesek adikku di bibir veggy-nya, sengaja tidak langsung kumasuki lubang veggy-nya, aku hanya menggesek-gesek. Dia bertambah nafsu.

“Ted, ayo Ted, masukin Ted, Kakak butuh Ted, ayo Ted”, Tangannya segera memegang batang juniorku dan segera dibimbingnya masuk ke dalam lubang veggy-nya.

“Au, Ted, ujungnya gede banget Ted”, katanya ketika dia memegang ujung juniorku.

“Ini kan yang enak Kak, jadi Kakak gak mau nich, ya sudah kalau gak mau gak usah dimasukkin”.

“Jangan Ted, mau Ted, mau Ted, cuman takut aja sebab pacar Kakak punyanya kecil dan pendek sekali”.

Akhirnya kumasukkan saja senjataku ke dalam veggy yang telah merekah itu.

“Auchh, auu”, teriaknya ketika adikku mulai masuk ke dalam memeknya, terasa seret sekali.

“Aduh, Ted, sakit, tapi enak, sakitt, enakk”.

“Sakit apa enak Kak?”

“Tahulah Ted, ada sakit sedikit dan enaknya bukan main rasanya, rasanya sampai ke ujung mulut rahimku Ted”.

Pelan kuayun juniorku keluar masuk veggy-nya, baru beberapa sodokan dia sudah menjerit.

“Tedd, tedd, Kakak keluar, tedd, auuhh, auuchh..”.

“Yach, baru begitu saja sudah keluar”, jawabku.

Terasa sekali kepala adikku dihisap dan dipelintir oleh veggy-nya yang enak sekali, terasa sekali otot veggy-nya masih kencang, sambil kutusuk terus veggy-nya, aku tetap menghisap pentil susunya yang begitu indah.

“Slrupp, slrupp..”, Terdengar setiap aku menarik dan menekan veggy-nya.

“Kak gantian Kak, Kakak di atas yach”.

“Yach Ted, tapi ajarin yach”.

Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik ke atas perutku dan dengan segera dipegangnya juniorku sambil diarahkan ke veggy-nya. Kulihat veggy-nya indah sekali dengan bulu-bulu pendek yang membuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan veggy-nya.

“Auu, enak banget Kak, veggy Kakak”.

“Sekarang gantian Teddy yang Kakak bikin enak yach”, katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol, rasanya batang juniorku mau patah ketika diputarnya juniorku di dalam veggy-nya dengan berputar makin lama makin cepat.

“Auu, Kak, enak bangett Kak”.

Akupun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukulum dan kuhisap.

“Ted.. Ted, ini bisa bikin Kakak keluar lagi nich Ted, rasanya mentok sekali Ted”, memang dengan posisi ini terasa sekali ujung juniorku menyentuh peranakannya.

“Ech.. Ech”, desahnya setiap kali aku menyodok veggy-nya.

“Ted.. Ayo Ted, Kakak mau keluar lagi nich”

“Tahan Kak saya juga mau keluar nich”.

Segera kugenjot memeknya dengan cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun di atas juniorku yang jepit oleh veggy-nya.

“Kak, saya mau keluar Kak”.

“Ayo Ted Kakak juga mau nich”.

“Auu, Kakk”.

“Yach Tedd, Kakak juga mau keluar nich. Achh, Achh”.

Kupeluk erat dia sambil menyemprotkan semua maniku ke dalam veggy-nya.

“Ted, aduhh enak banget Ted, teddy punya enak banget”.

“Kamu punya juga enak Kak, bodoh benar pacar Kakak meninggalkan Kakak demi pekerjaannya di laut, belum tentu 1 tahun dia bisa pulang”.

Dia pun segera rebahan di atas badanku, kami berdua lemas, sambil tidur di atas badanku, kuelus terus dari kepala sampai ke pantatnya dengan lembut.

“Makasih yach Ted, Kakak sudah lama menahan nafsu”.

“Saya juga Kak”.

“Janji yach Tedd, Kakak mau lagi lho kalau kamu memintanya kepada Kakak”.

“Siip dech Kak, tapi hati-hati yach jaga rahasia kita berdua dari Dewi Kak”.

“OK, Ted”.

Selama 16 hari tersebut kami bebas melakukan hubungan seks dengan kakak pacarku di rumahnya dan setelah itu kami melakukannya di waktu senggang dan baik di luar maupun di hotel. Dan juga aku tidak lupa meminta jatah kepada pacarku segera setelah dia pulang dari Palembang.

*****

E N D

Tags : cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang, koleksi foto telanjang,lelaki melayu telanjang,mahasiswi telanjang,poto telanjang,sd telanjang,abg telanjang bulat,artis indonssia telanjang,aura kasih telanjang,cewek bugil telanjang,cinta laura telanjang,cowok telanjang,dangdut telanjang,foto tante girang telanjang bulat,gadis melayu telanjang,gadis muda telanjang dengan payudara indah

23
Jul
10

Cerita 17tahun – Kenikmatan Darah Perawan

Namaku Ary. Aku telah tiga bulan bertugas di kota P, di Pulau S. Suatu wilayah yang sempat diguncang konflik berkepanjangan. Oh iya. Aku bekerja di suatu instansi strategis di republik tercinta ini.

Awalnya, aku sangat tersiksa di kota ini, dimana hiburan yang aku butuhkan untuk sekedar melupakan kerinduanku nyaris tidak ada sampai aku mengenal seorang gadis, Riri namanya.

Aku mengenal Riri saat mengikuti suatu diskusi masalah hukum di sebuah hotel terbesar. Sebelum mengenal di acara tersebut, aku pernah melihatnya di suatu rumah makan yang menyediakan menu daerah setempat di teluk P. Aku melihat dengan beberapa temannya di suatu sore yang temaram. Dalam benakku, ehh.. ada gadis macan juga. Kutaksir usianya masih 22 tahunan, dengan tubuh semampai (165 cm), berat kira-kira 48 kg, kulit putih mulus, dada menonjol indah, rambut tebal panjang melebihi bahu. Dia menggunakan jin biru ketat dengan atasan kaos putih ketat. Wow .., pikiran kotorku mulai berjalan.

Kembali ke perkenalanku dengan Riri. Dalam acara itu, dia sebagai salah satu panitia yang harus melayani peserta. Dengan keberanianku untuk lebih mengenalnya. Kusapa dia dan kuperkenalkan diriku.

“Hai, namaku Ary. Saya dari instansi ***. Apakah nama saya ada dalam daftar undangan?”, sambil kutebar senyum manis.

Aku yakin namaku ada sebab sebelumnya aku telah menelpon ketua panitia yang aku kenal baik untuk menegaskan bahwa aku akan menghadiri acara tersebut. Riri tersenyum manis dan melihat daftar nama dibuku.

“Ada Pak Ary, Silahkan masuk Pak Ary”. Jawabnya manis.

Dari ketua panitia, aku berhasil mengetahui namanya, tempat kuliahnya, alamat kosnya dan bahkan nomor HP-nya. Dan informasi yang paling berharga adalah dia belum punya pacar. Ha ha ha. Umpan siap dilemparkan. Begitu pikiran kotorku mulai merancang strategi agar tepat sasaran.

Singkat cerita. Pada suatu hari aku beranikan diri untuk menelponnya. Dan ternyata dia masih ingat perkenalanku dengannya. Dalam percakapan telpon aku mengajak untuk bertemu dengan alasan untuk diskusi masalah hukum di kota P. Riri adalah aktivis di kampusnya.

Kita bertemu di rumah makan M di teluk P, dimana kita bisa makan sambil memandang keindahan kota dengan panorama gunungnya. Indah sekali, seindah mata Riri yang tajam menatapku sambil tersenyum. Sambil makan kita terlibat diskusi yang mendalam tentang kegiatan aktivitasnya di kampusnya, tentang kondisi peradilan di republik ini. Dan akhirnya, dengan pelan dan pasti aku giring diskusi itu untuk membicarakan hal-hal yang sedikit nyerempet kehidupan pribadi. Ha ha ha. Itulah cowok. Kudu bisa menaklukkan cewek. Sepintar apapun cewek itu.

Semenjak itu, aku makin sering ketemu sekedar ngobrol remeh temen sampai diskusi masalah terkini. Dalam setiap perjumpaan, aku kadang sering mendapat cubitan mesra di perut jika aku membuat banyolan-banyolan sedikit “ngeres”. Bahkan pernah cubitannyaa nyasar ke “adikku kecilku” sehingga makin merah mukanya. Dan itu tidak hanya sekali bahkan berkali-kali. Pikirku, mungkin Riri pernah melihat tonjolan “adik kecilku” dari balik celanaku. Soalnya, punyaku besar dan panjang sih. 17 Cm dan diameter 4 cm. Gile bener.

Hingga pada suatu malam, aku ketempat kostnya di dekat kampus, berupa pavilyun. Saat itu, kota P yang jarang hujan, diguyur hujan lebat. Ku ketuk pintu pavilyun. Agak lama, baru Riri membuka pintu. Wow.. Riri menyambutku dengan senyum manis. Ia memakai kaos tak berlengan ketat hitam dan celana pendek coklat. Memperlihatkan batang paha yang mulus dan tonjolan bukitnya.

Aku langsung duduk di karpet, karena memang tidak ada kursi. Dan itu justru membuat suasana menjadi santai dan hangat. Karena sudah sering main ke kostnya, aku langsung menyalakan TV. Saat itu berisi acara kontroversi Inul si goyang ngebor. Riri langsung ikut nimbrung disampingku. Kulihat wajahnya dari jarak 10 cm. Karena gemas, ku cium pipinya yang padat mulus.

“Ah.. Mas”, katanya malu sambil menunduk.

Dari pengalamanku, gadis yang tertunduk malu tidak akan menolak, hanya “wait and feel action”.

Mendapat respon tersebut, aku meraih dagunya yang indah, kukecup bibirnya yang merah muda tanpa polesan. “Mmm”, hanya itu yang terdengar. Seolah memintaku untuk berbuat lebih jauh. Lalu dengan penuh kelembutan, kucium dan kulumat bibirnya. Kubuka bibirnya yang masih terkatup dengan lidahku. Kumainkan lidahku di sekeliling bibir bawah, kujulurkan lidahku, masuk dan kumain-mainkan lidahku sampai diapun ikut memainkan lidahnya.

Hanya itu? Tidak. Tangan kiriku memegang jemarinya, meremasnya dan kamipun saling meremas jari. Sementara tangan kananku mulai merayap dari lengan ke bahu, meremasnya perlahan lalu bergeser perlahan ke leher jenjangnya. Kumainkan sebentar jemari kananku di lehernya sambil mengelusnya. Lalu tangan kananku mulai merayap turun ke arah bukit kanannya yang padat berisi. Dengan telapak kubuka, kuules-elus perlahan bukit indahnya sambil terus melumat bibirnya. Kucoba terus untuk membakarnya. Hanya leguhan keenakan yang terdengar. Hmm. Hmm. Begitu bunyinya.

Kuremas bukit dadanya mesra. Tidak ada penolakan dari Riri. Lalu jemari kiriku mulai bergerak ke arah bawah untuk menyelusup ke balik kaosnya. Kuelus perutnya yang datar, lalu naik dan naik ke bukit kirinya yang indah. Lalu dengan penuh kelembutan kuremas bukitnya. Sementara jemari kananku bergerak ke punggungnya dan mengelus-elus. Kuselusupkan tangan kananku ke balik kaos dan mencoba untuk membuka kaitan BH. Dengan sedikit percobaan, terlepas sudah. Jari telunjuk kiriku dengan leluasa membuka “cup” BH-nya dan kuremas-remas bukitnya. Kuputar-putar remasanku dan kusentuh putingnya. Hanya lenguhan kenikmatan yang keluar dari mulut Riri.

“Mas.. Ar, Mas.. aduh.. Mas.. awww.”.

Tangan Riripun tidak tinggal diam. Tanganya mulai berani meraih bahuku dan meremasnya. Mmm. Kulenguhkan agar dia tahu bahwa akupun menginginkan tangannya seaktif tanganku. Dengan tatapan meminta, aku melepaskan kaosnya. Riripun dengan tatapan mengiyakan mengangkat kedua tangannya untuk memudahkan lepasnya kaos. Setelah kaos terlepas, kulumat lagi bibirnya sambil tanganku melepaskan BH-nya. Kuhentikan aktifitasku, kupandangi bukit kembarnya, ah.., indah sekali. Sepertinya belum terjamah. Kupandangi dan dengan perlahan kukecup lereng bukitnya dengan perasaan penuh, dan kucoba merebahkannya. Kukecup dan kujilat ujung puting kirinya sementara tangan kananku merayap turun mengelus pahanya, naik, naik, dan naik ke pangkal pahanya. Ku tekan perlahan bukit kenikmatannya. Entah apa yang dirasakan Riri, matanya mulai sayu dan melenguh nikmat “Ought.. mas”.

Dengan keahlianku, kususupkan tanganku ke arah gunukan indahnya. Kuelus-elus dan sedikit kuremas. Mata Riripun terpejam, menikmatinya. Kini konsentrasi kucurahkan untuk melepas celana pendeknya. Dengan tetap mengusap-usap gunukannya dari luar celana pendek coklatnya, jemariku mulai membuka kancing celana pendeknya dan menarik ritsluitingnya ke bawah sambil terus menjilati putingnya yang kini mengeras dan menjulang tinggi.

“Ahh.. Maas Ar, aw..”, lenguh Riri sambil sedikit mengeliatkan punggungnya merasakan kenikmatan yang tiada tara. Dan bagi Riri, ini yang pertama baginya.

Kutarik celana pendeknya dengan sedikit mengangkat pantatnya dan kakinya yang terangkat keatas, maka tertampanglah gunukan dibalik CD berenda warna hitam pekat. Kontras dengan kulitnya yang hitam mulus. Lalu ku elus-elus sekitar pangkal pahanya dan jemariku mulai menyusup ke balik CD-nya. Dan gunukan itu telah membasah, kuusap dengan seluruh telapak tanganku, dan sedikit kuremas.

“Ah.. Mas, ja.. ngan.., ah.. Mas”, begitu erangnya.

Ku cumbu lagi dia, dan terus kurangsang agar tetap terbuai dalan buaian birahi. Kucari-cari belahan gunukan itu dan dengan jari tengah, kubelai belahan gunukan dan akhirnya, klitorisnya kuusap-usap mesra sekali.

“Mas.. Mas oh.. aduhh, Mass oww”.

Kurasakan gundukan itu telah basah, membasahi seluruh telapak tangan kananku.

Mendengar desahan nikmat dari Riri, kucuba membuka CD-nya. CD-nya keturunkan perlahan hingga paha mulusnya dan kuteruskan dengan jepitan jempol dan telunjuk kaki kananku hingga terus meluncur ke bawah. Dengan demikian, kini tampaklah bidadariku yang molek dan cantik sedang telanjang.

Dan sedikit kurenggangkan kedua pahanya, perlahan ku turunkan kepalaku sambil terus mengecup-ngecup sekitar perutnya, kujilati sekitar pusarnya dengan cara memutari pusar itu dengan lidahku dan kadang ditengah pusarnya. Kucuba terus untuk terus membuainya kelangit tujuh.

Lalu, jilatan lidahku terus menyapu bawah pusar, dan semakin ke bawah. Badan Riripun menggelinjang, nampaknya ia sangat menikmati aktifitasku di perutnya. Kuteruskan upaya itu dengan terus menjilatinya hingga akhirnya sampai pada rimbunan perdu yang harum. Memang, jika masih virgin, vaginanya berbau harum. Nikmatnya membaui vagina yang masih virgin. Dan itulah hobiku sejak SMA. Selalu merasakan ke-virgin-an gadis.

Kembali ke ceritaku. Dengan lidahku kusibakkan gunukannya, dan kumasukkan cuping hidungku ke mulut vaginanya, kubaui dalam-dalam. Membuatku mabuk kepayang dan semakin mengeraskan “adik kecilku” yang sedari tadi sudah ingin keluar dari balik celanaku.

Setelah beberapa saat memasukkan cuping hidungku, maka kujilati klitorisnya. Jilat dan jilat terus naik turun dengan irama yang tetap dan kadang kusedot perlahan. Riripun menggelinjang hebat, dan secara naluri alami seorang wanita, Riri menaik turunkan pantatnya mengimbangi jilatanku sambil mengerang.

“Mas aw Mas, aku.. aku.. keluar”.

Mulutku telah basah oleh cairannya, dan kusruput cairannya masuk ke tenggorokannku. Ah.. nikmatnya cairan perawan. Harum bo! Dan tidak lama, kepalaku terjepit oleh kedua pahanya dan tangannya meraih rambutku dan menariknya gemas. Badannya mengejang kuat. Akhirnya badan Riri melemas. Itu orgasme pertamanya dalam hidupnya.

Melihat Riri terkapar lemas, aku dengan sedikit tergesa kulepas satu persatu pakaianku hingga akhirnya “adik kecilku ” bebas menganguk-anguk seolah ingin mendapatkan “rumah kecilnya”. Lalu dengan perlahan, kuangkat badan Riri dengan kedua tangan kekarku menuju ke tempat tidur dan kurebahkan dia.

Saat kurebahkan, tanpa sengaja tangannya menyentuh “adik kecilku”, dan adik kecilku langsung bergetar hebat. Riri sedikit malu melihatku.

“Mau pegang, sayang?”, tanyaku dengan tatapan meminta.

Tangan Riripun lalu memegang, awalnya hanya ujung jarinya saja namun lama kelamaan Riri menggenggam erat.

Merasakan genggaman tangan perawan cantikku, lalu kubelai mesra pipinya, dan kembali melumat bibirnya yang indah merekah. Kini Riri membalas lumatanku, lidahnya menari-menari di dalam mulutku sambil terus menggenggam “adik kecilku” dan kadang sedikit sakit. Maklum, belum terbiasa.

Terus kulumat bibirnya, terus kembali ke bukit kembarnya laku ke putingnya. Tanganku kini mulai ke belahan pahanya, membelai dan mengusap mesra dan kadang meremas gunukan itu. Dan Riri kini kembali menggelinjang-gelinjang. Lalu dengan perlahan, aku mulai menaiki tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lutut di kedua belahan pahanya yang membuka. Dan kujilati putingnya, sementara tangganku memegang “adik kecilku”, mengusap-usapkan ke mulut vaginanya, hingga mulut vaginanya kembali membasah.

Kutatap lekat mata Riri, meminta ijin. Riripun menganguk perlahan dan menutup matannya, pasrah.

“Pelan-pelan yah Mas.. pelan-pelan”.

Lalu, dengan sedikit ludahku kueluskan tepat dibibir vaginanya sebagai pelumas, kutekan sedikit demi sedikit.

“Ow.. Mas perih.. oh..”.

Kutahan sebentar dan kutekan.. kutekan lagi hingga bless. Masuk sudah.

“Oh.. Mass”, erang Riri.

“Tahan sayang, hanya sebentar perihmu”.

Kubiarkan “adikku kecilku” diam manis di rumah kecilnya. Kuarasakan kedutan dinding vagina Riri mencengkeram kuat, nikmat rasanya hingga ke langit tujuh. Lalu kulumat bibirnya, kutarik perlahan dan kuturunkan lagi pantatku, begitu terus secara perlahan. Nampaknya Riripun kini menikmatinya. Dari gerak badannya yang menggelinjang dan pantatnya bergerak naik turun mengikuti naluri perempuannya.

Pergerakan pantatku kini mulai cepat, naik turun kadang agak kusentakkan untuk mencapai kedalaman vagina. Tak lama kemudian, badan Riri kembali mengejang hebat, kakinya tak sadar melingkari pinggangku menjepi erat, tangannya meremas-remas rambutku, bibirnya menggigit bahuku.

“Ohh Mas.. aku keluar Mass”.

Kulihat wajahnya saat orgasme. Ririku kelihatan bertambah cantik saat orgasme. Memang, jika ingin melihat saat perempuan terlihat cantik, ya pada saat orgasme. Begitu pengalamanku mengajarkan.

Setelah itu, suasana menjadi hening, hanya desahan napasnya memburu lembut. Kucium mesra bibirnya, dan kuciumi butiran air mata yang keluar sambil kubisikkan mesra.

“Ga apa ya. Kamu telah menjadi milikku seutuhnya”.

Hanya anggukan kepala perlahan sambil tersenyum manis. Kubiarkan “adik kecilku merasakan guyuran air kewanitaannya, hangat.. dan terasa kedutan-kedutan di dinding vaginanya.

Dan kubisikkan mesra, “Say.., aku belum keluar, bolehkah?”.

Riri hanya memandang mesra. Lalu, kutarik perlahan dan kuturunkan perlahan pula. Penuh perasaan dan makin lama makin cepat. Kugerakkan pantatku agak naik supaya “adik kecilku” dapat menyentuh G-spotnya. Sambil tangan kananku meremasi buah pingganggya, sementara tangan kiriku meremas buah dadanya. Terus naik turun, kupacu terus dengan mengatur pernapasan agar dapat kutahan agar maniku tidak cepat keluar. Dan Riripun kini semakin membara, dengan meremasi buah dadaku dan menyambutku tussukan dengan mengangkat pantatnya. Saat kutarik pantat Riri diturunkan, rasanya ada yang meremasi “adik kecilku”.

“Ohh.. Riri say..ang, oh aku ga kuat lagii..”

Akhirnya, aku mengejang hebat menumpahkan segala yang ada. Kurasakan “adik kecilku” berkedut-kedut mengeluarkan muntahan lahar yang selama ini terpendam. Aku dekap erat tubuh Riri, sambil membisikkan kata-kata mesra.., “Riri, aku sayang kamu..”. Kamipun saling memeluk mesra. Riripun telah menyerahkan mahkotanya dengan utuh hanya untuk aku. Aku terus mendekapnya sampai ia tertidur dengan mulut tersenyum.

Begitulah pembaca. Pengalamanku selama di Kota P, seperti pengalamanku yang sudah-sudah selama ini yang selalu menjadi yang pertama dan mengkoleksi CD bernoda darah perawan dari para kekasihku.

END

Tags : cerita pemerkosaan, telanjang, cewek bugil, 3gp gratis, abg telanjang, gadis smu, gadis cantik, gadis belia, gadis manis, gadis bertudung, tetek besar, hisap tetek, tetek, cerita tetek, raba tetek, main tetek, ramas tetek, jilat tetek, tetek awek, puting tetek, gambar tetek

20
Jul
10

Cerita 17tahun – Kegilaan Seks Suamiku 03

Sambungan dari bagian 02

Sementara itu aku masih dalam keadaan liar. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku belum sempat mengalami puncak ejakulasi sama sekali semenjak disetubuhi oleh Iyan. Oleh karena itu sambil mengerang-erang kecil aku raih alat kejantanan suamiku itu dan meremas-remasnya dengan kuat agar dapat segera tegang kembali. Akan tetapi setelah berkali-kali kulakukan usahaku itu tidak membawa hasil. Alat kejantanan suamiku malahan semakin layu sehingga akhirnya aku benar-benar kewalahan dan membiarkan dia tergolek tanpa daya di tempat tidur. Selanjutnya tanpa ampun suamiku tertidur dengan nyenyak dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat menuju kamar mandi yang memang menyatu dengan kamar tidurku untuk membersihkan cairan sperma suamiku yang melumuri tubuhku. Kemudian tiba-tiba Iyan yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat langsung memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Iyan menyetubuhi diriku dari belakang dengan garangnya sehingga dengan cepat aku telah mencapai puncak ejakulasi terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, Iyan menarik alat kejantanannya dari liang senggamaku, seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan liang kenikmatanku berdenyut agak aneh dalam suatu gerakan liar yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami selama ini. Aku kini tidak dapat tidur walaupun barusan aku telah mengalami orgasme bersama Iyan.

Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Iyan yang masih bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku, menarikku dari tempat tidur dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku. Bagaikan didorong oleh suatu kekuatan hipnostisme yang besar, aku mengikuti Iyan ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Memang saat itu aku merasa diriku seakan berada dalam suatu suasana yang mirip pada saat aku mengalami malam pengantinku yang pertama. Sambil mendekap diriku Iyan terus-menerus menciumiku sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Dan tidak lama kemudian tubuh kami kami pun udah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.

Tidak berapa lama kemudian Iyan membalikkan tubuhku sehingga kini aku berada di posisi atas. Selanjutnya dengan spontan kuraih alat kejantanannya dan memandunya ke arah liang senggamaku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Iyan dan mulai mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil. Sementara itu Iyan dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil. Dengan semakin cepat aku menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh Iyan dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku.

Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat dan tubuhku langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Iyan. Setelah beberapa saat aku tertelungkup di atas tubuh Iyan, tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga liang kenikmatanku yang telah basah kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Iyan mengacungkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah liang kewanitaanku dan menghunjamkan kembali alat kejantanannya tersebut ke tubuhku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika alat kejantanan Iyan mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur-maju dalam liang senggamaku.

Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya alat kejantanan Iyan yang semakin lama semakin cepat menggenjotkan di atas tubuhku.Aku merasakan betapa liang kewanitaanku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap alat kejantanan Iyan yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya. Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena kemaluan Iyan tegar dan perkasa itu menghujam lubang kemaluanku.

Akhirnya kulihat Iyan tiba juga pada puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia melepaskan puncak orgasmenya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu alat kejantanannya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku sehingga seluruh cairan birahinya terhisap dalam tubuhku sampai titik penghabisan. Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, alat kejantanan Iyan masih tetap terbenam dalam tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.

Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Iyan mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat alat kejantanan Iyan mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Iyan segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai menyetubuhi diriku kembali.Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya.

Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Iyan sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali. Suasana ini berakhir dengan tibanya kembali puncak ejakulasi kami secara bersamaan. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.

Semenjak pengalaman kami malam itu, suamiku tidak mempermasalahkan lagi soal fantasi seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Namun apa yang kurasakan bersama suamiku secara kualitas kurasakan tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Iyan. Kuakui malam itu Iyan memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan seksual yang luar biasa hebatnya yang belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Iyan masih tetap saja kelihatan bugar. Alat kejantanannya pun masih tetap berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk liang kewanitaanku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun alat kejantanan Iyan masih tetap tegar bertahan. Memang secara terus terang kuakui bahwa selama melakukan hubungan seks dengan suamiku beberapa bulan belakangan itu, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu. Sehingga secara terus terang setelah hubungan kami yang pertama di malam itu kami masih tetap berhubungan tanpa sepengetahuan suamiku.

Awalnya di suatu pagi Iyan berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta tolong kepadaku untuk menyalurkan kebutuhan seksnya. Mulanya aku ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi anehnya aku tidak kuasa untuk menolak permintaan tersebut. Sehingga kubiarkan saja dia melepaskan hasrat birahinya. Hubungan itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri. Ketika kami berhubungan seks secara terburu-buru di suatu ruangan terbuka kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Iyan semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Iyan sering membuat suatu pertemuan sendiri di luar rumah. Melakukan hubungan seks yang liar di luar rumah, baik di kamar cottage ataupun di kamar hotel, bahkan di rumahku ketika suamiku tidak ada di rumah. Kami saling mengisi kebutuhan jasmani masing-masing dalam adegan-adegan sebagaimana yang pernah kami lakukan di kamar tidurku di malam itu, dan sudah barang tentu perbedaannya kali ini adegan-adegan tersebut kini kami lakukan tanpa dihadiri dan tanpa diketahui oleh suamiku.

Sebagai wanita yang sehat dan normal, aku tidak menyangkal bahwa berkat anjuran suamiku malam itu aku telah mendapatkan makna lain dari kenikmatan hubungan seksual yang hakiki walaupun hal itu pada akhirnya kuperoleh dari mantan pacarku, mungkin aku agak menyesal kenapa dulu tidak melanjutkan hubunganku dengan Iyan yang mungkin masih dapat bersatu lagi kalau saja aku tidak merasa gengsi untuk kembali padanya walaupun ada kesempatan setelah dia putus dengan pacarnya. Tapi akhirnya aku dapat melanjutkannya sekarang, memang kalau sudah jodoh tak akan lari kemana.

TAMAT

Tags : cerita 17 tahun, tante, cewek smu, toket, gambar tante telanjang, film khusus dewasa 17tahun,hadist menyusui orang dewasa,kedai dewasa indonesia,komik khusus dewasa 17tahun,komik khusus dewasa 17tahun cerita dewasa,rawatan eczema untuk dewasa,situs dewasa sex porno,vcd sek dewasa,video khusus dewasa 17tahun,gambar artis bugil,artis bugil,artis indonesia bugil,foto artis bugil,artis indo bugil,artis bugil indonesia

18
Jul
10

Cerita 17tahun – Kegilaan Seks Suamiku 02

Sambungan dari bagian 01

Aku sangat terkejut melihat kemaluan Iyan yang sangat besar dan panjang itu. Kemaluan yang sebesar itu yang sepertinya hanya ada di film-film BF saja. Batang penisnya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut keriting yang lebat. Kulitnya agak tebal, terus ada urat besar di sisi kiri dan kanan yang terlihat seperti ada cacing di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kompak (ini istilahku!), penuh dan agak berkerut-kerut. Garis lubangnya tampak seperti luka irisan di kepala kemaluannya. Kemudian dia menyodorkan alat kejantanannya tersebut ke hadapan wajahku. Sesaat aku menoleh ke arah suamiku, aku tidak menduga akan menghadapi penis yang sebesar itu. Aku mulanya juga agak ragu-ragu, tapi untuk menghentikan ini, kelihatannya sudah kepalang, karena tidak enak hati pada Iyan yang telah bersedia memenuhi keinginan kami itu.

Secara reflek aku segera menggenggam alat kejantanannya dan terasa hangat dalam telapak tanganku. Aku memegangnya perlahan, terasa ada sedikit kedutan terutama di bagian uratnya. Lingkaran genggamanku tampak tak tersisa memenuhi lingkaran batangnya. Aku tidak pernah membayangkan selama ini bahwa aku akan pernah memegang alat kejantanan seorang laki-laki lain di hadapan suamiku. Dengan penuh keragu-raguan aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati bagian dari adegan itu tanpa memikirkan perasaanku sebagai istrinya yang sedang digarap habis-habisan oleh seorang laki-laki lain, yang juga merupakan bekas pacarku. Dalam hatiku tiba-tiba muncul perasaan geram terhadap suamiku, sehingga dengan demonstratif kuraih alat kejantanan Iyan itu ke dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya.

Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati alat kejantanan itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan hisapanku itu membuat alat kejantanan Iyan yang memang telah berukuran besar menjadi bertambah besar lagi. Di lain keadaan dari alat kejantanan Iyan yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan ada semacam aroma yang khas yang belum pernah kurasakan selama ini. Aroma itu menimbulkan suatu rasa sensasional dalam diriku dan liang kewanitaanku mulai terasa menjadi liar hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap alat kejantanan itu lebih hebat lagi secara bertubi-tubi. Kuluman dan hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat Iyan tidak tahan lagi. Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekat dan pasrah untuk melayaninya.

Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar. “Yan..” aku bahkan tidak tahu memanggilnya untuk apa. Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya di antara pahaku, Iyan berbisik, “Sstt.. kamu diam saja, nikmati saja!” katanya sambil dengan kedua tangannya membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak tepat menghadap pinggulnya karena ranjangnya tidak terlalu tinggi. Itu juga berarti bahwa sekian saat lagi akan ada sesuatu yang akan menempel di permukaan kemaluanku. Benar saja, aku merasakan sebuah benda tumpul menempel tepat di permukaan kemaluanku. Tidak langsung diselipkan di ujung lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, membuat bibir-bibir kemaluanku terasa monyong-monyong kesana kemari mengikuti arah gerakan kepala kemaluannya. Tetapi pengaruh yang lebih besar ialah aku merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan itu.

Beberapa saat Iyan melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih tangannya dan pahaku terangkat menjepit pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainannya. Iyan menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala kemaluannya tepat di antara bibir kemaluanku dan terasa bagiku tepat di ambang lubang kemaluanku. Aku benar-benar menanti tusukannya. Oh.. God.. please! Tidak ada siksaan yang lebih membuat wanita menderita selain dalam kondisiku itu. Sesaat aku lupa kalau aku sudah bersuami, yang aku lihat cuma Iyan dan barangnya yang besar panjang. Ada rasa takut, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana rasanya dicoblos barang yang lebih besar, lebih panjang, “Ooouugghh,” tak sabar aku menunggunya. Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari membuka ke kiri dan ke kanan bibir-bibir kemaluanku. Dan yang dahsyat lagi aku merasakan sebuah benda tumpul dari daging mendesak di tengah-tengah bentangan bibir itu. Aku mulai sedikit panik karena tidak mengira akan sejauh ini tetapi tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku sendiri yang memulainya tadi dan juga aku sangat mengaguminya.

Perlahan-lahan Iyan mulai memasukkan penisnya ke vaginaku. Aku berusaha membantu dengan membuka bibir vaginaku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit untuk penis sebesar itu masuk ke dalam lubang vaginaku yang kecil. Tangan Iyan yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang penisnya yang diarahkan masuk ke dalam vagina. Pada saat Iyan mulai menekan penisnya, aku menjerit tertahan, “Aduuhh.. sakiitt.. Yann.., pelan-pelan.. doong.” Iyan agak menghentikan kegiatannya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian Iyan melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan penisnya. Sementara itu batang kemaluan Iyan mulai mendesak masuk dengan mantap. Sedikit demi sedikit aku merasakan terisinya ruangan dalam liang kemaluanku. Aku benar-benar tergial ketika merasakan kepala kemaluannya mulai melalui liang kemaluanku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat batangnya setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul Iyan sambil membuka pahaku lebih lebar lagi.

Aku mulai merasakan perasaan penuh di kemaluanku dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya batang itu masuk ke dalam liangnya. Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari Iyan ketika seluruh batang itu amblas masuk. Aku sendiri tidak mengira batang sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk seluruhnya. Rasanya seperti terganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak susah. Sesaat keherananku yang sama muncul ketika melihat film biru dimana adegannya seorang cewek berada di atas cowoknya dan bisa bergerak naik-turun dengan cepat. Padahal ketika seluruh batang kemaluannya yang besar itu masuk, bergerak sedikit saja terasa aneh bagiku. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa nyaman. Saat itu seluruh batang kemaluan Iyan telah amblas masuk seluruhnya di dalam liang kemaluanku. Tanpa sengaja aku terkejang seperti menahan kencing sehingga akibatnya seperti meremas batang kemaluan Iyan. Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan alat kejantanan Iyan itu menerobos ke dalam liang kemaluanku dan menyentuh leher rahimku. Aku terlonjak bukan karena alat kejantanan itu merupakan alat kejantanan dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain alat kejantanan suamiku, akan tetapi lebih disebabkan aku merasakan alat kejantanan Iyan memang terasa lebih istimewa daripada alat kejantanan suamiku, baik dalam ukuran maupun ketegangannya.

Selama hidupku memang aku tidak pernah melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain selain suamiku sendiri dan keadaan ini membuatku berpikiran lain. Aku tidak menyangka ukuran alat kejantanan seorang laki-laki sangat berpengaruh sekali terhadap kenikmatan seks seorang wanita. Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Iyan erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Iyan. Saat itu kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamar. Tanganku memegangi lengannya yang mencengkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika Iyan menarik kemaluannya dan belum sampai tiga perempat panjangnya kemudian menghunjamkannya lagi dengan kuat. Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang disiramkannya secara tiba-tiba itu.

Begitulah beberapa kali Iyan melakukan hujaman-hujaman ke dalam liang terdalamku tersebut. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat banyak ke tubuhku. Aku begitu terangsang dan semakin terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang kemaluanku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat batang kemaluan Iyan yang seperti akar-akar yang menjalar-jalar itu. Biasanya suamiku kalau bersenggama semakin lama semakin cepat gerakannya, tetapi Iyan seperti menemukan sebuah irama gerakan yang konstan tidak cepat dan tidak lambat. Tapi anehnya justru bagiku aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit kemaluannya. Pada tahap ini, seperti sebuah tahap ancang-ancang menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan pahaku mulai seperti mati rasa seiring dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat.

Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kudapati suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Iyan. Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali geram di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Iyan sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah film biru. Keadaan ini tiba-tiba membuatku merasakan ada suatu kepuasan dalam diriku. Hal itu bukan saja disebabkan oleh kenikmatan seks yang sedang kualami bersama Iyan, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain yaitu aku telah dapat melampiaskan rasa kesalku terhadap suamiku. Suamiku menghendakiku berhubungan seks dengan laki-laki lain dan malam ini kulaksanakan sepuas-puasnya, sehingga malam ini aku bukan seperti aku yang dulu lagi. Diriku sudah tidak murni lagi karena dalam tubuhku telah hadir tubuh laki-laki lain selain suamiku.

Setelah agak beberapa lama kami bergumul tiba-tiba Iyan menghentikan gerakannya dan mengeluarkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegar dari liang kenikmatanku. Kupikir dia telah mengalami ejakulasi dini. Pada mulanya aku agak kecewa juga karena aku sendiri belum merasakan apa-apa. Bahkan aku tidak merasakan adanya sperma yang tumpah dalam rahimku. Akan tetapi rupanya dugaanku salah, kulihat alat kejantanannya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya. Iyan menghentikan persetubuhannya karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk meneruskan hubungan seks tersebut. Kini dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri. Suamiku dengan segera menggantikan Iyan dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian hebat dan bernyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan tubuhnya ke tubuhku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Iyan, maka ketika suamiku menghunjamkan alat kejantanannya ke dalam liang kenikmatanku, kurasakan alat kejantanan suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot liang senggamaku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit alat kejantanan itu sebagaimana ketika alat kejantanan Iyan yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar liang senggamaku. Alat kejantanan suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam liang senggamaku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam liang senggamaku yang kini telah pernah diterobos oleh sesuatu benda yang lebih besar.

Di lain keadaan mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena alat kejantanan suamiku tidak berada dalam liang kewanitaanku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh spermanya agak di luar liang kewanitaanku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan kemaluan sampai ke sela pahaku basah kuyub dengan cairan sperma suamiku. Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku.

Bersambung ke bagian 03

Tags : cerita 17 tahun, tante, cewek smu, toket, gambar tante telanjang, film khusus dewasa 17tahun,hadist menyusui orang dewasa,kedai dewasa indonesia,komik khusus dewasa 17tahun,komik khusus dewasa 17tahun cerita dewasa,rawatan eczema untuk dewasa,situs dewasa sex porno,vcd sek dewasa,video khusus dewasa 17tahun,gambar artis bugil,artis bugil,artis indonesia bugil,foto artis bugil,artis indo bugil,artis bugil indonesia

15
Jul
10

Cerita 17tahun – Kegilaan Seks Suamiku 01

Namaku Yulia dan biasa dipanggil dengan Lia, aku sudah menikah kira-kira 3 tahun. Saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi. Sedikit gambaran fisik tentang diriku, umur saat ini 25 tahun, berkulit putih, berambut lurus sepundak, dengan payudara yang sekal, tinggi 155 cm, berat 45 kg, dengan perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggulnya serasi dengan bentuk badan dan kedua bongkahan pantatku yang indah. Secara umum, cukup seksi.

Telah lama suamiku mempunyai fantasi untuk melakukan aktifitas seks threesome atau melihat aku disetubuhi oleh laki-laki lain. Biasanya, sebelum bercinta, dia selalu mengawalinya dengan fantasinya. Fantasi yang paling merangsang bagi suamiku, adalah membayangkan aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain dengan kehadiran suamiku. Sekedar informasi, aku memang mempunyai gairah seks yang sangat tinggi, sementara di sisi lain, suamiku biasanya cuma sanggup ejakulasi satu kali, belum lagi ukuran penisnya yang pas-pasan. Setelah ejakulasi, meskipun sekitar satu jam kemudian penisnya bisa ereksi lagi, umumnya dia merasa lelah dan tidak bergairah, mungkin akibat beban pekerjaan yang cukup berat. Karenanya, biasanya ketika aku minta agar bisa mencapai orgasme berikutnya, paling banter dia melakukannya dengan tangan, atau membantu bermasturbasi dengan dildo. Walaupun demikian selama ini aku berusaha untuk bisa merasa puas dengan cara tersebut.

Setelah sekian lama dia mempunyai fantasi tersebut, suatu hari dia bertanya bahwa apakah aku mau merealisasikan fantasi tersebut. Pada awalnya aku kira dia cuma bercanda. Namun dia selalu mendesakku untuk melakukan itu, aku bertanya apakah dia serius. Dia jawab, “Ya aku serius!” Terus aku tanya lagi bahwa apakah nanti dia masih akan tetap sayang sama aku, dia jawab “Ya! aku akan tetap menyayangimu sepenuh hati, sama seperti sekarang.” Kemudian dia berkata, bahwa motivasi utamanya adalah untuk membuatku bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Karena dengan melihat wajahku ketika mencapai orgasme, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya. Di lain keadaan hal ini membawa dampak juga terhadap diriku. Secara terus terang aku pun terkadang merasa kurang mendapat kepuasan dalam hubungan suami istri. Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, terutama di pagi hari apabila malamnya kami melakukan hubungan intim dan suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna. Oleh karena itu suamiku membeli sebuah alat vibrator. Suamiku mengatakan alat itu mungkin secara tidak langsung dapat membantu kami untuk mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri.

Pada mulanya aku memakai alat itu sebagai simulator sebelum kami berhubungan badan. Akan tetapi lama kelamaan secara diam-diam aku sering pergunakan alat tersebut sendirian di pagi hari untuk menyalurkan hasrat kewanitaanku yang aku rasakan semakin meluap-luap. Rupanya fantasi seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar fantasi saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan. Selama ini suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan fantasinya. Apabila aku menolaknya atau tidak mau membicarakan hal tersebut. Gairah seks-nya pun semakin bertambah turun. Aku berpikir bahwa aku harus membantu suamiku walaupun merasa tidak enak. Oleh karena itu aku mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutegaskan kepada suamiku bahwa aku mau melakukan hal itu hanya untuk sekali ini saja.

“Aku telah mengundang Iyan untuk makan malam di sini malam ini,” kata suamiku di suatu hari Sabtu. Aku agak terkesiap mendengar kata-kata suamiku itu. Aku berfirasat bahwa suamiku akan memintaku untuk mewujudkan niatnya bersama dia, karena Iyan adalah salah seorang yang sering disebut-sebut oleh suamiku sebagai salah satu orang yang katanya cocok untuk diriku dalam melaksanakan fantasi seksual-nya. Memang selama ini sudah ada beberapa nama kawan-kawan suamiku maupun kenalanku sendiri yang disodorkan kepadaku yang dianggap cocok untuk melakukan hubungan seks denganku, salah seorangnya adalah Iyan. Akan tetapi sejauh ini aku masih belum menanggapi secara serius tawaran dari suamiku tersebut dan juga kebetulan kami tidak mempunyai kesempatan yang baik untuk itu.

Iyan adalah salah seorang mantanku semasa SMA dan suamiku pun kenal baik dengan dia. Secara terus terang memang kuakui juga penampilan Iyan tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun lebih kekar dan atletis dari tubuh suamiku. Walaupun Iyan adalah mantanku tetapi selama kami berpacaran dulu Iyan sama sekali tidak pernah menyentuhku, memang dulu kami tidak memiliki waktu luang untuk pacaran karena kami pacaran ketika menjelang EBTANAS, dan setelah itu sibuk masing masing untuk persiapan masuk universitas, kemudian putus. Ketika Iyan datang, aku sedang merapikan wajahku dan memilih gaun yang agak seksi sebagaimana anjuran suamiku agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kudapati gaun yang kukenakan terlihat agak ketat melekat di tubuhku sehingga bentuk lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Buah dadaku kelihatan menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Sambil mematut-matutkan diri di muka cermin akhirnya aku jadi agak tertarik juga memperhatikan penampilan keseluruhan bentuk tubuhku. Kudapati bentuk keseluruhan tubuhku masih tetap ramping dan seimbang. Buah dadaku yang subur juga kelihatan masih sangat kenyal dan berisi. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan agak menonjol penuh dengan daging yang lembut namun terasa kenyal. Ditambah lagi kulitku yang memang putih bersih tanpa adanya cacat keriput di sana-sini membuat bentuk keseluruhan tubuhnya menjadi sangat sempurna.

Melihat penampilan keseluruhan bentuk tubuhku itu secara terus terang timbul naluri kewanitaanku bahwa aku bangga akan bentuk tubuhku. Oleh sebab itu aku berpikir pantas saja suamiku mempunyai imajinasi yang sedemikian terhadap laki-laki yang memandang tubuhku karena bentuk tubuhku ini memang menggiurkan selera kaum pria.

Setelah makan malam suamiku dan Iyan duduk mengobrol di taman belakang rumahku dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu benar-benar hanya tinggal kami bertiga saja di rumah. Kedua pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika hari telah menjelang larut malam dan udara mulai terasa dingin tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku. “Aku telah bicara dengan Iyan mengenai rencana kita. Dia setuju dan malam ini dia akan menginap di sini. Tapi walaupun demikian kau tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan hubungan seks dengannya apabila memang suasana hatimu memang belum berkenan, kuserahkan keputusan itu sepenuhnya kepadamu!” bisik suamiku selanjutnya. Mendengar bisikan suamiku itu aku diam saja. Aku tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Aku merasa sudah berputus asa bahkan aku merasa benar-benar nekat menantang kemauan suamiku itu.

Aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan menyesal bahwa istrinya telah dinikmati orang lain? Atau setidak-tidaknya seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia telah dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain. Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan siap untuk pergi tidur. Secara demonstratif aku memakai baju tidur nylon yang tipis tanpa BH sehingga buah dadaku terlihat membayang di balik baju tidur itu. Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Iyan agak terhenyak untuk beberapa saat. Akan tetapi mereka segera dapat menguasai dirinya kembali dan suamiku langsung berkata kepadaku, “Ayo..!” kata suamiku dengan wajah yang berseri-seri dan semangat yang tinggi suamiku mengajak kami segera masuk ke kamar tidur. Setelah lama terdiam akhirnya suamiku mengambil inisiatif dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh payudaraku dari luar daster. Mendapat tindakan demikian Iyan mulai mengelus-elus pahaku yang telah terbuka, karena dasterku telah terangkat ke atas.

Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas tempat tidur. Sebenarnya aku tetap masih merasa risih tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki lain apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur nylon yang tipis dan tanpa BH. Akan tetapi kupikir aku harus berusaha tetap tenang agar keinginan suamiku dapat terwujud dengan baik.Kemudian Iyan menarik tanganku dan meletakkannya di atas pangkuannya. Sementara itu bibirnya mulai menyusur leher dan belakang telingaku (bagian yang paling sensitif bagiku). Setelah itu suamiku berbisik di telingaku, inilah saat untuk merealisasikan fantasi kita. Sekarang Iyan mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Aku langsung ditariknya, pelukannya dan tangannya yang satu langsung mendekap payudaraku yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang satu mengelus-elus punggungku sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas. Tangan Iyan yang berada di payudaraku disisipkan pada belahan daster yang terbuka dan mulai memelintir dengan halus ujung putingku yang telah mengeras.

Iyan mendorongku perlahan-lahan sehingga berbaring di ranjang. Jemarinya mulai meremas-remas payudaraku dan memilin-milin putingnya. Saat itu separuh tubuhku masih belum total terhanyut tetapi ternyata Iyan jagoan juga dan dalam waktu mungkin kurang dari 10 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum. Dan menghentikan aktivitasnya. Kini Iyan berusaha membuka baju tidurku belum selesai berpikir beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku dan merasakan hawa dingin AC di kulit pahaku yang berarti celana dalamku telah dilepas. Iyan menelanjangi diriku dengan seenaknya sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa ada lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhku.

Aku hanya dapat memejamkan mata dan pasrah saja menahan perasaan malu bercampur gejolak dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi di hadapan suamiku sendiri. Kemudian dia menelentangi tubuhku dan menatap dengan penuh selera tubuhku yang telah berpolos bugil sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Seumur hidupku, aku belum pernah bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Iyan. Secara reflek, dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap kemaluan Iyan yang telah tegang dari luar celananya. Bagian bawah celana Iyan terlihat menggembung besar. Aku mengira-ngira betapa besar kemaluan Iyan ini. Kemudian Iyan menarik tanganku ke arah resluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang kemaluan Iyan yang telah tegang itu. Aku langsung tersentak ketika terpegang senjata Iyan yang tampaknya besar itu.

Suamiku kelihatan benar-benar menikmati adegan tersebut. Tanpa berkedip dia menyaksikan bagaimana tubuh istrinya digarap dan dinikmati habis-habisan oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita normal keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Iyan di bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang belum pernah kurasakan selama ini. Setelah beberapa saat mengelusnya, kemudian Iyan berdiri di hadapanku dan membuka celananya sehingga kemaluannya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang dengan jelas terlihat. Kini Iyan berada dalam keadaan bertelanjang bulat. Sehingga aku dapat menyaksikan ukuran alat kejantanan Iyan yang telah menjadi tegang ternyata memang jauh lebih besar dan lebih panjang dari ukuran alat kejantanan suamiku yang mungkin cuma setengahnya. Bentuknya pun agak berlainan.

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita 17 tahun, tante, cewek smu, toket, gambar tante telanjang, film khusus dewasa 17tahun,hadist menyusui orang dewasa,kedai dewasa indonesia,komik khusus dewasa 17tahun,komik khusus dewasa 17tahun cerita dewasa,rawatan eczema untuk dewasa,situs dewasa sex porno,vcd sek dewasa,video khusus dewasa 17tahun,gambar artis bugil,artis bugil,artis indonesia bugil,foto artis bugil,artis indo bugil,artis bugil indonesia

12
Jul
10

Cerita 17tahun – G-Spot dan Orgasme Wanita

Saya sempat tercengang menyaksikan orgasme G-spot pada dua kesempatan yang berbeda. Yang pertama, saya bertemu dengan seorang wanita pada waktu pembukaan pameran seni, lalu kami salig tertarik. Hari berikutnya ketika kami berbicara lewat telepon, tidak lama kemudian kami berbicara tentang seks. Pada saat itulah dia menceritakan bahwa dia adalah seorang “penyembur” seperti yang dikatakannya.

Saya berkata “Sepertinya saya mengerti apa yang sedang anda maksudkan. Apakah ketika anda mengalaminya ada cairan yang keluar dari tubuh anda?”

“Tidak”, jawabnya “dia melayang keluar”.

Rasa ingin tahu saya bangkit, saya terus mengejarnya dengan pertanyaan:”Apa yang menyebabkan hal itu?”

“Setiap kali saya orgasme, hal itu terjadi”.

“Setiap kesempatan?”

“Setiap Saat”

“Setiap saat ketika anda bersama seorang laki-laki?”

“Tidak. Pokoknya setiap saat. Sendiri atau bersama seorang laki-laki”

Sampai disini saya masih punya beberapa pertanyaan. Tetapi saya hanya tanya satu pertanyaan: “Kapan saya bisa ketemu anda?”

Hal berikut yang saya tekankan, dia mengakui bahwa sebenarnya sedang meraba-raba dirinya sendiri ketika kami berbicara liwat telepon (seperti kecurigaan saya melalui desah napasnya di telepon). “Apa anda keberatan?” tanyanya.

“Silahkan teruskan.”

Dalam satu menit saya bisa tahu bahwa dia sedang mengalami orgasme. Yang berbeda dari orgasme ini adalah suara dan napasnya lebih dari sekedar ungkapan kenikmatan biasa; nampaknya perlu — hampir tidak bisa dihindari– pelepasan.

Dia memberi tahu saya bahwa dia teleh ejakulasi (menyembur) ketika orgasme. Sebagai seorang laki-laki saya, saya membayangkan sejumlah cairan kental warna putih baru saja keluar dari tubuhnya. tetapi untuk kepastiannya saya bertanya bagaimana rasanya cairan itu.

“Benar-benar hangat dan sangat basah,” jawabnya.

“Dan kental?”

“Tidak,” jawabnya. ‘Tidak seperti sperma jika itu yang kamu pikirkan.”

“Seberapa banyak?”

“Lebih banyak dari pada yang dihasilkan laki-laki saat dia mengalami orgasme. Tetapi anda harus melihatnya sendiri agar percaya!”

Hari berikutnya, saya menikmati pengalaman paling erotis dalam hidup saya (setidaknya sampai saat itu!). Kami tidak berhubungan badan. Saya hanya menyentuh klitoris dan dinding atas vaginanya, lalu dia orgasme dan ejakulasi berkali-kali. Perbedaannya..selain cairan yang sudah kita kenal – antara orgasme di dengan orgasme wanita lain yang saya tahhu adalah saya merasakan sesuatu yang tidak lazim – tetapi erotis- didalam dan disekitar vaginanya.

Menyebut apa yang saya rasakan sebagai “kontraksi” merupakan suatu yang tidak pantas. Pada suatu yang tidak pantas. Pada masa sebelumnya, ketika saya berhubungan dengan wanita, kontraksinya bervariasi mulai dari yang tidak bisa dilihat sampai yang jelas kelihatan. Tetapi vagina wanita ini mengejang. Tepat sebelum orgasmenya datang, dinding vaginanya bagian dalam melebar, menutup kedalam dan terasa sangat menjepit jari-jari saya. Saya harus berkonsentrasi agar jari-jari saya tetap didalam, sebab kalau mengendorkannya, ototnya akan mendorong jari-jari saya keluar.

Ketika saya menyentuh klitorisnya, saya bahkan dapat melihatnya kejang-kejang: Antara Kontraksinya, bukaan pada vaginanya akan memeperlebar ukurannya. Saya sebenarnya dapat melihat kedalam dan gerakan dinding dalam vaginanya pun kelihatan.

Biasanya setelah gerakan-gerakan ini dia ejakulasi. Dan lagi-lagi saya mendengar desah nafasnya yang unik dan tanda-tanda suaranya (seperti yang saya dengar di telepon sehari sebelumnya) ketika dia mengalami orgasme. Saya benar-benar terkesan dengan suaranya yang sangat spesifik. Dulu saya pernah mendengar banyak gaya yang berbeda dari suara yang keluar sewaktu orgasme: rintihan, erangan, napas terengah-engah, sumpah serapah dan melanggar firman ketiga.. Tetapi suara kenikmatan wanita ini kelihatannya seperti batasan bahwa dia sedang ejakulasi. Dia tidak hanya mengekspresikan bagaimana perasaannya; dia memperlihatkan pelepasan sesuatu yang penting yang ada jauh didalam. Tidak seperti wanita yang bisa tenang jika situasinya menuntut ketenangan, tidak ada jalan lain (dan saya mengkonfirmasikan dengannya kemudian) baginya untuk mengontrol segala suara yang keluar dari mulutnya (dan saya bertaruh bahwa tetangganya setuju dengan saya).

Ketika saya meninggalkan apartemennya saya seperti lelaki yang sangat beruntung. Pelajaran-pelajaran seks yang pernah saya baca menyatakan bahwa fenomena ini ejakulasi seperti ini terjadi kurang dari 1% dari semua wanita, dan tidak ada cara untuk mengetahui siapa yang akan dan siapa yang tidak akan, atau siapa dapat dan siapa tidak dapat mengalami ejakulasi semacam ini.

Pada saat itu saya benar-benar beruntung. Sebagimana yang saya ketahui setahun kemudian bahwa dia salah satu dari 1% wanita yang secara otomatis ejakulasi di setiap orgasme. Saya tidak melakukan sesuatu yang khusus- hanya memang seperti itulah cara orgasmenya.

Dua tahun kemudian saya akrab dengan seorang gadis muda yang menggairahkan karena bentuk tubuhnya yang sensual, namanya Sally. Kami berbugil ria ditempat tidur bersamanya dan saya mulai mencoba menikmati lekuk-lekuk tubuhnya.. saya merasa ada gerakan didalam vaginanya yang bisa saya kenali dengan cepat.

Sampai pada tahap ini dia telah mendapat orgasme “konvensional”, terutama dengan belaian pada klitorisnya dengan menggunakan jari dan mulut saya. Tetapi sekitar setengah jam kemudian ketika saya memegangnya lebih dekat, kepala Sally merapat didada saya yang bidang, pada posisi yang lebih intim daripada seksual, saya memasukan jari kedalam vaginanya dan pelan-pelan memijit pada dinding bagian atasnya.

Saya merasakan pelebaran yang sangat pelan dan hampir tidak terasa dari dinding vaginanya.Sama halnya dengan pasangan sebelumnya, saya harus yakin untuk menahan jari didalamnya. Pada saat yang sama Sally memegang saya lebih dekat sepertinya dia meminta sesuatu..bukan sekedar rangkulan, tetapi hampir suatu perlakuan yang meyakinkan.

Saya jadi sadar, bahwa bukan hanya gerakan dari dalam vaginanya tetapi juga dari cara tubuhnya yang membuat saya memeluk dia, tetapi tidak terlalu kencang. Saya melanjutkan sentuhan pada interior vaginanya dengan jari-jari saya, dan memperhatikan bagaimana reaksinya bila saya mengubah gerakan.

Tiba-tiba gerakan mengejang pelan mendorong jari-jari saya membuat saya tahu apa yang akan terjadi. Secara spontan vagina Sally menjadi luar biasa basah.. lebih basah dari apa yang saya bayangkan sebelumnya, benar-benar kebanjiran, tetapi belum keluar. Gerakan otot-ototnya terasa sama persis dengan gerakan vagina pasangan saya sebelumnya. Beberapa detik kemudian, begitu dia mencapai ejakulasi klimaks..matanya tertutup rapat.. bibirnya mengatup seperti menahan kenikmatan yang luar biasaa..dan.. keluar cairan panas yang basah menyemprot keluar. Saya melanjutkan menyentuhnya dengan cara yang sama beberapa menit menit lagi. Dalam jangka waktu yang singkat itu, dia keluar lagi tiga kali persis sama dengan yang pertama.

Sambil membiarkan dia mengambil napas, saya peluk dia. Dia menatap saya tatapan bingung. Takjub dengan apa yang terjadi.

“Menakjubkan” saya berbisik.Dia hanya menatap saya.

“Kamu menyadari apa yang baru saja terjadi, bukan?” saya bertanya padanya. Dia mengangguk.

“Pernahkan ini terjadi padamu sebelumnya?” Akhirnya dia bersuara “Tidak, tidak pernah”.. Saya merasakan dia sebenarnya terbuai dengan apa yang telah dialami tubuhnya.

“Kamu tahu, beberapa wanita lain juga mengalami hal yang sama seperti ini,” saya meyakinkan “tetapi kamu tidak sadar betapa beruntungnya kamu.”

“Tetapi kenapa aku beruntung?” Sally bertanya. “jiak wanita lain dapat keluar tetapi tidak sebasah yang aku alami, tidak berarti mereka tidak bisa merasakan perbedaan.”

“Bandingkan dengan apa yang kamu rasakan ini dengan yang pernah kamu alami sebelumnya, tidakkah menggairahkan? Lebih menggariahkan?”

“Ya.. kamu benar. tetapi dulu, tidak sama sekali”

“Lihat betapa beruntungnya kamu,” saya memujinya.

Sementara saya beruntung mendapatkan pasangan yang dapat melakukan ini saya kemudian mengetahui bahwa dulu pasangan saya yang pertama ejakulasi secara alami selama orgasme, sekarang sayalah yang membuatnya pada Sally.

Lebih dari setahun kemudian, hubungan saya dengan Sally berkembang lebih menjadi berupa persahabatan daripada sebuah affair cinta. Tetapi keintiman kami yang jarang itu membuahkan orgasme konvensional dan ejakulasi seiring kami terus melakukan eksperimen..

Pengalamanku Dengan Lisa

Lisa, 20 tahun, adalah mahasiswi baru pada suatu perguruan tinggi. Kami kenal karena sering bertemu didalam perpustakaan, Suatu hari saya mengantar dia pulang setelah selesai berolahraga. Suatu ketika di tempat kostnya, kami langsung berciuman dengan nafsunya. Kemudian kami berbaring ditempat tidur dan mulai melepaskan satu demi satu seluruh busana kami .. sampai tidak tersisa sehelai benangpun! dan kami mulai berbaringan diatas tempat tidurnya, saya menyentuh dan merasakan hampir seluruh bagian tubuhnya, dan saya ingin tahu bagaimana reaksinya terhadap sentuhan pada vagina seperti yang pernah saya lakukan terhadap Donna dan Sally.

Pada tahap ini saya berharap untuk membuat Lisa berhasil mendapatkan orgasme ejakulasi, karena saya belum begitu mengenalnya dan selama pembicaraan menunjukkan bahwa dia belum mengetahui konsep permainan saya. Tetapi saya ingin tahu apa yang terjadi bila saya sentuh dia seperti yang lainnya. Akankan dia merasa senang walaupun tidak mengalami orgasme? Saya sangat menikmati apa yang sedang kami lakukan bersama, tetapi saya pikir dia bukanlah wanita yang secara psikologis mampu mendapatkan ejakulasi.

Sambil saya memegang lebih dekat dan membelai bagian vagina dalamnya dengan lembut, reaksinya sangat mengagetkan saya karena mirip dengan reaksi wanita-wanita terdahulu. Lisa menikmati apa yang saya lakukan, dan reaksinya jelas memperlihatkan kalau dia merasakan kenikmatan. Dia memeluk lebih erat dan dikedalaman vaginanya kelihatan menjadi lebih lembut dan lebih basah. Dan kemudian dia memeluk lebih dekat lagi seiring otot-otot didalam vaginanya mengembang.. saya memutuskan untuk terus melihat apa yang akan terjadi.

Walaupun saya tidak mengharapkan mendapatkan ejakulasi, saya masih merasa perlu untuk meyakinkan dia bahwa itu tidak apa-apa. Sementara rangasangan seksualnya sangat jelas kelihatan dan dramatis intensitasnya, saya merasa bahwa dia kurang mengenal rasa kenikmatan yang baru ini. Tetapi saya terus menyentuhnya dan meyakinkan dia, desakan Gairah pada diri Lisa semakin besar dan besar.

Dari sekedar merintih, dia mulai berteriak. Kemudian yang mengagetkan, gadis manis yang bicaranya lemah lembut ini, mulai berteriak sangat kuat.

Saya memegangnya lebih dekat dan berkata “Lepaskan semuanya.”

Saya tahu dia tidak tahu persis apa yang akan dilepaskan, tetapi jelas kelihatan bahwa dia tahu sesuatu yang sama sekali baru akan terjadi padanya. Dia berteriak dengan kombinasi yang sangat aneh.

“Oh tidak! Ya! Oh, tidak! Ya!”

“Ya atau tidak?” desak saya. “Ya atau tidak?”

Vaginanya benar-benar mulai terendam. Jari saya dipenuhi oleh suatu cairan yang tidak kental, sewaktu dia mulai berteriak, “YA! YA! YA”

Dalam beberapa detik seluruh pinggulnya.. mengejang keluar dan kedalam.. sewaktu cairan panas melayang keluar. Ini berlanjut dalam beberapa menit dan keluar lagi berkali-kali.. sampai pada akhirnya.. dia memohon untuk menghentikan kenakalan jari-jari tangan saya..

“Sudah mas.. sudah.. saya bisa pingsan kalau masih diteruskan.. saya sudah lemass sekali” pintanya.

Kemudian saya mengeluarkan jari saya dan memeluknya, Lisa memberi ciuman termanis yang pernah saya rasakan.

“Kamu tahu, aku belum pernah merasakan seperti tadi,” katanya.

“Jadi kamu belum pernah mengalami keluar cairan ketika kamu orgasme?”

Dia kelihatan bingung, dia menatap saya beberapa saat dan berkata, “Apa maksudmu?”

“Tidakah kamu merasakan kenikmatan yang luar biasa saat cairan itu keluar?”

“Yah,” katanya. “Tentu saja.”

“Jadi apa yang tidak kamu mengerti?”

“Tidakkah semua orgasme seperti itu?” Lisa bertanya. “Apakah rasanya selalu seperti itu?, Aku belum tahu.” katanya. “Itu adalah orgasme yang pertama yang saya alami.”

Saya diam sejenak, “Apakah kamu belum pernah mengalami orgasme sebelumnya.. dan kamu pikir semua orgasme seperti itu?”

“Bukankan begitu?” Lisa bertanya.

“Tidak,” jawab saya. “Bahkan tidak mendekati itu”

dan akhirnya kembali memberikan senyumannya yang sangat manis itu kepada saya, dan saya pun menikmatinya, malam itu kami lewati dengan penuh perasaan dan cinta kasih yang meluap-luap.

TAMAT

Tags : cerita merangsang, bugil, artis telanjang, koleksi foto bugil, abg bugil, cerita setengah baya, melayu gadis,dewasa,indocari,17 tahun atas,17 tahun keatas,cerita 17 tahun,cerita 17 tahun keatas,17 tahun,cerita 17,cerita 17 thn,cerita selingkuh,cerita,cerita dewasa,cerita malam pertama,cerita seks

09
Jul
10

Cerita 17tahun – Affair Dengan Staf

Sore itu teman-teman kantor yang lain sudah pulang. Akupun sedang mempersiapkan diri untuk pulang juga ketika terdengar ketukan di pintu ruanganku dan kemudian disusul munculnya raut wajah cantik begitu pintu dibuka dari luar.

“Halo sayang” sapanya hangat dan mesra.

“Belum pulang?” lanjutnya sambil melangkah masuk dan berdiri persis di samping tempatku duduk di belakang meja kerja.

“Sebentar lagi. Ini lagi beres-beres” jawabku balas tersenyum.

Terus terang kehadiran Ratna, salah seorang staf di divisi yang kupimpin, sering membuatku gelisah, khawatir sekaligus bahagia. Mengapa tidak? Ia seorang wanita berparas cantik. Tubuhnya langsing namun padat berisi. Masih cukup muda, berusia antara 25-30 tahun. Ia mengigatkanku pada seorang bintang sinetron cantik jelita dan seksi Diah Permatasari. Selain itu, ia orangnya ramah, baik hati dan menyenangkan siapa saja yang diajaknya bicara. Selain itu, ia sangat perhatian sekali padaku bahkan cenderung terlalu mesra. Kesannya, hubungan kami tidak seperti boss dan anak buahnya. Kami sering bercanda penuh kemesraan, tentunya pada saat tidak ada karyawan lain di antara kami. Bila di tengah karyawan lain, kami nampak seperti boss dan anak buah layaknya.

Hubungan kami hari demi hari semakin bertambah mesra. Yang pada awalnya hanya saling lirik dan senyum, kini sudah mulai meningkat menjadi saling remas walaupun hanya sebatas remasan tangan. Namun itu sudah menunjukkan bahwa dirinya menyukaiku. Rasa rindu untuk cepat bertemu mulai mengganggu pikiranku, demikian pula dengan dirinya.

“Ih, pengen cepet-cepet ke kantor deh rasanya” demikian kata Ratna suatu ketika saat pertama kali aku mencoba memberanikan diri untuk mengecup pipinya, saking tak tahannya manakala kami tengah berduaan. Itupun mencuri-curi, takut ada karyawan lain yang melihat

Ia hanya tersenyum jengah saat itu. Wajahnya menunduk malu sambil melirik mesra ke arahku. Kalau saja saat itu ruangan kosong, mungkin aku sudah mengecup bibirnya. Aku yakin ia pun mengharapkan hal yang sama. Namun kemesraan kami nampaknya akan menghadapi permasalahan besar dan tak mungkin meningkat lebih intim lagi, atau bahkan tidak dapat berlanjut sama sekali. Pasalnya, aku sudah berkeluarga, memiliki anak-istri. Demikian pula dengan dirinya, tidak jauh berbeda denganku. Hanya saja ia belum memiliki anak. Kami sadar dengan keadaan ini, namun kelihatannya seperti tidak peduli. Inilah yang membuatku gelisah, serba susah. Aku tidak mau kehilangannya. Celaka, jangan-jangan aku sudah jatuh cinta padanya. Ini tidak benar Jerit hatiku meski tidak yakin apakah itu benar-benar suara hatiku yang sebenarnya?

Kembali sore itu ia hadir dengan gayanya yang akan membuat lelaki manapun merasa sulit untuk menolaknya.

“Kok malah bengong? Nggak suka ya, Nana kemari?” katanya dengan menyebutkan nama panggilan mesranya.

Ucapan yang meluncur dari bibirnya yang menggemaskan itu, terdengar begitu menyejukan hatiku. Mana mungkin aku bisa melupakannya? Siapa pula yang bisa menahan diri saat wanita cantik, bertubuh sintal yang menyebarkan aroma penuh dengan rangsangan berdiri begitu dekat dengannya? Bahkan saking dekatnya aku dapat merasakan kakinya bersentuhan dengan pahaku. Dari kursi tempat dudukku, aku menengadah menatap wajahnya. Ia pun tengah melirik ke arahku. Mata kami bertemu. Saling pandang penuh arti. Kulihat matanya berbinar-binarnya, menyembunyikan perasaan yang begitu mendalam. Hangat dan mesra sekali pancaran tatapan matanya. Penuh gairah. Aku bukan malaikat. Aku hanya seorang lelaki biasa, yang masih penuh dengan gelora jiwa mudaku. Usiaku masih di bawah 40 tahun. Usia yang sedang matang-matangnya dan penuh dengan gejolak gairah lelaki.

“Bukan begitu, sayang. Siapa sih yang tak mau berdekatan sama wanita secantik kamu?” jawabku seraya meraih tangannya ke dalam genggamanku. Kuremas perlahan dengan penuh kelembutan.

“Tuh khan? Mulai deh rayuan gombalnya” ujarnya seraya makin memepetkan dirinya ke tempat dudukku. Kurasakan pahanya bergeseran dengan pangkal lenganku.

Meski masih terhalang kain roknya, aku dapat merasakan kehangatan dan kelembutan kulit pahanya. Perasaan itu menjalar ke sekujur tubuhku dan mengarah semuanya ke pusat selangkangannku. Aku jadi gelisah. Aku tak ingin ia memperhatikan perubahan di bagian depan celanaku. Namun aku segera memergoki tatapan matanya sekilas melirik ke arah itu. Aku jadi malu juga, apalagi melihatnya senyum-senyum dikulum seperti itu. Aku jadi gemas dibuatnya. Lalu tubuhnya kutarik hingga terjatuh ke pangkuanku.

“Auuww ” pekiknya manja sambil merangkul leherku agar tubuhnya tak terguling dari pangkuanku.

“Mas kok jadi tambah genit sih?” lanjutnya. Ia cubit pipiku dengan lembut.

“Tapi suka khan?” balasku menatapnya dengan mesra.

Ia mengangguk perlahan. Balas menatapku dengan hangat. Kuamati seluruh wajahnya. Ia memang cantik. Matanya bersih bersinar. Bulu matanya lentik. Hidungnya mancung, dan bibirnya. Akh sungguh mempesona. Sungguh sensual. Apalagi saat lidahnya dikeluarkan untuk membasahi bibirnya. Sangat mengundang Aku tak tahan untuk segera mengulumnya.

Bibirku langsung mendarat di atas bibirnya. Kukecup mesra. Ia balas dengan mesra. Kukulum hangat. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang sama. Kami berciuman dengan hangat dan mesra. Lidah kami saling mencari. Saling bartautan. Tangannya meremas-remas bagian belakang kepalaku sambil menariknya sehingga ciuman kami semaki erat. Aku balas dengan mengelus dan meremas punggungnya. Ia menggeliat sambil mengerang perlahan merasakan kehangatan cumbuanku.

Gerakan tubuhnya membuat pantatnya yang berada dipangkuanku dengan sendirinya menggesek-gesek batang kontol yang berada di balik celanaku. Aku sudah tegang sekali. Kelembutan dan kehangatan buah pantatnya membuatku terangsang hebat. Kelihatannya ia sengaja melakukan gerakan itu. Pantatnya terus-terusan digesek-gesek ke batang kontolku yang sudah semakin mengeras saja rasanya. Mengimbangi permainannya, tanganku mulai ikut-ikutan beraksi. Dimulai dengan mempreteli seluruh kancing BLousenya. Kulihat kulit dadanya yang bersih dan putih nampak begitu merangsang. Kuelus perlahan. Ratna melenguh menikmati elusan lembut di seputar dadanya. Pagutan bibirnya semakin kuat, dekapannya semakin erat.

Tanganku menggerayang semakin dalam, meremas buah dadanya yang masih terbungkus kutang tipis. Tonjolan putingnya kupermainkan. Ratna gemetar dibuatnya. Permaiman tangan boss kesayangannya di daerah puting itu membuat darahnya berdesir kencang. Gairahnya menggelora dan semakin menyesakan dadanya. Rangsangan itu bertambah kuat seiring dengan elusan tangan bossnya yang mulai merogoh ke dalam kutangnya. Sentuhan langsung tangan lelaki pujaannya itu di seputar buah dadanya seakan memicu seluruh naluri kewanitaannya. Ratna berubah garang. Gerakannya semakin banal, liar dan tak terkontrol. Apalagi ketika merasakan elusan lembut di pahanya, bergerak perlahan merambat naik ke pangkal pahanya.

“Ouugghh” erangnya penuh kenikmatan seraya mendorong tanganku lebih dalam ke arah selangkangannya.

Tanganku segera menemukan gundukan daging hangat di balik celana dalamnya yang teras sudah mulai membasah. Ujung jariku menelusuri garis memanjang di sekitar bibir kemaluannya. Kudengar erangan demi erangan meluncur dari bibirnya setiap kali tanganku menekan di sekitar liang itu. Roknya sudah kuangkat tinggi-tinggi agar tidak menghalangi gerayangan tanganku. Sementara tanganku yang satunya lagi mengeluarkan buah dada Ratna dari balik kutangnya. Tidak terlalu besar memang, tapi masih kenyal dan keras. Bentuknya indah, apalagi putingnya yang berwarna kemerahan itu nampak sudah berdiri tegak seakan menanti kuluman mulutku.

“Aduuhh. isep Mas Terus. akh enak sekali” rintihnya keenakan.

Aku tak perlu menunggu perintahnya, karena mulutku sudah langsung menyambarnya. Lidahku melata-lata di ujung pentilnya. Akibatnya sungguh luar biasa, Ratna menggelinjang kegelian diiringi rintihan dan erangan penuh kenikmatan. Sementara tangannya mulai bergerilya menggerayang kemana-mana sampai akhirnya berhenti di sekitar selangkanganku. Bergerak lincah mengurut-urut batangku yang masih terkungkung di balik celana. Aku berharap ia segera membebaskan batangku yang sudah berontak itu dari kungkungan celanaku.

“Ratnaa.. ugh” aku melenguh tanpa sadar begitu tangan Ratna merogoh ke dalam balik celana dan menggenggam batangku. Terasa begitu lembut dan halus permukaan telapak tangannya.

Perlahan namun pasti, ia mengocok batangku mulai dari bawah hingga ke atas, lalu turun kembali dan begitu seterusnya dengan irama yang semakin meningkat cepat. Enak sekali rasanya. Tubuhku seperti melayang-layang dibuatnya. Kurebahkan kepalaku di senderan kursi. Menikmati semua apa yang dilakukannya padaku. Kulihat tangan satunya lagi meraih ke bawah. Aku kira ia kan menggunakan kedua tangannya untuk mengocok, tetapi ternyata ia malah mencopot celana dalamnya sendiri dan melemparnya ke lantai. Aku kaget. Apa yang akan dilakukannya. Aku tambah khawatir ketika ia mengangkat roknya tinggi-tinggi lalu merubah posisinya sehingga mengangkangiku sementara batangku ditegakkan ke atas.

Tiba-tiba aku sadar akan apa yang akan terjadi. Aku tidak pernah mengharapkan sampai sejauh ini. Bagaimana jadinya nanti. Kami berdua sudah memiliki keluarga masing-masing. Ini sudah terlalu jauh, jangan sampai terjadi. Aku tak ingin mengkhianati keluarga dan aku pun tak ingin ia mengkhianati keluarganya juga. Cukup sampai di sini

“Ratna. udah. Jangan diterusin” kataku mengingatkan.

Sebenarnya aku juga tidak yakin dengan ucapanku sendiri.

Aku menahan tubuh Ratna agar jangan sampai itu terjadi. Kulihat tatapan matanya yang redup penuh harap, melirik padaku dengan penuh tanda tanya. Mana ada lelaki yang tahan melihat wanita secantik dirinya memohon seperti itu.

“Kenapa?” ucapnya penuh keheranan dengan sikapku yang memang, menurut para lelaki, tidak tahu diuntung.

“Aku, oh, eh, kita nggak boleh begini” ucapku dengan berat hati.

“Nggak apa-apa kok sayang. Aku rela dan suka melakukannya.” jawab Ratna yang justru membuatku semakin tergoda.

Aku berupaya untuk berpikir jernih dan mencari jalan agar semua ini tidak terjadi. Aku tak ingin semuanya berantakan gara-gara perbuatan ini. Tapi? Akh, rasanya aku tak bisa lagi berpikir jernih begitu ia mulai menciumi wajahku dengan penuh mesra dan hangat. Tangannya bekerja cepat mempreteli kancing bajuku hingga membuka seluruh dadaku. Ia langsung menciuminya. Mengemot putingnya. Lidahnya menari-nari di atas dada lalu turun ke perut dan terus semakin ke bawah. Aku tak pernah sadar sejak kapan ritsluting celanaku terbuka. Tahu-tahu kulihat batang kontolku sudah mengacung dari balik celanaku yang terbuka, sementara wajah Ratna sudah sangat dekat sekali berada di sana.

“Akh gila”, Pekikku dalam hati manakala kulihat mulut Ratna terbuka dan lidahnya menjulur menyapu permukaan moncong kontolku. Tubuhku bergetar hebat merasakan sapuan lembut dan hangatnya lidah itu di sana. Mataku sampai terpejam saking nikmat yang kurasakan saat itu. Pikiran-pikiran untuk menghentikan perbuatan ini saat itu langsung lenyap entah kemana. Aku tak mungkin menolaknya. Apalagi mulut wanita cantik ini begitu lihai mengulum kontolku. Mungkin ini merupakan kuluman ternikmat yang pernah kurasakan sebelumnya.

Aku sudah tak peduli lagi dengan semuanya. Yang penting semuanya harus kunikmati. Wanita cantik bertubuh seksi yang sedang bergairah ini harus mendapatkan kenikmatan yang sama. Setelah itu, aku langsung meraih tubuhnya untuk berdiri mengangkangi tubuhku yang duduk di kursi. Kontolku kuberdirikan tegak mengarah persis ke liang memeknya. Kuminta ia untuk berjongkok dengan kedua kakinya naik ke tepian kursi di kedua sampingku. Tubuhnya turun perlahan. Kontolku mulai melesak ke dalam liangnya. Terasa hangat dan sempit. Batangku terus menerobos masuk karena di sekitar liang itu sudah licin. Ratna melenguh panjang begitu seluruh batangku terbenam di dalamnya. Matanya terpejam erat, kepalanya melengak ke belakang. Kedua tangannya berpegangan pada leherku. Ia mulai bergerak turun naik, bergoyang ke kiri dan ke kanan. Aku mengimbanginya dengan tusukan-tusukan kuat.

Kami saling berlomba memberikan kenikmatan. Kulihat di depan wajahku, buah dadanya yang sudah tertutup kutang itu, bergelantungan kesana kemari. Bibirku langsung menangkapnya. Kukemot putingnya. Ia merintih. Kujilat seluruh daging kenyal itu. Ratna mengerang. Kedua tanganku berpegangan pada pantatnya. Sambil meremas, aku tarik ke dalam agar batangku bisa mencapai bagian yang terdalam di dirinya.

“Mass Ooouugghh.. nikmaat.. enaakkhh.. mmpphhff” erangnya tak karuan.

“Ayo sayang. Terus goyangin. uughgh nikmaatnya.” aku pun mengerang-erang kenikmatan.

Tiba-tiba ia memekik sambil mendekap kepalaku erat-erat ke dalam dadanya. Tubuhnya berguncang hebat. Pinggulnya didesakan kuat-kuat sehingga batangku terbenam seluruhnya. Tak lama kemudian kurasakan siraman cairan hangat pada kontolku di dalam liangnya. Ratna telah mencapai orgasmenya. Ia terus-terusan merintih sambil mengigau kalau dirinya jarang mendapatkan puncak kenikmatan seperti saat ini. Aku tak sempat memikirkan ucapannya itu, karena aku pun tengah berkutat menahan desakan dari dalam diriku sendiri sampai akhirnya tak tahan lagi dan menyemburkan air mani berkali-kali ke dalam liang memeknya.

Pinggulku sampai terangkat tinggi-tinggi ketika menyemprotkan air mani. Sungguh nikmat rasanya karena air maniku banyak sekali semburannya. Bayangkan saja aku sudah tidak berhubungan dengan istriku selama ia haid seminggu ini. Kudekap tubuh Ratna erat-erat. Kuhirup keharuman aroma tubuhnya yang begitu merangsang. Sambil kubisikan kata-kata mesra.

“Nana juga sayang sekali sama Mas” bisiknya perlahan hampir tak terdengar.

Untuk beberapa saatnya kami hanya saling berpelukan merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama. Sambil memikirkan wanita secantik dirinya, yang sehari-hari nampak lembut dan pemalu, bisa berubah binal bagai kuda jalang saat bercinta denganku. Aku hanya bisa mengeluh bahagia penuh keberuntungan dapat menikmatnya dengan puas.

“Mas, Nana nggak mau pulang. Pengen sama Mas terus seperti ini” bisiknya lagi.

Aku terhenyak. Kaget tak terkira dengan ucapannya itu. Aku tak tahu perasaanku saat itu. Apakah harus senang atau takut mendengar pengakuannya ini. Aku tak ingin peristiwa ini tercium oleh rekan-rekan yang lain dan tak mungkin terus berada di sini. Walaupun yang lain telah pulang, mungkin saja nanti ada satpam perusahaan yang mengontrol kemari.

“Ayo kita pulang. Nanti ketahuan orang” ajakku buru-buru seraya mendorong tubuhnya dari atas tubuhku.

“Nggak mau. Pokoknya Nana pengen sama Mas terus” rengeknya.

“Aduh gimana dong.”

“Biarin” katanya ngambek.

Aku panik melihatnya seperti ini. Akhirnya aku mendapat jalan untuk membujuknya.

“Ok, kalau gitu kita cari tempat lain aja yang lebih aman” kataku kemudian.

“Ya setuju. Kita cari hotel aja” usulnya dengan gembira.

“Nanti kita mandi bareng di sana. Nanti Nana mandiin, terus ‘ininya’ Nana sabunin juga ya” katanya lagi sambil mempermainkan kontolku yang sudah tergolek lemas.

Aku hanya mengiyakan saja karena yang penting harus cepat-cepat pergi dari sini.

Kami berdua lalu segera berangkat ke hotel setelah merapikan diri dahulu. Sepanjang jalan Ratna tak pernah melepaskan pelukannya dariku. Aku membayangkan apa yang akan kami perbuat semalaman nanti di hotel. Kurasakan batangku langsung menggeliat bangun kembali hanya terbayang tubuh molek itu menggeliat-geliat di bawah himpitan tubuhku. Luar biasa memang.

E N D

Tags : cerita dewasa, cerita panas, 17 tahun, setengah baya, julia perez telanjang, gambar bugil, sabul blogspot com,sabul rumah tumpangan blogspot,skodeng sabul,video to 3gp,datin azurah,initehsusu,rumah tumpangan,gambar telanjang,dewasa,gambar seks,malam pertama,17tahun keatas,3gp video,skodeng,bogel




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.