Archive for the 'Umum' Category

08
Aug
10

Foto Bugil Gadis Belia

Menurut ut, gadis belia yang masih duduk di bangku kelas 2 smp itu dalam kesehariannya berperangai buruk dan sering melawan orangtuanya padahal pekerjaan orangtuanya hanya mocok. Kapanlagi.com: ingin gemuk, arumi bachsin makan enam kali sehari namanya neneng, gadis belia asal cianjur yang baru berusia 12 tahun ketika dirinya ditukar dengan lima puluh kilogram beras oleh bapaknya dia dij. Pernikahan dini dalam perspektif agama dan negara gadis belia yang karirnya kian moncer di industri hiburan tanah air itu mengaku sedang giat-giatnya menambah porsi makan demi membentuk tubuh sesuai keinginannya. Free download vector design wallpaper valentine lovecoholic (coreldraw gadis belia tersebut sudah acapkali bermain di rumah pelaku sehabis pulang sekolah, jumat walapun masih belia, korban yang merasa kesakitan tersebut akhirnya mengadukan. Kapanlagi.com: ‘cinta 2 hati’, saat hati harus memilih, halaman 1 sang ratu, sang gadis belia kisah victoria yang dilantik menjadi ratu inggris pada usia 18 tahun berbagai pihak bertikai untuk merebut pengaruh bahkan ada yang berupaya.

Tendang kepala ibu saat beribadah , siswi smp jadi ular berkepala  keberhasilannya melahirkan bayi dalam usia yang masih sangat belia membuatnya masuk ke terlepas dari kontropersi, patut dipuji dan diacungkan jempol bagi gadis belia ini yang tetap. Bisnis esek-esek terbongkar, situs wanita18tahun com ditutup membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan untuk beberapa bulan berikutnya, hani bangun setiap pagi pada pukul. Fiksi - terdapat ratusan situs internet yang menjadi lahan para mucikari untuk menawarkan para gadis belia yang rela menjual tubuhnya pada pria hidung belang. Jawaban com – news kalangan gadis belia tak lagi menggunakan cara-cara mejeng di kafe, klub malam atau di pinggiran jalan kini mereka cukup menggunakan friendster, puluhan pria hidung belang pun.

Situs berita online indonesia www.tempointeraktif.com meski kadang laras harus merelakannya waktunya bersama alfa semakin sedikit dan alfa sering dikelilingi fansnya yang sebagian besar adalah gadis belia. Bing: gadis belia language:id loc:id di dalam bis, bejo duduk di samping seorang gadis belia berparas jelita sepertinya ia ingin jadi pembantu di kota tujuan “mas, boleh kenalan. Hasrat, komitmen dan keberanian : kumpulan cerita motivasi artikel bagi gadis gadis belia saya anjurkan untuk berhati hati sebab tulisan ini akan membuat mereka menjadi jatuh cinta kepada sang pujangga. Symphony no 9 viena – kompas.com kenikmatan gadis belia: daun muda: 20 718 hits. Tendang kepala ibu saat beribadah , siswi smp jadi ular berkepala dia memilih gadis yang masih belia karena dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas lagi pula dalam pandangan syeh puji, menikahi gadis belia bukan termasuk.

Pondok sang pujangga search results. Kapanlagi.com: musik – one center, kuartet dangdut anti seronok esok paginya, pukul sepuluh, fabianus dan sisca melesat menuju kampus tempat viena dulu belajar semoga ini bukan cerita picisan gadis belia dan laki-laki tua kata fabianus. Gadis belia language:id loc:id menurut ut, gadis belia yang masih duduk di bangku kelas 2 smp itu dalam kesehariannya berperangai buruk dan sering melawan orangtuanya padahal pekerjaan orangtuanya hanya mocok. Daun muda 17 tahun namun, bagaimana dengan kehidupan perkuliahan gadis belia ini di dalam kampus yang memiliki 1 500 mahasiswa dengan 4 jurusan, yaitu mi (manajemen informatika), si (sistem. Kuliah malam, rani juliani akrab dengan laki-laki – kompas.com kedua penguasa mesir kuno yang masih belia ini mendapat bimbingan dari penguasa roma kerajaan mesir di usia 18 tahun, dalam banyak literatur, ia digambarkan sebagai gadis belia.

04
Oct
09

Cerita Dewasa Umum – Obsesiku

Tolong diperhatikan bahwa ini adalah kisah semi-fiksi dimana penulis menambahkan hal-hal diluar fakta untuk lebih mandramatisir serta membuat alur cerita lebih menarik. Semua ini demi kepuasan anda para pembaca.

*****

Obsesiku Erika

Namaku Sonny, aku mahasiswa di suatu perguruan tinggi swasta di Jakarta Timur. Aku sekarang memasuki semester 5 atau tahun ke tiga kuliahku di Jakarta. Aku berasal dari daerah dan merantau ke Jakarta untuk kuliah di ibukota ini. Menurut teman-temanku tampangku sih lumayan (tipe yang disukai wanita). Tapi mereka bilang aku punya sifat introvert yang kadang membuatku menjauh dari pergaulan.

Aku memang introvert terlebih disaat-saat aku menikamati hobby-ku yaitu main komputer dan internet. kalau sudah begitu bisa berhari-hari aku mengurung diri di kamar kost dan jauh dari pergaulan. Tapi aku juga punya satu hobby lagi yaitu wanita!! Aku termasuk playboy di kampus dan sudah cukup dikenal karena itu. Kontras dengan hobby-ku sebelumnya, hobby ini bisa mebuatku jarang dirumah! Jadi cukup kontradiktif tapi bagiku malah jadi balance dan harmonis (hehehe..).

Aku baru saja pindah dari tempat kost yang lama di daerah Rawamangun ke Flat (rusun)di daerah”P”. Sengaja aku memilih tempat ini karena lebih bebas dan privacy lebih terjaga dibanding tinggal di tempat kost dimana banyak orang lain juga tinggal. Belum lagi pemilik kost yang menjengkelkan itu. Disini para tetangga cenderung bersikap cuek dengan prinsip..

“Gue sih asyik-asyik aje.. Asal loe nggak ganggu gue.. Waatchaa!”..

Begitulah motto hidup disini. Selain itu sudah menjadi rahasia umum kalau di flat ini banyak tinggal para piaraan dan simpenan ataupun istri muda (hehehehe.. Kebetulan dong!). Disamping itu banyak juga mahasiswi ASMI yang tinggal disini (Sekali lagi.. Hehehehehe!). Jadi disinilah aku bisa menekuni kedua hobby-ku dengan baik (selain belajar tentunya!)

Oh iya.. Aku baru 2 hari pindah disini dan tadi sore aku sudah bikin ‘story’ di kamar baruku. Begini ceritanya.. Seminggu yang lalu ketika sedang berada di bagian administrasi di kampus, aku bertemu dengan Erika teman kuliahku yang hampir dua semester tidak kelihatan karena cuti. Rupanya saat itu dia juga sedang ada urusan di bag administrasi. Erika adalah kakak angkatanku di kampus (dia angkatan ’96 sedang aku ’98). Kita kenal gara-gara OSPEK dan dia termasuk kakak tergalak dan sering banget ngerjain aku. Belakangan kita jadi akrab tapi sayangnya belum sempat berlanjut aku keburu digebukin sama senior cowok yang cemburu sama aku.

Atas nasihat teman-teman angkatanku maka aku terpaksa mundur dengan teratur (selain dengan dongkol dan jidat benjol tentunya!). Sebagai gambaran, Erika cukup cantik wajahnya mengingatkanku pada Lusy-mantan personil AB-Three yang sudah keluar. Tubuhnya pun mirip-miriplah tinggi dan sintal. Yang membedakan menurutku adalah kebiasaannya. Erika selalu berpenampilan sporti, suka pake sepatu kets or boots dan suaranya berat dan sexy (mungkin karena dia perokok berat pula).

Kita ngobrol-ngobrol, tanya sana-sini tentang keadaan masing-masing. Ternyata dari hasil pembicaraan aku baru tahu kalau selama cuti 2 semester dia kerja di Production House sebagai manajer multimedia advertising. Perlu diketahui PH tersebut milik bokapnya jadi enggak heran kalau dia langsung jadi manajer divisi multimedia advertising. Tapi Erika memang pintar koq, bahasa inggrisnya lancar dan IPK-nya memang tinggi. Saat itu juga dia menawarkan pekerjaan di kantornya sebagai staff marketing freelance. Kebetulan aku kenalan agen motor keluaran cina yang lagi ingin mengiklankan produknya. Aku terima tawarannya. Lumayan juga buat nambahin income (dan bisa deket lagi sama dia!). Akhirnya aku berhasil mengatur pertemuan Erika dengan kenalanku itu hari ini.

Jam sembilan pagi tadi ponsel-ku berbunyi dan kudengar suara Erika di ujung sana..

“Halo Son, ini aku”.
“Iya kenapa Rik ada apa?”

Aku agak grogi jangan-jangan pertemuannya batal or something gitu.

“Begini.. Barusan aku terima telpon kalau sepupuku Imel, tiba siang ini dari Singapur.. Dia datang bawa beberapa peralatan fotografi dan kamera yang baru dibeli disana” suaranya terdengar berat dan sexy.
“Kebetulan sopir-ku lagi nganter Mama dan supir kantor semuanya lagi tugas keluar,” katanya lagi.
“Jadi gimana dong soalnya waktunya crash sama appointment dengan klien kita.. Lagipula sepupuku si Imel itu sudah 4 th enggak ke sini jadi dia enggak tahu alamat kantor dan rumahku yang sekarang. Lagian aku sudah janji jemput dia,” suara Rika diselingi tarikan rokok.

Aku bayangkan dia sekarang baru bangun tidur dan masih dalam pakaian tidur yang menerawang sehingga lekuk-lekuk tubuhnya yang sintal terawat itu terlihat dan rambutnya masih terurai bebas duduk menelpon-ku sambil menghisap rokok putih kesukaannya..

“Son!!” Ups! suara Rika mambuyarkan lamunanku.
“Eh ehm iya.. Gini aja jam berapa Si Imel itu datang biar aku yang jemput. Jadi kamu bisa tetap ketemu klien” ujarku cepat.
“Hmm.. Oke deh.. kalau begitu.. Imel tiba jam setengah satu siang nanti”.
“Nanti setelah aku jemput, dia aku antar kesini dulu yah sampai kamu selesai presentasi” Kataku menjelaskan.
“Yup nanti aku jemput ke tempat kamu yah” Suaranya setengah mendesah.
“Eh thanks lho Son, pokoknya kalau ada apa-apa just call me ok?”
“Ok boss.. Moga-moga bisnis kita tembus yah” Kataku bersemangat.
“Hihi.. We’ll see.. Byee” Erika menutup telponnya.

Masih seperti dulu, Erika bagaikan salah satu tropi yang tidak pernah aku rebut. Di kampus telah banyak cewek-cewek cantik incaran para cowok yang telah aku tundukan.. (dan aku ‘tunggangi’ hehehe!).

Jam 12: 45 WIB di Bandara Soekarno-Hatta.
Telah sekitar setengah jam aku menunggu disini menanti wanita bernama Imel itu muncul dari pintu kedatangan. Sempat berbagai pikiran terlintas di benak-ku mengenai wanita ini. Kira-kira seperti apa yah dia? Apakah kurus ataukah gemuk seperti Suti Karno? Yang jelas kata Erika, dia tuh bakal nyamperin aku soalnya Erika sudah kasih tahu ciri-ciriku lewat telpon makanya aku disuruh pake topi dan pake jaket. Hehehe.. Kayak biro jodoh aja!

Tiba-tiba aku terkejut ketika ada pundaku ditepuk dengan halus dan ada suara menyapa dari belakang.

“Hai.. Sonny yah!”

Aku membalikan badan dan terkejut melihat seorang wanita manis tersenyum ke arahku.

“Eh Kamu Imel?” aku gugup menjawab.
“Iya.. Sorry yah agak telat soalnya aku harus ngurus bagasi agak lama karena bawaanku lumayan banyak”.

Suaranya renyah dan ramah walaupun nadanya lebih kedengaran tegas dibanding suara Erika. Ternyata Imel sangat manis dan sepintas wajahnya agak mirip-mirip Erika hanya kulitnya yang kelihatan lebih gelap cenderung merah seperti turis yang baru pulang dari Bali. Imel hampir setinggi Erika cuma badannya lebih kurus serta rambutnya yang lebih pendek dan di hiline warna kuning tampak lebih menyolok. Imel memakai kaos tanpa lengan dan celana capri 3/4 dan memakai sandal santai. Terlihat bentuk kakinya yang indah dengan gelang kaki dipergelangan kaki kanannya.

“Ehm.. Mobil kamu dimana?
“Biar portir bisa langsung ngangkut bagasinya” Suaranya ramah tapi bagaikan menegur aku yang sempat melakukan ‘quikscan’ terhadap dirinya dari atas sampai bawah (dengan ekspresi bejo alias bengong jorok).
“Oh iya bagasi yah.. Tunggu disini aku ambil mobil dulu.. Biar lebih cepat”

Aku menjawab dengan ekspresi serius menghilangkan rasa malu karena kepergok tadi. Dalam sepuluh menit kemudian aku dan Imel sedang melaju di jalan tol menuju ke tempat ku (hehehehe!!). Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya membuatku harus mengurangi kecepatan mobilku. Situasi jalan tol yang sedang ramai makin memperlambat laju kendaraanku. Imel tampak nyaman duduk disampingku sambil sesekali mengganti frekwensi radio.

“Kamu di Singapur sekolah apa?” aku membuka pembicaraan.
“Aku sekolah bisnis sambil ngambil kursus fotografi” suara Imel terdengar makin akrab ditelinga.
“Oh jadi kamu kesini sekalian kerja sama Erika yah?”tanyaku.
“Iya tapi enggak permanen sih,”lanjutnya.
“Cuma sementara aja koq soalnya aku mau lanjutin sekolah fotografi di Australia,” kilahnya dengan nada menjelaskan.
“Kamu sendiri gimana?” Imel balik bertanya.
“Aku masih kuliah di fakultas ekonomi.. Satu kampus sama Erika,” jawabku singkat.
“Aku kerja di PH-nya Erika jadi marketing tapi freelancer aja takut keteter studiku,” ujarku sambil menolong Imel memakai sabuk pengamannya.

Saat aku meraih ujung sabuk pengaman yang agak susah ditarik itu, secara tidak sengaja lenganku menyentuh dada Imel yang tampak tercetak sempurna di balik kaos tanpa lengannya yang ketat. Sempat berdesir darahku karena gejolak yang tertahan. Otomatis ‘si junior’ yang sejak tadi sudah mengeras makin terasa berontak dlm celana dalamku.

“Ups. Sorry” spontan keluar dari mulutku.
“Thats ok.. Thanks” Imel menjawab enteng seolah kejadian itu biasa baginya.

Ia berterima kasih atas bantuanku memakaikan sabuk pengamannya. Dalam hatiku aku berharap ucapan thanks tadi diucapkannya karena sentuhanku tadi (hehehe). Sisa perjalanan kita berdua lalui dalam kebisuan. Hanya alunan lagu dari radio yang mengisi suasana. Aku berkutat dengan fantasi-ku tentang gadis manis yang duduk disebelahku ini. Aroma parfum yang ia gunakan betul-betul membuat kejantanan-ku makin terstimulasi. Beberapa kali aku melirik ke arahnya mencuri pandang sambil pura-pura lihat kaca spion.

“Wow!” dalam hatiku.. Aku dalam perjalanan ke flat-ku bersama mahluk manis ini! ‘Si junior’-pun segera menyumbangkan saran-saran kotornya ke benak-ku. Apa yang akan kulakukan setiba di flat nanti? Apakah aku harus menyia-nyiakan peluang emas ini?
“TIDAAK.. JANGAN SAMPAI DISIA-SIAKAN!!”.

Aku tersentak! rupanya itu suara teriakan si junior dari balik celana dalamku. Dalam situasi ‘urgent’ seperti sekarang ini aku cuma bisa melirik ke arah celanaku dan berkata”OK BOSS!!” (hehehehe.. Dalam hati tentunya!).

Penantian

Pukul 13:50 WIB di flat tempat tinggal Sonny.. Hujan tinggal gerimis saja tapi cukup menyejukan di siang hari yang biasanya penat. Rupanya hujan deras tadi membuat perjalanan dari bandara cukup lama. Setelah mampir di warung Mas Mono untuk membeli rokok kita berdua bergegas ke kamarku yang terletak di lantai 4.

“Silahkan masuk,” aku mepersilahkan Imel masuk kamarku.
“Tapi sorry yah tempatku berantakan.. Maklum cowok hehehe” aku agak enggak enak kalau Imel enggak nyaman disini.
“Ah kamu son.. Biasa aja koq tempatku di Singapur juga enggak lebih bagus dari ini” ujarnya merendah.

Ruangan flatku tidak besar.. Terdiri dari ruang tamu, satu kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Lumayan buat bujangan.

“Wah!!” seru Imel,”Sofa kamu funky banget warnanya”

Imel rupanya tertarik pada sofa-ku yang berwarna kuning itu. Aku sendiri enggak suka sama warna kuning karena norak banget. Tapi sofa pemberian kakak-ku ini bisa dirubah jadi tempat tidur cadangan jadi berguna kalau ada teman-teman nginap disini.

“Oh ini sofa sudah lama, ini dikasih sama kakak-ku Mbak Widya,” kataku.
“Its very cool!” Imel segera merebahkan tubuhnya diatas sofa itu. Dari ekspresinya dia seperti anak kecil yang menemukan mainan lamanya.
“Eh sorry.. Aku juga punya sofa warna kuning di apartemanku di Singapur” kata Imel sambil mengganti posisi duduknya.

Dia seperti menyadari kalau aku agak terbengong-bengong atas sikap dia barusan. Aku kembali memutar otak.. Bagaimana cara untuk mendapatkan ‘tropi’ yang satu ini sebelum Erika menjemputnya? Segala macam cara aku pikirkan termasuk memberinya obat perangsang (tapi segera aku buang dari benakku karena ngerasa malu sendiri). Aku duduk disampingnya dan menyalakan TV. Imel bangkit dan bertanya,”Son.. Aku haus kamu ada batu es?”.
Aku heran dan berkata,”Di kulkas ada air dingin tuh, kamu enggak perlu pake batu es lagi”.

Imel segera mangambil gelas dan sebotol air dingin di kulkas. Aku menonton TV sambil kakiku selonjoran diatas meja di depan sofa.

“Eh si Erika masih lama yah meeting-nya?” tanya Imel sambari duduk disampingku dan menaikan kakinya selonjoran di meja.
“Nanti sekitar jam 3 atau jam 4 selesai.. Dia bilang mau telpon koq kalau sudah selesai” Kataku menjelaskan sambil menghembuskan asap rokok. Tampak asap rokok mengepul melenggok bagai tubuh seorang wanita yang menggoda.
“Kamu mau juga nggak?” Imel manawarkan segelas air minumnya.
“Oh no thanks.. Dingin-dingin begini aku enggak bisa minum es” aku menjawab singkat sambil memperhatikan sepasang kaki Imel yang ‘parkir’ disebelah kaki diatas meja.

Tampak gelang kakinya manambah manis kakinya yang bagus dan terawat itu. Terdengar suara imel yang minum pake sedotan dari gelas yang sudah habis airnya. Srrt.. Srrt! Imel menyedot gelas yang sudah kosong. Aku menoleh ke arahnya dan tanpa kusangka sepasang mata bulatnya sedang manatapku dengan tatapan nakal. Terlihat senyumnya yang kekanak-kanakan sambil bibirnya menyedot sedotan di gelas yang sudah kosong itu. Rupanya Imel menggodaku!

“Kayak anak-anak yah” ujarnya sambil tetap senyum ke arahku. Aku tetap belum mau terpancing (soalnya takut salah kira)
“Iseng banget sih kamu” aku menjawab sambil membalas senyumnya.
“Lagian daripada nungguin Erika lama banget”.

Aku makin terkejut! Suara Imel sengaja dibuat seperti merengek manja. Aku jadi makin salah tingkah.. Bingung apakah Imel benar-benar menggodaku atau memang dia punya sifat manja? Belum habis kebingunganku, Tiba-tiba kurasakan kaki Imel menggelitik kakiku.

“Serius banget sih kamu.. Biasa aja dong,” ujarnya menggodaku lagi.

Pucuk ditimpa ulam tiba! Aku segera membalas menggelitiki kakinya. Terdengar Imel tertawa tertahan menahan geli.

“Mel..” Ucapanku tertahan karena Imel meletakan jari telunjuknya di atas bibirku memotong perkataanku.
“Ssst.. Stop talking” tatapan matanya berubah dan aku melihat ada gairah dlm tatapannya. Suaranya terdengar lebih mesra sementara nafasnya makin berat.
“Kira-kira pikiran di kepala kita saat ini sama nggak yah?” Perkataan Imel itu segara manyalakan lampu di kepalaku yang dilanda kebuntuan sejak tadi.

Segera aku mematikan rokok, menyingkirkan gelas yang dipegangnya dan segera membalikan badan ke arahnya. Imel mengganti posisi duduknya menjadi meringkuk kakinya ditekuk di depan dadanya. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya tak sabar ingin melumat bibir tipisnya. Tiba-tiba Imel menahan tubuhku dengan tangannya dan agak mendorongku menjauh darinya.

“Wait a second” katanya.
“Kita lakuin step by step ok” Suara Imel setengah memerintah dengan tatapan mata yang kian meredup manahan gejolak hasratnya.

Aku kembali berusaha mendekat kepadanya bagaikan seekor pemangsa mendekati mangsanya. Kali ini gerak majuku tartahan oleh kaki kanan Imel yang disodorkan manahan dadaku. Imel seperti menendang secara perlahan hingga kembali mendorongku mundur. Terlihat senyumnya dingin tapi penuh gairah ke arahku. Kakinya yang halus dan mulus itu di selipkan ke bagian kemejaku yang sudah terbuka dan aku merasakan kakinya halus membelai dadaku yang bidang dan agak berbulu. Gerakan kakinya lincah bermain di atas puting dadaku. Kuraih betisnya lalu lidahku mulai menjelajahi kaki Imel yang indah dan terawat itu.

Mulai dari tumitnya ke bagian engkel lalu ke arah betis bagian bawahnya. Halus dan hangat terasa di lidahku. Imel kegelian.. Ujung jari-jari kakinya beberapa kali mengejang manahan kenikmatan yang mulai merembet ke atas. Aku gemas melihat jari-jari kakinya yang indah tersebut lalu kukulum satu persatu.

“Iih..” Imel mengerang lirih manahan rasa geli bercampur nikmatnya. Sekitar 3 menit aku melakukan “legs job” ketika Imel yang sudah tidak tahan lagi membuka ikat pinggangku dan membuka celanaku dengan penuh hasrat. Aku segera menarik lepas baju kaos tanpa lengan yang dia kenakan. Terlihat bra hitamnya dan garis payudaranya yang kencang dan ranum.

Begitu celana dalamku terlepas, ‘si junior’ segera berdiri bagaikan ular kobra yang terusik. Imel sejenak menggigit bibir bawahnya dan meleletkan lidahnya sebelum dia memagut penisku dangan rakusnya tanpa dipegang terlebih dahulu. Kedua tangan Imel merayap ke atas dadaku sambil sesekali membuat gerakan seperti mencakar yang membangkitkan sensasi tersendiri buatku. Kedua lengan Imel terlihat kencang dan pundaknya tampak cukup atletis (belakangan aku baru atau kalau Imel punya hobby diving/menyelam). Hangat terasa saat penisku dikulumnya. Kadang Imel memainkan penisku dalam mulutnya dengan lidah.

Kemudian Imel menciumku mulai dari penis terus ke atas hingga bibir kita berdua bertemu dan saling berpagutan dengan permainan lidah yang memabukan. Sementara itu Imel melepaskan celananya sedangkan aku mambuka bra-nya. Tampak Buah dadanya yang ranum dan terbentuk dengan sempurna. Payudara Imel tidak tergolong besar tapi bentuknya betul-betul indah dengan putingnya yang lancip bagaikan melotot ke arahku.

Kulingkarkan lenganku di pinggangnya yang ramping sambil mendekapkan kedua tubuh kita yang berciuman. Bagaikan es dan api bertemu menghasilkan getaran dahsyat diantara kita. Imel mendongak sambil menggoyang pinggulnya menggesek Penisku.

“Oooh Sonnyy.. Uffssh” dia mengerang sambil memejamkan matanya.

Aku menciumi lehernya yang jenjang, lalu kupingnya kemudian turun ke payudaranya. Aku memainkan lidahku di ujung puting susunya.

“Uuuhh.. Yes soon!” Imel mendekap dan membenamkan wajahku diantara buah dadanya.

Tercium wangi aroma tubuh wanita yang sedang dilanda birahi. Aku merebahkan tubuhnya lalu meneruskan eksplorsiku ke bagian bawah. Kugerakan tanganku mencakar halus pingganngnya sampai ke payudaranya (ini kunamakan jurus cakar sakti.. Hehehehe). Imel meremas kedua tanganku menahan geli yang ditimbulkannya.

“Ssshh.. Ssshh!” Imel mendesis berkali-kali menahan kenikmatan itu.

Aku menarik turun celana dalamnya yang berwarna putih dengan motif kupu-kupu berwarna-warni (funky juga tuh). Sesaat kemudian aku sudah berhadapan dengan ‘tropi’ itu. Vagina Imel yang tampak tebal dengan bulu-bulu yang sepertinya sering dicukur sehingga tumbuh rapi. Sejenak aku mengagumi keindahan vaginanya lalu Imel bergerak sedikit mengangkat pinggulnya dan membuka agak lebar kedua pahanya seakan menyodorkan ‘menu’ utamanya ke wajahku. Aku memainkan klitorisnya dengan tanganku-sementara kujilati kedua pahanya.

“Aaahh.. Ssshh” Imel mengerang lirih.

Aku menikmati aroma kewanitaannya yang semerbak bersamaan keluarnya ‘cairan cinta’ dari liang vaginanya. Kubenamkan wajahku ke vaginanya sambil menjilati bibir vaginanya. Klitorisnya yang berwarna merah jambu kukulum sambil kumainkan dengan lidahku. Tubuh Imel menggelinjang bergetar..

“Uuuhffss.. AAhh!” Imel menjerit menahan kenikmatan sambil tangannya menggenggam tepi sofa. Kurasakan cairan vaginanya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.
“Son.. Get into me now”.

Imel lirih memohonku untuk segera memasuki tubuhnya. Aku segera menempatkan tubuhku diatas tubuhnya yang ramping sexy serta kencang itu. Berdesir darahku melihat Imel terbaring polos telanjang. Kulitnya yang berwarna kemerahan karena terbakar matahari namun tetap mulus dan halus karena dirawat dengan baik hingga menambah gairahku. Body Imel tuh agak kurus tapi kencang dan atletis mirip-mirip pelari sprinter tapi untungnya enggak sampai berotot sih (thank God).

“Latex please” suara Imel yang sexy mengingatkanku.
“Ok ok” aku segera meraih dompetku dan mengeluarkan kondom yang selalu kusiapkan disitu.

‘Si junior’ bersarungkan Durex siap tempur! Imel menggenggam penisku dan menuntunnya ke liang vaginanya yang merah basah. Sejenak sempat kudengar Imel mendesis saat meraih penisku.

“Uuu.. Its big and strong” ujarnya setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Begitu ujung kepalanya menempel di bibir vaginanya.. Kurasakan getaran listrik yang mulai menjalar di seluruh tubuhku. Lalu perlahan aku dorongkan ke dalam vaginanya.

“UUHHSS.. YESS”
“SOON.. Uuuffssh” Imel mengerang sambil mendongakan kepalanya.

Dengan satu dorongan berikutnya penisku sudah masuk secara full dalam liang vagina Imel yang hangat dan tebal. Imel mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar dipinggangku. Aku mulai gerakan memompa vaginanya.

“Yess.. Uff soon” Imel menjerit halus sambil memejamkan matanya.

Gerakanku makin lama makin cepat dengan tekanan yang makin kuat menerobos ke dalaman vagina Imel yang merespon dengan berdenyut-denyut seperti memijit penisku. Tiba-tiba Imel membuka matanya dan berbisik lirih.

“Son ganti posisi.. Aku biasa orgasm sambil doogie”.

Kita segera ganti posisi kali badan Imel membalik dalam posisi nungging (doogie style). Katanya dia biasa orgasme dlm posisi ini. Aku menuruti permintaan Imel. Yang jelas dalam posisi ini aku jadi bisa melihat postur Imel lebih lengkap. Biarpun Imel ramping, tapi dia memilik pantat yang padat dan berisi sehingga dengan pinggangnya yang ramping makin membuat pantatnya montok dan makin semok. Aku segera mengarahkan penisku kembali.. Kali ini penetrasi dari belakang.

“Srrt..” makin lancar penetrasiku kali ini soalnya bagian luar vagina Imel sudah makin basah.

Imel menggenggam pegangan sofa dengan kedua tangannya. Aku menciumi lehernya dari belakang sambil kadang-kadang menggigit pundaknya. Ternyata Imel sangat pengalaman dlm posisi ini dia makin aktif bergerak.. Selain mengikuti gerakan maju mundurku pinggulnya pun bergoyang mengocok penisku.

“Imel.. Pinggul kamu hebat banget,” aku berbisik terengah-engah. Imel menjawabnya dengan erangan-erangan dia menoleh kepadaku sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat peluh membasahi wajahnya yang makin memerah. Sesaat kemudian dia berbisik padaku

“Faster.. Sayang.. Lebih cepat!!” suaranya dibarengi deru nafas yang memburu.

Rupanya dia sudah makin mendekati klimaks. Aku pun meresponnya dengan gerakan yang lebih cepat dan keras. Kutusukkan penisku makin dalam ke vaginanya seiring perasaan klimaks yang sudah diambang.

“Aaahh uuh ssh.. Teruus Soon ahh” Imel menjerit sambil bergerak makin liar sampai sofa ini bergetar berderik-derik. Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Imel. Gerimis masih turun diluar ketika Imel Tiba-tiba menjerit.

“AAH UUHHFFSSH”..
“SOONNYY” kepalanya mendongak.

Tubuhnya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat dari liang vaginanya merembes sampai ke buah pelirku. Aku pun melepaskan jutaan spermaku menyemprot kencang memenuhi karet Durex yang kupakai.

“UU.. Yess” Imel mengakhiri gelombang kenikmatannya.

Sejenak tubuh kami mengejang bersama lalu rebah lunglai diatas sofa kuning. Imel rebah menelungkup dengan tubuhku diatasnya. 15 menit kemudian kami duduk dan mulai membereskan pakaian kami.

“Koq jadi begini yah” aku seperti bicara pada diriku sendiri (sengaja biar enggak ketauan niat-nya hehehe).
“Tahu nggak apa sebabnya?”Imel berkata sambil menatap lekat wajahku. Kemudian dia melanjutkan dengan senyum nakalnya yang penuh arti itu.
“Sofa kuning ini.. Bikin aku sugesti buat ngelakuinnya”.

Aku masih tidak mengerti maksudnya kemudian Imel menambahkan, “Khan sudah kubilang.. Di apartemanku di Singapur aku punya Sofa kuning”.
“Terus..?” aku minta penjelasan. Imel menambahkan.
“Pertama kali aku ML di sofa itu dan sampai sekarang aku selalu melakukan aktivitas sexual-ku di sofa itu” lalu ia melanjutkan, “Sofa kamu mengingatkanku sama punyaku di sana.. So sofa kuning ini turn me on.. Bikin aku horny”.

Walah aku terheran-heran koq bisa begitu? Belum selesai keherananku Imel berkata lagi, “Tapi punya kamu besar juga koq, i like it very much,” ujarnya tersenyum sambil berjalan ke arah kamar mandi. Aku masih duduk lemas diatas sofa itu ketika Hp-ku bunyi. Ternyata Erika telah selesai dengan presentasinya dan sekarang sudah tiba di sini. Dia menunggu Imel di tempat parkir. Aku mengantarkan Imel ke bawah dan di tangga Imel sempat berbisik.

“Son.. Sofa-nya jangan kamu ganti yah soalnya-kalau aku kangen sama sofaku di singapur pasti aku ke sini lagi”.

Aha! pasti akan aku rawat dengan baik. Kalau perlu enggak boleh ada orang lain yang duduk disitu selain Imel aja. Begitulah yang terjadi di flat-ku sore itu. Betul-betul story baru yang buat aku semangat(hehehe!). Karena Erika mau langsung pulang sama Imel dan besok dia harus keluar kota jadi barang-barang bawaan Imel itu dititipkan sama aku.

Biar aku yang bawa besok sekalian ke kantor. Diantara barang-barang baru tersebut aku menemukan satu set kamera kecil yang namanya probe camera lengkap dengan receiver-nya (bisa buat ngintip hehehehe!). Eh ngomong-ngomong di lantai 4 flat yang aku tinggalin ini ada 4 kamar. Aku di kamar 42 sedangkan tetanggaku hampir semuanya cewek (heheheh!). Di kamar 41 tuh yang tinggalin ada 2 cewek anak ASMI namanya Rina dan Elin. Kamar 42 yang tinggal pasangan suami istri yang masih muda. Suaminya enggak jelas pekerjaanya namanya Mas Agus sedangkan istrinya Mbak Leny kerja di karaoke. Terakhir kamar 44 yang tinggal kakak beradik. Mbak Laras sama Mbak Ratri. Mbak Laras itu seorang polwan sedangkan Mbak Ratri pegawai sebuah bank swasta.

Kebetulan mereka semua enggak ada yang jelek. Tampangnya mulai dari lumayan sampai cakep (sekedar menilai). Begitulah sekilas profil para tetangga baruku. Besok khan enggak ada Erika jadi aku mau berusaha ‘bersosialisasi’ dengan para tetanggaku.

E N D

06
Sep
09

Dukun Cabul

Sekitar setahun setelah saya bercerai, ada teman yang mengajakku pasang susuk. Katanya sudah banyak teman-temannya yang kesana. Pertama-tama saya tidak berminat, terus dia pergi sendiri. Seminggu kemudian kami ketemu lagi, langsung saja saya bertanya bagaimana susuknya. Dia cuma tersenyum sambil berkata, “kamu kesana deh, cocok buat yang sudah lama tidak begitu”. Saya heran lalu saya tanya lagi apaan, tapi dia tetap saja tersenyum. Karena penasaran, akhirnya saya juga kesana. Ternyata dukunnya tidak jelek-jelek amat (seperti di film-film kurus dan tua), malah cenderung ganteng walau agak berumur. Waktu saya beri tahu maksud kedatanganku, dia bertanya-tanya banyak hal, seperti status saya, jadwal mens, dll. Sedikit heran, tapi saya jawab. Terakhir akhirnya dia bilang, kalau pemasangan susuk yang saya minta harus dilakukan lewat cara bersenggama. Mukaku langsung merah padam (maklum, waktu itu saya baru menjanda, dan hubungan badan terakhir cuman sama eks-suamiku). Tapi saya lihat, Pak dukun justru tenang-tenang saja, mukanya tidak berubah, tidak tahu apa dia punya ilmu hipnotis yang bisa mempengaruhiku atau kepercayaanku bahwa dia betul-betul profesional (sekedar ingin bersetubuh denganku), akhirnya saya setuju.

Lalu dia melakukan perhitungan berdasarkan jadwal mensku, terus dia mencari tanggal yang tepat dimana saya lagi tidak subur. Pada hari yang ditentukan, saya kembali lagi ke sana. Lalu saya dibawa ke belakang, ke sebuah ruangan khusus (seperti ruang praktek dokter), terus disuruh minum segelas minuman (spertinya itu obat perangsang, sebab tidak lama saya langsung merasa relax dan panas). Sekitar setengah jam kemudian, Pak dukun masuk lalu mengambil topeng dari lemari. Saya lalu berbaring diatas ranjang. Pelan-pelan Pak dukun membuka kancing blusku. Setelah terbuka semua blus itu disibakkannya ke pinggir (tidak dilepas). Mulutnya komat-kamit membaca mantra lalu kepalanya mulai menunduk di atas dadaku. Tak lama lidahnya mulai bergerak-gerak diatas putingku, sambil tangannya mengelus-elus pahaku. Pengaruh obat dan rangsangan itu membuatku melayang-layang. Tidak berapa lama saya sudah basah (kelewat basah malah, karena saya sempat orgasme sama jari Pak dukun). Lalu Pak dukun pindah di kakiku. Rokku dibuka, celana dalam juga. Terus dia meniup-niup liang kewanitaanku sambil komat-kamit. Putingku rasanya dingin karena BH yang saya pakai basah oleh ludah Pak dukun (kebetulan saya pakai BH yang renda-renda dan cupnya cuma sepotong). Setelah ditiup-tiup, kakiku mulai dilebarkan. Lalu Pak dukun menurunkan celananya. Penis Pak dukun panjangnya biasa-biasa saja (seperti eks-suamiku) tapi punya dia lebih gemuk (sangat gemuk) dan melebar ke samping. Di sini saya belajar bahwa panjang penis cowok tidak begitu berpengaruh terhadap kenikmatan, tapi lebarnya yang berpengaruh. Pak dukun ngocok-ngocok penisnya sambil komat-kamit membaca mantra. Terus dia mulai memasukkan penisnya ke dalam liang senggamaku. Waduh, rasanya.., tidak tahu apakah karena saya sudah lama tidak mendapat service, atau memang nikmat, tapi yang jelas waktu itu saya sampai berteriak keenakan. Pak dukun juga seingat saya cukup ahli memuaskan wanita, sebab dengan goyangan-goyangan pantatnya itu saya sampai dua kali orgasme. Dia sendiri sepertinya enjoy juga (jelas, liang kewanitaanku termasuk rapat dan diantara pasien-pasiennya saya termasuk paling muda). Saya tidak peduli lagi, pokoknya kami berdua enjoy banget.

Ketika saya memasuki orgasme yang ketiga, Pak dukun juga sudah mau orgasma. Penis gemuknya dihunjamkan sedalam-dalamnya ke dalam liang senggamaku. Wah, saya langsung meledak sambil menjepit erat-erat pantatnya. Bersamaan denganku, Pak dukun juga meledak. Yang paling saya ingat waktu itu, sambil merem-melek dan meringis keenakan, Pak dukun masih sempat mengucapkan mantera seperti, “Aahh.., ss.., blablabla.., ss.., hh.., blabla.., hh.. ooh.., mm..”, Terus dia membantuku melepaskan rasa nyaman dengan menciumiku sambil mengelus-elus dadaku.

Setelah saya kembali sadar, dia juga mulai bangkit. Penisnya masih menggelantung mengkilat, dia nmengambil tissue buatku. Lalu dia menunjukkan pintu kamar mandinya. Wah, pakaianku berantakan dan kusut (habis tidak dibuka sih).

Akhirnya saya cuma pipis dan mencuci kemaluanku sedikit saja. Waktu keluar Pak dukun sudah pakai baju. Terus dia bilang susuknya sudah masuk, dibawa oleh spermanya katanya. Terus dia pesan saya jangan takut hamil, karena sudah dihitung baik-baik harinya. Setelah menerima amplop dariku (sesuai pesan teman 50.000 cukup), lalu saya disuruh pulang. Sampai sekarang saya tidak tahu apa benar saya punya susuk, ataukah itu cuma alasan dukun cabul untuk meniduri perempuan. Yang jelas waktu itu saya merasa puas juga, dan syukur sampai hari ini saya tidak kena penyakit kelamin atau sejenisnya. Saya pikir biarlah, hitung-hitung sama saja dengan menyewa bebek.

Kabar terakhir tentang Pak dukun, kata temanku dia pindah ke Ambon. Saya tidak tahu di sana dia praktek juga atau tidak lagi. Tapi baru-baru ini saya baca surat kabar KOMPAS (belum seminggu korannya), ada cerita tentang dukun yang suka gituin istri orang. Mungkin itu dia, kalau kamu tertarik bisa buka-buka koran kompas, tapi saya tidak pasti tanggalnya.

TAMAT

05
Sep
09

Dugem Dan Seks

Namaku Rio, aku tinggal di kota metropolitan dan baru masuk kuliah di universitas swasta yang terkenal. Aku adalah remaja yang tak pernah kekurangan apapun, terutama materi. Karena itu aku dengan mudah terjerumus dalam gelapnya dunia malam bersama teman karibku yang selalu bersamaku.

Malam itu seperti biasa aku pergi ke diskotek bersama Rudi temanku, malam itu suasana tampak ramai sekali karena ada tarian striptease yang panas. Aku langsung ke bar untuk beli minuman sementara Rudi langsung turun untuk joged. Setelah beli minum aku cari tempat duduk untuk melihat situasi, biasa, “mencari mangsa”.

Lagi asyik jelalatan lihat-lihat pantat seksi, pundakku ditepuk dari belakang, setelah kutoleh, ternyata ada dua cewek seksi berdiri di belakangku.

“Hai, boleh gabung di sini gak? capek nih dari tadi nge”beat” terus.” tanya dia padaku.
“Boleh aja, kosong kok.” jawabku sambil melirik kearah dadanya yang montok berisi.
“Aku Sherli, ini temanku Devi, nama kamu siapa?” tanya cewek itu.
“Oh.. Aku Rio.” jawabku sambil mengulurkan tangan pada Devi.
“Gila.. Nih cewek mulus abis.. Wuih dadanya.. Pantatnya..” batinku sambil mengamati si Devi, ternyata si Devi tau kalau mataku sedang memandang ke arah dadanya.
“Hai..! ngapain lihat-lihat, pegang aja.” godanya sambil tersenyum padaku.
“Ha ha ha ha jangan ah, ntar kalau aku nafsu gimana hayo” jawabku sambil tertawa.

Akhirnya makin lama kami semakin akrab.

“Eh turun yuk? nge-beat lagi biar makin hot.” ajak Devi.
“Oke deh, yuk..”. Kami bertigapun gabung nikmati dentuman house musik sambil joged.
“Eh kesana yuk, aku kenalin ama temanku biar kamu gak sendiri.” ajakku pada Sherli sambil menggandeng tangannya menuju tempat Rudi joged.
“Hoii.. Rud! nih kenalin temenku daripada sendiri aja!” Akhirnya mereka kenalan & joged bareng.

Kami berempat joged sama-sama menikmati house musik yang makin hot, aku joged dibelakang si Devi sambil memeluk dia, Devi juga joged sambil pantatnya digoyang-goyang ke depan celanaku, tampaknya dia makin panas dengar lagu house. Kontolku jadi mengeras kena goyangan pantat si Devi, tangankupun jadi gerilya meraba-raba dadanya sambil menciumi lehernya yang mulus itu.

Akupun joged sambil menggoyang pantatku maju mundur seperti orang ML. Kami makin lama makin gila jogednya, tangan Devi juga gak mau kalah meraba-raba kontolku sambil terus nge-beat. Kulihat Si Rudipun tengah asyik berciuman dengan Sherli sambil berpelukan. Tak terasa udah saatnya bubar, waktu menunjukkan pukul 4 pagi, kamipun pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobil.

“Eh.. Dev, kamu pulang kemana? aku antar ya?” tanyaku pada Devi.
“Kalau aku ama Sherli sih biasanya nongkrong di cafe, nunggu pagi, abis tempat kost kami dikunci sih” jawabya.
“Gimana kalau kita nyewa villa di puncak, kan asyik nih berempat?” celetuk Rudi.
“Iya deh dev, ke villa aja?” ajak Sherli sambil ngelirik Rudi penuh arti.

Akhirnya kamipun berkendara ke puncak, aku yang nyetir mobil, Devi duduk di sebelahku sambil tiduran. Saat lihat kebelakang lewat kaca spion, Rudi tampak lagi asyik menjilati dada Sherli sambil tangannya meraba raba kedalam rok Sherli, Sherli tampak merem melek menikmati.

“Woi.. Gile loe! ntar aja di villa, kurang ajar loe, aku lagi nyetir gini, loe lagi enak-enakan!” hardikku pada Rudi sambil tersenyum.
“Udah.. Loe nyetir aja, aku lagi pemanasan nih..” jawab rudi padaku.
“Iya nih Rio, nganggu aja, nanti aja kamu ama devi di villa!” tambah serli sambil tangannya menarik kepala rudi untuk menjilati dadanya lagi.

Setelah sampai, kami berempat masuk kedalam villa, kulihat rudi ama sherli langsung menuju kamar, tampaknya mereka sudah nafsu abis.

“De, kamu ngantuk ya? gimana kalau kita mandi aja biar seger? tanyaku pada devi, “iya nih ngantuk.. Oke deh mandi aja, lagian rugi dong kalo tidur sekarang..” jawab devi penuh arti.

Kami berdua pun menuju kamar mandi, kontolku udah mengeras dari tadi melihat rudi ama sherli dalam mobil. Tanpa malu-malu devi menanggalkan semua pakaiannya, hingga terlihat bulu-bulu halus yang menutupi vaginanya, tubuhnya begitu mulus dan montok.

“Hei kok pakaiannya gak dilepas juga sih, katanya mau mandi?” kata devi mengagetkanku sambil tangannya melepaskan pakaianku.
“Lho kok udah keras gitu, pengen ya?” tanya devi sambil tersenyum.
“Iya nih, abis kamu seksi banget nih” jawabku sambil meluk devi dan mencium bibirnya.

Tak terasa kami udah saling berciuman sambil saling meraba, tanganku menggosok-gosok vaginanya sambil sekali-kali jariku kumasukkan kedalamnya, bibirku terus menciumi bibirnya, lidahku mulai masuk kedalam bibirnya.

Tampak devi mendesah menikmati rangsanganku, kontolku terus dikocok-kocok lembut. Akhirnya devi jongkok didepanku kemudian bibirnya mulai menjilati kontolku dari batang sampai pucuknya. Kontolku dilumat habis masuk kedalam bibirnya sampai aku hanya bisa bersandar di dinding tak kuasa menahan rangsangannya, tanganku memegang kepalanya agar bergerak maju mundur makin cepat.

“Oh.. Enak dev, terus.. Terus..” desahku menikmati.
“Sini gantian dev, aku pengen menjilati vaginamu..” kemudian kutarik tubuhnya membelakangiku.

Akupun jongkok di belakangnya sehingga tampak belahan pantatnya yang montok, aku langsung menciumi pantatnya sambil meremas-remas pantat seksinya, lidahku mulai menjilati vaginanya yang basah kemerahan sambil sekali-kali lidahku kumasukkan kedalam vaginanya.

“Shh.. Ach.. Terus yo.. Terus.. Gigit klitorisku.. Ach!” desis devi, tangannya mendorong kepalaku, membenamkan kepalaku ke pantatnya.

Kugigit lembut klitorisnya sambil terus kujilati vaginanya, kulihat kakinya bergetar hebat kemudian terasa cairan hangat membasahi mukaku, terus kujilati vaginanya sampai devi mendesah-desah menikmati orgasmenya.

“Udah.. Aku udah keluar nih, gila.. Pinter benar kamu yo, gantian dong kamu kan belum orgasme, aku juga pengen ngerasain kontolmu kedalam vaginaku..” desah devi sambil menjilati wajahku yang basah kena cairannya.

Aku tersenyum sambil membungkukkan badan devi membelakangiku, kemudian kontolku mulai kugesek-gesekkan diluar vaginanya yang kemerahan itu, ” cepetan dong yang.. Aku uda nggak tahan nih..” desah devi agar aku cepat memasukkan kontolku.

Setelah kontolku basah kena cairannya, langsung kusodok pelan-pelan, terasa lembut dan hangat saat pucuk kontolku mulai masuk, lalu kugoyang pelan-pelan sehingga batang kontolku masuk semua, terasa hangat dan lembut vaginanya memijat kontolku.

“Ach.. Ach.. Ach lebih cepat lagi yo..” kata devi sambil mendesah.

Aku mulai bergerak maju mundur lebih cepat sambil tanganku terus meremas buah dadanya, makin lama orgasmeku hampir mau keluar.

“Ah.. Aku mau keluar nih de..!” ujarnya.

Sambil menarik kontolku keluar, devi berbalik dan jongkok di depanku kemudian tangannya mengocok kontolku sambil sekali-kali mengulumnya.

“Ahh ahh ahh..!” desahku saat orgasme mulai mengalir didalam urat kontolku.

Devi makim mempercepat kocokannya sambil mengulum pucuk kontolku, akhirnya spermaku muncrat didalam mulut devi, pantatku kugoyang maju mundur agar orgasme terasa makin nikmat, devi terus mengulum kontolku, terlihat spermaku menetes keluar dari mulutnya.

“Wuih, kamu keluarnya banyak banget, gila.. Asyik nih ML ama kamu..” kata devi.

Kemudian dia berdiri sambil tangannya terus mengelus-elus kontolku yang mulai mengecil, aku hanya tersenyum sambil bersandar merasakan kenikmatan yang tiada tara itu.

Kemudian kami mandi berdua saling membasuh tubuh. Setelah selesai mandi kugendong devi menuju tempat tidur untuk rebahan memulihkan tenaga sebentar.

“Eh.. Yo ngintip Rudi ama sherli yuk?” ajak devi.
“Oh iya mereka pasti masih ML sekarang, soalnya Rudi itu maniac banget kalo ML, yuk!” jawabku, kemudian kami berjalan mengendap-ngendap menuju kamar Rudi.
Makin dekat, terdengar desahan sherli di kupingku, “Bener kan, mereka masih ML” kataku pada devi.

Kemudian aku berjalan mengendap-endap dan membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Terlihat didalam kamar tampak Rudi sedang menindih tubuh sherli sambil menggoyang pantatnya dengan cepat, mereka membelakangi aku dan devi sehingga tak tau kalau sedang diintip. Kemudian mereka berganti posisi, sherli duduk diatas Rudi, tampak dengan jelas kontol si Rudi masuk pelan-pelan kedelam vagina sherli, lalu sherli bergerak berlahan sambil mendesah, tangan rudipun terus meremas-remas dada sherli, makin lama gerakan sherli makin cepat.

“Rud, aku mau keluar nih..!”
“Aku juga sher..!” tampak gerakan mereka makin cepat sambil mereka terus mendesah tanda orgasme telah dipuncaknya, lalu gerekan mereka makin memelan dan sherli tampak memeluk Rudi, vagina sherli tampak basah karena cairan orgasme mereka berdua keluar bersama-sama, ada cairan putih menetes keluar dari vaginanya.

Nggak terasa kontolku ereksi lagi dan kulihat tangan devi tengah mengelus elus vaginanya di dalam celana dalamnya sambil matanya terpejam.

“De, ML lagi yuk, aku pengen nih..” ajakku.
“Yuk, aku juga pengen nih..” jawab devi sambil tersenyum.

Lalu kugendong devi kedalam kamar dan kukunci kamarnya agar nggak bisa diintip sama Rudi. Kemudian kurebahkan tubuh montok devi di atas ranjang.

“Malam ini akan kubuat kamu menjadi ratuku sayang..” kataku sambil menjilati vaginanya yang mulai basah lagi..

E N D

04
Sep
09

Dosen Favoritku

Namaku Anita, kelahiran Samarinda, kuliah di fakultas Ekonomi sebuah PTS cukup beken di kota Malang, saat ini semester 6. Kabarnya teman kuliahku bilang aku cukup manis untuk dipandang, dengan ukuran buah dada 34C, tubuhku seolah tak kuat menyangga buah dadaku. Tinggiku 165 cm dan beratku 60 kg, kulitku putih mulus dan pantatku berisi. Tiap kuliah dengan kelebihan yang kupunya aku berusaha menarik perhatian semua orang dengan pakaian ketat dan rok miniku berjalan melenggang. Semua mata tertuju kepadaku ada juga beberapa berdecak kagum atas kemolekan tubuhku dan, aku bangga menyaksikan semua itu.

Terus terang aku sudah tidak perawan sejak usia 18 tahun pada waktu aku di SMA, karena bebasnya pergaulan dan longgarnya tatanan keluargaku aku bebas pergi kemana saja yang kusuka. Keperawananku hilang saat aku melakukan kegiatan “camping” bersama teman-teman saat perpisahan sekolah di suatu tempat pariwisata. Aku tidak menyesali karena kulakukan atas dasar suka sama suka.

Kuliah sore ini adalah dosen favoritku. Faisal namanya, wajahnya ganteng atletis dan banyak sekali mahasiswi yang berusaha menarik perhatiannya pada saat dia mengajar. Bahkan aku pernah dari kakak tingkatku walau dia kelihatan alim sebenarnya piawai juga dalam menaklukkan hati wanita yang diincarnya. Pak Faisal sudah berkeluarga tetapai masih banyak juga mahasiswi yang tergila-gila melihat penampilannya termasuk aku sendiri. Aku pilih tempat duduk paling depan lurus dengan tempat duduknya biar aku dapat dengan mudah dan puas memandangnya. Tak lama kemudian Pak Faisal memasuki ruangan, setelah memberikan salam dan berbasa-basi pelajaran dilanjutkan. Aku tidak dapat konsentrasi pada kuliah yang diajarkannya, pikiranku tertuju pada wajah dan bodinya yang tepat berdiri di depanku. Sesekali kugerakkan kakiku untuk menarik perhatiannya dan dia terpancing, diliriknya rokku yang cukup sempit itu, sreet. Dan dipalingkan wajahnya pada pandangan lain, ah dia kena, pikirku. Dan secara tidak sengaja dilemparkan pandangannya pada daerah dadaku Pak Faisal agak terbelalak melihat belahan dadaku yang seolah mau melompat keluar karena ketatnya T-shirt yang kukenakan.

Merah wajahnya seketika menyadari keadaan ini dan dia pura-pura menulis di papan. Selang beberapa saat dia melanjutkan membahas materi kuliah dan kini aku yang benar-benar terkejut, kulihat celana Pak Faisal ada yang menggembung di bagian depan. Beberapa mahasiswa tersenyum malu memandangnya bahkan ada yang sempat terhenyak sampai menutup mulutnya. Kubayangkan betapa besar batang kemaluan Pak Faisal yang sekarang sembunyi di balik celananya. Aku semakin terkagum dan merinding membayangkan andaikan vaginaku yang sempit ini sempat disinggahi oleh batang kemaluannya. Ketika kuliah usai mahasiswi ramai membicarakan kejadian yang baru berlangsung yaitu menggembungnya celana Pak Faisal.
“Eh, Neti kamu lihat nggak anunya Pak Faisal meradang”, tanya Nina sambil berbisik berbicara dan menutup mulutnya.
“Iya Nin, Aku jadi merinding lho membayangkan, ngeri juga ya, kalau kamu bagaimana Anita”, Tanyanya kepadaku, mereka berdua denganku (jadi bertiga) adalah kelompok belajar yang kadang suka ngerumpi hal-hal yang jorok-jorok untuk selingan, dan kedua temanku juga orangnya fair dia mengaku sama-sama tidak perawan dan senang melakukan hubungan seks dengan orang yang di sukai. Yang jelas ketiganya ini memang sedang berburu Pak Faisal, Karena konon kabarnya Pak Faisal pernah juga terlibat beberapa kali affair dengan mahasiswinya dan semua berjalan santai-santai saja.
“Pasti dong, aku kan duduk depan sendiri jadi aku paling jelas lihat burung raksasanya, benar juga ya kali. Kakak tingkat kita itu yang pernah sama dia pasti ketagihan dibuatnya,..” cerita Anita berapi-api, ” Dan yang jelas aku pengin mendapatkannya”, lanjutnya.

Setelah puas ngerumpi kiri, kanan, depan dan belakang mengupas habis masalah dosen favorit, aku berpisah dengan sahabatku untuk janji bertemu besok dan akan berusaha bertemu dengan Pak Faisal pada minggu depan, aku berjalan kaki karena kebetulan mobil yang biasa kupakai harus mengalami pemeriksaan medis di bengkel. Tak kurasakan ada mobil berjalan pelan mengikutiku sampai akhirnya kira-kira berjarak 300 meter di luar halaman kampus, kaca jendela mobil terbuka dan kudengarkan suara yang tidak asing menawari untuk mengantarku. Aku menoleh dan, deg, deg, deg, jantungku seakan berhenti. Pak Faisal yang baru saja kubicarakan tersenyum manis mengajakku. Tanpa berkata lagi aku langsung membuka pintu kiri dan kuletakkan pantatku pada tempat duduk kiri. Mata Pak Faisal tak luput melihat pahaku yang tersingkap dan dengan cepat kututup pintu serta membenahi letak dudukku yang terlalu sembrono itu.

Mobil berjalan lambat kuperhatikan interior di dalamnya cukup mewah dengan lapisan karpet halus dan bersih serta wangi, aku kerasan di dalam mobilnya. Sesekali mata Pak Faisal mengarah pada belahan dada yang padat berisi, apabila jalan bergelombang tak ayal lagi dadaku ikut turun naik sesuai irama jalan. Tak terasa perjalanan sudah jauh melampaui arah kos-kosanku. Sambil bercerita ringan Pak Faisal memindahkan persnelling tanpa melihatnya dan.. secara tidak sengaja dia menyenggol pahaku, cepat-cepat ditarik tangannya sambil mengucapkan maaf berkali-kali. Aku tersenyum saja padahal aku juga kepingin tangannya berlama-lama di pahaku bahkan tidak hanya di paha saja.

Tak terasa mobil dibelokkan pada restoran yang mewah dengan fasilitas karaoke. Pak Fasial memilih tempat yang asri dengan lokasi pribadi ruang hanya untuk dua orang. Setelah makanan tersedia Pak Faisal menikmati sambil bernyanyi. Merdu juga suaranya, mesra di telinga. Ruangan ber-AC tinggi membuat aku agak dingin, sengaja kurapatkan dudukku untuk tidak terlalu dingin, Pak Faisal masih terus bernyanyi. Dua lagu telah selesai dinyanyikan dan dengan lembut tangannya mulai memeluk bahuku dan.. gila, aku menikmati sekali. Tak lama kemudian dia semakin berani mempermainkan rambutku, aku tetap terpejam dan disentuh bibirku dengan tangannya akhirnya perlahan dan lembut bibirnya merapat di bibirku. Aku tidak menyia-nyiakan keadaan ini dengan cekatan pula kujulurkan lidah kecilku untuk dinikmati dan kami saling berpagukan ketat. Kuhisap mulutnya dia juga membalas tangkas sampai aku hampir kehabisan nafas, dia tidak diam dengan perlahan diraihnya payudaraku dari luar kaos dan tangannya mulai menyibak kaosku. Dingin terasa payudaraku disentuh jari yang kokoh. Putingku tak luput dari jarinya dan kurasakan pentilku mulai mengeras. Aku masih tetap memeluk dan kuciumi lehernya. Perlahan ditarikknya kaosku keatas hingga tinggal BH dan rok miniku saja, dia semakin agresif saja kelihatannya, Pak Faisal berdecak kagum melihat buah dadaku meyembul besar seakan BH-ku tak sanggup menampung semua payudaraku ini. Didekatkan kumisnya pada susuku aku kegelian dan kurasakan hangat lidahnya mengulum pentilku, aku kegelian hebat. Rambut Pak Faisal jadi sasaran untuk menahan geli, aku mengucek dan menjambak rambutnya, tetapi dia semakin menjadi. Susuku diberi cupang hingga nampak merah pekat ganas sekali dia, pikirku.

Perlahan diraihnya leher dan aku ditidurkan di atas sofa, lagu karaoke sendu menambah gairahku semakin tinggi. Pak Faisal tak bosan-bosan menciumi bagian tubuhku dan kurasakan pahaku bersentuhan dengan tangan berbulu milik Pak Faisal. Rokku disibak dan ditariknya keras sehingga pengaitku lepas, gila cing.. kini tinggal celana dalamku yang berwarna ungu serta BH dengan warna yang sama. Pak Faisal semakin bernafsu, mulutnya menjalar kemana-mana aku hanya gelisah dan mengerang, semakin aku mengerang semakin ganas dia melakukan aksinya.
“eeh, Pak, Pak, Faisal, aah”, Aku nggak betah saat dia memainkan vaginaku dengan tangannya dan dielus lembut bulu vaginaku yang mulai basah. Aku kegelian saat jari tengahnya dimasukkan kedalam lubang vaginaku, dia semakin bernafsu.
“hhmm, Hmm”, lenguhnya.

Aku semakin menjadi tak menentu, kekuatanku hilang saat Pak Faisal dengan fasih menaruh lidahnya dalam lubang kemaluanku, digigit-gigit kecil kelentitku yang memanjang dan semakin basah. Bunyi kecipak air kemaluanku menambah Pak Faisal semakin berani menjulurkan lidahnya pada bagian dalam. Aku semakin kegelian. Semakin aku menggeliat mengangkat pantat kurasakan sentuhan lidah dalam vaginaku dan tangan Pak Faisal yang satu juga masih tidak mau lepas pada payudaraku. Lengkap sudah kepuasan saat ini. Semua daerah sensitif milikku telah direngkuhnya. Tangannya sekarang sibuk melepas baju dan kini dia tinggal celana saja. Disuruhnya aku duduk dan dia berdiri, tanganku dituntun ke arah celananya dan disentuhkannya pada benda yang mengeras dibaliknya. Kuelus lembut, kutempelkan mukaku pada celana tersebut terasa berdenyut keras. Aku mulai tak sabar kubuka retsleting celana Pak Faisal, kulihat putih warna celana dalamnya dan.. Astaga kepala kemaluan Pak Faisal ternyata sudah keluar dari kolornya kucoba meraba ujung kemaluannya, keluar air sedikit agak liat. Celana dalam putih kutarik ke bawah dan aku kaget setengah mati, baru kali ini kulihat kemaluan lelaki kaku mendongak ke atas, otot-ototnya kelihatan jelas meradang dan ukurannya tak terbayangkan. Aku was-was, digoyang-goyangkan kemaluannya ke arah mukaku, terasa pipiku seperti dipukul palu. Dengan senyum kupegang kemaluan Pak Faisal dan.. Wuuiihh tanganku tak cukup melingkari bulat kemaluannya dan panjangnya kuperkirakan sekitar 22 cm, dia juga tersenyum melihat kebingunganku. Kulihat dia sambil melongo dan dia tidak menyia-nyiakan waktu dengan mendesakkan kemaluannya ke mulutku.

Mulutku yang kecil tidak muat mengulum semuanya hingga masih banyak yang tersisa di luar. Aku dengan menganga penuh kususahan agar kemaluan Pak Faisal masuk dalam rongga mulutku, tetapi masih tidak bisa. Akhirnya aku jilati secara merata, dia mulai menggelinjang dan melenguh. Mulai dari ujung kugerakkan masuk dan keluar dengan mulutku dia semakin tidak karuan juga geraknya. Dengan susah payah kukelomoh kemaluan Pak Faisal yang besarnya seperti botol, semakin cepat dan semakin cepat. Kurasakan ada cairan manis keluar sedikit di mulutku. Kuhisap semakin kuat dan kuat, Pak Faisal pun semakin keras erangannya. Pak Faisal mulai ingat tangannya bekerja lagi mengelus vaginaku yang mulai mengering basah kembali. Mulutku masih penuh kemaluan Pak Faisal dengan gerakan keluar masuk seperti penyanyi karaoke.

Aku tersentak merasakan Pak Faisal menarik kemaluannya agak keras menjauh dari mulutku dan dengan sigap ditidurkannya aku di atas karpet, kedua kakiku diangkat diletakkan di atas pundaknya kiri kanan sehingga posisiku mengangkang, dia bisa melihat dengan jelas vaginaku yang kecil namun kelihatan gemuk seperti bakpau. Kulihat dia mengelus kemaluannya dan menyenggol-nyenggolkan pada vaginaku aku kegelian. Aku bersiap dibukanya kemaluanku dengan tangan kiri dan tangan kanan menuntun penisnya yang gede menuju lubang vaginaku. Didorongnya perlahan, sreett, dia melihatku sambil tersenyum dan dicobanya sekali lagi, mulai kurasakan ujung kemaluan Pak Faisal masuk perlahan. Aku mulai geli tetapi agak sakit sedikit. Pak Faisal melihatku meringis menahan sakit dia berhenti dan bertanya, “Sakit ya..”, Aku tidak menjawab hanya kupejamkan mataku ingin cepat merasakan kemaluan besarnya itu. Digoyangnya perlahan dan.. Bleess digenjotnya kuat pantatnya kedepan hingga aku menjerit, “aauu.” Kutahan pantat Pak Faisal untuk tidak bergerak. Rupanya dia mengerti vaginaku agak sakit dan dia juga ikut diam sesaat. Kurasakan kemaluan Pak Faisal berdenyut dan aku tidak mau ketinggalan. Aku berusaha mengejan sehingga kemaluan Pak Faisal merasa kupijit-pijit. Selang beberapa saat vaginaku rupanya sudah dapat menerima semua kemaluan Pak Faisal dengan baik dan mulai berair sehingga ini memudahkan Pak Faisal untuk bergerak. Aku mulai basah dan terasa ada kenikmatan mengalir di sela pahaku. Perlahan Pak Faisal menggerakkan pantatnya kebelakang dan kedepan, aku mulai kegelian dan nikmat. Kubantu Pak Faisal dengan ikut menggerakkan pantatku berputar.

“Aduuhh, Anita”, erang Pak Faisal menahan laju perputaran pantatku rupanya dia juga kegelian kalau aku menggerakkan pantatku. Ditahannya pantatku kuat-kuat agar tidak berputar lagi, justru dengan menahan pantatku kua-kuat itulah aku menjadi geli dan berusaha untuk melepaskannya dengan cara bergerak berputar lagi tapi dia semakin kuat memegangnya. Kulakukan lagi gerakanku berulang dan kurasakan telur kemaluan Pak Faisal menatap pantatku licin dan geli. Rupanya Pak Faisal termasuk kuat juga berkali-kali kemaluannya mengocek kemaluanku masih tetap saja tidak menunjukkan adanya kelelahan bahkan semakin meradang. Kucoba mempercepat gerakan pantatku berputar semakin tinggi dan cepat kulihat hasilnya Pak Faisal mulai kewalahan dia terpengaruh iramaku Yang semakin lancar. Kuturunkan kakiku mengkamit pinggangnya, dia semakin tidak leluasa untuk bergerak sehingga aku bisa mengaturnya. Aku merasakan sudah tiga kali vaginaku mengeluarkan cairan untuk membasahi kemaluan Pak Faisal tetapi Pak Faisal belum keluar juga.

“Kecepek, kecepek, kecepek”, bunyi kemaluanku saat kemaluan Pak Faisal mengucek habis di dalamnya aku kegelian hebat, “Anita, aku mau keluar, Tahan ya..” Pintanya menyerah. Tanpa membuang waktu kutarik vaginaku dari kemaluannya, kugenggam dan dengan lincah kumasukkan bonggol kemaluan tersebut kedalam mulutku, kukocok, sambil kuhisap kuat-kuat, kuhisap lagi dan dengan cepat mulutku maju mundur untuk mencoba merangsang agar air maninya cepat keluar. Mulutku mulai payah tapi air mani yang kuharapkan tak juga keluar. Kutarik kemaluannya dari mulutku. Pak Faisal tersenyum dan sekarang telentang. Tanpa menunggu komando kupegang kemaluannya dan kutuntun kelubangku dengan mendudukinya. Aku bergerak naik turun dan dia memegang susuku dengan erat. Tidak lama kemudian ditariknya tubuhku melekat di dadanya dan aku juga terasa panas. Sreet, sreett, srreett kurasakan ada semburan hangat bersamaan dengan keluarnya pelicin di vaginaku dia memelukku erat demikian pula aku. Kakinya dijepitkan pada pinggangku kuat-kuat seolah tak bisa lepas. Dia tersenyum puas.
“Nita, tak pernah aku merasakan vagina kecil seperti punyamu ini, nikmat gila memijit punyaku sampai nggak karuan rasanya, aku puas Nit.”"aahh Bapak bohong, berarti sering dong ngerasain yang lain”, manjaku.

Dia tidak menjawab hanya tersenyum dan kembali mengulum bibirku kuat-kuat. Akhirnya kita keluar dari karaoke dan pulang menuju ke rumah. Kini tangan Pak Faisal menempel pada pahaku dan tanganku menempel di celananya. Sesekali kusandarkan wajahku di dadanya dan jari nakal Pak Faisal mulai beraksi dengan manja. Kurasakan gumpalan daging kemaluan Pak Faisal mulai mengeras lagi, dia tersenyum melihatku dan dipinggirkan mobilnya pada tempat yang cukup sepi. Kugosok pelan pelan kemaluan Pak Faisal semakin mengeras. “Gila baru main sudah minta lagi rupanya, wah gawat ini bisa nggak pulang dong malam ini”, pikirku.

Diciumnya kening dan pipiku dan dia berkata manja.”Kalau sekarang Nita boleh ngeluarin punyaku ini dimulut seperti tadi”, aku terbelalak rupanya dia mengerti keinginanku tadi belum kesampaian dan inilah saatnya. Tanpa ba bi Bu lagi kuarahkan ke bawah retsleting celananya dan aku kaget ternyata Pak Faisal tidak memakai celana dalam, gila dia sudah ngerti rupanya.
“Lho Kemana CD-nya pak”, tanyaku pura-pura bingung.”Sudah tak taruh di bagasi kok”, jawabnya kalem sambil mendorongkan kepalaku ke arah kemaluannya. Aku menurut, malam ini aku bebas berbuat apa saja terhadap kemaluan Pak Faisal. Kuhisap dengan berbagai cara agar aku puas dan puas, kursi ditarik kebelakang jadilah posisi Pak Faisal seperti orang setengan telentang aku semakin leluasa menghisap kemaluan itu. Tangan Pak Faisal pun tak tinggal diam diselipkan pada vaginaku yang basah lagi, dia juga berusaha memasukkan jari tengahnya penuh ke vaginaku, sesekali diremasnya kuat susuku saat dia kegelian.

Kulepas mulutku, kulihat kemaluannya itu lagi sambil kugosok naik turun seperti onani, aku kagum melihat ukurannya. Kuhisap lagi berulang sampai aku puas. Aku mulai merasakan adanya cairan manis keluar dari ujung kemaluannya. Aku terus berusaha, mulutku mulai payah, kugoyang-goyangkan telur kemaluan Pak Faisal, dia kegelian dengan mengucek vaginaku dalam-dalam.
“eehh, sstt, aahh”, kudengar erangannya mulai tidak karuan, aku terus melakukan hisapan, kuluman dan jilatan pada kemaluan yang membonggol itu dan hasilnya luar biasa.
“Nit, aku mau keluar nih.” Mendengar perkataan itu aku semakin gencar melakukan hisapan sambil tanganku bergerak naik turun untuk mempercepat rangsangannya. Dan tak lama kemudian, “Sreett.. srreett..” kurasakan dua semburan air warna putih pekat masuk mulutku terasa agak manis asin. Karena kuatnya semprotan dari kemaluan Pak Faisal kurasakan ada air mani yang langsung masuk tertelan. Aku bertahan sambil terus menghisap dan dia semakin tidak karuan tingkahnya. Kuhisap terus sampai terasa tidak ada lagi air mani yang keluar dari kemaluan Pak Faisal. Kubersihkan kemaluan Pak Faisal dengan menjilatinya sampai bersih. Aku puas merasakan semuanya dan Pak Faisal pun demikian. Masih terus kujilati dan kudorong keluar masuk kemaluan Pak Faisal dia terus mengerang tidak karuan. Aku bahagia, sebentar kemudian kurasakan kemaluannya mulai mengecil dan lemas, pada saat kecil dan lemas tersebut aku merasakan mulutku mampu melahap kemaluannya secara menyeluruh.

Diciumnya keningku yang basah keringat, tepat pukul 22.00 aku sudah sampai di Kos-ku dan berharap suatu saat Pak Faisal mengajakku kembali. Pada esoknya sahabatku hanya ternganga mendengar ceritaku yang telah berhasil berkencan dengan Pak Faisal sampai keluar air maninya dua kali, dia mengatakan aku curang karena tidak memberi tahu bagaimana cara menggaet Pak Faisal. Aku cuek saja dan sampai kini walaupun aku sudah berkeluarga aku masih sering membayangkan kemaluan Pak Faisal yang tegak menantang itu, hal ini dikarenakan suamiku orangnya pekerja keras sehingga lupa waktu dan jarang memberikan nafkah batin yang cukup, tetapi sayang sejak menikah aku tidak pernah ketemu lagi sama orang yang memiliki kemaluan dan permainan seks yang hebat.

TAMAT

03
Sep
09

Dosen dan Pembantunya

Cerita ini terjadi saat saya kuliah dulu. Saya saat itu sangat pemalu dan tidak banyak teman wanita. Ceritanya begini, pada waktu ujian tengah semester, saya dipanggil ke rumah dosen wanita yang masih agak muda, sekitar 26 tahun. Ia juga lulusan dari perguruan tinggi tersebut. Dipanggil ke rumahnya karena saya diminta untuk mengurus keperluan dia, karena dia akan ke luar kota. Malam harinya saya pun ke rumahnya sekitar jam 7 malam. Saat itu rumahnya hanya ada pembantu (yang juga masih muda dan cantik). Suaminya ketika itu belum pulang dari rapat di puncak.

Saat saya membuka pintu rumahnya, saya agak terbelalak karena dia memakai gaun tidur yang tipis, sehingga terlihat payudara yang menyumbul keluar. Saat saya perhatikan, dia ternyata tidak memakai BH. Terlihat saat itu buah dadanya yang masih tegar berdiri, tidak turun. Putingnya juga terlihat besar dan kemerahan, sepertinya memiliki ukuran sekitar 36B.

Sewaktu saya sedang memperhatikan Dosen saya itu, saya kepergok oleh pembantunya yang ternyata dari tadi memperhatikan saya. Sesaat saya jadi gugup, tetapi kemudian pembantu itu malah mengedipkan matanya pada saya, dan selanjutnya ia memberikan minuman pada saya. Saat ia memberi minum, belahan dadanya jadi terlihat (karena pakaiannya agak pendek), dan sama seperti dosen saya ukurannya juga besar.

Kemudian dosen saya yang sudah duduk di depan saya berkata, (mungkin karena saya melihat belahan dada pembantu itu) “Kamu pingin ya “nyusu” sama buah dada yang sintal..?”
Saya pun tergagap dan menjawab, “Ah.. enggak kok Bu..!”
Lalu dia bilang, “Nggak papa kok kalo kamu pingin.., Ibu juga bersedia nyusuin kamu.”
Mungkin karena ia saya anggap bercanda, saya bilang saja, “Oh.., boleh juga tuh Bu..!”

Tanpa diduga, ia pun mengajak saya masuk ke ruang kerjanya.
Saat kami masuk, ia berkata, “Andre, tolong liatin ada apaan sih nih di punggung Ibu..!”
Kemudian saya menurut saja, saya lihat punggungnya. Karena tidak ada apa-apa, saya bilang, “Nggak ada apa-apa kok Bu..!”
Tetapi tanpa disangka, ia malah membuka semua gaun tidurnya, dengan tetap membelakangiku. Saya lihat punggungnya yang begitu mulus dan putih. Kemudian ia menarik tangan saya ke payudaranya, oh sungguh kenyal dan besar. Kemudian saya merayap ke putingnya, dan benar perkiraan saya, putingnya besar dam masih keras.

Kemudian ia membalikkan tubuhnya, ia tersenyum sambil membuka celana dalamnya. Terlihat di sekitar kemaluannya banyak ditumbuhi bulu yang lebat.
Kemudian saya berkata, “Kenapa Ibu membuka baju..?”
Ia malah berkata, “Sudah.., tenang saja! Pokoknya puaskan aku malam ini, kalau perlu hingga pagi.”
Karena saya ingin juga merasakan tubuhnya, saya pun tanpa basa-basi terus menciuminya dan juga buah dadanya. Saya hisap hingga ia merasa kegelian. Kemudian ia membuka pakaian saya, ia pun terbelalak saat ia melihat batang kejantanan saya.
“Oh, sangat besar dan panjang..! (karena ukuran penis saya memang besar, sekitar 17 cm dan berdiameter 3 cm)”

Dosen saya pun sudah mulai terlihat atraktif, ia mengulum penis saya hingga biji kemaluan saya.
“Ah.. ahh Bu.. enak sekali, terus Bu, aku belum pernah dihisap seperti ini..!” desah saya.
Karena dipuji, ia pun terus semangat memaju-mundurkan mulutnya. Saya juga meremas-remas terus buah dadanya, nikmat sekali kata dosen saya. Kemudian ia mengajak saya untuk merubah posisi dan membentuk posisi 69.

Saya terus menjilati vaginanya dan terus memasukkan jari saya.
“Ah.. Andre, aku sudah nggak kuat nih..! Cepat masukkan penismu..!” katanya.
“Baik Bu..!” jawab saya sambil mencoba memasukkan batang kemaluan saya ke liang senggamanya.
“Ah.., ternyata sempit juga ya Bu..! Jarang dimasukin ya Bu..?” tanya saya.
“Iya Andre, suami Ibu jarang bercinta dengan Ibu, karena itu Ibu belum punya anak, ia pun juga sebentar permainannya.” jawabnya.
Kemudian ia terus menggelinjang-gelinjang saat dimasukkannya penis saya sambil berkata, “Ohh.. ohh.. besar sekali penismu, tidak masuk ke vaginaku, ya Ndre..?”
“Ah nggak kok Bu..” jawab saya sambil terus berusaha memasukkan batang keperkasaan saya.
Kemudian, untuk melonggarkan lubang vaginanya, saya pun memutar-mutar batang kemaluan saya dan juga mengocok-ngocoknya dengan harapan melonggarkan liangnya. Dan betul, lubang senggamanya mulai membuka dan batang kejantanan saya sudah masuk setengahnya.

“Ohh.. ohh.. Terus Ndre, masukkan terus, jangan ragu..!” katanya memohon.
Setelah memutar dan mengocok batang kejantanan saya, akhirnya masuk juga rudal saya semua ke dalam liang kewanitaannya.
“Oohh pssff.. aha hhah.. ah..” desahnya yang diikuti dengan teriakannya, “Oh my good..! Ohh..!”
Saya pun mulai mengocok batang kemaluan saya keluar masuk. Tidak sampai semenit kemudian, dosen saya sudah mengeluarkan cairan vaginanya.
“Oh Andre, Ibu keluar..” terasa hangat dan kental sekali cairan itu.
Cairan itu juga memudahkan saya untuk terus memaju-mundurkan batang keperkasaan saya. Karena cairan yang dikeluarkan terlalu banyak, terdengar bunyi, “Crep.. crep.. slepp.. slepp..” sangat keras. Karena saya melakukannya sambil menghadap ke arah pintu, sehingga terdengar sampai ke luar ruang kerjanya.

Saat itu saya sempat melihat pembantunya mengintip permainan kami. Ternyata pembantu itu sedang meremas-remas payudaranya sendiri (mungkin karena bernafsu melihat permainan kami). Oh, betapa bahagianya saya sambil terus mengocok batang keperkasaan saya maju mundur di liang vagina dosen saya. Saya juga melihat tontonan gratis ulah pembantunya yang masturbasi sendiri, dan saya baru kali ini melihat wanita masturbasi.

Setelah 15 menit bermain dengan posisi saya berada di atasnya, kemudian saya menyuruh dosen saya pindah ke atas saya sekarang. Ia pun terlihat agresif dengan posisi seperti itu.
“Aha.. ha.. ha..” ia berkata seperti sedang bermain rodeo di atas tubuh saya.
15 menit kemudian ia ternyata orgasme yang kedua kalinya.
“Oh, cepat sekali dia orgasme, padahal aku belum sekalipun orgasme.” batin saya.

Kemudian setelah orgasmenya yang kedua, kami berganti posisi kembali. Ia di atas meja, sedangkan saya berdiri di depannya. Saya terus bermain lagi sampai merasakan batas dinding rahimnya.
“Oh.. oh.. Andre, pelan-pelan Ndre..!” katanya.
Kelihatannya ia memang belum pernah dimasukan batang kemaluan suaminya hingga sedalam ini. 15 menit kemudian ia ternyata mengalami orgasme yang ketiga kalinya.
“Ah Andre, aku keluar, ah.. ah.. ahh.. nikmat..!” desahnya sambil memuncratkan kembali cairan kemaluannya yang banyak itu.

Setelah itu ia mengajak saya ke bath-tub di kamar mandinya. Ia berharap agar di bath-tub itu saya dapat orgasme, karena ia kelihatannya tidak sanggup lagi membalas permainan yang saya berikan. Di bath-tub yang diisi setengah itu, kami mulai menggunakan sabun mandi untuk mengusap-usap badan kami. Karena dosen saya sangat senang diusap buah dadanya, ia terlihat terus-terusan bergelinjang. Ia membalasnya dengan meremas-remas buah kemaluan saya menggunakan sabun (bisa pembaca rasakan nikmatnya bila buah zakar diremas-remas dengan sabun).

Setelah 15 menit kami bermain di bath-tub, kami akhirnya berdua mencapai klimaks yang keempat bagi dosen saya dan yang pertama bagi saya.
“Oh Andre, aku mau keluar lagi..!” katanya.
Setelah terasa penuh di ujung kepala penis saya, kemudian saya keluarkan batang kejantanan saya dan kemudian mengeluarkan cairan lahar panas itu di atas buah dadanya sambil mengusap-usap lembut.

“Oh Andre, engkau sungguh kuat dan partner bercinta yang dahsyat, engkau tidak cepat orgasme, sehingga aku dapat orgasme berkali-kali. ini pertama kalinya bagiku Andre. Suamiku biasanya hanya dapat membuatku orgasme sekali saja, kadang-kadang tidak sama sekali.” ujar dosen saya.
Kemudian karena kekelalahan, ia terkulai lemas di bath-tub tersebut, dan saya keluar ruang kerjanya masih dalam keadaan bugil mencoba mengambil pakaian saya yang berserakan di sana.

Di luar ruang kerjanya, saya lihat pembantu dosen saya tergeletak di lantai depan pintu ruangan itu sambil memasukkan jari-jarinya ke dalam vaginanya. Karena melihat tubuh pembantu itu yang juga montok dan putih bersih, saya mulai membayangkan bila saya dapat bersetubuh dengannya. Yang menarik dari tubuhnya adalah karena buah dadanya yang besar, sekitar 36D. Akhirnya saya pikir, biarlah saya main lagi di ronde kedua bersama pembantunya. Pembantu itu pun juga tampaknya bergairah setelah melihat permainan saya dengan majikannya.

Saya langsung menindih tubuhnya yang montok itu dengan sangat bernafsu. Saya mencoba melakukan perangsangan terlebih dulu ke bagian sensitifnya. Saya mencium dan menjilat seluruh permukaan buah dadanya dan turun hingga ke bibir kemaluannya yang ditumbuhi hutan lebat itu. Tidak berapa lama kemudian, kami pun sudah mulai saling memasukkan alat kelamin kami. Kami bermain sekitar 30 menit, dan tampaknya pembantu ini lebih kuat dari majikannya. Terbukti saat kami sudah 30 menit bermain, kami baru mengeluarkan cairan kemaluan kami masing-masing. Oh, ternyata saya sudah bermain seks dengan dua wanita bernafsu ini selama satu setengah jam. Saya pun akhirnya pulang dengan rasa lelah yang luar biasa, karena ini adalah pertama kalinya saya merasakan bercinta dengan wanita.

Saat ini saya pun sedang mencoba bermain seks lewat chatting dengan orang bule di internet. Tetapi saya ingin merasakan bermain seks dengan wanita Indonesia asli. Dapatkah pembaca membantu saya, silakan kirim email ke saya.

TAMAT

02
Sep
09

Donnyku Sayang Donnyku Malang

Namanya Donny, entahlah itu nama ia sebenarnya atau tidak. Laki-laki yang mengaku umurnya 27 tahun itu memiliki kulit sawo matang dan wajah yang menarik. Untuk laki-laki sebayanya, Donny adalah sosok laki-laki yang unik, ini karena dia sudah kukenal 9 bulan lamanya. Aku memanggilnya Aa karena dia jauh lebih tua umurnya dibanding aku dan karena dia adalah orang Bandung.

Oh ya, perkenalanku dengan Aa dimulai dari seringnya aku menggunakan internet untuk mencari tugas kuliah, sebagian waktuku kadang kusisakan untuk berchating ria. Hitung-hitung mencari sahabat penghilang rasa stress. Dan Aa ini adalah salah satu produk yang sangat mujarab, ibarat obat ia adalah puyer penghilang segala rasa sakit, yang tadinya pikiran suntuk setelah ngobrol dengan Aa semuanya menjadi fress kembali.

Aa bekerja pada sebuah perusahaan BUMN, dan pekerjaannya itu berhubungan dengan dunia internet, aku juga tidak tahu persisnya Aa mengerjakan apa namun yang pasti Aa adalah sosok laki-laki yang kuimpakan, walaupun pada kenyataannya Aa telah bertunangan dengan gadis asal daerahnya.Namun, karena letak perusahaannya amat jauh, mereka hanya bisa bertemu sekali-sekali saja.

Seperti biasanya jam 4 sore aku online, Aa telah menungguku. Beberapa hari ini aku memang jarang sekali OL, karena banyak tugas kuliah yang mesti kuselesaikan. Aa mengatakan kalau dia sangat merindukanku, betapa sepi hari-harinya tanpa aku di sisinya. Ceilee.. itulah rayuan gombal yang sangat kurindukan darinya. Entahlah dengan Aa, aku bisa menjadi sosok seorang wanita yang kompleks, kadang Aa menjadikanku seorang sahabat, adik, teman dan tidak jarang Aabersikap sebagai kekasih. Tapi kebanyakan sih Aa selalu menggodaku. Layaknya laki-laki yang normal, Aa juga kadang suka jahil mengarahkan pembicarAan ke hal-hal yang berbau seks, yang jujur saja bagiku itu amat menantang karena pada Aa, aku bisa mencari jawaban atas pertanyaanku. Dan rasa penasaranku tentang hubungan badan yang akhir-akhir ini kami diskusikan membawaku pada sebuah keinginan untuk merasakan keabsahan cerita Aa. Namun aku hanya bisa menyimpan keinginan itu, karena dalam dunia nyata aku tidak memiliki kekasih. Mungkin karena aku adalah gadis yang sangat tertutup dan tidak mau membuka diri dalam dunia laki-laki. Atau semua ini karena trauma kebencianku pada laki-laki akibat penyelewangan ayahku yang kini menghasilkan seorang bayi yang mungil ditengah keluargaku.

Tepat satu tahun perkenalan kami, aku mendapatkan sebuah undangan dari LSM, dan letak LSM itu dekat dengan kota tempat Aa tinggal. Sengaja aku tidak mengatakan padanya, aku ingin ini menjadi kado bagi pertemuan kami. Setelah sampai di hotel tempatku menginap, aku meneleponnya. Kukatakan padanya aku ingin bertemu, Aa hanya menanggapinya dengan sebuah suara tawa yang meledekku. Namun sebelum Aa menyelesaikan tawanya, aku memberi nomor telepon di hotel tempatku menginap. Tentu saja dia terkejut, kalau saja hari itu tidak ada rapat penting, dia sudah berada di sisiku goda Aa padaku, namun setelah rapatnya selesai dia segera akan ke tempat hotelku menginap.

Jam tujuh malam, aku menunggunya di lobby. Untung saja kawan-kawanku di LSM sudah selesai merapatkan seminar yang akan kami gelar esok lusa. Dengan bermodalkan photo yang dia berikan padaku, aku melihat satu persatu tamu yang memasuki hotel, namun sampai jam delapan malam, Aa tidak datang. Jangankan batang hidungnya, telepon saja tidak kuterima. Tentu saja aku kecewa, kukira Aa adalah orang yang suka menepati kata-kata, tapi toh apa kenyataannya, pelan-pelan kecurigaan muncul di benakku, mungkinkah semua ini cuma sekedar permainan orang iseng, atau photo yang diberikan Aa padaku bukanlah Aa yang sebenarnya. Ah.. pikiranku kacau.

Jam 8:30 malam aku meninggalkan hotel. Aku menitipkan pesan kepada resepsionis bahwa kalau ada yang mencariku, aku sedang berjalan-jalan di pantai. Hembusan angin malam membuatku agak mengigil, namun toh ini semua tidak sedingin hatiku saat ini. Kubirkan rambut panjangku tergerai di mainkan sang bayu, kutatap bintang pada cakrawala yang hitam di atas mega, malam ini begitu indah dan syahdu dan jilatan-jilatan air laut pada kakiku memberikan kesan yang segar.

“Maaf.. apakah anda yang bernama Valencia?” sebuah suara mengagetkan dan menjajari langkahku.
“Hmm.. iya benar?” jawabku ragu-ragu.
“Maaf anda siapa yah..?” tanyaku penuh selidik.
“Masa dengan suara Aa kamu lupa Val..?” sahutnya kalem diiringi sebuah derai tawa.
Ya ampun.. seketika itu kupeluk Aa. Air mataku meleleh. Di dekapnya kepalaku erat-erat. Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kemeja Aa. Dilepaskannya pelukanku, jemarinya menghapus air mataku.

“Valen menangis?” tanyanya retoris.
Aku mengangguk, ya aku menangis.. tangis bahagia.
“Kenapa baru tadi sore sih kamu telepon Aa ke kantor, lagian mo ke sini nggak bilang-bilang?” protes Aa.
“Biarin.. nanti gak surprise lagi,” kataku.

Dan pandangan kami bertemu. Wajah Aa yang tegas, dengan mata elang serta alis yang tajam dan sebuah bibir yang merah menantang, kelihatan berseri-seri. Beberapa saat kami saling meneliti lekuk tubuh masing-masing.

“Kamu terlihat begitu cantik Val, tidak sama seperti yang di photo yang kamu kirimkan!” Aa menggodaku perlahan. Semburat rona merah akibat rasa malu yang melandaku tak bisa kutahan. Kucubit lengan Aa mesra.
“Tapi kok kamu nggak nungguin Aa di loby sih, malah melarikan diri ke sini, takut yah ama Aa.” Aa melingkarkan tangannya ke pinggangku.
“Ihh nggak lagi.. lagian Aa kenapa malam banget sih baru datang ke sini?” rajukku kesal.
“Ya lah Val, kantor Aa kan jauh dari sini, lagian Aa kan musti beres-beres dulu mau ketemu bidadari cantik kayak kamu..” Aa mulai merayu. Aku tersenyum.
“Lagian kamu kok nggak bisa ngenalin suara Aa sih tadi.. Pura-pura yah.” Aa menggodaku lagi.
Kucubit laki-laki jangkung di depanku.
“Maklum lah Aa.. disini kan samar-samar jadi nggak kelihatan jelas!” rajukku manja.
“Hehe bukannya remang-remang gini malah tambah asyik!” goda Aa sekali lagi.
“Emang sih, cuma Valen takut..?”
“Loh kok takut Val, Aa nggak gigit kok?!”
“Yah Aa nggak gigit cuma Aa ngesun aja dikit.”
Kami tertawa bersama-sama. Dan yang membuatku bahagia Aa bisa membuat aku bahagia malam ini dengan obrolan-obrolannya yang lucu namun tetap memiliki style yang unik.

Malam itu kami merayakan pertemuan kami di pub, aku yang belum pernah minum-minuman kelas tinggi harus menerima juga, bukan apa-apa, aku ingin jaga gengsi saja, bukannya aku tidak ingin dikatakan gadis kampungan yang cara berpikirnya kolot.

Alhasil.. aku tidak bisa pulang ke kamarku sendirian. Aa membawaku ke kamar dengan memelukkuerat. Dibaringkannya tubuhku di ranjang itu. Aa segera melepaskan sepatuku dan menyelimutiku. Walaupun setengah pusing, aku bisa merasakan kecupan bibir Aa yang basah di keningku.

“Aa disini aja yah, Valen takut?!” ucapku lirih dan kugengam tangannya.
“Iya.. Aa disini kok, Valen tiduran aja yah? pintanya lembut.
Kurasakan jari-jemari Aa meremas jemariku, lembut dan hangat. Pelan-pelan kubawa jari-jemari Aa ke bibirku dan menciumnya lembut.
“Terima kasih yah A.. untuk malam yang terindah bagi Valen?” ucapku serak.
Aa tidak menjawabnya sebagai gantinya Aa malah memberikan ciuman pada bibirku. Ciuman itu lembut sekali, basah dan begitu manis. Tentu saja aku gelapan saat pertama mendapatkan serangan mendadak itu, namun pelan-pelan kunikati ciuman Aa. Perlahan-lahan Aa menurunkan ciumannya, dari bibir Aa terus turun ke leher dan aku hanya mengerang kecil. Perasaanku jadi tidak karuan, apalagi setelah lidah Aa mendarat di putingku, kurasakan sensasi yang sangat indah dan nikmat, “Ohh Aa.. ohh.. hemm..” aku mendesah keenakan.

Kurasakan Aa berhenti menciumiku, entahlah aku tidak tahu apa yang dilakukannya karena mataku sagat berat untuk kubuka, namun sejurus kemudian Aa telah mengulangi ciumannya, kali ini Aa melepas bajuku hingga tidak ada sehelai benangpun menempel di tubuhku. Tentu saja aku gelapan apalagi lidah Aa sudah berada di dalam daerah vitalku. Dengan lidahnya dia memilin-milin klitorisku dan menyedot cairan mani yang keluar dari vaginaku hingga kering, aku hanya bisa meremas bantal di sampingku untuk mereda sensasi yang ditimbulkan pada setiap gerakan lidah Aa, apalagi lidah Aa sangatlah panjang dan lembut serta basah. Setiap gerakannya merupakan sensasi yang dahsyat. Aku hanya bisa mengerang sementara Aa sibuk memberi pelayanan bagiku.

“Aa sekarang A.. Valen udah nggak tahan lagi?!” pintaku parau pada Aa.
“Boleh..” katanya disetai dengan desakan sebuah benda yang cukup keras pada liang kewanitaanku. Walapun aku sudah melebarkan kakiku lebar-lebar namun Aa tak bisa menembus liang kewanitaanku dengan barangnya. Namun dengan sebuah hentakan yang keras, disertai rasa perih yang hebat, Aa berhasil menebus dinding selaput daraku.

“Ooohh.. sakit A..” jeritku keras. Rasanya beribu-ribu silet menyayat dinding vaginaku. Aa terdiam sebentar. Dihentikannya gerakan memasukkan barangnya ke dalam liang vaginaku. Dialihkannya gerakannya pada bibirku, pelan-pelan bibirku dikulum dengan lidahnya dia beraksi menguragi rasa sakitku. Setelah ciuman kami berlangsung cukup lama, Aa kembali menggoyangkan pantatnya dan melakukan gerakan maju mundur, walaupun sakit namun kurasakan sensasi yanglain, ada perasaan geli, nikmat dan perih bercampur jadi satu pada gerakan Aa.

Beberapa menit kemudian Aa mempercepat gerakannya, dan kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan ketika Aa dengan erat memelukku. Kurasakan badan Aa bergetar di dalam pelukaku, nafasnya memburu cepat, dan sebuah sunggingan senyum puas terlihat di sudut bibir merah Aa. Ternyata keindahan yang kurasakan tidaklah dapat diukir dengan kata-kata.

Setelah kejadian itu, Aku pulang ke kotaku dan pada bulan berikutnya Aa melamarku. Namun aku tidak menginginkan keterikatan dengannya. Aa bukanlah pangeran impianku, pada dirinya aku hanya bisa menemukan nafsuku, bukan cinta yang selama ini yang kucari, walapun begitu aku berterima kasih padanya karena telah mengenalkanku pada sebuah dunia yang indah dan penuh dengan rangkaian kenikmatan.

TAMAT

01
Sep
09

Gita Tidak Takut

Di hari pertamaku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tidak ada yang aku kenal satupun, sehingga aku seperti orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari.
Sewaktu sedang bingung-bingungnya tiba-tiba ada cewek yang menegurku, “Eh, tau kelas MI1-3 nggak?”.
Eeiittss.., ternyata aku juga cari kelas itu.., lalu aku jawab, “mm.., saya juga tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk”.
“Saya Gita” dia sebut namanya duluan.
“Aku Iwan”, aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya teman bernama Gita. Cewek manis ini mempunyai kulit kuning langsat, nyaris tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg. Tapi yang bikin aku tidak bosan melihatnya adalah dadanya yang menantang, cukup besar untuk ukurannya, tapi tidak terlalu besar sekali. Begitu pula dengan pantatnya, aku paling suka jika dia memakai jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih. Kadang jika ia bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja.

Tiga bulan sudah lamanya aku dekat dengannya, jalan kemanapun selalu bersama, walaupun dia belum resmi jadi pacarku, tetapi aku dan dia selalu berdua kemanapun. Sampai akhirnya aku dan dia pergi jalan-jalan ke daerah Dieng, salah satu daerah dingin di Jawa Tengah, niatnya cuma jalan-jalan saja, tidak menginap. Entah kenapa hari ini dia mengajakku bercanda yang berbau porno terus, dari pagi hingga siang hari.
Sampai akhirnya ia bertanya begini, “Wan, kalau kamu punya istri suka yang buah dadanya besar atau sedeng-sedeng saja?”.
Lalu aku jawab “Mm.., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang seperti punya kamu itu lho”.
“Lho emang kamu pernah liat punyaku?”, tanya dia.
Aku bilang “Gimana mau liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan.., heheheh”.
Dia tanya lagi sambil bercanda, “Kalo aku kasih kesempatan gimana?”.
Aku jawab, “Yaa.., nggak aku sia-sia’in”.
“Emang berani?”, tantang Gita.
“Siapa takut..”, jawabku tidak mau kalah.
“Kalo gitu bukti’in!”, kata Gita.
“Oke.., kita cari losmen sekarang.., gimana?”, tantangku gantian.
“Siapa takut..”, jawabnya tidak mau kalah juga.

Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma bercanda saja, sampai tiba-tiba di depan sebuah losmen, dia berkata, “Wan, disini ajah.., kayaknya losmennya bagus tuh”.
“Deg!!”, jantungku terasa berhenti. Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut. Aku masih diam dan setengah tidak percaya.
Terus dia berkata, “Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in.., OK?”.
Seperti babu kepada majikannya, aku ikuti kata-katanya dan mengikuti langkahnya masuk ke losmen.

Masuk ke kamar losmen langsung kita tutup dan kunci pintunya, aku masih terdiam terus duduk di atas kasur sampai dia berkata, “OK, sekarang aku kasih kamu kesempatan liat dadaku, tapi jangan macem-macem yaa?”.
Tiba-tiba saja Gita menarik kaosnya ke atas, dan langsung melemparkan ke atas tempat tidur. Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Beberapa saat dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan. lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan melakukan hal yang sama.

Lalu tangan kanannya diarahkan ke punggung, tetapi tangan kirinya masih memegangi BH bagian depannya. Oh God.., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku.., BH-nya telah terlepas, tetapi masih ditahan bagian depannya oleh tangan kirinya. Gita terus memandangiku. Gita menggigit bibir bagian bawahnya.
Tiba-tiba ia berkata, “Aku nggak akan lepas ini, jika kamu nggak buka pakaianmu semuanya”
Aku ragu-ragu.., tetapi nafasku sudah tidak bisa diatur lagi.., aku buka kaosku.., aku buka jeansku.., lalu aku berhenti, tinggal celana dalam yang aku kenakan.., gantian aku yang menantang, “Aku nggak akan buka ini, jika kamu nggak lepas itu sekarang”
Gita diam sejenak lalu dia turunkan perlahan tangan kirinya dan akhirnya terlihat jelas buah dadanya yang kuning langsat dan benar-benar menantang. Belum sempat aku rampung menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia mencium bibirku. Aku yang masih kaget akan serangan mendadak ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir, “uugghh.., oohh..”, hanya kata itu yang Gita keluarkan.

Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya sudah terlepas. Kami sama-sama hanya memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi itu hanya berlangsung 6 detik, dengan cepat ia menarik celana dalamku kebawah dan melepasnya. Gita tersenyum dan sedikit tertawa, aku tak tahu dia senang melihat punyaku atau menertawai punyaku?
Akupun tidak mau kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya sedikit demi sedikit, ternyata Gita sudah tidak sabar lalu dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat celana dalamnya menyentuh lantai bibirnya sudah melumat bibirku, “oohh..”, kami sekarang benar-benar telanjang bulat. Gita mulai mencium leherku tapi itu tidak lama karena aku keburu membalik badanku. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur. Pemandangan yang indah sekali tetapi kali ini aku tidak mau lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya sudah kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya. Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi. “Hhmmhh.., uugghh.., sstt”, cuma itu yang dia katakan.

Ciumanku sudah ‘bosan’ di leher. Aku mulai turun. Melihat gerakanku itu, tiba-tiba dia mengangkat dadanya. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku langsung ciumi buah dadanya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dadanya yang kanan. Kali ini tangan kirinya sudah memegang kepalaku. “sstt.., hh.., sstt..”, mulutnya berdesis seperti ular.
Dia menarik rambutku dan kepalaku dan mengarahkan kepalaku ke buah dadanya sebelah kanan. Dengan sekuat tenaga ia tekan kepalaku ke dadanya. “Gigit.., gigit.., Wan.., sst”. Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit sedikit puting susunya, kiri-kanan, kiri-kanan selalu bergantian dan adil. Sementara dari mulut Gita terus keluar kata, “Teruuss.., teruuss.., yang keras.., aahh.., gigit Wan.., gghh.., sstt”.
Sementara punyaku sudah tegang keras. Kepalaku mulai turun lagi tetapi tiba-tiba ia berteriak kecil, “Wan.., Iwan.., uugghh.., sekarang ajjaah.., masuk’iin.., nggak usah pake mulut lagi.., masukin sekaraanng.., plizz..”.

Aku langsung di dorongnya. Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita berada di atasku. Selangkangannya mencari-cari posisi, walau aku tahu pasti yang dia cari adalah punyaku. Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat. “uugghh..”, sedang aku sedikit berteriak, “aahh”. Punyaku sudah terbenam di dalam selangkangannya.
Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan ia lakukan. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata, “oohh.., sshhtt.., uugghh.., sshhss.., sshhiitt.., aacchh.., oouuhh..”, nafasnya tidak lagi teratur.
Kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri, kepalanya sering menengadah ke atas, “uugghh.., oohh.., sshhsstt”. Sedangkan aku hanya sanggup meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar.
Kali ini aku yang mengambil alih “kekuasannya” gantian kudorong tapi dia malah tengkurap, melihat pantatnya yang putih mulus. Aku jadi tambah bernafsu untuk segera memasukkan punyaku ke punyanya.
Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Sekarang posisinya seperti mau merangkak. Langsung tanpa tunggu waktu lagi aku mencoba memasukan “adikku” ke lubang vaginanya.
“Mmaasuukkiinn.., ceeppeett..”, Gita memohon kepadaku tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya punyaku sudah masuk ke vaginanya. “oohh..”, dari mulutku keluar kata tersebut. Dengan semangat aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, menarik terus menerus seiring dengan gerakanku. Gerakannyapun berlawanan dengan gerakanku, setiap aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulutnya. “uugghh.., aahh.., Sshshhss.., oohh.., uugghh..”.
Tiba-tiba ia berteriak, “Iwaann.., sshh.., oohh”, aku merasakan sesuatu keluar dari dalam lubang kemaluannya tapi, “oohh.., oohh.., aacchh.., Gitt.., aakku..”. Akupun merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya seiring dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku.
“oohh.., uugghh”, banyak sekali cairanku keluar.
“Terus Wan.., keluarin semuanya..”, pinta Gita.

Tubuhku terasa sudah tidak kuat lagi berdiri. Aku langsung telentang di kasur, sedangkan Gita langsung memelukku dan menaruh kepalanya di dadaku.
“Gita sayang sama Iwan”, hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu matanya terpejam sambil terus memelukku.
“Iwan juga sayang sama Gita”, kataku.
Akhirnya sejak itu aku dan Gita resmi pacaran.

TAMAT

31
Aug
09

Gelinjang Teman Sekantor

Sebut saja namaku By. Aku bekerja di sebuah perusahaan di kawasan segitiga emas di Jakarta. Sebagai seorang supervisor, aku sering melakukan perjalanan ke luar kota untuk mengunjungi klien maupun mengontrol penjualan. Nah, suatu hari aku kebetulan mendapat ijin untuk masuk siang karena pada malam sebelumnya aku bertugas di luar kota.

Sekitar jam 10.00, pintu kamar kosku diketuk oleh Bi Minah (penjaga kos). “Mas, ada tamu”, panggil Bi Minah dari balik pintu. Dengan malas-malasan aku beranjak dari tempat tidurku dan membuka pintu. Eh.., di belakang Bi Minah berdiri Ati, teman sekantorku. Memang, dia berugas di bagian pemasaran sehingga bisa dengan leluasa keluar kantor.

Setelah Bi Minah pergi, aku menyilakannya masuk.
“Ada apa nih?”, tanyaku sambil mengucek-ucek mata. Maklum, kemarin malam aku sampai di Jakarta sekitar pukul 02.00 dinihari.
“Nggak, mau main aja”, jawabnya sambil tersenyum.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang suasana kantor, aku minta ijin untuk mandi.

Sewaktu di kamar mandi, aku terus berpikir ada apa kok tiba-tiba dia datang ke kosku. Selama ini aku hanya mengenalnya sepintas dan itu pun hanya basa-basi. Bukannya sombong, tapi dia bukan anak buahku langsung. Jadi, memang jarang bertemu. Tapi, jujur saja, Ati tergolong cantik. Dengan kulitnya yang putih, gigi yang teratur rapi, plus rambut hitamnya yang sebahu, siapa pun akan mengakui kecantikannya. Belum lagi dada dan pantatnya yang memang aduhai.

Usai mandi, aku bergegas kembali ke kamar. Ternyata, dia sudah duduk di tempat tidurku sambil membaca majalah. Pikiran kotorku segera bekerja, “Pasti ada maunya nih”. Dengan alasan akan mengambil baju yang tergantung di balik pintu, aku menutup pintu dan menguncinya. Sedetik kemudian, aku menemaninya duduk di ranjang.

Sambil ngobrol, dengan perlahan wajahku kudekatkan ke wajahnya. Dia hanya diam saja dan tidak mencoba menghindar. Langsung saja kulumat bibirnya dan ternyata responnya sangat mengejutkan. Ati membalas ciumanku dengan bernafsu dan bibirnya makin terbuka saat lidahku bermain di mulutnya. Cukup lama juga kami berpagutan, dan jelas burungku sudah berontak hendak keluar dari sarangnya. Saat kami berciuman, dia membisikkan bahwa dia sayang padaku.

Sambil lidahku menuruni lehernya yang jenjang dan wangi, tanganku segera meraba dadanya yang kenyal. Dia menggelinjang saat tanganku meremas buah dadanya yang berada di balik blouse putihnya. Dengan lembut kulepaskan satu persatu kancing bajunya dan menyembullah buah dada yang terbungkus bra putih. Dengan ukuran 36B, buah dada itu nampak hendak mau tumpah dari cungkup branya. Segera saja kubenamkan wajahku ke dadanya. Ati makin mendesah dan tangannya meremas-remas rambutku. Kujilati dadanya dan dengan gentle aku menyusuri gunung kembarnya. Dengan mulutku, kubuka cup branya dan tangan kiriku membuka kait bra di punggungnya. Rupanya, kelembutanku sangat menyenangkan dia. Ati tertawa kecil sambil mengelus rambutku.

Terlihatlah buah dada Atik yang menantang dengan puting berwarna coklat pucat. Putingnya tidak seberapa besar, tapi lingkaran putingnya benar-benar membuatku bernafsu. Lebar dan benar-benar bulat sempurna. Segera kukulum putingnya dan sesekali menggigitnya dengan mesra. Ati makin liar dan tubuhnya terdorong ke belakang sampai rebah di ranjang. Ini memudahkan pengembaraanku. Dengan posisi berbaring, aku lebih leluasa mengulum kedua buah dadanya. Dengan kedua tanganku, kutangkupkan kedua bukit indah itu dan lidahku menjilatinya bergantian. Kombinasi permainan lidah dan remasan tanganku rupanya membuatnya makin bergairah. “Terus, Mas.., terus.., aduh enaknya..”, desisnya. Buah dada yang tadinya lembut itu makin menegang putingnya dan dengan rakusnya kulahap. Tangannya makin membenamkan wajahku ke buah dadanya.

Tangan Ati lalu menyusuri perutku dan jarinya masuk ke dalam celana dalamku. Kemaluanku pun dipijat-pijatnya. Walaupun aku sudah tegang, tapi penisku baru 70% ereksi. Bukannya sombong, tapi aku tergolong lambat panas. Aku segera melepas celana dalamku dan dengan leluasa tangannya mengocok penisku. Rasanya selangit deh, antara geli dan enak. Walaupun tidak tergolong besar (panjang 15 cm, diamater 4 cm), tapi stamina penisku cukup prima.

Aku tidak mau kalah dan mulutku pun mulai menuju perutnya. Lidahku berhenti sejenak di pusarnya dan kumasuki lubang pusarnya dengan lidah. Pinggul Ati langsung terangkat dan desahannya makin kencang. Lalu tangan kananku mencari risleting roknya dan menurunkannya. Rok mini hijaunya kupelorotkan dan kuciumi paha putihnya yang merangsang. Mulai dari balik dengkul, sampai ujung paha kejelajahi dengan lembut. Ati terlihat menggigit bibirnya sendiri sambil matanya merem melek keenakan.

Ketika kuciumi pangkal pahanya, terlihat beberapa bulu halus menyembul keluar dari celana dalam satin hitamnya. Perlahan, jariku menyibak pinggir celana dalamnya dan kujilati clitorisnya. Rupanya, sensasi dengan cara kukulum clitorisnya ketika masih memakai celana dalam sangat disukainya. Desis Ati bercampur nafas yang semakin memburu makin membuatku gila. Dengan bernafsu kujilati seluruh vaginanya yang berwarna merah muda. Lidahku turun naik menyusuri vagina wanginya dan dengan gerakan liar kumainkan lidahku di lubang kemaluannya.

Setelah sekitar 5 menit, vagina indah itu sudah basah oleh lendir dan dengan bernafsu semakin kujilati. Lalu, tiba-tiba Ati menarik lenganku ke atas. “Ayo dong Mas, Ati udah nggak tahan. Masukin dong Mas..”, pintanya dengan mata memelas. Ia pun segera merenggangkan kedua pahanya dan terlihat vaginanya yang sangat menggiurkan.

Aku segera mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Sambil memeluk tubuhnya dengan erat, perlahan kudorong penisku memasuki vaginanya. Mulanya agak seret, tapi Ati malah mendorong pantatku. Akhirnya dengan sebuah hentakan lembut seluruh penisku berhasil masuk. Bulu vagina Ati yang lebat terasa menggesek bagian atas penisku dan membuatku makin terangsang. Begitu berada di dalam liang vaginanya, penisku langsung mengembang sempurna dan menjadi keras sekali. “Aduh, Mas.., enak banget punyamu. Makin besar di dalam..”, desahnya.

Langsung kulumat bibirnya dan serentak pinggulku mendorong penisku untuk maju mundur. Alamak enaknya! Bagian dalam vaginanya mencengkeram erat penisku yang tak henti-hentinya kugesek-gesekkan di bibir vaginanya. “Benar-benar nikmat nih cewek”, batinku. Ati pun mengimbangi gerakanku dengan memutar-mutar pinggulnya.

“Slap.., slap..”, suara penisku yang sedang giat-giatnya memasuki vaginanya terdengar dengan merdunya. “Terus Mass.., terus.., ah.., enak..”, jeritnya kecil. Aku semakin terangsang dan mempercepat gerakan penisku. Kupandangi wajah cantik Ati yang kini penuh dengan keringat dan mulutnya yang setengah terbuka. “Kubikin kamu bahagia Ati”, bisikku. Dia hanya tersenyum dan makin mempercepat gerakan pinggulnya. Sempat kulirik penisku yang sedang beraksi memasuki liang kenikmatan Ati. Aku pun makin terangsang.

Payudara Ati bergerak naik turun seirama nafsu yang makin memuncak. Tidak berapa lama kemudian, kedua kakinya dilingkarkan di pinggangku dan menjepit erat. Wajahnya sudah merah padam dan matanya sedikit terpejam. Lagi-lagi bibirnya digigit sendiri dan tangannya mendorong pantatku untuk masuk lebih dalam. Makin kubenamkan penisku dalam-dalam. Tanganku meremas-remas payudaranya. Beberapa detik kemudian pantatnya diangkat dan jepitan kakinya makin erat sampai aku susah bernafas. “Aaahh..”, dia berteriak dan tubuhnya menegang. Rupanya dia sedang mengalami orgasme. Penisku terasa basah oleh cairan vaginanya. Tapi, tatap saja tidak kulepas penisku dari jepitan vaginanya.

“Kamu hebat Mas”, ujarnya di sela-sela desah nafasnya. Kucium bibirnya dan segera kuangkat kedua pahanya tinggi-tinggi sampai ke dadanya. Dengan bernafsu kugenjot lagi vaginanya. “Aih.., istirahat dulu dong Mas..”, pekiknya pelan sambil tersenyum. Segera kusumpal bibirnya dengan mulutku dan makin kupercepat gerakan penisku memasuki liang vaginanya. Gelinjangnya semakin liar. Sekitar 5 menit kemudian, dia mengerang lagi. Aku pun sudah tidak tahan. “Di dalam saja Mas”, bisiknya mesra. Kupercepat gerakan penisku di dalam vaginanya dan.., “Crot.., crot..”, kubanjiri vaginanya dengan sperma kentalku. Kami berpelukan erat sambil melakukan french kissing.

Ati meletakkan kepalanya ke dadaku sambil mengelus-elus penisku. “Hebat ya punyamu Mas, aku udah puas banget”, ujarnya dengan senyum manis. Karena dielus-elus, penisku pun bangun lagi. Ati ternyata paham dan langsung mengulum penisku di mulutnya. Hebat deh, nggak kena gigi! Tangan kanannya mengocok penisku, sementara mulutnya dengan rakus menjilati kepala penisku. Wow, nikmat sekali rasanya, serasa aku terbang di langit ketujuh.

Tak sabar, aku segera duduk dan dia segera mengangkang. Kami pun bercinta lagi dengan bersemangat. Dengan bergelora, dia memompa penisku naik turun. Di depan mataku, payudara indahnya bergerak naik turun dan segera saja kulahap keduanya. Dia makin gila, dan kedua tangannya diangkat di kepala. “Bless.., bless.., bles..”, penisku semakin cepat dipompanya. “Barengan yuk”, pintanya. Akhirnya, sambil memeluk tubuhku erat-erat, dia menjambak rambutku dengan mata terpejam erat. Kali ini aku tidak mau menahan-nahannya lagi, dan segera saja kusemburkan spermaku sekali lagi. Tubuh Ati melengkung ke belakang manahan kenikmatan yang tiada tara. Beberapa detik kami serasa di awang-awang. Peluh membasahi tubuh kami berdua. Sejak saat itu, kami selalu mengulangi persetubuhan yang indah itu, baik di tempat kosku, di rumah Ati ataupun di hotel yang kami sewa.

TAMAT




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.