Archive Page 2

06
Jul
10

Cerita 17tahun – Wasti Anak Pembantuku 03

Sambungan dari bagian 02

Wasti sendiri memang senang dirangsang begini, cuma lagi-lagi kalau terasa geli menyengat membuat dia refleks menolaki kepala Oom Rony, akibatnya sama, gigitan-gigitan gemas langsung mendarat di bagian seputar bukit kemaluannya. Malah lebih bertubi-tubi karena Oom Rony lebih bernafsu dengan bukit kemaluan Wasti yang baginya begitu menggiurkan sekali karena Wasti sering mencukuri bulu-bulu kemaluannya agar lebih merangsang langganannya. Jadi kalau bisa digabungkan suara-suara yang sedang terjadi, maka di bangunan sebelah suara riuh pegawai-pegawai percetakan yang sedang sibuk bekerja sambil bercanda akan berpadu rengekan manja sang majikan perempuan dalam kamar yang sedang merasa keenakkan bercanda dengan kemaluannya dikerjai mulut Oom Rony. “He.. hehngg.. aahss diapain gittu.. gellii iihh..” merengek-rengek kegelian dia kalau terasa ujung lidah Oom Rony berputaran menjilati klitoris sesekali menyodok-nyodok pendek di pintu lubang kemaluannya, atau juga kalau gigitan-gigitan kecil Oom Rony di bibir dalam kemaluannya terasa seperti ditarik-tarik ke atas. Kepala botak Oom Rony yang menempel di selangkangannya dipermainkan seperti bola, kadang didekap diusap-usap kalau merasa keenakkan atau kadang ditolaki kalau geli terlalu menyengat.

Tapi Wasti tidak hanya bisa menerima, dia juga pintar memberi “asyik” pada lawan mainnya karena inilah salah satu yang membuat dia juga jadi perempuan kesayangan langganannya itu. Sebentar kemudian bertukar permainan dengan Wasti sekarang yang ganti menghisap batang kemaluan Oom Rony. Dengan pengalamannya yang banyak Wasti tahu persis bagaimana menyenangkan lelaki lewat permainan mulutnya. Teliti dan cukup lama dia menjilati sepanjang batang, menghisap-hisap kepala bulatnya, melocoknya sekaligus dan mengenyot-ngenyot kantung zakarnya membuat batang kemaluan Oom Rony yang tadi setengah mengeras sekarang bangun mengencang. Merasa sudah cukup barulah keduanya tiba di babak senggama. Kembali Wasti mulai merasakan asyiknya bagian lubang kemaluannya dikerjai, kali ini disogok-sogok batang kemaluan Oom Rony. Ini yang dibilang meskipun tampangnya tidak “sreg” tapi Oom Rony cukup menyenangkan Wasti. Memang tidak besar tapi batang kemaluan lawannya ini cukup bisa bertahan lama kerasnya untuk Wasti terikut sampai di kepuasannya. Itu juga sebabnya meskipun di babak awal pembukaan rangsangan Oom Rony kurang disukai Wasti tapi kalau sudah sampai di bagian ini Wasti cukup senang bersetubuh dengan langganannya yang royal memberi uang itu. Terbukti mimik mukanya berseri cerah memainkan kocokkan lubang kemaluannya mengimbangi tarik tusuk batang kemaluan Oom Rony menggesek ke luar masuk lubangnya.

Seirama dengan bunyi “mencicit” putaran roda mesin cetak yang seolah kurang pelumasan di bangunan sebelah, di kamar ini papan tempat tidur pun bergerit oleh gerak putaran kemaluan Wasti mengocok batang kemaluan Oom Rony. Keduanya justru kebanyakan dilumas karena semakin lincir saja beradunya kedua kemaluan terasa dengan semakin cepatnya goyangan keduanya tanda sudah akan mencapai akhir permainan.

“Hshh.. ayyo Was.. Bapakk keluarr..” di ujungnya Oom Rony segera memberi tanda tiba di ejakulasinya.

“Ayyo Pakk.. sama-sama.. hhoghh.. dduhh..” Wasti cepat menyahut, dia pun segera menyusuli dengan orgasmenya.

Berpadu kejang tubuh mereka ketika masing-masing mencapai puncak permainan secara bersamaan. Oom Rony merasa puas dengan pelayanan Wasti, begitu juga Wasti terikut merasa puas dalam permainan seks bersama langganan tetapnya ini.

Akan tetapi bukan hanya Oom Rony saja yang bisa bercinta dengan Wasti di rumahnya itu tapi aku sendiri pernah mengambil bagian seperti itu dengannya. Sudah dua kali aku bertandang ke rumahnya sekedar untuk ngobrol-ngobrol, tapi pada kali ketiga aku datang bertepatan Ardi sedang keluar rumah, saat itulah kesempatan baik ini ingin dimanfaatkan Wasti. Ceritanya waktu aku menumpang buang air kecil, Wasti menunjukkan kamar mandi yang berada di kamar tidurnya tapi rupanya dia menunggu dengan tidak sabaran lagi. Karena baru saja ke luar kamar mandi aku langsung ditubruk pelukan rindunya.

“Duh Mas Dony.. Was kangen banget deh, Mas nggak kangen ya sama aku,” katanya membuka serangan dengan menciumi seputar wajahku.

“Sama aja Was, tapi kan nggak enak masa dateng-dateng lalu minta gitu sama kamu. Lama nggak perginya Mas Ardi?”

“Dia lagi ngurus ke kantor pajak, pasti lama pulangnya kok..”

Sebentar pembicaraan terputus sampai di sini karena kami memuasi diri dulu dengan saling melepas rindu lewat ciuman bibir yang saling melumat hangat dengan posisi masih berdiri berdekapan di ruang tengah itu. Di situ rupanya kami sudah tidak sabaran menunggu karena sambil mulut tetap sibuk kuikuti dengan tanganku langsung bekerja melepas penutup badannya, ini dituruti Wasti bahkan sampai lolos hingga bertelanjang bulat di pelukanku. Begitu terpandang tubuh mulusnya darah pun langsung panas menggegelegak. Hmm.. kuakui lekuk liku tubuhnya yang indah dan tetap tidak berubah sejak dulu nampak begitu menggiurkan dan memompa darah birahiku menaikkan rangsanganku. Masih ingin kunikmati pemandangan indah ini tapi Wasti yang sudah bertelanjang bulat di depanku seperti kuatir aku batal berubah pikiran, dia segera menarik aku lagi dalam pelukan untuk melanjutkan berciuman sambil dia juga membalas membantu membukai bajuku. Kali ini jelas lebih asyik, bergelut lidah bertempelan hangat kedua dada telanjang cepat saja membawa nafsu birahi naik menuntut, sehingga tidak bermesra-mesraan lebih lama lagi kami pun bersiap masuk di babak utama.

“Ayo Mass.. buka juga ininya..” berdesis suaranya sambil tangannya ingin merosot celanaku, tampak dia seperti ingin terburu-buru. Kuturuti permintaannya sebentar kemudian kami sudah sama telanjang masih melanjutkan berciuman merangsang nafsu yang tentu saja naik dengan cepat.Sekarang baru nyata kerinduan Wasti karena sambil masih sibuk bergelut lidah bertukar ludah, sebelah tangannya yang terjulur ke bawah sudah langsung beraksi meremas-remas gemas jendulan batanganku. Diserang begini ganti aku juga membalas. Kedua tanganku yang semula merangkul pinggangnya kuturunkan meremasi kedua pantatnya dan memainkan jariku menggaruki bibir luar kemaluannya, mengukiri celah hangatnya membuat Wasti mulai menggelinjang terangkat-angkat pantatnya menempelkan jendulan kemaluannya ke jendulan batanganku. Lama-lama tidak tahan, Wastipun tidak membuang-buang waktu untuk merendahkan tubuhnya dan langsung mencaplok kepala batangku, dilocoknya beberapa lama dengan mulutnya sekaligus membasahi dengan ludahnya. Setelah terasa basah licin barulah dia menegakkan lagi tubuhnya dan menunggu aku berlanjut untuk berusaha memasukkan di lubang kemaluannya.

Kuteruskan sesaat ciumanku dengan kembali mengiliki klitorisnya, sementara Wasti menyambut dengan juga melocok menarik-narik batang kemaluanku. Saling merangsang begini tentu saja membuat tuntutan birahi jadi naik tinggi. Merasa cukup, kutunda ciuman sebentar untuk membawa dia bersandar ke dinding di belakangnya, Wasti menurut hanya memandangi aku agak bingung.”Nggak di tempat tidur aja Mas..?” tanyanya seperti kurang cocok dengan tempat yang kupilih.”Di sini dulu, sekali-sekali kita main berdiri kan bisa juga?” begitu jawabku menentukan keputusanku. Meskipun agak kurang “sreg” tapi dia juga sudah kepingin berat jadinya menurut saja ketika setelah kusandarkan ke dinding, kulanjutkan dulu dengan mengecupi mesra seputar wajahnya sambil tetap menghangatkan bara nafsu dengan bermain sebentar mengusapi kemaluannya, menggaruki klitorisnya.

Dia kuserbu dengan membuat tidak sempat protes lebih jauh karena segera ujung jariku merasakan licin basah liang kemaluannya. Batang kemaluan yang sudah dibubuhi ludah kudekatkan masuk terjepit di selangkangannya menenempel ketat di lubang kemaluannya. Begitu kena mimik mukanya langsung tegang rahang setengah menganga karena jika dua kemaluan yang sama telanjang sudah ditempel begini, hangatnya mau tidak mau menuntut untuk melibat lebih dalam. Sinar matanya makin sayu meminta dan ini kupenuhi dengan mulai berusaha memasukkan batang kemaluanku. Kedua lutut kutekuk agak merendah dari situ kutekan membor ke depan ujung batangku sampai terasa menyesap masuk di jepitan lubang kemaluan Wasti, ini karena dia juga menyambut dengan menjinjit dan membuka lebar-lebar pahanya.

“Ahngg Mass Doonyy..” keluar erang senangnya sambil menyebut namaku. Seperti biasa dia selalu terlihat repot jika dimasukkan batangku, tegang serius mukanya sambil sesekali melirik ke arah pintu seperti masih kuatir kalau ada yang masuk mendadak sementara dia sedang sibuk dalam usahanya ini. Begitupun pelan-pelan tenggelam juga batangku ditelan lubang kemaluannya masuk dan sebentar kemudian terendam habis seluruh panjangnya. Aku berhenti sebentar untuk dia menyesuaikan ukuranku baru setelah itu aku pun mulai menikmati jepitan asyik kemaluannya di batangku. Lepas dari sini kami berdua sudah langsung meningkat meresap nikmat sanggama tanpa perduli suasana sekitar lagi. Aku mengawali dengan memainkan batangku menusuk tarik ke luar masuk, sebentar kemudian diimbangi Wasti dengan memainkan pinggul mengocokkan lubang kemaluannya. Masing-masing sama berkonsentrasi pada rasa permainan cinta dengan di atas kembali saling melumat bergelut lidah, kali ini untuk melengkapi gelut dua kemaluan yang mengasyikan dalam posisi sanggama berdiri ini. Sambil begitu kedua tanganku pun meremasi sekaligus kedua susunya menambah enaknya permainan.

Wasti baru sekali kuajak main gaya begini tapi sudah langsung tenggelam dalam kelebihan rasanya. Terbukti baru disogok-sogok beberapa saat saja dia sudah tegang serius mukanya, tapi sebelum sampai ke puncaknya segera kuangkat dia berpindah posisi ke tempat yang lebih santai buat dia dan baru sekarang kubaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. “Wiihhss.. Mas Donny kangen aku kontolmu Mass.. sshh mantepp rasanya..” komentar pertama dengan nada suara bergetar terdengar senang seperti anak kecil baru diberi mainan. Saking rindu dan senangnya sampai mengalir keluar airmata bahagianya.

Tidak kusahut kata-katanya tapi dengan gemas-gemas sayang aku menindih untuk mengecup menggigit bibirnya dan dari situ kusambung dengan mulai memainkan batangku keluar masuk memompa di jepitan lubang kemaluannya. Inipun masih pelan saja tapi reaksinya sudah terasa banyak buat kami. Pinggulnya dimainkan membuat lubang kemaluannya berputaran memijati batanganku, hanya tempo singkat kami sudah meningkat dalam serius tegang dilanda nikmatnya gelut kedua kemaluan. Airmuka kami sama tegang dan sinar mata sama sayu masing-masing hanyut meresapi jumpa mesra yang baru ini lagi kami lakukan setelah lewat cukup lama perpisahan keintiman kami. Menatap wajah si manis sedang hanyut begini tentu saja menambah rangsangan tersendiri yang membuatku makin meningkatkan tempo, sambil tetap meresapi asik yang sama pada gelut dua kemaluan kami.

“Enak nggak Was rasanya punyak Mas..” bisikku menguji di tengah kesibukanku, sekedar ingin tahu komentarnya.

“Hsh iya ennak sekalli Mass.. kontol Mas Donny palingg ennak dari semuanya.. hhssh wihh ker-ras sekalli.. ennaakk.. Adduuh Maas iya ditekenn gittu dalem bbanget hhshh.. Mass Donyy ennaak sekalii Maas..”

Wasti kuhapal memang type spontan terbuka, dipancing sedikit saja langsung keluar suaranya mengutarakan apa yang sedang dirasakannya. Jelas menyenangkan mendapat partner bercinta seperti ini, segera kutenggelamkan juga perasaanku menyatu dalam asyik sanggama sepenuh perasaan dengannya. Makin lama gelut kami makin berlomba hangat tanda bahwa masing-masing mulai menuju ke puncak permainan, sampai tiba di batas akhir kuiringi saat orgasme kami dengan menempel ketat bibirnya saling menyumbat dengan lumatan hangat. “Hhrrh hghh.. nghhorrh.. sshghh.. hoorrhgh hhng.. hngnhffgh.. ngmmgh..” suara tenggorokan kami saling menggeros bertimpal seru mengiringi saat ternikmat dalam sanggama ini. Mengejut-ngejut batang kemaluanku menyemburkan cairan maniku yang juga terasa seperti diperas-peras oleh pijatan dinding kemaluannya. Sampai terbalik kedua bola mata kami saking enak dirasa tapi begitupun sumbatan mulutku belum kulepas menunggu sentakan-sentakan ekstasinya melemah. Baru ketika helaan nafas leganya ditarik tanda kenikmatan berlalu, aku pun melepas tempelan bibirku menyambung dengan kecupan-kecupan lembut seputar wajahnya.

“Hhahhmmhh Mas Ddony.. assyiknyaa.. keturutan kangenku sama Mas..” kembali terdengar komentarnya dengan masih saling berpelukan mesra.

“Mas sendiri juga kangen sekali sama kamu Was,” kataku jujur membalas perasaan hatinya.

“Bener?” tanyanya menguji dengan nada manja.

Tapi tetap menjepitkan otot-otot lubang kemaluannya di batanganku menunggu sampai terlihat aku mulai mengendor menghela nafas legaku, di situ baru dia berhenti dan membiarkan aku melepaskan batanganku dari lubang kemaluannya. Aku lega dan puas tapi air mukanya juga tampak berseri tanda senang telah berhasil memuaskan kerinduannya denganku.

Sejak dari hari itu berlanjut lagi hubungan lamaku dengan Wasti di setiap kedatanganku ke rumahnya tapi dengan alasan yang sama seperti Oom Rony yaitu pura-pura minta dipijat oleh Wasti. Hari itu aku datang ke rumahnya bertemu dengan Ardi yang sedang sibuk mencetak di bangunan sebelah, dia mempersilakan aku menemui Wasti di rumah induk. Aku pun mengiyakan dan waktu masuk ke rumah kudapati Wasti di dapur sedang mencuci piring-piring dan gelas bekas makan siang mereka. Wasti menoleh dan tersenyum manis menyambut kehadiranku serta meminta aku menunggu dulu di ruang tamu. Timbul niat isengku menggoda, kurapati dia yang saat itu masih berdiri di depan meja cucian piring, langsung memeluk dari belakang mencumbui dia. Mengecupi lehernya sambil kedua tanganku meremasi bukit susunya. Karuan Wasti menggeliat-geliat dengan muka malu-malu geli, ingin menghindar tapi mana mau kulepas begitu saja. Akhirnya dia diam saja membiarkan aku menggerayangi tubuhnya, dia sendiri tetap meneruskan mencucinya karena dipikirnya mana mungkin aku berani mengajak dia untuk waktu yang senekat ini.

“Mas Dony ini nggodain aku aja, paling-paling Mas juga udah ngiseng sama yang lain, sekarang kayak sudah kepengen lagi..?”

“Lha memang kepengen kok, sama kamu kan belum?” jawabku sambil mengangkat rok belakangnya, langsung melorotkan celana dalamnya.

Tentu saja Wasti jadi kaget karena tidak mengira bahwa aku betul-betul serius meminta.

“Heh Mas Dony! Ngawur ah, ini kan masih di dapur.. nanti aja di kamar Mas.. kalau di sini nanti ada yang liat gimana?”

Wasti masih coba memperingatkan aku agar mengurungkan kenekatanku tapi aku sudah tidak bisa menahan lagi. Malah sudah kulepas ritsleting celanaku membebaskan kemaluanku langsung menempelkan batanganku di selangkangannya.

“Kasih sebentar aja kan bisa Was, dari sini kan kita bisa ngeliat ke sebelah kalau ada yang dateng..” kataku meminta sambil menenangkan dirinya.

Kebetulan di dekat meja cucian piring itu ada jendela kaca darimana kami bisa melihat keadaan bangunan percetakan di sebelah.

“Ahhs Maass..!” Wasti kontan menjengkit ketika terasa batang telanjangku yang menempel di lubang kemaluannya itu sudah mulai naik mengencang.

Sempat bingung dia tapi dari semula ingin berkeras menghindar akhirnya Wasti jadi tidak tega juga, langsung melunak suaranya berbisik.

“Wih, wih Mass.. kok cepet banget sih keras bangunnya..?”

“Makanya itu.. Mas Dony masukin ya?”

“Iya tapi aku belum basah Mas..”

“Nanti Mas basahin sebentar..”

“Tapi jangan lama-lama ya, nanti keburu ada yang dateng malah tambah penasaran..”

Tanpa membuang-buang waktu aku berjongkok di belakang Wasti dan segera menyosor di lubang kemaluannya yang juga cepat memasang posisi agar lebih mudah, dengan membuka secukupnya kedua pahanya serta menunggingkan sedikit pantatnya. Sambil begitu Wasti sendiri terpaksa menunda dulu pekerjaannya dan menunggu dengan bertopang kedua tangan di tepi meja cucian sambil pandangannya terus melekat memperhatikan ke luar jendela kaca itu. Niatnya memang semula hanya ingin sekedar memberi buat aku, tapi ketika terasa sedotan dan jilatanku di lubang kemaluannya ditambah lagi dengan satu jariku yang kucucukan menggeseki kecil di lubang itu, yang begini cepat saja membuat gairahnya terangsang naik. Cepat-cepat dia membilas kedua tangannya yang masih penuh sabun karena sesewaktu mungkin diperlukan untuk memegangi tubuhku.

Betul juga, tepat saatnya dia selesai membilas bersamaan aku juga selesai mengerjai liang kemaluannya. Segera kubawa batanganku ke depan lubang kemaluannya dan mulai menyesapkan masuk dari arah belakang, langsung saja sebelah tangan yang masih basah itu dipakai untuk memegang pinggulku, sebagai cara untuk mengerem kalau sodokkanku dirasa terlalu kuat. Tapi rupanya tidak. Biarpun sudah dilanda gairah kejantananku, tapi aku masih bisa meredam emosi tidak kasar bernafsu. Selalu hati-hati sewaktu membor batangku masuk meskipun seperti biasa Wasti selalu menunggu dengan muka tegang. Dia baru melega kalau batangku dirasanya sudah terendam habis di lubang kemaluannya.

“Keras sekali rasanya Mas..?” komentar pertamanya sambil menoleh tersenyum kepadaku di belakangnya.

Kugamit pipinya dan menempelkan bibirku mengajaknya berciuman.

“Kalau ketemu lubangmu memang jadi cepet kerasnya..” jawabku berbisik sebelum menekan dengan ciuman yang dalam.

Kami mulai saling melumat sambil diiringi gerak tubuh bagian bawah untuk meresap nikmat gelut kedua kemaluan dengan aku menarik tusuk batang kemaluan, sedang Wasti memutar-mutar pantatnya mengocoki batanganku di liang kemaluannya. Inipun niat semula masih sekedar memberi bagiku saja, tapi tidak bisa dicegah, dia pun dilanda nikmat sanggama yang sama, yang membawanya terseret menuju puncak permainan bersamaku.

Dari semula gerak senggama kedua kami masih berputaran pelan, semakin lama semakin meningkat hangat, karena masing-masing sudah menumpukkan rasa enak terpusat di kedua kemaluan yang saling bergesek, sudah bersiap-siap akan melepaskannya sesaat lagi. Wasti tidak lagi bertopang di tepi meja tapi menahan tubuhnya dengan lurus kedua tangannya pada dinding depannya. Di situ tubuhnya meliuk-liuk dengan air muka tegang seperti kesakitan tertolak-tolak oleh sogokan-sogokan batanganku yang keluar masuk cepat dari arah belakangnya, tapi sebenarnya justru sedang tegang serius keenakkan sambil membalas dengan putaran-putaran liang kemaluannya yang menungging. Masing-masing sudah menjelang tiba di batas akhirnya, hanya tinggal menunggu kata sepakat saja.

“Aahs yyohh Wass.. Mass sudah mau samppe..”

“Iya Mass.. sama-samaa.. sshhah-hhgh.. dduhh.. oohgsshh.. hrrh hheehh Wass ayyoo.. dduuh Maass.. aaddussh hrhh..”

Pembukaan orgasme ini masing-masing saling mengajak dan berikutnya saling bertimpa mengerang mengaduh dan tersentak-sentak ketika secara bersamaan mencapai batas kenikmatan. Jika dihitung secara waktu maka permainan kali ini relatif cepat namun bisa juga membawa Wasti pada kepuasannya. Memang hampir saja terlambat, karena baru saja aku mencabut batang kemaluanku sudah terdengar langkah kaki seseorang akan masuk ke rumah induk. Ternyata memang Ardi yang datang. Wasti sendiri tidak sempat lagi mencuci lubang kemaluannya, buru-buru dia menaikkan celana dalamnya untuk menyumbat cairan mani bekasku yang terasa akan meleleh ke pahanya dan selepas itu dia pura-pura kembali meneruskan mencuci piring yang sempat tertunda itu.

TAMAT

Tags : cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang, cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya

04
Jul
10

Cerita 17tahun – Wasti Anak Pembantuku 02

Sambungan dari bagian 01

Nikmatnya jepitan liang kemaluan mulai terasa meresap, maklum, biasanya belum sampai 4 hari saja aku pasti sudah ngeluyur untuk mencari partner isengku. Dengan sendirinya senggama penyalur kerinduanku saat ini ingin kurasakan dengan senikmat-nikmatnya tanpa perlu terburu-buru. Kebetulan lagi partnerku ini termasuk barang baru yang muda lagi menggiurkan, jadi harus kuresapi asyiknya detik demi detik agar betul-betul mendapatkan kepuasan penyaluran yang maksimum. Setelah merasa cukup meresap asyiknya rendaman batang kemaluan dalam hangat liang kemaluannya, aku pun mulai memainkan batangku memompa pelan-pelan mencari nikmatnya gesekan batang. “Ssshh Waas.. enak sekali memekmu.. sempitt rasanyaa..” Baru dua-tiga gesekan saja aku sudah gemetar memuji rasa yang kuterima. Mukaku jadi tegang serius saking asyik diresap nikmat, bertatapan sayu dengan matanya yang sama mesra namun tergambar sinar senang dan bangga di situ.

Makin kupompa makin meluap nikmatnya apalagi Wasti mulai menambahi dengan memainkan liang kemaluannya mengocok lewat putaran pinggulnya. “Adduu Waass.. pinterr kammu ngocokknyaa.. tapi Mas kepengenn cepet keluarr diginiinn.. ssh mm..” Sudah terbata-bata suara gemetarku bukan asal memuji tapi memang cepat saja aku dibuat tidak tahan oleh bantuan putaran kemaluannya. Kepala batangankan kemaluannya. Kepala batangankukkan cairan mani terkumpul di situ tinggal menunggu waktu untuk disemburkan saja. Segera Wasti kudekap lagi dengan sebelah lengan di lehernya sedang sebelah lagi menahan pantatnya, aku pun mengganti gerakan tidak lagi menggesek tapi memutar batanganku dan menekan dalam-dalam sambil mengajak dia bercium melumat hangat. Wasti menyambut ajakanku dengan balas mendekap, kedua kakinya naik membelit pinggangku erat-erat. Seperti mengerti kalau batang kemaluanku sudah dikorek dalam-dalam berarti aku ingin mengajak dia berorgasme bersama-sama. Dia pun tidak menahan-nahan lagi.

“Ayyo Wass.. Mass keluarinn yaa..?”

“Iyya, iyaa Mas.. sama-sama..”

“Hhaaghh..! dduhhss.. adduhh Wass.. Mass kelluarr.. sshhgh.. ahhgh.. hghh.. aah .. aahshg duuh.. hoh.. hngg hmm..”

Baru saja ajakan berorgasmeku disahut Wasti aku pun sudah meledak mengaduh tiba di puncak kepuasanku. Bukan main! semprotan cairan maniku serasa dahsyat menyembur-nyembur, menumpahkan seluruh kerinduanku sepertinya panjang dan lama sekali diperas-peras oleh pijatan kemaluannya sampai dengan tetesan yang terakhir. Aku sendiri tidak memperhatikan lagi bagaimana partnerku ini ikut berorgasme karena bola mataku sudah terbalik saking nikmatnya aku berejakulasi. Luar biasa, jujur kukatakan bahwa inilah saat orgasme yang paling enak sejak aku mulai bisa bersetubuh dengan perempuan. Kerinduan birahi nafsuku yang tertunda cukup lama menurut ukuranku ini betul-betul mendapatkan penyalurannya yang memuaskan sekali. Begitu puasnya sehingga ketika tubuhku melemas Wasti masih tetap kupeluki dan kukecupi bertubi-tubi seputar wajahnya diikuti pujian tanda senangku.

“Minn, Was.. kamu kok enak skali sih.. Mas Dony rasanya puas bener numpahin kepengennya sama kamu..”

“Enak nggak main sama Wasti, Mas?” masih dia bertanya manja namun dengan nada bangga di situ.

“Hmmsshh eenaak bener deh.. Ini ibarat lagi laper-lapernya dikasih kue enak langsung pas bener kenyangnya.”

Wasti tertawa senang.

“Wasti sendiri juga puas Mas diminumin susu kentelnya Mas Dony..” katanya sambil membalas mengecupi bibirku.

Berlanjut lebih jauh tentang Wasti, ada suatu pengalaman Wasti yang ingin kuceritakan di sini sejak dia bekerja di panti pijatku, yaitu tentang keintimannya dengan Oom Rony. Oom Rony memang doyan dipijat tapi merasakan dipijat seorang perempuan muda dia tidak pernah karena maklum dia takut dicurigai orang kalau pergi ke panti-panti pijat, selain itu Tante Yosi istrinya galak dan ketat mengawasinya. Maka ketika suatu kali dia kubawa ke sebuah panti pijat secara sembunyi-sembunyi Oom Rony langsung ketagihan. Itu sebabnya waktu kuusulkan untuk bekerja sama mengusahakan sebuah panti pijat milik temanku yang hampir bangkrut, Oom Rony segera setuju menyertakan modalnya atas namaku. Dengan begitu dia bisa menyalurkan kesenangannya dipijati gadis-gadis muda karena cuma beralasan pergi denganku saja baru Oom Rony bisa aman tidak dicurigai Tante Yosi. Kami berdua diketahui Tante Yosi sering pergi memancing sebagai salah satu hobby kami. Dari mulai sekedar dipijat ternyata mulai meningkat kepingin beriseng dan gadis pemijat yang diincarnya justru Wasti. Alasannya karena Wasti sudah dikenalnya sebagai orang dalam di rumahku sehingga dia yakin Wasti tidak akan menuntut apa-apa padanya. Aku sendiri semula tidak mengira kalau perkembangan pijat-memijat itu jadi semakin jauh. Hal ini baru kuketahui ketika suatu sore Mas Didik sopir sekaligus orang kepercayaan Oom Rony datang menjemput Wasti yang kebetulan sedang membersihkan rumahku, kudapati Wasti gelisah dan kurang enak air-mukanya.

“Mas, bilang aja aku sekarang udah nggak bisa, udah pulang kampung, lalu Mas nawarin temen-temen lain aja..” katanya membujuki aku di kamar sementara Mas Didik menunggu di ruang tamu.

“Lho tadi Mas ditelepon Bapak memang bilang kamu ada di sini kok, emang kamu kenapa..? lagi capek ya mijetin Bapak sekarang? Kalau capek nanti Mas yang ngomongin,” kataku menawarkan.

Bapak adalah menurut sebutan Wasti kepada Oom Rony.

“Nggak gitu Mas, tapi..” di sini dia berat untuk meneruskan dan memandangiku dengan malu-malu takut.

Aku paham ada sesuatu yang disembunyikan dan kubujuk dia dengan lembut sampai akhirnya Wasti pun mengaku bahwa meskipun sudah sering memijat tapi baru belakangan ini Oom Rony terangsang untuk mengajak Wasti ber-”iseng”. Permintaan ini berat karena Wasti merasa kikuk dan sungkan sekali kepada Oom Rony dan untuk itu dia berusaha menolak dengan yang terakhir kali dia memberi alasan sedang haid. Jelas alasan yang begini cuma mengulur waktu saja sehingga untuk yang berikut ini Wasti merasa tidak bisa menolak lagi. Itu sebabnya dia jadi gelisah serba salah terhadapku. Mendengar sampai di sini aku cuma tersenyum membuat Wasti jadi lega. Memang, baik aku maupun dia sebenarnya sama mengerti bahwa Oom Rony sebagai laki-laki wajar kalau sesekali kepengen ber-”iseng” di luaran. Cuma saja bagi Wasti dia berat karena dia takut aku tersinggung dan marah kepadanya. Begitu, agak beberapa saat kami terdiam mencari jalan keluar tapi akhirnya kuanjurkan Wasti untuk memberi saja.

“Iddihh Mas Dony kok malah nyuruh ngasih, gimana sih?!” nadanya terdengar agak kurang enak dengan usulku.

“Gini Was, kamu kan ngerti kalau Bapak susah mau ‘ngiseng’ begini di luaran. Kebetulan bisa ketemu kamu yang udah dianggap deket bisa nyimpan rahasia, kan nggak apa-apa kalau diikutin sekali-sekali. Dijamin deh Mas Dony nggak marah soal ini.”

Mendengar dari aku sendiri yang berbicara seperti itu hanya membuat dia terdiam berpikir sebentar tapi kemudian menyetujui anjuranku. Setelah mendapat ijin khusus dariku Wasti pun bersedia untuk pergi memijat Oom Rony di hotel tempatnya menginap. Hotel itu adalah tempat rahasia Oom Rony dan tidak ada yang tahu kecuali Mas Didik yang membawa ke situ.

Kami bertemu lagi keesokkan harinya di panti pijat, rasa penasaran kubawa dia ke sebuah kamar untuk mendengarkan pengalamannya dengan Oom Rony sambil meminta dia memijati aku. Wasti yang ditanya soal semalam langsung menyembunyikan muka malunya di dadaku belum langsung menjawab.

“Lho kok masih berat nyeritainnya, kan Mas udah ngasih ijin? Gimana, kesannya asik atau nggak kan Mas kepengen tau?” tanyaku mendesak terus.

“Kesannya.. Aaa.. maluu aku Maass..!”

Wasti menjerit malu makin membenamkan wajahnya ke dadaku. Kutunggu beberapa saat sampai malunya mereda barulah dia mau bercerita pengalamannya malam tadi.

Seperti yang sudah dibayangkan Wasti, baru saja memijat sebentar bagian punggung Oom Rony sudah berbalik minta dipijat bagian depan. Di situ sambil mengambil tangan Wasti untuk memijati seputar selangkangannya dia mulai memancing-mancing jawaban Wasti tentang kesediaannya untuk memenuhi ajakan ber-”iseng”-nya waktu itu. Wasti meskipun merasa sudah tidak ada yang diberati tapi masih kikuk untuk mengiyakan langsung. Dia hanya menggigit bibir malu-malu meskipun begitu tangannya bekerja juga menyusup di balik handuk yang dikenakan Oom Rony dan segera memijat daerah selangkangan yang dimaksud untuk merangsang kejantanannya. Jelas cepat saja batang itu naik menegang.

“Ihhng.. cepet bener bangunnya Bapak punya..” katanya mengomentari batang kemaluan kencang Oom Rony di genggamannya.

“Makanya itu, biar nggak tambah penasaran sebaiknya diselesaikan sama kamu Was?” jawab Oom Rony sambil merayapkan tangannya dari belakang pantat Wasti menyusup mengusapi tengah selangkangannya.

“Mmm.. tapi mesti dilicinin dulu Pak..” lagi-lagi Wasti tidak menjawab langsung, hanya mengambil cream pemijit dan melumuri seputar batang itu agar menjadi licin.

Sekarang Oom Rony mengerti bahwa Wasti sudah bersedia menyambut ajakan ber-”iseng”-nya, dia beraksi lebih dulu membuka belitan handuk yang dipakainya.

“Kalau gitu ke sini aja supaya nggak habis waktunya. Ayo buka dulu bajumu terus naik sini Nduk!” kata Oom Rony terburu-buru saking senangnya.

Wasti berhenti dan mengikuti permintaan Oom Rony untuk segera membuka bajunya. Tapi meskipun sudah terbiasa bertelanjang bulat di depan lelaki, tidak urung dengan majikan besarnya ini Wasti merasa kikuk sekali. Lebih-lebih waktu ditarik berbaring bersebelahan disambut masuk dalam pelukan Oom Rony yang langsung menyerbu dengan remasan gemas dan ciuman bernafsu di seputar lehernya, Wasti jadi risih karena merasa tidak pantas dengan besarnya perbedaan status di antara kedua mereka.

Sekalipun sudah dicoba memejamkan mata dan menghayalkan dia sedang digeluti salah seorang langganan “Oom Senang”-nya tapi tetap saja terbawa sebagai majikan besar ini sulit hilang, sehingga Wasti seperti kaku tidak berani bergaya manja-manja genit. Padahal Oom Rony sudah tidak perduli soal status dan jabatannya, juga tidak perduli dengan status lawan mainnya. Yang dia tahu saat itu ialah si gadis pembantu yang cantik ini begitu menggiurkan dalam penampilan polosnya sehingga Oom Rony yang sedang mendapat kesempatan menggelutinya pun tambah lebih bersemangat lagi.

Dari mulai kedua susunya, sudah habis-habisan masing-masing daging kenyal yang bulat montok itu diremasi dan disosor rakus mulut Oom Rony. Disedot-sedot bagian puncaknya sam-bil dikulum pentilnya digigit-gigiti kecil membuat Wasti menggelinjang kegelian, begitu juga seputar tubuh si cantik sudah rata dijelajahi rabaan tangan Oom Rony yang sibuk penasaran. Mendarat di selangkangannya bukit daging setangkup tangan itu pun diremasi gemas, jarinya mengukiri celah hangat mengiliki kelentit dengan gemetar bernafsu. Semakin Wasti meliuk erotis semakin merangsang nafsu Oom Rony sampai akhirnya dia tidak tahan berlama-lama lagi. Dia pun berhenti dan segera mengambil ancang-ancang untuk mulai menyetubuhi Wasti. Menangkap bahwa Wasti mungkin masih kikuk dengannya, Oom Rony meminta Wasti berbalik agar dia bisa memasuki dari arah belakang. Ini diikuti Wasti tapi belkang. Ini diikuti Wasti tapi belOom Rony sudah merapat menepatkan sendiri ujung batang kemaluannya dan langsung menekan masuk.

“Tapi.. lho, lhoo, lhoo..?!” Wasti sampai menjengkit dengan meringis bengong karena dia merasakan suatu kesalahan tusuk pada lubangnya. Bukan di lubang kemaluan tapi justru lubang anusnya yang disodok batang itu. Dan konyolnya baru saja dia akan memperbaiki sudah keburu keluar komentar Oom Rony. “Ssshhmm.. enakk Waass.. sempit sekali punyakmuu hhshh..” baru terjepit sudah langsung dipuji rasanya. Wasti jadi urung membetulkan karena dia kuatir Oom Rony tersadar dan malu hati, malah hilang selera nafsunya dan batal meneruskan permainan. Biar saja, mumpung suasana kamar remang-remang gelap mudah-mudahan sampai dengan selesai Oom Rony tidak menyadari kekeliruannya. Syukur, Oom Rony memang kelihatan bernafsu sekali terasa dari sodokannya yang gencar dengan tubuh gemetaran persis seperti anjing sedang dalam siklus birahinya. Maklum, dia betul-betul lapar sekali menyetubuhi partner muda seperti ini. Dan melihat ini Wasti menambahi dengan bantuan goyangan pinggulnya mengocok batang itu, maka tidak berlama-lama lagi sebentar kemudian terdengar tenggorokan Oom Rony menggeros tersendat-sendat ketika dia berejakulasi memuntahkan cairan maninya. Itulah apa yang dialami Wasti ketika melayani Oom Rony semalam.

“Tapi urusannya sekarang gimana nih, semalem yang ini dipakai juga nggak, kalau nggak biar Mas Dony yang ngisi sekarang?” tanyaku menggoda sambil menyusupkan tanganku meremas langsung kemaluan telanjangnya. Wasti memang selalu bertelanjang bulat jika memijati aku.

“Main yang keduanya memang dipakai juga, tapi biarpun gitu asal yang mau ngasih lagi Mas Dony sendiri tetep aja Wasti penasaran Mas..” jawabnya dengan mulai bermain di kemaluanku.

“Kalau gitu pertamanya pakai yang depan dulu ya? Abis itu baru masukin yang di belakang, soalnya Mas Dony juga jadi nafsu deh denger ceritamu barusan.”

Wasti hanya mengangguk tersipu-sipu menyetujui permintaanku. Memang, permainan anus ini dipelajarinya dariku, jadi meskipun awalnya dulu dia kerepotan dengan batang kemaluanku tapi sekarang sudah terbiasa dengan ukuranku. Tanpa menunggu lagi dia pun segera mengencangkan batang kemaluanku. Dengan tekniknya yang terlatih dia pun mengerjai batangku. Mula-mula dilocoki pelan dengan genggaman tangannya sampai setengah menegang, setelah itu diteruskan dengan kerja mulutnya yang mengulum dan mengisap, baru setelah tegang kaku dia pun memasang dirinya untuk siap kusetubuhi. Kalau sudah sampai di sini permainan asyik pun berlangsung sebagaimana yang sering kami lakukan berdua. Yaitu seperti keinginanku, mula-mula kuresapi pijatan lubang kemaluannya di batang kemaluanku tapi ketika menjelang tiba ejakulasiku, barulah kupindahkan ke lubang anus untuk menyelesaikan permainan dengan menyembur-nyemburkan cairan maniku di situ.

Rupanya Oom Rony setelah mendapatkan Wasti bukan sekedar ketagihan lagi tapi lebih dari itu dia ingin berlanjut memelihara Wasti sebagai “gendak” peliharaannya. Kedengarannya enak buat Wasti tapi begitupun dia selalu minta pendapatku dulu. Setelah berunding denganku akhirnya kuberi jalan bahwa Wasti bersedia tapi hanya selagi suaminya masih belum pulang saja. Syarat ini disetujui Oom Rony dan begitulah Wasti langsung menghilang dari Panti Pijat tanpa ada yang tahu karena sebenarnya dia sedang bersembunyi di rumah yang disewakan Oom Rony untuknya. Akan tetapi sekalipun suaminya sudah ada, hubungan Oom Rony dengan Wasti tetap berlanjut yaitu Oom Rony secara rutin memanggil Wasti dengan alasan minta dipijati. Pasalnya Wasti semenjak dipelihara sebagai langganan kesayangan Oom Rony kehidupannya bisa terjamin dimana Wasti diberi modal untuk membuka sebuah usaha percetakan. Ini dianggap hutang budi bagi Ardi karena setelah pulang dari Arab Ardi tidak medapat pekerjaan lagi sehingga keluarga ini tergantung nafkahnya dari usaha percetakan itu.

Berlanjut pada hubungan itu mulanya Wasti dipanggil ke hotel seperti biasa tapi karena yang begini lama-lama justru mengundang kecurigaan Ardi maka Wasti mengusulkan sebaiknya Oom Rony datang ke rumahnya saja. Dengan berlaku seolah betul-betul akan dipijati tapi diam-diam berhubungan badan, cara begitu malah aman tidak akan dicurigai siapapun. Oom Rony menimbang-nimbang ternyata usul Wasti benar dan begitulah hubungan unik ini berlangsung justru seperti dilindungi oleh Ardi. Awalnya waktu siang itu sementara kedua suami istri sibuk melayani percetakan di bangunan sebelah, Wasti memberitahu Ardi bahwa hari ini adalah jadwal pertama kedatangan Oom Rony, dia pun meminta tolong suaminya meneruskan pekerjaannya sendirian karena dia sebentar lagi akan menerima langganan tetapnya itu. Ardi pun mengangguk dan mengambil alih tugas itu, “Udah tinggal aja Was biar Mas yang ngurus. Kamu cepet aja ganti baju nanti Oom Rony keburu dateng,” begitu jawab Ardi.

Wasti pun bergegas masuk ke rumah untuk mempersiapkan diri, dia bisa lega untuk menerima Oom Rony yang datang sesuai jam yang dijanjikan. Singkatnya begitu Oom Rony muncul sudah langsung diajak ke kamar tidurnya, di sini mau tak mau perasaannya agak kurang tenang juga karena baru pertama inilah dia berterang-terangan melakukan kegiatan di rumahnya sendiri, tapi perasaan ini mulai terlupa ketika sebentar kemudian Oom Rony mulai sibuk merangsang mengecapi sekujur tubuhnya. Terus terang, kalau bukan karena uangnya sebenarnya bagi Wasti dari penampilannya laki-laki gemuk pendek lagi botak ini sama sekali tidak menarik ataupun menerbitkan seleranya. Tapi untungnya selain uangnya cukup royal, juga cara bermain seksnya bisa juga memuaskan Wasti sehingga Wasti cukup senang melayaninya. Cara merangsang mulutnya yang rakus diikuti menjilat-jilat rata sekujur tubuhnya mula-mula memang kurang “sreg” bagi Wasti kalau masih memulai pembukaan dari bagian atas. Agak jijik rasanya dengan ludah Oom Rony yang melengket di seputar wajahnya. Tapi kalau sudah menurun ke bawah baru terasa ada keasyikan yang membawa dia naik dalam birahinya. Cuma perlu sering diingatkan karena laki-laki ini suka kelewat gemas. “Aahss Paakk.. jangan digigit keras-keras.. sakitt..” merintih Wasti tapi dengan muka geli senang, menahan kepala Oom Rony kalau terasa puting susunya tergigit agak sakit.

Oom Rony sadar lagi, buru-buru menekan emosinya untuk mencoba lebih halus, tapi biasanya tidak lama karena sebentar kemudian sudah terlupa lagi dia untuk kembali menggigiti gemas sekujur tubuh Wasti. Wasti sering kewalahan, biarpun sudah merengek-rengek dia dengan menggeliat-geliat meronta-ronta menolaki kepala botak Oom Rony dengan maksud ingin menghindari tapi Oom Rony malah tambah bernafsu kepada perempuan yang gayanya makin genit merangsang ini. Tambah bertubi-tubi dia menyerbu Wasti. Mau tak mau Wasti mengalah, sudah hafal dia kalau belum puas membuat mengenyoti gemas di bagian susunya, belum berpindah Oom Rony dari situ. Tapi kalau sudah bergeser ke bawah, caranya pun serupa juga. Tidak hanya di atas, yang di bawah inipun dia sama rakusnya. Malah lebih lagi. Sebab tidak perduli kemaluan Wasti entah berapa orang yang sudah memakai, dia tetap bernafsu sekali menghisap dan menjilat-jilat sambil menyosorkan mukanya tersembunyi di selangkangan Wasti.

Bersambung ke bagian 03

Tags : cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang, cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya

01
Jul
10

Cerita 17tahun – Wasti Anak Pembantuku 01

Dony, begitu nama panggilanku. Tumbuh sebagai laki-laki aku boleh dibilang sempurna baik dalam hal ketampanan maupun kejantanan dengan tubuhku yang tinggi tegap dan atletis. Dalam kehidupan aku juga serba berkecukupan karena aku adalah juga anak angkat kesayangan seorang pejabat sebuah departemen pemerintahan yang kaya raya.

Saat ini aku kuliah di kota Bandung, di situ aku menyewa sebuah rumah kecil dengan perabot lengkap dan untuk pengawasannya aku dititipkan kepada Oom Rony, sepupu ayahku yang juga pemilik rumah untuk memperhatikan segala kebutuhanku. Oom Rony adalah seorang pejabat perbankan di kota kembang ini dan dia kuanggap sebagai wali orang tuaku. Sekalipun aku sadar ketampanan dan segala kelebihanku digila-gilai banyak perempuan, namun aku masih belum mencari pacar tetap. Untuk menyalurkan hobby isengku saat sekarang ini aku lebih senang dengan cewek-cewek yang berstatus freelance atau cewek bayaran yang kunilai tidak akan membawa tuntutan apa-apa di belakang hari. Begitulah, pada tahun keempat masa kuliahku secara kebetulan aku mendapat seorang teman yang cocok dengan seleraku. Seorang gadis berstatus pembantu rumah tangga keluargaku tapi penampilannya cantik berkesan gadis kota. Jadinya konyol, di luaran aku terkenal sebagai pemuda mahalan kelas atas tapi tanpa ada yang tahu justru partner tetap untuk ber-”iseng”-ku sendiri adalah seorang gadis kampung yang status sosialnya jauh di bawahku.

Sriwasti nama asli si cantik anak bekas pembantu rumah tangga orangtuaku, tapi lebih akrab dipanggil dengan Wasti. Sewaktu mula-mula hadir di tempatku ini dia memang meringankan aku tapi juga membuat aku jadi panas dingin berada di dekatnya. Pasalnya dulu aku pernah punya skandal hampir menggagahi dia sehingga dengan kembalinya dia kali ini dalam status istri orang tapi tinggal kesepian ini tentunya menggali lagi gairah rangsanganku kepadanya. Usianya 3 tahun lebih muda dariku, dia dulu dibiayai sekolahnya oleh orangtuaku dan ketika tamat SMA dia pernah beberapa bulan bekerja membantu-bantu di rumahku sambil berusaha masuk Akademi Perawat. Sayang dia gagal dan kemudian pulang kampung lagi untuk menerima lamaran seorang pemuda di tempat asalnya itu.

Waktu masih di rumah orangtuaku itulah aku yang tertarik kecantikannya, kalau pulang dari Bandung sering iseng menggoda dia, suatu kali sempat kelewatan nyaris merenggut kegadisannya. Sebab di suatu kesempatan Wasti yang memang kutahu menaruh hati padaku sudah pasrah kugeluti dalam keadaan bugil hanya saja karena aku masih tidak tega dan juga masih takut sehingga urung aku menodai dia. Kuingat waktu itu secara iseng-iseng aku sengaja ingin menguji kesediaannya yaitu ketika ada kesempatan dia kuajak ke dalam kamarku. Beralasan meminta dia memijati aku tapi sambil begitu kugerayangi dia di bagian-bagian sensitifnya. Ternyata dia diam saja tidak berusaha untuk menolakku, sehingga aku meningkat lebih terang-terangan lagi. Susunya memang menggiurkan dengan bentuknya yang membulat kenyal tapi aku masih mengincar lebih ke bawah lagi. “Was gimana kalau kamu buka dulu celana dalammu, Mas Dony pengen gosok-gosokin yang enak di punyamu,” bujukku dengan tangan sudah meraba-raba di selangkangannya.

Wasti tersipu-sipu dengan gugup ragu-ragu, meskipun begitu menurut saja dia untuk membuka celana dalamnya yang kumaksudkan itu.

“Ta.. tapi.. nggak apa-apa ya Mass..?” kali ini terdengar nada tanya kuatirnya.

Aku yang memang cuma sekedar menguji segera menenangkan dia.

“Oo tenang aja, nggak Mas masukin inimu cuma sekedar ditempel-tempelin aja kok..” jawabku sambil juga menurunkan celana dalamku memamerkan batangku yang sudah setengah tegang terangsang.

Kuambil tangannya dan meletakkan di batang kemaluanku meminta dia memainkan batang itu dengan genggaman melocok, ini diikuti Wasti mulanya dengan wajah kikuk malu tapi toh dia mulai terbiasa juga. Nampak tidak ada tanda-tanda risih karena baru kali ini dia melihat batang telanjang seorang laki-laki. Layap-layap keenakan oleh kocokannya sambil begitu sebelah tanganku juga ikut meremasi susu bergantian dengan bermain di liang kemaluannya. Lama-lama terasa menuntut, kuminta Wasti merubah posisi bertukar tempat, dia yang berbaring setengah duduk tersandar di kepala tempat tidur, dari situ aku pun masuk duduk berlutut di tengah selangkangannya.

Dalam kedudukan ini tangan Wasti bisa mencapai batanganku dan melocoknya tepat di atas liang kemaluannya sementara kedua tanganku yang bebas bisa bermain dari kedua susu sampai ke liang kemaluannya. Lagi-lagi Wasti memperlihatkan air muka khawatir karena dikira aku sudah akan menyetubuhinya tapi kembali kutenangkan dan menyuruh dia terus melocok dengan hanya menggesek-gesek ujung kepala batang kemaluan di celah menguak liang kemaluan berikut klitorisnya. Cukup terasa enak buatku meskipun memang penasaran untuk berlanjut lebih jauh, tapi begitupun aku bisa menahan emosiku sampai kemudian locokannya berhasil membuatku berejakulasi. Menyembur-nyembur maniku tumpah di celah liang kemaluannya yang terkuak mengangkang, tapi sengaja kutahan tidak kutusukkan di lubang itu. “Huffhh pinterr kamu Was.. besok-besok bikinin lagi kayak gini ya?” kataku memberi pujian ketika permainan usai. Wasti mengangguk malu-malu bangga dan sejak itu setiap ada kesempatan aku ingin beriseng, dia yang kuajak dan kugeluti sekedar menyalurkan tuntutanku. Memang, sampai dengan saat itu aku masih bertahan untuk tidak mengambil keperawanannya karena masih terpikir status kami yang berbeda. Aku majikan dan dia pembantu, padahal dalam segalanya Wasti betul-betul seorang gadis yang mulus kecantikannya. Dibandingkan dengan wanita-wanita cantik yang kukenal belakangan, Wasti pun tidak kalah indahnya. Tapi itulah yang namanya pertimbangan status padahal akhirnya aku toh bertemu lagi dan membuat hubungan yang lebih jauh dengannya.

Di kampungnya Wasti dinikahi Ardi seorang pemuda tetangganya, dia sempat beberapa bulan hidup bersama tapi ketika Ardi yang lulusan Akademi Teknik, minta ijin selama setahun karena mendapat pekerjaan sebagai TKI di suatu negara Arab, Wasti praktis hidup sebagai janda sendirian. Begitu, untuk mengisi waktunya dia juga meminta ijin agar bisa mencari pekerjaan tambahan dan dia pun teringat kepadaku karena aku memang pernah menjanjikan hal itu kalau dia ingin mendapat tambahan pencaharian. Ardi setuju karena aku sudah bukan asing bagi mereka, maka sesaat sebelum Ardi berangkat ke Arab dia ikut mengantar Wasti meminta pekerjaan padaku.

Kedatangan Wasti untuk menawarkan tenaganya tentu saja tidak bisa kutolak tapi untuk tinggal bersama di rumah sewaanku jelas akan mengundang kecurigaan orang, dia pun kutawarkan tinggal sambil bekerja di sebuah tempat usahaku. Kebetulan aku memang mengusahakan sebuah Panti Pijat yang sebetulnya dimodali Oom Rony, sehingga kehadiran Wasti bisa membantu mewakili aku sebagai orang kepercayaanku dalam mengawasi tempat pijat itu. Wasti langsung setuju tapi waktu suaminya sudah berangkat meninggalkan dia barulah dia berkomentar bingung soal pekerjaan itu.

“Tapi.., aku bener nggak disuruh kerja mijet Mas?” katanya agak keberatan dengan tugas yang belum dimengertinya itu.

“Ya enggak dong, kamu di sana Mas kasih tugas utama sebagai pengawas tempat itu. Kalau soal mau belajar mijet sih boleh-boleh aja, malah bagus supaya Mas bisa kebagian rasanya juga,” kataku sambil tersenyum menggoda.

“Ngg.. gitu nanti ada yang ngajakin tidur aku, gimana Mas..?”

“Boleh, tapi minta ijin Mas dulu. Yang jelas Mas dulu yang pakai baru boleh dikasih yang lain,” kataku tambah menggoda lebih jauh.

Di sini Wasti langsung mesem malu-malu, tapi begitupun senang dengan tawaranku untuk mewakili aku mengawasi usaha tempat pijatku. Dia kuberi kamar di rumah yang kukontrak untuk usaha pijat itu tapi secara rutin seminggu dua kali dia datang membantu membersihkan rumahku dan mengambil baju-baju kotorku untuk dicucikannya.

Begitulah dengan adanya Wasti yang seolah-olah membawa keberuntungan bagiku, usahaku pun semakin bertambah ramai. Apalagi dia yang semula hanya bertindak sebagai tuan rumah setelah mulai belajar teknik memijat dan mulai mempraktekkan kepada tamunya, semakin banyak saja mereka yang datang mem-booking Wasti. Antri para tamu itu hadir dengan niat ingin mencicipi asyiknya pijatan sambil tentunya berusaha merayu agar bisa menikmati lebih dari sekedar pijatan si manis Wasti ini. Tetapi mereka belum sampai ke situ karena di bulan kedua kehadiran Wasti baru kepadakulah yang paling dekat dengannya saat ini, dia memberikan keistimewaannya.

Karena sudah pernah ada hubungan sebelumnya maka mudah saja bagiku untuk membuat kelanjutan intim dengannya, cuma saja setelah beberapa lama baru terpikir olehku untuk mencicipi dia. Waktu itu aku terserang muntaber dan sempat seminggu aku terbaring di rumah sakit dengan ditunggui bergantian oleh Wasti dan Indri kakak perempuanku yang sengaja datang dari Jakarta untuk mengurusi sampai dengan kesembuhanku. Keluar dari rumah sakit dan setelah melihat aku sudah mendekati pulih kesembuhanku, Indri pun kembali lagi ke Jakarta dengan meninggalkan pesan pada Wasti untuk tetap mengurusi sampai aku betul-betul sembuh. Lewat lagi dua hari tenagaku kembali pulih seperti semula tapi seiring dengan itu mulai timbul lagi tuntutan kejantananku dan kali ini aku berencana akan menyalurkannya pada Wasti sebagai sasaranku yang paling dekat denganku saat itu. Ini karena aku selama dirawat olehnya merasa lebih akrab perasaanku dan berhutang budi sekali padanya.

“Tau nggak Was? Apa yang pertama-tama mau Mas bikin kalau udah sembuh bener dari sakit ini?” tanyaku mengajak dia ngobrol menjelang kesembuhanku.

“Apa tuh kira-kira Mas?”

“Mas kepengen begini..” kataku sambil memberi tanda ibu jari dijepit telunjuk dan jari tengahku.

Wasti langsung ketawa geli mendengarnya.

“Hik, hik, hik.. Mas Dony yang dipikir kok itu dulu. Emang puasa berapa hari ini udah kepengen banget sih?”

“Justru itu, kepingin sih jangan bilang lagi tapi coba tebak siapa nanti yang bakal Mas ajak tidur?”

“Hmm siapa ya? Mas sih banyak ceweknya mana Wasti tau siapa orangnya?”

“Orangnya ya kamu Was.”

“Ngg kok malah aku, kan masih banyak yang cakep lainnya Mas..” Wasti kontan tersipu-sipu malu seolah tidak percaya denganku.

“Yang Mas pilih emang kamu kok, sementara jangan dulu dikasih ke yang lainnya ya!” kataku sambil menarik dia mendekat kepadaku.

“Kasih siapa Mas, kan katanya harus ijin Mas dulu?”

“Makanya itu nanti Mas yang pakai dulu. Kasih Mas ya?”

Kali ini kususupkan tanganku ke selangkangannya mengusap-usap bukit kemaluannya dan diterima Wasti dengan mengangguk sambil menggigit bibir malu-malu.

Dia sudah bersedia dan ketika tiba saatnya, aku sengaja mengajaknya keluar menginap di hotel karena aku ingin betul-betul bebas berdua dengan dia. Maklum di rumah sewaanku masih kukhawatirkan Indri ataupun keluargaku dari Jakarta akan muncul sewaktu-waktu sehingga tidak terlalu aman rasanya. Segera aku pun bersiap-siap dan membuka lemari untuk mengambil uang tapi ide nyentrikku mendadak timbul ketika terpandang sweaterku yang tergantung di situ. Kuminta dia memakai sweater itu tapi tanpa mengenakan apa-apa lagi di balik itu, ini memang diturutinya tapi sambil meringis geli ketika sudah naik ke mobil duduk di sebelahku.

“Mas ini ada-ada aja, masak aku cuma disuruh pakai kayak gini sih?”

“Kamu biar cuma pakai gini tetep keliatan manis kok Was,” kataku membesarkan hatinya.

“Tapi kan lucu Mas, di atasnya anget tapi di bawahnya bisa masuk angin..”

“Maksud Mas Donny begini supaya pemanasannya bikin cepet tambah kepengennya. Sambil nyupir gampang megang-megangin kamu..” jelasku dengan menjulurkan tangan ke selangkangannya sudah langsung merabai liang kemaluan telanjangnya.

Wasti tersipu-sipu tapi toh menurut juga ketika aku meminta dia menaikkan kedua kakinya ke atas jok sehingga liang kemaluannya lebih terkangkang lebar, lebih leluasa tanganku bermain di situ. Dia dari sejak dulu memang tidak pernah membantah apapun permintaanku. Mengusap-usap bukit yang cuma sedikit ditumbuhi bulu-bulu kemaluannya serta meremas-remas pipi menggembung dari bagian kewanitaannya yang menggiurkan ini, terasa kenyal daging mudanya itu. Dipermainkan begitu tangannya otomatis terjulur ke kemaluanku membalas memegang seperti dulu ketika dia masih sering bermain-main dengan milikku, tapi cuma sebentar karena segera dicabut lagi.

“Lho kenapa nggak diterusin?”

“Nggak ah, nanti keburu muncrat duluan. Mas kan udah puasa beberapa hari pasti sekarang udah kentel susunya, kan sayang kalau keburu tumpah di luar nanti Wasti nggak kebagian.”

“Lho kan dipanasin dulu botolnya nggak apa-apa. Siapa tau kelewat kentel malah nggak mau netes airnya nanti?”

“Masak nggak mau keluar Mas?”

“Oh iya lupa, kalau diperes-peres pakai lubang sempit ini memang pasti keluar sih. Tapi sambil dikocokin yang enak nanti ya?”

Rangsangan selama perjalanan sudah mulai memanaskan gairah birahi kami, ketika tiba di hotel kelanjutannya semakin membara lagi. Di hotel yang kupilih, Wasti sudah kusuruh masuk ke kamar duluan sementara aku masih menutup pintu mobil sebelum kususul dia di situ. Kubuka sekalian bajuku hingga telanjang bulat sementara dia masih berlutut di sofa yang menempel dekat jendela, pura-pura memandang ke luar mengintip lewat gordyn jendela. Segera aku merapat dari belakangnya langsung membuka sweater satu-satunya penutup tubuhnya, begitu sama telanjang bulat kupeluk dia merapatkan punggungnya ke dadaku dan mulai mengecupi lembut lehernya dengan diikuti kedua tanganku bermain masing-masing meremasi susu dan bukit kemaluannya.

“Maass.. botolnya kerasa udah keras bener..” katanya mengomentari kemaluanku yang sudah mengencang menempel di atas pantatnya.

“Iya, udah ngerti dia sebentar lagi bakal ditumpahin isinya ke lobang ini,” jawabku singkat.

Kupondong dia dan membaringkan di atas tempat tidur langsung kudekap dan mencumbui dengan kecupan-kecupan seputar wajahnya dan usapan-usapan tangan di sekujur tubuhnya. Kenangan lama terungkit, gemas-gemas sayang rasanya dengan tubuhnya yang mulus lagi cantik ini. Ingin kulampiaskan emosi nafsuku tapi seperti takut dia kesakitan oleh tenagaku, jadinya setengah keras setengah tertahan serbuanku. Remasan tangan kuganti saja dengan permainan mulutku, tanpa menghentikan kecupanku yang mulai kujalari menurun ke leher menuju ke buah dadanya. Wasti selain mulus bersih juga tidak berbau keringatnya sehingga enak untuk kucium-ciumi dan kujilat-jilati. Tiba di bagian susunya, kedua bukit daging yang putih membulat bagus lagi kenyal ini segera kukecap dengan mengisap berganti-ganti masing-masing pentilnya. Mengenyoti bagian puncaknya, kungangakan lebar-lebar mulutku serasa ingin memasukkan banyak-banyak daging menonjol itu agar dapat kusedot sepuas-puasnya. Di dalam mulutku lidahku berputaran menjilati pentilnya, menggigit-gigit kecil membuat dia mengerang dalam geli-geli senang.

“Ssh ahngg.. geli Mass..” suaranya merengek manja membuat aku semakin gemas bergairah. Air mukanya mulai merah terangsang karena sambil begitu aku juga menambahi dengan mempermainkan liang kemaluannya. Menggosok-gosok klitorisnya dan mulai mencucukkan satu jariku mengoreki bagian mulut lubangnya. Ada satu yang istimewa dan menyenangkatu yang istimewa dan menyenangkitu dia mempunyai klitoris jenis besar yang jarang kujumpai pada kebanyakan kemaluan-kemaluan perempuan. Aku sudah lama mengenal bagian ini tapi masih juga seperti penasaran membawa aku merosot ke bawah untuk memperhatikannya lebih jelas.

“Ihh.. Mas ini mau ngeliat apa sih..?”

Wasti rupanya kikuk malu dengan perobahan mendadakku. Tangannya bergerak ingin menutup bagian itu tapi cepat kusingkirkan.

“Kok mau ditutup sih, kan Mas kangen pengen ngeliat itil gedemu kayak dulu Was?”

“Hngg.. punyakku jelek kok mau-maunya diliat sih Mas..?”

“Kamu keliru, justru yang begini disenengin orang laki soalnya jarang ada..”

“Aaah Mas Dony menghibur ajaa. Apanya disenengin, jadi ketawaan malah..”

“Lho Mas sendiri udah keliling banyak cewek belum pernah dapet yang gini. Udah denger cerita dari orang-orang baru Mas penasaran lagi sama kamu Was..”

“Ngg abiiss Mas nggak dulu-dulu ngambilnya.. Sekarang udah keburu diambil Kang Ardi duluan baru Mas minta, kan Wasti nggak tega ngasihnya kalau udah bekas-bekas Mas..” timpal Wasti dengan air muka membayangkan kecewa.

Melihat ini buru-buru aku menghibur.

“Tapi nggak apa, biarpun gitu Mas Dony juga tetep seneng sama kamu kok. Sini Mas bikinin buat kamu.”

Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menunduk dan menyosorkan mulutku di celah itu. “Adduh Mass, Wasti nggak mau gitu..!” Kaget dia, ingin mencegah tapi kedua tangannya sudah lebih dulu kupegangi masing-masing tanganku. Sesaat dia membelalak seolah tidak percaya aku mau bermain begini dengannya tapi sebentar kemudian terhempas kepalanya mendongak dengan dada membusung kejang ketika tersengat geli kelentitnya kujilat dan kugigit-gigit kecil. Sebentar kubiarkan dia tenggelam dalam nafsu berahinya sampai terasa cukup baru kulepas permainan mulutku. Karena sudah lebih dulu kuhisap kemaluannya maka ketika aku meminta dia sekarang menghisap batang kemaluanku langsung diikutinya dengan senang hati. “Nggak usah lama-lama Was, kasih ludah aja biar Mas masukin sekarang..” kataku untuk tidak berlarut-larut dulu dalam permainan pembukaan ini. Wasti cepat mengikuti permintaanku dan sebentar kemudian dengan bantuan tangannya aku sudah menyusupkan batang kemaluanku masuk di liang kemaluannya. Begitu terendam kutahan dulu untuk menurunkan tubuhku menghimpit mendekapnya, mengawali dengan kecupan mesra di bibirnya untuk mengembalikan rangsang nafsunya yang sempat menurun oleh suasana tegang sewaktu menyambut batangku. Memang baru pertama kali buat dia tapi terasa ada kerinduan yang dalam baginya sehingga terasa hangat sambutannya.

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang, cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya

28
Jun
10

Cerita 17tahun – Aku Tante Yang Kesepian

Namaku Lia. Aku adalah ibu rumah tangga yang telah berumur 35 tahun. Hidupku boleh dikatakan beruntung, aku mempunyai rumah yang megah di Pulomas dan harta benda yang melimpah, sehingga bagiku krisis moneter tak terlalu berpengaruh bagi perekonomian keluargaku. Suamiku, Liem, 50 tahun, mempunyai jaringan bisnis baik di maupun di luar negri. Ia adalah pengusaha yang sukses. Walaupun dijejali dengan materi yang melimpah ruah, tetapi kehidupanku rumah tanggaku terasa hambar. Dulu, aku dikawinkan dengan Liem setelah aku menamatkan kuliahku, umurku kira-kira 22 tahun. Aku adalah anak tunggal. Aku tidak terlalu mengenalnya, keluargaku yang menjodohkanku dengannya karena pada waktu itu Liem adalah rekan bisnis ayahku, dan ayahku sangat mempercayainya.

Di awal perkawinan, hubungan suami istri kami hanya sebagai formalitas saja, Liem banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, bahkan hingga umurnya yang telah mencapai setengah abad ini, ia masih sering berada di luar. Sedangkan di rumah, sering aku merasa kesepian, karena aku belum juga dikaruniai seorang anak yang bisa mengisi kesepianku. Untuk memenuhi hasrat birahiku, aku sering menonton film Blue. Aku terangsang tiap kali melihat gerakkan penis yang menusuk-nusuk vagina. Uuhh.., aku mulai mempermainkan vaginaku dengan jariku, membayangkan, penis yang panjang dan besar itu, menghunjam keras, menusuk-nusuk liang vaginaku. Suara-suara melenguh, gerakan-gerakan pinggul, ekspresi muka dari masing-masing pasangan yang begitu mendalami kenikmatan bersetubuh. Tak henti-hentinya tanganku memain-mainkan klitorisku.., naik.., turun.., naik.., turun.., sambil berputar.., kugerakkan tanganku dengan cepat, sehingga vaginaku mulai basah dan membengkak.., “aahhkk..”, walaupun penis itu hanya bayanganku saja, tapi sudah terasa nikmat sekali. Kadang, kugoyang-goyangkan pinggulku.

“aahhkk nikmat sekali..”. Sementara, suara ceplak ceplok terdengar dari TV, gaya dog-style.., “aahh.., aahh.., aahh..”, bercampur-baur dengan lenguhan-lenguhan nikmat. Aku menikmati segala suara-suara senggama yang keluar dari TV 36 inch-ku itu. “Ssshh.., sshh..”, kugigit bibir bawahku, mendalami khayalku bersenggama dengan penis raksasa, aku merasakan kanikmatan yang makin memuncak. “aahh.., aahh..”, eranganku membahana menyamai erangan di TV. Kupercepat gerakan jariku, aku tak tahan lagi, sesuatu akan menyemprot keluar dari dalam liang Vaginaku. “aahhkk.., ahhkk.., ahhkk..”, otot-otot tubuhku mengejang bagaikan tersetrum listrik ribuan volt. Alam pikirku terbang ke awang-awang meresapi kenikmatan orgasme. “aahh.., aahh.., niikkmaat sekali..”, kuhela nafas panjang. Kukira sampai disini saja masturbasiku.

Akibat lama-lama bermasturbasi dengan berkhayal disetubuhi oleh penis raksasa, aku jadi ingin betul-betul merasakan nikmatnya penis raksasa. Tapi, penis siapa..?, Sampai pada suatu hari, pertanyaanku itu terjawab.

Hari itu, aku hendak pergi ke Gym, biasa, Fitness. Untuk mempertahankan tubuhku agar tetap langsing dan kencang. Aku mempunyai supir pribadi yang biasa mengantarku ke Gym, namanya Pak Marlon, orang dari Sorong, Irian Jaya. Pak Marlon ini telah dipercaya menjadi supir pribadi suamiku selama hampir 10 tahun. Kami mendapatkan beliau dari seorang teman. Pak Marlon ini setia menjadi supir keluarga kami, apalagi dengan gaji $500 per bulan, ia selalu dapat diandalkan. Tetapi pagi itu, kudapati seorang anak muda sedang mengelap mobil Mercy-ku.

“Mana Pak Marlon..?”, tanyaku.

“Pagi bu, maaf, nama saya Rony, saya anak Pak Marlon, hari ini bapak tidak bisa kerja sebab beliau harus menjenguk keluarga kami yang sakit di Bandung, jadi untuk sementara saya gantikan..”, katanya dengan sopan.

Hmm.., anak muda ini.., kuperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.., boleh juga badannya yang gelap dan atletis, tangannya yang kekar, dadanya yang bidang dengan bahu yang lebar. Mukanya.., rasanya aku pernah lihat. Hmm.., mirip seperti Baby Face, penyanyi itu. Boleh juga nih, kataku dalam hati.

“Oke Rony.., kamu bisa antar saya ke Gym..?”, tanyaku.

“Bisa nyonya..”, jawabnya.

Dalam perjalanan, aku bertanya banyak tentang dia. Ternyata umurnya telah 23 tahun, dan ia sekarang ia telah menyelesaikan kuliahnya di– (edited by Yuri) jurusan Teknik Sipil. Aku berusaha untuk akrab dengannya. Kadang pada saat aku memulai suatu pembicaraan, aku sentuh bahunya, dia tampak salah tingkah.:)

Sampai di Gym, aku segera berganti baju dengan menggunakan Bicycle Pents yang pendeknya 2-3 senti dari selangkanganku, dan menggunakan baju tanpa lengan yang ketat, menampakkan perutku yang kencang. Dengan pakaian itu, tubuhku yang tinggi (169/52) dan kulitku yang putih (Chinese), serta rambutku yang bergaya Demi More di film Ghost, aku tampak seksi dan sportif. Mulailah aku menjalani latihanku.

Selesai Fitness, dengan masih mengenakan pakaian senamku tadi dan handuk kecil untuk mengelap keringat, aku berjalan keluar Gym menuju mobilku di areal parkir. Rony yang sejak tadi menunggu di mobil, segera berdiri dan membukakan pintu belakang mobil untukku. Lalu aku bilang kalau aku ingin duduk di depan. Dengan cepat ia menutup pintu belakang, kemudian membuka pintu depan. Ketika itu, lengannya secara tidak sengaja menyerempet payudaraku, “Ups.., geli..”, ketika lengan itu bersentuhan dengan payudaraku. Kulihat Rony jadi salah tingkah. Aku tersenyum kepadanya. Kulihat ia memperhatikan bagian bawah tubuhku, ketika aku memasukkan kakiku jenjang dan mulus itu, dan pantatku ke dalam mobil dan mendudukkan pantatku di jok. Setelah menutup pintu, ia berlari kecil melalui depan mobil ke arah pintu pengemudi. Dari dalam mobil, kulihat bagian atas celana Rony yang menggembung.

Di dalam mobil, kamipun kembali ngobrol. Agar lebih akrab, kularang ia memanggilku dengan sebutan nyonya, panggil saja Lia. Makin lama obrolan kami terasa makin akrab, kadang aku tertawa, mendengar obrolan-obrolan lucu yang menyerempet-nyerempet, dan dengan gemas kucubit lengan Rony yang berisi itu. Kadang kuperhatikan tangannya yang hitam dan kekar itu memegang kemudi. Sungguh macho. Suatu ketika, Rony membanting stir ke kanan secara tiba-tiba, ternyata, karena keasyikan ngobrol, Rony tidak memperhatikan sepeda motor yang ada di depannya. Ketika itu, tubuhku jatuh ke arah kanan, dan secara refleks, tanganku jatuh tepat di bagian kemaluan Rony. “Upss..”, dalam hatiku. Ketika mobil kembali stabil, tak kulepas telapak tanganku di atas celananya itu. Kutatap wajah Rony yang terlihat grogi, salah tingkah, dan memerah.

Tiba-tiba, muncul keberanianku untuk mengelus-ngelus “terpedo” Rony yang makin lama membengkak itu. Waahh.., seperti memegang lontong saja, pikirku. Setelah beberapa lama kuelus, tanpa bicara, kuberanikan diri untuk membuka relsliting celananya, kusikap celananya. Tampak “terpedo” Rony yang begitu ketat dibungkus oleh celana dalamnya, dengan kepala terpedo yang menyembul ke atas CD, seakan berusaha keluar dari sesaknya bungkusan CD itu. Kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya. Wuuh.., Gede amat, genggaman jari jempol dan jari tengahku hampir tak saling bertemu dan batang yang sangat keras menegang. Untuk beberapa saat kuelus-elus penis Rony yang besar itu. mmhh.., tiba-tiba birahiku bergejolak. Segera kutundukkan kepalaku ke arah penis Rony, dan kusibakkan CD-nya. Tampak penis Rony yang hitam, besar dan panjang itu dan kelilingi oleh rambut yang lebat dan keriting. Seperti di film BF, kujulurkan lidahku ke “kepala” penis Rony. Kujilat-jilat “kepala” penis yang menyerupai “topi Pak tani” itu. Kumainkan lidahku di sekeliling kepala penis itu dan kemudian mengarah ke batang. Kukecup-kecup batang penis yang panjangnya kira-kira 2 telapak tanganku itu.

“Cup.., cup.., cup..”, Kudengar desahan-desahan nikmat dari Rony yang masih terus memegang setir itu, dan itu membuatku terangsang. Segera kumasukkan kepala penis itu ke dalam rongga mulutku. Kusedot-sedot penis itu dengan nafsuku yang sudah meletup-letup. mmhh.., Mhh.., sambil kunaik-turunkan kepalaku. Penis itu tidak seutuhnya bisa masuk ke mulutku, hanya 1/3 bagiannya saja. mmhh.., mmhh.., enakk sekali rasanya, seperti anak kecil yang sedang dahaga, dan dibelikan es krim. Itulah yang kurasakan saat itu, aku dahaga akan seks. Terus kusedot-sedot penis itu, sembari kumainkan lidahku dan mulai kukocok batang penis dengan menggunakan tanganku.

oohh.., nikmatnya merasakan penis raksasa ini. Tiba-tiba aku berfikir, “Hei..! mungkin inilah penis raksasa yang selama ini aku idam-idamkan”. Setelah beberapa saat, kulepas penis Rony dari mulutku, dan aku kembali duduk tegak, sementara tanganku masih mengocok penis itu.

“Gimana Ron, Enak?”, tanyaku sambil mengatur nafasku yang sejak tadi tidak teratur.

“Enak Lin, Enak banget..!”, serunya riang.

Setelah beberapa lama membicarakan apa yang telah kami alami tadi, aku berinisiatif mengajaknya ke kamar apartemenku yang belum laku tersewa. Sebelum memasuki gerbang apartemen yang di jaga satpam, Rony menutup kembali bagian atas celananya yang terbuka tadi.

Setelah tiba di depan pintu apartemen, kubuka pintu apartemen, dan kusuruh Rony untuk menutupnya, sementara aku langsung menuju ke kamar dan menyalakan AC Split. Setelah itu, aku berbalik, dan ternyata, Rony yang telah melepaskan seluruh bajunya langsung merangkulku dan menjatuhkan tubuh kami berdua di Kasur. Di ciuminya mukaku, dari pipi, kemudian ke bibirku. mmghh.., disedot-sedotnya “bibir bawah”-ku dengan gemas, kemudian dimain-mainkan lidahnya ke dalam rongga mulutku yang terbuka, merasakan keenakan permainannya. Sementara tangan kirinya memegangi kepalaku, tangan kanannya beraksi berusaha melepas celanaku dengan susah payah. Kusadari kesulitannya membuka celanaku, kemudian kudorong tubuhnya ke arah kanan, dan aku berdiri sambil melepas baju dan celanaku. Sambil kulihat Rony yang tanpa berkedip melihatku melepas bajuku dengan pelan-pelan sekali, sehingga tampak kemolekan tubuhku yang putih dan masih kencang ini.

Kulihat tubuh Rony yang atletis, dengan bulu-bulu kecil dan kriting di dadanya, bentuk badannya yang berbentu huruf V, dan bagian kemaluannya yang besar itu, menjuntai, menantang, hitam legam, berbeda dengan tubuhku yang putih mulus, tanpa ada suatu cacatpun. Setelah semuanya lepas dari tubuhku, segera kujatuhkan tubuhku di atas tubuh Rony. Kukecup bibirnya yang basah, dan kumainkan lidahku seperti tadi ia memainkan lidahnya. mmhh.., lidah kami saling bertaut, kumasukkan lidahku dan kusedot lidah Rony. mmhh.., Kuelus dadanya yang bidang, kumainkan putingnya. Rony tampak menikmati kegelian permainan tanganku di putingnya. Lalu, kepalaku turun ke putingnya, kujilat putingnya, kuisap dan kadang kugigit kecil puting Rony yang berwarna hitam gelap itu. Rony sekali lagi menikmati permainanku, tangannya mengusap-usap kepalaku dengan gemas.

Setelah beberapa saat, di dorongnya tubuhku ke arah kiri, gantian sekarang, putingku yang merah kecoklat-coklatan di isapnya dengan ganas.

“oohh.., nikmatnya.., engkau pandai sekali Rony..”, putingku di kanan di isapnya, dan dimainkan dengan lidahnya, sementara payudara sebelah kiri di peras dengan tangannya yang kekar itu dan dimainkan putingku dengan jarinya. uuhh.., bagaikan terkena listrik arus lemah, geli sekali kurasakan.., tubuhku menggelinjang keenakan.

Selama beberapa menit, kunikmati permainannya yang ganas di payudaraku. Kemudian, tangannya yang tadi memegang payudaraku, tiba-tiba beralih mengusap-usap selangkanganku. “aahh..”, aku tersentak dan kurasakan aliran darahku bagaikan turun dari kepala. Oh, usapan lembut itu, sudah lama tak kurasakan dari seorang lelaki. Biasanya suamiku (dulu), sebelum menancapkan batangnya, ia mengelus-elus vaginaku dengan lembut, sama seperti yang kurasakan saat ini. Elusan itu lama-lama semakin cepat, memainkan clitoris di selangkanganku. Nafasku terus memburu, mengikuti gerakan jari-jemari Rony yang terus memainkan clitorisku dengan tempo yang makin cepat, sementara mulut Rony belum lepas dari payudaraku yang semakin menegang dan keras.

oohh.., kurasakan kedahsyatan permainan jari-jemari Rony. “aahh.., aahh.., ahh”, desahku begitu dahsyatnya, hingga kurasakan cairan mengalir melalui saluran di dalam kemaluanku. Kucoba kutahan cairan itu keluar. Tapi tak bisa kebendung kenikmatan yang telah meletup-letup itu dan “aahhgg.., aahhgg.., Roonnyy.., aahhgg.., eennaak”, sambil kutahan nafasku, kudalami kenikmatan itu. Kenikamatan orgasme. Wuuff.., tubuhku yang tadi mengejang berubah menjadi lemas dengan segala peluh di tubuhku, aku berusaha mengatur nafasku sementara, kurasakan kegelian di selangkanganku, kulihat, ternyata sekarang Rony telah mencicipi cairan yang keluar dari liang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat vaginaku sambil sesekali menyedot-nyedotnya. “Sssrrpp.., ssrrpp.., seperti tidak mau membersihkan cairan yang tadi keluar dari dalam lubang kenikmatanku. Sambil kurasakan kenikmatan tiada tara itu, pikiranku melayang.., enaknya hidup ini kalau dari dulu aku mengenal anak ini.., aku tidak perlu lagi repot-repot bermasturbasi di depan TV.

Selagi pikiranku melanglang buana, tiba-tiba Rony menimpa tubuhku, dan menciumi mukaku dengan lembut.

“Bagaimana Lia, puas..?”, tanyanya sambil tersenyum.

“Wuah.., andaikan kamu dapat merasakan kenikmatan yang aku rasakan sekarang.., tiada taranya.., fantastis!”, kataku.., hey, tiba-tiba kusadari penis Rony yang masih mengeras di antara perutku dan perut Rony.

“Ron, kamu belum..?”, belum selesai aku berkata, kembali bibirnya memagut bibirku.

mmhh, dan kurasakan badannya agak ditinggikan, kemudian tangannya diarahkan ke bawah, dan tiba-tiba kurasakan benda yang keras menyumbat mulut vaginaku. Aku mengerti maksudnya. Kunaikan kakiku, merangkul pinggangnya. Sementara, mulut kami masih saling bertaut, dengan tangannya, ia memainkan kepala penisnya di mulut vaginaku. Birahiku kembali muncul atas perlakuan yang demikian. mmhh.., aku sudah tak sabar ingin merasakan kenikamatan penis raksasa itu.., kataku dalam hati.

Tapi Rony masih saja mempermainkan penisnya, dan itu membuatku menggelinjang kegelian dan perasaanku sudah tak sabar. Kulepaskan pagutan bibirnya.

“Ron.., ayo.., langsung aja”, kataku dengan nafas yang tidak teratur lagi. Kemudian dengan tangannya, ia meraba-raba vaginaku untuk mencari dimana “lubang surga dunia” itu berada. Setelah menemukannya, segera ia tusukkan kepala “terpedonya” ke lubang itu. Begitu pinggulnya menekan dengan keras, secara refleks (karena sakit..) pinggulku terdorong ke depan.

“Ahh.., Ronn.., pelan-pelan dong..”, kataku sambil meringis.

Kemudian dicobanya lagi kepada penisnya dicocokkan ke lubang vaginaku. Kali ini ia mencobanya berhati-hati dan pelan. “oohhgg.., oohhgg..”, kepala terpedo Rony terasa menyesaki lubang kemaluanku, aku mencoba menahan rasa sakit.., rasa sakit yang telah lama tak kurasakan. Kemudian sedikit demi sedikit, “lontong kulit” itu masuk ke dalam liang Vaginaku.., sampai akhirnya. “Bleess..”, masuk semua.. “Ooohhgg”, kurasakan kenikmatan.., fantastis.., seluruh batang penis Rony memenuhi liang Vaginaku.

“Goyang Ron..”, pintaku. Langsung, Rony menggoyangkan pinggulnya, keluar.., masuk.., keluar.., masuk.., “Ooohhgg.., oohhgg..” sungguh nikmat, teringat aku akan film BF yang aku tonton dulu. Goyangan pinggul Rony kubarengi dengan goyangan pinggulku, sehingga terasa penis Rony menggesek-gesek dinding vaginaku yang rasanya membengkak, sehingga bisa menyedot semua batang milik Rony.

Kurasakan saat itu bukan hanya tubuhku yang bergetar, kasurpun ikut bergetar akibat dorongan pinggul Rony yang kuat, terus menghunjam-hunjamkan penis raksasanya ke liang vaginaku. Desahan-desahan kenikmatan dari kami berdua bersahut-sahutan. “Aahhgg.., aahhgg.., aahhgg”, kadang kugigit bibir bawahku saking nikmatnya permainan kami. Aku teringat akan film BF yang aku tonton, dan aku minta kepada Rony untuk mencoba gaya standing-bamboo. Kali ini, aku berada di atas, dan Rony tidur di bawah. Dengan mudah penis Rony dapat masuk ke liang Vaginaku, dan akupun mulai bergerak naik turun. Rony mengimbanginya gerakanku itu.., “Ooohh nikmatnya”, melihat payudaraku yang bergerak-gerak seiring pergerakan tubuhku, tangan Rony kemudian memegangi kedua payudaraku, dan meremas-remasnya. Sementara itu.., aku merasakan kenikmatan klimaks sudah dekat, aku terus menggenjot dengan cepat.., aahh.., aahh.., aahh.., truss”, Rony dan aku saling mendesah, hingga akhirnya aku merasakan kembali tubuhku mengejang, tanganku mencengkram seprei dengan kuat dan sekali lagi aku mencapai orgasme.

“aahhgg.., aahghgg.., aahgg”, aku mengerang dengan lantang. Sukmaku kembali melejit ke langit ke tujuh.

“oohh.., Rony, engkau memang jagoanku”, Belum habis aku menikmati dahsyatnya orgasme keduaku, Rony memintaku untuk menungging, dan kemudian ia mulai menusukkan penisnya dari belakang. “oohh.., Oohh..”, aku kembali merasakan kenikmatan bersenggama, suara desahan kami berdua kembali mengalun dibarengi dengan suara “ceplok-ceplok.., plok.., plok.., plok..”.

Rony makin mempercepat hunjaman penisnya ke vaginaku, tempo permainan semakin cepat. Kudengar suara desahan Rony semakin keras dan pada akhirnya ia melenguh keras, seperti suara orang menahan sesuatu dibarengi dengan dihunjamkannya kuat-kuat seluruh penisnya ke dalam Vaginaku.

“aahhgg.., aahhgg.., aahhgg..”

Akhirnya.., ia mengalami orgasme. Segera kubalikkan tubuhku, dan kuisap-isap kepala penis serta kukocok-kocok batangnya, mencari sisa-sisa sperma yang dimuntahkan penis Rony, hingga akhirnya tak tersisa sama sekali, dan Rony tergeletak lemas.

Sejak saat itulah aku menemukan kenikmatan seks sejati. Sementara dengan suamiku, hubungan kami bertambah dingin, dan kukira ia tak menghiraukan akan hal tersebut, ia masih menyibukkan dirinya dengan kegiatan di luar rumah, ia tak menghiraukan lagi keindahan tubuh istrinya yang haus akan hunjaman-hunjaman kenikmatan. Frekwensi hubungan seks-ku dengan Rony makin bertambah sering, walaupun sekarang Pak Marlon telah kembali menjadi supir keluarga kami, Rony kubekali dengan HP, yang sewaktu-waktu bila keinginanku untuk “ditusuk-tusuk oleh terpedo” Rony muncul, aku bisa langsung menghubunginya, dan bertemu di apartement (yang hingga kini, apartement itu tidak aku sewakan, dan menjadi tempat rahasia kami untuk bercinta).

Selesai

Tags : cerita dewasa, cerita panas, 17 tahun, setengah baya, julia perez telanjang, gambar bugil, tante girang bugil, gambar bugil cewek hamil, model bugil tabloid, indonesia bugil memek, model bugil indonesia, foto bugil artis, foto tante girang bugil, wanita bugil, amoy bugil, gambar cowok bugil

25
Jun
10

Cerita Daun Muda – Gita Mahasiswi Yang Manis

Di hari pertamaku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tidak ada yang aku kenal satupun, sehingga aku seperti orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari.

Sewaktu sedang bingung-bingungnya tiba-tiba ada cewek yang menegurku, “Eh, tau kelas MI1-3 nggak?”.

Eeiittss.., ternyata aku juga cari kelas itu.., lalu aku jawab, “mm.., saya juga tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk”.

“Saya Gita” dia sebut namanya duluan.

“Aku Iwan”, aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya teman bernama Gita. Cewek manis ini mempunyai kulit kuning langsat, nyaris tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg. Tapi yang bikin aku tidak bosan melihatnya adalah dadanya yang menantang, cukup besar untuk ukurannya, tapi tidak terlalu besar sekali. Begitu pula dengan pantatnya, aku paling suka jika dia memakai jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih. Kadang jika ia bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja.

Tiga bulan sudah lamanya aku dekat dengannya, jalan kemanapun selalu bersama, walaupun dia belum resmi jadi pacarku, tetapi aku dan dia selalu berdua kemanapun. Sampai akhirnya aku dan dia pergi jalan-jalan ke daerah Dieng, salah satu daerah dingin di Jawa Tengah, niatnya cuma jalan-jalan saja, tidak menginap. Entah kenapa hari ini dia mengajakku bercanda yang berbau porno terus, dari pagi hingga siang hari.

Sampai akhirnya ia bertanya begini, “Wan, kalau kamu punya istri suka yang buah dadanya besar atau sedeng-sedeng saja?”.

Lalu aku jawab “Mm.., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang seperti punya kamu itu lho”.

“Lho emang kamu pernah liat punyaku?”, tanya dia.

Aku bilang “Gimana mau liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan.., heheheh”.

Dia tanya lagi sambil bercanda, “Kalo aku kasih kesempatan gimana?”.

Aku jawab, “Yaa.., nggak aku sia-sia’in”.

“Emang berani?”, tantang Gita.

“Siapa takut..”, jawabku tidak mau kalah.

“Kalo gitu bukti’in!”, kata Gita.

“Oke.., kita cari losmen sekarang.., gimana?”, tantangku gantian.

“Siapa takut..”, jawabnya tidak mau kalah juga.

Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma bercanda saja, sampai tiba-tiba di depan sebuah losmen, dia berkata, “Wan, disini ajah.., kayaknya losmennya bagus tuh”.

“Deg!!”, jantungku terasa berhenti. Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut. Aku masih diam dan setengah tidak percaya.

Terus dia berkata, “Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in.., OK?”.

Seperti babu kepada majikannya, aku ikuti kata-katanya dan mengikuti langkahnya masuk ke losmen.

Masuk ke kamar losmen langsung kita tutup dan kunci pintunya, aku masih terdiam terus duduk di atas kasur sampai dia berkata, “OK, sekarang aku kasih kamu kesempatan liat dadaku, tapi jangan macem-macem yaa?”.

Tiba-tiba saja Gita menarik kaosnya ke atas, dan langsung melemparkan ke atas tempat tidur. Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Beberapa saat dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan. lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan melakukan hal yang sama.

Lalu tangan kanannya diarahkan ke punggung, tetapi tangan kirinya masih memegangi BH bagian depannya. Oh God.., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku.., BH-nya telah terlepas, tetapi masih ditahan bagian depannya oleh tangan kirinya. Gita terus memandangiku. Gita menggigit bibir bagian bawahnya.

Tiba-tiba ia berkata, “Aku nggak akan lepas ini, jika kamu nggak buka pakaianmu semuanya”

Aku ragu-ragu.., tetapi nafasku sudah tidak bisa diatur lagi.., aku buka kaosku.., aku buka jeansku.., lalu aku berhenti, tinggal celana dalam yang aku kenakan.., gantian aku yang menantang, “Aku nggak akan buka ini, jika kamu nggak lepas itu sekarang”

Gita diam sejenak lalu dia turunkan perlahan tangan kirinya dan akhirnya terlihat jelas buah dadanya yang kuning langsat dan benar-benar menantang. Belum sempat aku rampung menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia mencium bibirku. Aku yang masih kaget akan serangan mendadak ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir, “uugghh.., oohh..”, hanya kata itu yang Gita keluarkan.

Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya sudah terlepas. Kami sama-sama hanya memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi itu hanya berlangsung 6 detik, dengan cepat ia menarik celana dalamku kebawah dan melepasnya. Gita tersenyum dan sedikit tertawa, aku tak tahu dia senang melihat punyaku atau menertawai punyaku?

Akupun tidak mau kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya sedikit demi sedikit, ternyata Gita sudah tidak sabar lalu dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat celana dalamnya menyentuh lantai bibirnya sudah melumat bibirku, “oohh..”, kami sekarang benar-benar telanjang bulat. Gita mulai mencium leherku tapi itu tidak lama karena aku keburu membalik badanku. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur. Pemandangan yang indah sekali tetapi kali ini aku tidak mau lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya sudah kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya. Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi. “Hhmmhh.., uugghh.., sstt”, cuma itu yang dia katakan.

Ciumanku sudah ‘bosan’ di leher. Aku mulai turun. Melihat gerakanku itu, tiba-tiba dia mengangkat dadanya. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku langsung ciumi buah dadanya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dadanya yang kanan. Kali ini tangan kirinya sudah memegang kepalaku. “sstt.., hh.., sstt..”, mulutnya berdesis seperti ular.

Dia menarik rambutku dan kepalaku dan mengarahkan kepalaku ke buah dadanya sebelah kanan. Dengan sekuat tenaga ia tekan kepalaku ke dadanya. “Gigit.., gigit.., Wan.., sst”. Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit sedikit puting susunya, kiri-kanan, kiri-kanan selalu bergantian dan adil. Sementara dari mulut Gita terus keluar kata, “Teruuss.., teruuss.., yang keras.., aahh.., gigit Wan.., gghh.., sstt”.

Sementara punyaku sudah tegang keras. Kepalaku mulai turun lagi tetapi tiba-tiba ia berteriak kecil, “Wan.., Iwan.., uugghh.., sekarang ajjaah.., masuk’iin.., nggak usah pake mulut lagi.., masukin sekaraanng.., plizz..”.

Aku langsung di dorongnya. Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita berada di atasku. Selangkangannya mencari-cari posisi, walau aku tahu pasti yang dia cari adalah punyaku. Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat. “uugghh..”, sedang aku sedikit berteriak, “aahh”. Punyaku sudah terbenam di dalam selangkangannya.

Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan ia lakukan. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata, “oohh.., sshhtt.., uugghh.., sshhss.., sshhiitt.., aacchh.., oouuhh..”, nafasnya tidak lagi teratur.

Kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri, kepalanya sering menengadah ke atas, “uugghh.., oohh.., sshhsstt”. Sedangkan aku hanya sanggup meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar.

Kali ini aku yang mengambil alih “kekuasannya” gantian kudorong tapi dia malah tengkurap, melihat pantatnya yang putih mulus. Aku jadi tambah bernafsu untuk segera memasukkan punyaku ke punyanya.

Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Sekarang posisinya seperti mau merangkak. Langsung tanpa tunggu waktu lagi aku mencoba memasukan “adikku” ke lubang vaginanya.

“Mmaasuukkiinn.., ceeppeett..”, Gita memohon kepadaku tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya punyaku sudah masuk ke vaginanya. “oohh..”, dari mulutku keluar kata tersebut. Dengan semangat aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, menarik terus menerus seiring dengan gerakanku. Gerakannyapun berlawanan dengan gerakanku, setiap aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulutnya. “uugghh.., aahh.., Sshshhss.., oohh.., uugghh..”.

Tiba-tiba ia berteriak, “Iwaann.., sshh.., oohh”, aku merasakan sesuatu keluar dari dalam lubang kemaluannya tapi, “oohh.., oohh.., aacchh.., Gitt.., aakku..”. Akupun merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya seiring dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku.

“oohh.., uugghh”, banyak sekali cairanku keluar.

“Terus Wan.., keluarin semuanya..”, pinta Gita.

Tubuhku terasa sudah tidak kuat lagi berdiri. Aku langsung telentang di kasur, sedangkan Gita langsung memelukku dan menaruh kepalanya di dadaku.

“Gita sayang sama Iwan”, hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu matanya terpejam sambil terus memelukku.

“Iwan juga sayang sama Gita”, kataku.

Akhirnya sejak itu aku dan Gita resmi pacaran.

TAMAT

Tags : cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante, mahasiswi hot, mahasiswi cantik, mahasiswi seksi, mahasiswi bandung bugil, foto bugil mahasiswi, mahasiswi telanjang bugil, video bugil mahasiswi, gambar mahasiswi bugil, bokep mahasiswi, mahasiswi ngentot, memek mahasiswi, mahasiswi mulus, jablay mahasiswi, skandal mahasiswi, mahasiswi bispak, mahasiswi toket gede, melayboleh

23
Jun
10

Cerita Daun Muda – Tauke Muda Haus Seks

Menjelang tahun baru 2004 aku dapat pesanan banyak barang. Dari pakaian sampai ke alat dapur. Aku ingin ‘One Stop Shopping’, sekali jalan segalanya kudapat. Dan itu hanya bisa kalau aku belanja ke Mangga Dua.

Sesudah hampir seharian aku belanja ini itu sesuai permintaan pelangganku aku perlu istirahat untuk minum dan sedikit makanan kecil. Aku mampir di sebuah warung yang ada di setiap pengkolan gang diantar kios-kios Pasar Mangga Dua itu. Aku mencari tempat duduk yang adem sambil menunggu pesanan juice buah segar dan semangkok siomay.

Barang-barang yang aku belanja telah diurus untuk dipak dan dikirim ke rumah oleh orang di Mangga Dua yang memang biasa memberikan pelayanan jasa untuk keperluan itu. Tiba-tiba ada orang cina muda, belum 26 tahunan, menegur aku..

“Sudah belanjanya, Bu? Ini punya ibu ya?”, dia bawa HP-ku.

Aku baru sadar bahwa barang itu lepas dari tanganku. Wah.. Untung aku ketemu orang yang jujur.

“Tadi waktu ibu belanja di toko saya, ini ibu taruh di dekat kasir, terus ibu tinggal. Saya nyusul ibu sudah hilang. Eehh.. Tau-tau ketemu di sini. Kebetulan saya juga mau makan siang”, dia memberikan keterangan padaku dengan sangat ramah.

Aku suka bisa kenalan dengan dia. Ternyata dia tauke di tempat aku belanja perabot dapur tadi. Namun di samping keramahannya aku melihat bagaimana matanya nampak seakan menelanjangi tubuhku. Dasar mata lelaki. Nggak Jawa, nggak China, nggak Arab sama saja. Mata macam itu adalah mata lelaki haus. Mata yang minta dipuaskan hasrat syahwatnya. Aku sendiri memang sepenuhnya menyadari bahwa banyak lelaki yang sering melototkan matanya melihati tubuhku. Dengan usiaku yang telah menginjak 28 tahun teman-temanku bilang aku memilik ‘sex appeal’ atau pesona seks yang sangat kuat. Jadi aku tak begitu heran akan tingkah laku tauke penjual alat dapur ini.

Namun sepertinya aku berhutang budi karena dia telah mengembalikan HP-ku hingga aku menghadapinya dengan ramah. Bahkan aku juga melemparkan kelakar untuk menyenangkan hatinya..

“Engkoh masih muda sudah jadi tauke, nih. Dimana saja tokonya koh? Disamping perabot dapur ada jual lainnya apa koh?”,

Wah.. Dia bangga dengan macam-macam pertanyaanku ini.

“Saya ada 11 toko yang menjual macam-macam. Memang begitulah orang China kalau dagang. Apa yang sedang rame. Disini ada 3 toko. Di blok seberang ada 1 toko. Lainnya ada di Blok M, Kelapa Gading Plasa, Pondok Indah Plasa dan Taman Anggrek”,

“Wah.. Kaya raya dong koh. Nggak ngira ini. Masih muda, kaya raya”, meluncur kekagumanku yang sekaligus pujian bagi tauke muda ini. Nampak dia semakin bangga.

“Boleh dong kapan-kapan aku mampir ke toko-toko lainnya”.

“Boleh, boleh Bu. Sekarang kalau ibu mau, kebetulan saya memang harus ke Kelapa Gading untuk ngeliat omzetnya. Mau?”, dia begitu serius menanggapi omonganku.

Namun naluriku juga mengisyaratkan hal yang lain. Matanya yang terus menerus menguliti bagian-bagian tubuhku semakin berani dan tidak malu-malu. Bahkan saat matanya tertumbuk dengan mataku dia memandang ke dalam mataku dengan tajam,

“Ayo, Bu. Sambil lihat-lihat keramaian. Nanti saya ajak ibu makan. Ada American Steak yang enak banget di Kelapa Gading”, dia semakin membujuk aku.

Dan aku sepertinya menikmati permainan ini. Keluar sifat isengku. Aku bersikap seolah mau dan tidak mau yang membuat tauke muda ini semakin penasaran. Kini aku mainkan jurus ber-gaya-ku. Dengan pura-pura membetulkan tatanan rambutku tanganku mengelusi kepalaku. Dengan cara itu aku menunjukkan ketiakku yang indah dan bersih menebarkan wewangian yang merangsang siapapun yang mengendusnya. China itu nampak mengenduskan hidungnya sambil menelan air liurnya. Dia seakan sedang melumatkan bibirnya ke lembah ketiakku ini. Nampaknya dia semakin tidak sabar. Taoke muda itu bangun dari kursinya untuk meninggalkan aku namun kutangkap tangannya,

“Terima kasih HP-nya koh”, lantas kulepaskan peganganku dan membiarkan dia pergi. Tetapi dia tak juga bergegas pergi,

“Sayang ibu tak mau melihat tokoku. Tetapi saya suka telah ketemu ibu yang cantik. Sesungguhnya saya pengin sedikit bersenang-senang”, dia mengucapkan kata terakhir yang bagiku penuh arti. Kembali kutangkap tangannya,

“Apa maksud koh, eehh.. Pengin bersenang-senang..?”, tanyaku tajam.

“Saya naksir ibu. Dan kalau ibu suka saya pengin ngajak ibu tidur”.

Hebat tauke ini. Dia mengucapkan kata-kata yang bisa dianggap kurang ajar pada aku seorang perempuan dengan penuh percaya diri. Dan dia tidak berkedip memandangi aku. Dia menunggu apa reaksiku.

Ternyata yang semula aku merasa bisa ngatur dia kini terbalik. Ucapannya yang penuh percaya diri serta pandangannya yang tajam tanpa kedip itu sungguh membuat aku bertekuk lutut. Aku mendambakan lelaki jantan macam ini. Adakah aku sedang berhadapan dengan ‘Jackie Chan’? Edan.. Dan aku masih berusaha tidak kehilangan seluruh mukaku. Aku tidak mau jadi pecundang. Aku bangkit dan meraih lengannya dengan sepenuhnya menyadari bahwa aku sedang digandeng tauke muda yang haus untuk melahap tubuhku.

Begitu naik ke mobilnya yang bukan main karena merknya ‘Jaguar’, dia tidak lagi membicarakan toko-tokonya. Sambil tangannya langsung mengelusi payu daraku kemudian menyusup ke BH-ku dia menawarkan padaku, mau tidur di mana? Di Hilton, Mandarin atau Grand Hyatt? Aku serahkan padanya. Dengan HP-nya dia minta FO Grand Hyatt menyediakan Suite Room di lantai 8 yang menghadap ke Patung Selamat Datang di bundaran HI yang terkenal itu.

Sepanjang perjalanan yang memakan waktu hamper 1 jam karena kemacetan Jakarta tangannya telah merabai seluruh bagian-bagian peka di tubuhku. Aku menggelinjang hebat. Aku pernah selingkuh beberapa tahun yang lalu. Tetapi selingkuh yang ini sungguh sangat sensasional bagiku. Saat turun dari mobil, aku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi. Tangan-tangan tauke muda ini dengan lincah telah melepasinya di sepanjang jalan Thamrin tadi. BH dan celana dalamku kini terserak di lantai Jaguarnya. Kami langsung menuju lift yang mengantar kami ke Suite 816 Grand Hayyat Hotel, Thamrin, Jakarta.

Aku menikmati bagaimana China kaya ini mengolah tubuhku. Sesaat sesudah mengunci kamar dia hempaskan aku ke ranjang dan dia bekerja. Disibakkannya gaunku. Kepalanya nyosor mendorong wajahnya tenggelam ke selangkanganku. Aku menggelinjang hebat saat lidah dan bibirnya melumati lembah selangkanganku.

Dia raih tungkai kakiku ke pundaknya. Tangannya erat-erat memeluki pinggulku. Bibirnya menyedoti memekku. Dia mengisep-isep cairan birahiku yang mengalir deras. Aku bukan lagi menggelinjang. Aku berontak karena tak tahan menanggung kegelian birahi yang sangat dahsyat. Suamiku tak pernah berbuat begini.

Dengan sekali sentak akhirnya rok & blusku lepas dari tubuhku. Kini dia yang masih lengkap berpakaian melihati aku yang telanjang bulat. Seperti beruang kutub yang menyaksikan korbannya, anjing laut yang manis yang tak berkutik menunggu dilahap pemangsanya. Aku melenguh dan mengeluh karena nikmat yang melandaku. Aku menanti jamahan kejam erotisnya.

Kembali China muda ini menyeret kakiku dan membiarkan setengahnya terjuntai ke karpet mewah Suite Room ini. Saraf-saraf pekaku tergetar saat nafasnya kurasakan mengendusi pahaku. Dia nampaknya ingin memandikan aku dengan lidah dan ludahnya. Dia mengungkapkan kehausan libidonya. Dia mulai melahap tubuhku.

Untuk kepuasannya tauke muda ini menunjukkan egonya. Dia tidak penuhi rintihanku untuk meremasi kontolnya. Dia tetap mempertahankan kelengkapan pakaiannya. Apakah dia menunggu aku menangis dan bersembah memohonnya? Ternyata aku memang harus bersabar.

Tauke muda ini benar-benar memandikan aku dengan ludah dan lidahnya. Tubuhku dibolak-balik, diputar, dijungkirkan, telentang, jongkok hingga nungging untuk melatakan bibir dan lidahnya. Akibatnya luar biasa. Aku bisa tergiring dan meraih beberapa kali orgasme tanpa dia telanjang dan ngentot memekku. Sungguh luar biasa karena seingatku 5 tahun terakhir aku hanya bisa meraih beberapa kali orgasme saat tidur dengan suamiku. Itupun aku yang berusaha keras dengan mengkhayal seakan aku sedang dientot serombongan Satpam Mangga Dua tempat dimana aku sering datang dan belanja.

Sesudah diseling istirahat untuk makan sore, dengan tetap membiarkan aku telanjang tauke muda itu kembali melahapi tubuhku. Kali ini dia melepaskan pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat pula. Dan aku sungguh terkejut namun sekaligus terpesona saat melihati kontolnya. Langsung kuraih dan kugenggam kontol itu.

Taoke muda yang aku pikir sosoknya biasa-biasa saja ini ternyata menyimpan kontol yang nggak disunat, gede dan panjang. Kontol itu sudah ngaceng tetapi kulupnya tetap membungkus setengah bonggol kepalanya. Warnanya bening sebening kulitnya. Dan sungguh nikmat menggengam kontolnya itu. Rasanya kontol suamiku tak sampai separuhnya.

“Kamu isepi dulu Bu biar lebih gede dan keras. Biar enak kalau masuk ke memekmu nanti”, katany dengan nada memerintah.

Sementara kontol itu telah didorong dan disentuh-sentuhkan ke mulutku. Sungguh mati, 5 tahun sudah perkawinanku namun aku tak pernah sekalipun ngisep kontol suami. Rasanya jijik aku. Suamiku juga nggak tega berbuat begitu padaku. Namun China muda ini..

“Ayoo Bu.. Isep.. Enak nih.. Ayoo”, nampaknya dia nggak suka aku menolak kemauannya.

Aku agak gugup dan rasanya sudah mau muntah. Namun tangan tauke ini meraih kepalaku dan menariknya untuk menerima tonjokan kontolnya di mulutku. Aku terpana dan..

“Aaarrcchh.. Jj.. Jangaann.. Hheehh.. Tidaakk mmbbllpp.. Mmbllpp.. Hhllmm..”.

Akhirnya ujung kontolnya berhasil menguak celah bibirku. Terbersit rasa asin-asin dicelah bau bawang putih dari selangkangan China ini. Aku tak lagi mampu mengelak. Dengan pasti kontol itu masuk ke mulutku. Didiamkannya sesaat sementara tangan kiri tauke tetap menjambak rambutku untuk menahan kepalaku dan tangan kanannya merangsek memilin-milin puting susuku. Jangan tanya rasa yang melandaku.

Ada pedih, ada sakit, ada nikmat. Semua tercampur menjadi satu. Aku hanya mengeluarkan desah dan hhllppmm.. Sementara menunggu cina muda itu memompakan kontolnya dan ngentot mulutku.

Benar juga yang dia bilang. Sesaat setelah mulai memompa mulutku kontolnya terasa makin gede, makin gede, gede dan uuhh.. Keras banget. Dan tanpa kira-kira dia memompa mulutku dengan sepenuh semangatnya. Kerongkonganku tersedak. Nyaris aku tak bisa bernafas. Dengan sepenuh tenagaku tanganku menahannya dan menolak hingga kontol itu lepas dari mulutku.

“Udahh.. Mulutku tersedak..”.

Dengan cepat dia mengalihkan sasarannya. Kembali aku diseretnya ke tepian ranjang. Tungkai kakiku dia panggul sementara kontolnya diarahkan dengan tepat ke lubang memekku yang memang telah dilanda kegatalan birahi yang sangat.

Sesaat setelah kepalanya dikocok-kocokkan di gerbang vaginaku yang telah basah dan becek oleh cairan birahiku, kontol gede dan panjang milik China muda itu amblas menembus memekku.

Adduuhh.. Sepertinya kehausan dan dahaga syahwatku mendapatkan penyembuhan. Bibir dan dinding vaginaku mencengkeram keras batangan yang menghunjam-hunjam itu. Rasa gatal dan legit menjadikan sensasi nikmat yang tak terpana. Taoke muda merundukkan kepalanya untuk melumati puting susuku. Rasa lumatannya membuat aku menggelinjang hebat. Tanganku mencabik-cabik rambutnya untuk menahan kegatalan yang melandaku dengan dahsyat. Aku meraung histeris. Pantat dan pinggulku berkejat-kejat menjemputi kontol gede dan legit itu. Keringatku mengucur dersa dalam dinginnya Suite Room Grand Hyatt.

Akhirnya aku merasakan kehanyutan sanubari saat bibir cina muda ini nyosor menyedoti bibirku. Ludahku dan ludahnya saling berganti. Rasa dahaga syahwatku tersalurkan oleh aliran ludahnya yang berpindah ke mulutku. Genjotan legit kontol tauke ke lubang memekku yang semakin mencepat membuat lumatan kami semakin intens. Dan ketika tiba-tiba cina muda ini menarik bibirnya lepas dari bibirku, aku berteriak kecewa..

“Jangann.. Tolong.. Aku haauuss..”

Namun cina itu bukan kembali memagut aku. Dia hanya meludahi mulutku. Terus meludah dan meludah.. Dan aku yang didorong begitu dahaga terus menganga menerima limpahan ludahnya.. Genjotan legit kontolnya tak lagi terkendali. Dinding memekku terus mencengkeram dan meremas-remas batangan yang keluar masuk itu. Tauke muda ini nampak sedang menjemput puncak nikmatnya.

Aku rasakan kedua tangannya semakin memeluk erat tubuhku. Dan aku terbawa arus birahi mencengkeramkan cakarku kedaging punggungnya. Dan sampailah.. Kedutan besar aku rasakan dalam lubang vaginaku. Semburan panas sperma tauke muda ini tumpah ruah membanjir di lubang memekku. Aku pasrah menyerah dalam nikmat entotan cina muda ini. Pantatku mengejat-ejat mendorong vaginaku meremasi batangan kontol si tauke. Bibirku cepat menyedot ludah dari bibirnya.

Dalam hujan keringat dari dua tubuh telanjang kami ini, kami diam untuk beberapa saat. Sesekali masih terasa berkedut kontol tauke ataupun remasan dinding memekku.

Tepat jam 5 sore aku keluar Suite Room 816 Grand Hyatt. Tauke muda ingin sendirian di kamarnya. Padaku dia serahkan amplop berisi uang,

“Nih, Bu, untuk naik taksi pulang. Aku nggak bisa nganter ibu ya. Terima kasih Bu”.

Aku terima amplopnya tanpa membukanya. Aku merasakan aneh .. Kok hanya begitu sudahannya. Sepertinya aku ditendang keluar kamarnya.

Di lorong menuju lift aku membuka amplopnya. Kudapatkan uang Rp 300 ribu dan 5 lembar voucher belanja di Carrefour masing-masing senilai Rp 500 ribu. Aku mesti bagaimana? Khan memang tak ada ‘commitment’ apa-apa sebelumnya. Dan aku memang bukan pelacur khan?

*****

Jakarta, Oktober 2004
E N D

Tags : cerita pemerkosaan, telanjang, cewek bugil, 3gp gratis, abg telanjang, cerita dewasa, maria ozawa facebook,maria ozawa uncensor,maria ozawa blogspot com,maria ozawa vids,rama azhari,rahma azhari,download video rahma azhari, skodeng,gadis melayu bogel,melayu seks,bogel,melayu bogel,melayu boleh,artis bugil,foto artis,cerita seks melayu

21
Jun
10

Cerita Daun Muda – Ulang Tahun Kekasihku Ayu

Para pembaca sekalian mungkin telah membaca cerita “CALON ISTRI PAMANKU”. Sekarang aku ingin menceritakan kejadian di hari ultahnya Ayu, yang merupakan peristiwa indah. Saat aku menulis cerita ini, aku ditemani Ayu yang ikut menambah kata-kata di cerita ini. Oke deh, kita mulai aja.

Pada suatu hari di kantorku, ketika aku sedang tidak begitu ada kerjaan, tiba-tiba aku teringat kalau 3 hari lagi adalah ultahnya Ayu. Wah, kayaknya perlu diberi kejutan nih selama 2 hari 2 malam di hari jadinya. Di otakku langsung saja terbayang hal-hal yang berbau seksual. Kupikir aku perlu ambil cuti 2 hari nanti, begitu juga Ayu. Lebih baik kutelpon dia sekarang.

“Halo, selamat siang, bisa bicara dengan Ayu”

Tak lama kemudian, “Halo Tono sayang, ada apa nih”, Ayu bermanja-manja padaku.

“Enggak ada apa-apa, cuma pengen ngajak kamu keluar makan siang nanti, bisa enggak nih”, tanyaku.

“Oh kalau itu sih pasti bisa, kemana nih”

“bagaimana kalau di kantin deket kantor kamu, oke??”

“Oke boss, saya tunggu yah, awas, jangan sampe telat!”, sambil ketawa-ketawa.

“Bye” lalu Ayu menutup teleponnya.

Lalu aku pun kembali bekerja, tapi di kepalaku sedang terbayangkan kira-kira apa yang bakal aku belikan buat dia nanti. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.35. Wah, aku harus cabut nih, tak boleh telat. Untung boss sedang keluar kantor, jadi aku tak perlu minta ijin dulu.

Akhirnya sampailah aku di kawasan perkantoran di daerah Sudirman. Setelah parkir, buru buru aku pergi ke kantin yang sudah dijanjikan. Kulihat Ayu melambaikan tangannya dari jauh.

“Hai Ton!” Kami lalu mencari tempat makan yang sepi, namanya juga berduaan, mana enak makan di tempat yang rame banget. Setelah memesan makanan dan duduk di pojokan, lalu akupun berkata

“Eh, Yu, di kantor kamu lagi banyak kerjaan nggak”

“Emangnya kenapa” Ayu terlihat penasaran

“kalau enggak sibuk, bagaimana kalau kamu minta cuti sama boss kamu selama 2 hari mulai tgl 12″

“Buat apa Ton, apa kamu sedang merencanakan sesuatu?”

“Sesuatu yang akan membuat kamu tergila-gila”

“Apa tuhh”

“Tunggu aja tanggal mainnya sayang” sambil kucubit lembut pipinya.

Selesai makan, kuantar Ayu ke kantornya, lalu akupun balik ke kantorku dan menyelesaikan pekerjaanku. Kira-kira 2 jam kemudian, Ayu menelepon.

“Halo Ton, saya udah ngomong sama bossa” katanya dengan suara lemas.

“Lalu apa katanya” tanyaku penasaran.

“Saya tidak dapet cuti 2 hari”

“Yah payah boss kamu, Yu. Kalau begitu nanti saya culik kamu pas harinya”

“Nah, kabar baiknya, saya dikasih cuti 3 hari, ha ha ha, kena kamu”, Ayu tertawa terbahak-bahak.

“Hey, dasar kurang ajar kamu, dasar setan cantik, ngerjain orang aja bisanya”

“Biarin, daripada kamu setan jelek”

“Yah udah, entar surprisenya kagak jadi deh”

“Jangan ngambek dong sayang, setan cantik khan cuma bercanda”

“Yah udah, 2 hari lagi saya ke tempat kamu abis pulang kerja”

“Oke deh, kutunggu dikau nanti, bye bye sayang”

“Bye bye” “klik”, lalu aku menemui bossku untuk minta cuti, dan untungnya dapet juga, mumpung bossku mood-nya lagi bagus hari ini.

Tak terasa, 3 hari pun berlalu. Sepulang kerja, kujemput Ayu di kantornya, lalu kami pergi ke supermarket untuk membeli makanan selama 3 hari, soalnya kami merencanakan untuk tidak kemana-mana selama liburan. Tidak lupa aku membeli madu 1 botol.

“Lho Ton, buat apa beli gituan” Ayu menatapku dengan heran.

“Itu bagian dari surprise tersebut, tunggu aja, yang pasti kamu bakalan merem melek nantinya” kataku mantap.

“Wah, saya jadi penasaran nih sama surprise kamu”

“Just wait ‘n see, honey” Selesai belanja lalu kami bergegas menuju apartemen Ayu.

Sesampainya di apartemen, aku langsung menarik Ayu menuju kamar mandi.

“Sabar dong boss, kayak enggak ada hari esok aja” katanya manja.

“Ultah kamu khan hari ini, so pasti memang tidak ada hari esok” kataku sambil melepas bajunya satu persatu.

Setelah ia bugil total, lalu kujilat buah dadanya, mulai dari putingnya ke dasarnya. Kuhisap-hisap putingnya dengan lembut.

“Ooohh Ton, enak sekali, teruss” desah Ayu

Ketika Ayu ingin membuka bajuku, kutahan tangannya.

“Sayang, buka dong, nggak adil nih”

Lalu kulepaskan semua pakaianku sehingga terlihat senjataku mengacung sangat tegak, ketika Ayu ingin meraihnya, kukatakan padanya,

“Say, jangan dulu, hari ini kamu akan menjadi ratu, biarkan daku melayanimu sampai puas”

Setelah itu, lalu kubasahi seluruh badannya, dan kusabun seluruh lekuk tubuhnya, tak lupa buah dadanya kuremas lembut lebih lama. Kuputar-putar putingnya, Ayu hanya bisa mendesah nikmat. Lama juga aku bermain di dadanya, kira-kira ada 15 menit. Setelah itu tanganku mulai turun ke selangkangannya. Kumainkan klitorisnya, Ayu semakin mengerang hebat.

“Toonn, teerruss, teruss, auughh, enak sekali, terruss”

“Ton, masukin dong penis kamu, saya udah gak tahan nihh”

“Oh, yang itu nanti sayang, sabar aja”

“Tapi saya pengen banget nih, oohh”

“Sabar aja, pokoknya hari ini kamu jadi ratuku, Aku bakalan membuat kamu orgasme ratusan kali selama 3 hari ini”

“Saayy, tulang saya bisa copot nih orgy ratusan kali”

“Biarin, salah sendiri punya body seksi sekali”

“Ahh aahh aahh, seesstt, guaa kayaknya pengen nyampe nih sayy” Ayu meracau tak menentu.

Kupercepat gerakan jariku memainkan klitorisnya, sementara jariku yang lain sedang dihisap-hisapnya seolah-olah ia sedang menghisap penisku.

“Aaarrgghh, I’m comminngg, honey, commiingg, commiingg, ohh”

Pinggulnya bergerak maju mundur sementara badannya melengkung kaku ke belakang, sepertinya Ayu sangat menikmatinya.

“Ton, tadi rasanya enak sekali seolah olah kamu lagi meng-onani vagina saya, ohh” Ayu mendesah pelan.

“Oh, itu masih belum apa-apa, nanti masih ada lagi yang lebih hebat sayy ” kataku sambil meremas-remas buah dadanya.

“Wah, mati aku deh, bisa bisa nanti kagak bisa kerja”

Kubilas tubuhnya dari busa yg masih melekat, terutama di bagian vaginanya karena banyak sekali cairannya yang mengalir keluar. Setelah tubuh Ayu bersih, lalu akupun mulai menyabuni diriku sendiri. Tapi tanpa kusadari tiba-tiba Ayu memelukku dari belakang dengan kuat lalu satu tangannya menangkap penisku.

“Eh kenapa say, kan saya bilang nanti” sambil aku melawan sedikit.

“Khan hari ini ultahku, kamu mesti nurut sama saya, kalau kamu bisa bikin saya orgy ratusan kali, saya juga mesti sedot sperma kamu sampai habis, baru adil” kata Ayu sambil menyeringai manis.

“Ya udah deh, saya nyerah sama ratuku, tapi bilas dulu dong sabunnya”

Lalu Ayu membersihkan sabun terutama di sekitar penisku, lalu ia mulai mengocok-ngocok dan memainkan penisku, kadang pelan kadang cepat, ia mengocok sambil matanya menatapku dan tersenyum manis sekali.

“Bagaimana sayang, enak khan seperti ini?” Ayu tersenyum manis sekali

“Ohh, aduuh, enak sekali sayang, ohh, uhh, wajah kamu maniss sekali sayangku” kataku sambil menahan rasa nikmat yang tidak terkira.

“Saayy, ganti dong pake mulut kamu”

Lalu dia dekatkan kepalanya, dan dijulurkan lidahnya. Kepala batang kejantananku dijilatinya perlahan, seolah olah sedang menjilati es krim. Lidahnya mengitari kepala senjata meriam aku. Semilyard dollar.. rasanya.. wow.. enak sekali. Aku hanya bisa merem melek menikmatinya sambil bersandar di bath tub. Lalu dikulumnya batang kejantananku. Aku melihat mulutnya sampai penuh rasanya, tetapi belum seluruhnya tenggelam di dalam mulutnya yang mungil. Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.

Ayu memasukkan dan mengeluarkan kejantananku dari dalam mulutnya berulang-ulang, naik-turun. Gesekan-gesekan antara kemaluanku dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi diriku.

“Auuh.. aahh..” akhirnya aku sudah tidak tahan lagi.

Batang kemaluanku menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke dalam mulutnya. Bagai kehausan, Ayu meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.

“Duh, masa baru begitu saja sudah keluar.” Ayu meledek aku yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.

“Yu.., saya.. udah 3 hari nih.. tidak bercumbu dengan kamu..” jawabku terengah-engah.

“Tapi lumayan banyak juga sperma kamu, kayaknya boleh nih tiap 3 hari saya isep penis kamu, biar saya tambah awet muda” katanya tanpa melepas pegangannya dari penisku.

“Whatever you want, my queen” kataku sambil mencium bibirnya.

Lalu Ayu mulai menyabuni seluruh tubuhku, terutama di sekitar penisku agak lama, sehingga mau tidak mau penisku bangun lagi. Ayu mulai memainkannya lagi. Tapi aku tidak mau keluar lagi, jadi harus kustop dia.

“Eh, Yu, stop dulu, entar saya keluar lagi nih” kataku sambil menahan nikmat.

“Biarin aja, salah sendiri kenapa penis kamu gampang terangsang” katanya sambil tertawa.

Lalu ia melanjutkan menyabuniku, setelah itu ia membilas tubuhku, oh rasanya segar sekali, nikmat sekali rasanya dimandikan oleh pacarku ini, sesekali ia menjilat-jilat kepala penisku, sesekali ia menghisapnya, sambil matanya menatapku, oh manis sekali wajahnya. Selesai itu, aku mengambil handuk mengelap seluruh tubuhku dan tubuhnya, tak lupa aku melakukan gerakan memijat ketika sedang mengelap buah dadanya, ia hanya bisa merem melek sambil mulutnya megap-megap Lalu kutarik dia ke kamarnya, kuambil selimut baru lalu kugelar di atas lantainya. Kulihat Ayu sepertinya penasaran dengan tindakanku ini.

“Lho Ton, ngapain kamu”

“Ini surprisenya, sayang, nah sekarang kamu baring aja di atas selimut, saya ambil madu dulu”

“Wah kayaknya saya bakalan orgy gila-gilaan nih”

“Iya say, tunggu aja” teriakku sambil mengambil madu dari kulkasnya.

Sekembalinya ke kamar, kulihat Ayu masih berbaring, lalu aku duduk di atas pahanya, kubuka botol madu lalu kutuang di atas badannya, kulihat dia terkejut sedikit, mungkin akibat dinginnya madu tersebut, kugosok-gosok madu tersebut di seluruh tubuhnya, terutama di buah dadanya.

“Aaahh.. Ton.. sshhss..” erang si Ayu ketika kuusap-usap permukaan dadanya rata terbungkus madu kecuali putingnya.

“Sshh.. teruss.. Ton ciumin dong..” Dia menggigit bibirnya sendiri.

Wah, ternyata dia suka surprisenya, aku cium putingnya sambil memainkan lidahku melilit-lilit puting merah muda itu, kemudian kugigit manja.

“Aahh.. sshhss.. aku mao keluar Ton.. sshshh bagaimana nih..” erangnya.

Segera kugosokkan madu ke arah paha dalamnya secara perlahan terus sampai mendekati daerah lipatan yang sangat hangat itu.

“Ahh.. sshshs.. Ton.. jilat dong.. udah nggak tahan nih.. ss..” lirihnya.

“Sshh hmm.. kok diam.. please..” rengek Ayu.

“Tunggu ya..” jawabku.

Kemudian segera kujilati lubang kemaluannya sambil mengusap-usap payudaranya, dan mulai kujilati bibir luar vaginanya

“Ahh.. Ton.. terus sshh.. kamu.. di situ.. sshh,” erangnya.

Dengan lidah kukait-kait klitorisnya sambil kutelusuri garis bibir vaginanya. Sambil menggoyangkan pinggulnya kiri-kanan Ayu berkata,

“Yess.. di situ.. ahh.. sshs..” katanya ketika mulai kuhisap dan menjilati klitorisnya.

Setelah membesar, aku tusuk-tusukkan lidahku di liang senggamanya tetapi tak kuduga reaksinya.

“Aahh.. shshshsh mmhh ss.. teruss hhmm,” Ayu menggelinjang-gelinjang sambil memaju-mundurkan pinggulnya, vaginanya seolah-olah merebut lidahku untuk masuk lebih dalam kerongga nikmat itu, sementara batang kemaluanku sudah merah padam dari tadi ingin segera menggantikan lidahku.

“Ahh.. teruuss.. teruuss.. lebih cepaat.. ssh..” gelinjang Ayu semakin cepat.

“Shshss.. aku hampiirr.. shshh.. mmyamyam memem.. ss,” suaranya semakin kacau.

Pantatnya semakin cepat mengocok lidahku, sehingga selimut di lantai itu berantakan. Ketika gerakan lubang kemaluannya makin rutin, segera kuhentikan dan kutarik lidahku, terlihat alis si Ayu mengkerut seperti sedang bertanya-tanya, sementara dadanya masih naik-turun dengan cepat. Tanpa menunggu lebih lama lagi, secepatnya kuposisikan kepala penisku ke lubang hangat dan basah itu.

“Ahh.. sshsh mm..” erang manja si Ayu. Memang penisku tidak terlalu besar, hanya kepalanya agak besar dan melengkung ke atas seperti terompet tapi panjang.

Badan Ayu menjadi kaku seakan menantikan sesuatu

“Rileks sayang.. sebentar kita lanjutkan perasaanmu,” bisikku.

Kemudian kudorong perlahan kepala penisku. Setelah kepala penisku masuk, secara bertahap kudorong batangku agak dalam, kutarik lagi sedikit, dorong lebih dalam, tarik sedikit, sampai.. “Bluess.. duk..” kiranya sudah mentok kebentur ujung rahimnya, padahal belum semuanya masuk lho. Terasa di tangan kiriku kira-kira masih tiga lebar jariku tapi efeknya

“Ssshh.. mmhh.. aahh.. auh!” jerit tertahan Ayu.

Kurasakan agak banjir di dalam sana dan jepitan di sepanjang kepala penis sampai hampir seluruh batangku itu makin erat.

“Ahh.. ssh shshss..” aku coba konsentrasi karena vagina yang nikmat dan sangat sempit ini mencoba menarik semua spermaku sehingga kepala penisku membesar dan berdenyut-denyut menahan kenikmatan yang nyaris memancar.

Kemudian aku coba goyang secara perlahan, makin lama makin cepat. Kupraktekkan rumus ini-itu sambil membuatnya menikmati setiap gesekan penisku serta mengalihkan pikiranku untuk melupakan nikmatnya lubang kemaluan Ayu, sempitnya vaginanya. Tubuhnya yang sempurna, payudaranya yang ranum dan kencang yang tertekan dadaku.

“Ouch.. sshh.. hemm..” sulit rasanya menghadapi kenyataan nikmat ini, apalagi setelah puncak kenikmatannya yang tertunda itu kembali melanda Ayu, ini terbukti dengan goyangan pinggul dan pantatnya berputar dan sekarang maju-mundur, menentang setiap gerakanku yang semakin cepat tusuk dan tarik.

“Aahh..”

Kucium dan kulumat bibirnya, kulilit lidahnya, kulihat dia tidak bisa menahan kenikmatan yang melanda itu, sehingga Ayu pun membalas ciumanku dengan ganasnya. Geregetan, rangsangan, kenikmatan, itu yang mungkin ada di pikirannya.

Setelah hampir setengah jam kami goyang (kurasa Ayu sudah mau orgasme) dan akhirnya vaginanya mulai menjepit dan mengurut penisku cepat sekali. Dengan nafasnya yang memburu dan gerakan pinggulnya,

“Aaahh.. aku.. keluar.. sshhmm.. aku keluar sayang.. sshs hh shsh,”

Ayu mulai meracau tidak karuan sambil kakinya melingkari pinggangku dan menekan pantatku keras seakan-akan dia sanggup menelan penis panjangku sehingga kurasa bahwa setiap kutusuk vaginanya terasa ada benturan dan terus memutar di ujung dalam kenikmatannya.

“Sshshs aasshh.. enak sekali.. sshh.. aduhh.. sshshsh..” jerit tertahan Ayu.

Aku pun semakin mempercepat gerakanku, aku goyang dan memaju-mundurkan agak kasar liang vagina sempit ini,

“Duk..bluess.. duuk.. bluess..” kulihat pangkal penisku agaknya nyaris semuanya masuk,

“Sssh shh shh.. teruss.. Ton.. sshh,”

“Aku puas.. sshh hmm.. Ton.. cepat.. sshh,” lanjutnya.

“Tubuhmu seksi.. dan sempurna.. sayang..apa boleh..” aku berbicara ngos-ngosan.

“Di.. dalam.. saja.. shsh shh mmhh..” Ayu memotong sambil menaikkan pinggulnya sambil menekan pantatku serta membenamkan seluruh penisku seluruhnya

“Aaahh.. ssmmhh hhmm..”

Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut keras membuat suara becek goyangan kami yang makin keras.

Aku sudah tidak kuat lagi, ilmuku seakan hilang, kesadaranku melayang. Kemudian sambil melenguh kutarik pinggulnya lengket ke pangkal penisku dan kujilat serta kugigit putingnya, kulepas semua spermaku,

“Aaahh.. sshh..”

“Crot.. crot.. crot..” Hampir enam atau delapan kali semprotan maniku melesat ke dalam rahimnya.

“Aaahh ss mm.. hmm.. enak.. hangat..” Ayu mengerang-erang, sambil terus menggoyangkan pinggulnya berputar-putar.

Dalam keheningan nikmat, kubiarkan penisku di dalam vaginanya yang masih terasa sempit, kucium lembut bibirnya dan Ayu pun membalas manja, kemudian kutatap matanya sambil tersenyum. Sambil bersikap manja Ayu memeluk diriku serta menggigit hisap leherku. Wah.. merah nih jadinya.

Aku kemudian mengangkat tubuhnya dan mengajaknya ke balkon untuk cari angin.

“Mau ngapain di balkon Ton?”, tanya Ayu terheran-heran.

“Aku pengen menutup surprise-ku dengan mandi’in kamu”, kataku lagi.

“bagaimana mandi’innya?, tanya Ayu tambah heran tapi nurut saja ketika kurebahkan tubuhnya di atas kursi panjang tanpa senderan di balkon yang sepi itu. Tanpa menunggu lama, segera kuakhiri surpriseku dengan mandi kucing, yaitu dengan menjilat-jilat lembut seluruh permukaan tubuhnya yang bermandi peluh bercampur madu dan berkilat terkena sinar rembulan yang membuatnya makin indah dengan posisinya yang menelentang pasrah itu. Ayu senang sekali dengan perlakuanku itu, dan sambil mendesah kenikmatan dia berkata,

“Ton, kalau bisa kamu sering-sering nginap di sini, saya suka dijilati seperti ini.”

Kira kira ada 10 menit aku menjilatnya, lalu kugendong dia ke kamar mandi, dan kami pun saling membersihkan badan, saling menggosok satu sama lain. Setelah selesai, kami pun masuk ke kamarnya, karena sudah lelah sekali kami tidur nyenyak sambil berpelukan dalam keadaan bugil.

Keesokan paginya, antara sadar dan tidak, aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh pada diriku. Ketika kubuka mataku, eh, ternyata Ayu sudah bangun, dan lebih kaget lagi kulihat Ayu sedang menghisap-hisap penisku. Melihatku sudah bangun, Ayu berhenti sejenak dan tersenyum.

“Selamat pagi kekasihku, bagaimana tidurnya” tanya Ayu manja sambil tangannya tetap mengocok penisku.

“Wah enak banget, tapi kok kamu curang sih, saya khan nggak ngerasain isepan kamu waktu tidur” kataku sambil mengusap-usap buah dadanya.

“Abis kamu tidurnya lelap sekali, saya kagak tega bangunin kamu, tapi siapa tahu kamu mimpi lagi diisepin ha ha ha” ia tertawa sambil terus mengocok penisku.

“Eh Ton, kok waktu kamu tidur, saya ngocokin kamu kok penis kamu bisa bangun sih”

“Ya bisa lah yaw, namanya juga penis orang, emangnya penis plastik, bisa aja kamu, tapi terusin dong pake mulut kamu, Yu”

“Oooke boss, tapi kalau kamu mau keluar, bilang yah”

“Lho, emangnya kenapa?” tanyaku heran.

“saya mau pake sperma kamu buat olesin muka dan dada saya, biar kulit saya tambah kencang”

Lalu Ayu kembali mengkaraoke penisku, oh, rasanya nikmat sekali, sesekali ia menatapku sambil tersenyum manis. Mulutnya bergerak maju mundur, sambil lidahnya menggelitik lubang kencingku, rasanya geli-geli nikmat. Tak lama kemudian, aku merasa akan keluar lagi.

“Yu, saya mau keluar lagi, ohh aduuh” kataku sambil menahan gemuruh di dadaku.

Langsung ia mengganti tangannya untuk mengocokku, dan akhirnya, “Aduuh ohh, Yu terruuss, enaakk”

Penisku akhirnya memuntahkan sperma, tapi tidak sebanyak kemarin, dan Ayu langsung mengarahkan dadanya ke penisku, sehingga dadanya terkena muncratan spermaku, langsung dia oleskan ke seluruh permukaan dadanya.

“Yaahh Ton, kok dikit banget sayang, muka saya kagak dapet nih” Ayu sedikit merenggut.

“Abis tiap hari bercumbu terus sih, ya udah sayang, mumpung penis saya masih tegak, sekarang kamu nunggangin saya aja, khan kamu dapet enaknya juga”

“Nah begitu dong Ton, itu baru namanya pacar saya” Ayu tersenyum lagi.

Lalu ia duduk di atas pahaku sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Perlahan tapi pasti, penisku mulai memasuki lubang kenikmatannya. Aku sendiri heran juga kenapa hari ini penisku perkasa banget, tapi aku tidak memikirkannya lagi, yang penting enaknya, bung. Ayu sendiri mulai bergoyang-goyang sambil meracau tak menentu, seolah olah sedang menunggang kuda, sementara aku meremas remas dadanya yang bergerak naik turun. Lumayan lama juga aku bertahan, kira kira ada satu jam, sementara kulihat Ayu sepertinya sudah orgasme 2 kali, tapi kulihat Ayu tidak berhenti juga, mungkin dipikirnya kapan lagi bisa dapat kesempatan seperti ini. Tak lama kemudian, setelah Ayu orgasme ketiga kalinya, barulah aku mulai merasakan akan orgasme.

“Yu, bangun sayang, saya udah mau keluar nih”

Langsung Ayu bangun dan mendekatkan mukanya ke penisku sambil tangannya mengocokku. Dan akhirnya,

“Aaarrgghh, aduuh, haahh” aku ngos-ngosan menahan nikmat.

Akhirnya penisku menyemprotkan spermanya ke wajahnya, lalu ia menggosoknya ke seluruh wajahnya sampai rata.

“Terima kasih sayang, saya puas banget hari ini, saya tidak menyangka bisa orgy sampe 3 kali, kamu perkasa sekali” kata Ayu sambil berbaring memelukku.

“Abis bodi kamu seksi banget sih, terutama dada kamu, apalagi pas lagi nunggang saya, kelihatannya seperti dewi dari langit yang lagi goyangin saya.”

“ah ah, bisa aja kamu” kata Ayu sambil mencubit hidungku.

Tanpa terasa, kami tertidur lagi sambil berpelukan, mungkin saking lelahnya bersenggama tanpa henti.

Begitulah seterusnya, setiap ada waktu kosong aku dan Ayu langsung main lagi, seolah-olah nafsu kami tidak pernah terpuaskan. Selama 3 hari yang kami lakukan hanya makan, main, tidur. Selama 3 hari itu pula kami seperti Tarzan dan Jane, bugil terus. Rasanya anda para pembaca bisa membayangkannya sendiri bagaimana nikmatnya hidup seperti itu. Tapi yang paling penting bagiku adalah cintaku padanya dan cintanya padaku, walaupun aku masih belum tahu sampai kapan kami bisa hidup bersama.

TAMAT

Tags : cerita 17 tahun, cerita dewasa, tante telanjang, tante girang, foto telanjang, tante bugil, telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, ayu anjani telanjang, dewi persik telanjang, telanjang artis indonesia, artis bugil telanjang, youtube artis bugil, skodeng,gadis melayu bogel,melayu seks,melayu bogel,melayu boleh,artis melayu,cewek bugil,cerita seks melayu

18
Jun
10

Cerita Daun Muda – Nuri Kenalanku di Bandara

Nuri adalah seorang cewek yang aku kenal ketika aku menunggu temanku yang janjinya menjemput aku di Bandara Cengkareng. Kebetulan dia juga menunggu kakaknya dari Surabaya yang akan menikmati libur semesteran di Jakarta. Memang pada saat itu sudah hampir 1 jam hujan lebat mengguyur kota Jakarta khususnya daerah Bandara sehingga hampir di semua daerah di Jakarta dikabarkan banjir. Nuri ternyata adalah salah satu mahasiswi semester 5 Universitas swasta terkenal di daerah Bypass dekat Pulomas. Dengan tinggi badan sekitar 170 dan berat badan sekitar 50 Kg, menggunakan rok jeans mini di atas lutut dan kaos merah dibalut dengan jaket kulit tipis membuat penampilannya sangat menarik sekali. Saya sangat senang sekali ngobrol dengan Nuri, selain wawasannya luas dia selalu aktif mencari topik pembicaraan. Entah sudah berapa lama kita sama-sama menunggu, sehingga dia permisi sebentar untuk menghubungi kakaknya melalui HP. Ternyata pesawat yang ditumpangi kakaknya ttidak dapat mendarat di Cengkareng karena hujan badai pada saat itu. Kami selama menunggu di ruang tunggu tidak merasakan sama sekali deras dan hebatnya hujan diluar, apalagi kami benar-benar asyik dengan obrolan-obrolan tadi.

Mendengar sangat seriusnya cuaca di luar Nuri juga merasa takut untuk pulang mengemudikan mobilnya sendiri. Aku mencoba menghubungi HP-teman saya dengan meminjam HP Nuri (Maklum saya tidak punya HP karena di daerah kerja kami HP tidak bisa berfungsi), ternyata teman saya juga terjebak banjir. Akhirnya aku putuskan untuk menawarkan diri mengemudikan mobil Nuri hingga sampai rumahnya dan nantinya aku akan naik Taksi ke hotel. Nuri setuju sekali dengan usulanku tersebut, saya kemudian meminta kunci mobil Nuri untuk mengambil mobil di parkiran dan Nuri menunggu koper saya. Walaupun telah mengunakan payung yang aku sewa dari anak-anak kecil yang menawarkan jasa payung, tetap saja celana dan sebagian bajuku basah karena hujan angin yang cukup besar. Tidak sulit menemukan mobil Nuri karena warnanya kuning yang sangat menyolok sekali dan jenis mobilnya adalah Toyota Hardtop. Jenis mobil ini juga sering aku pakai di tempat kerja, terkenal dengan ketangguhannya. Apalagi mobil Nuri kelihatan sangat terawat sekali, mungkin dia adalah penggemar mobil jeep.

Setelah menghampiri Nuri, kami kemudian langsung saja meninggalkan Bandara Cengkareng. Ternyata jalan tol Bandara juga macet karena banjir sehingga mobil-mobil pada takut untuk lewat jalan tersebut. Cukup lama juga kami antri di kemacetan yang hampir tidak berjalan tersebut, akan tetapi tidak terasa karena Nuri selalu mengajak aku ngobrol, kadang dia mengubah posisi duduknya dengan seenaknya seperti saya ini adalah kakaknya. Sehingga rok mininya kadang terangkat sangat tinggi dan kemulusan pahanya sangat merangsang aku untuk dapat mencium kemulusannya. Tiba-tiba saja tangannya menggenggam tangan kiriku dan meremas-remasnya, aku balas juga dengan meremas tangannya dan kemudian dia menciumi tanganku dan memasukkan jari telunjukku ke dalam mulutnya dan menjilatinya. Aku kemudian memberanikan diri untuk mencoba mencium bibirnya, rupanya Nuri diam saja dan aku lebih berani lagi dengan menjilati bibirnya yang sangat ranum. Tangan kanan saya mulai bergerak menjamah paha yang dari tadi sangat mengundang tersebut hingga menuju kepangkal pahanya. Hujan lebat, kaca mobil yang gelap, dan antrian kemacetan membuat aku leluasa untuk menikmati kemolekan tubuh Nuri. Tidak beberapa lama kemudian Nuri mulai membalas ciumanku, lidah kami saling bertautan kadang Nuri menggigit kecil bibirku dan kadang menghisap lidahku. Sambil tangannya menuntun tanganku ke daerah kemaluannya dan menggosok-gosokkan, dia kelihatan sangat menikmatinya. Aku kemudian mencoba mengarahkan ciumanku ke lehernya yang mulus dan turun hingga ke buah dadanya yang ternyata besar ketika jaket kulitnya dibuka.

Keasyikan kami tiba-tiba terganggu, karena mobil di depan kami sudah maju agak jauh. Terpaksa kami menghentikan awal kenikmatan tersebut untuk memajukan mobil kami, rupanya Nuri juga agak jengkel dengan kondisi ini. Nuri mengubah duduknya lagi merapat ke aku dan tangannya diletakkan di atas pahaku. Aku mencoba mengganti kaset dengan lagu instrumentnya Kenny G sehingga suasana petang itu di mobil semakin romantis. Tangan kanan Nuri mulai lagi beraksi meremas-remas penisku yang sudah tegang dari tadi, dan tangan kirinya dimasukkan ke dalam roknya untuk menjangkau kemaluannya dan mulai menggosok-gosok sendiri. Tidak beberapa lama kemudian posisi duduknya berubah lagi, kali ini kepalanya menelusup di bawah tangan kiriku yang sedang menambah volume tape menuju ke penisku. Dia menggigit-gigit penisku dari luar celanaku sambil meremas-remas. Kemudian tangannya mulai membuka celana kainku dengan mudahnya, dan penisku yang sudah berdiri tegak kali ini keluar dengan kekarnya. Nuri langsung menjilati dan memasukkan penisku ke dalam mulutnya, sangat terampil dan dasyat sekali permainannya mengulum penisku. Kelihatanya Nuri juga sudah sering melakukan hal ini. Tangan kanannya mulai lagi menggosok-gosok kemaluannya.

Aku benar-benar dibuat melayang tak berdaya, tiba-tiba dia berhenti dan bangun. Rupanya dia ingin melepas celana dalamnya yang kemungkinan mengganggu tanpa malu-malu. Dan kembali lagi mengulum penisku dan memainkan kemaluannya sendiri.

Setelah beberapa saat aku sudah mulai tidak kuat untuk menahan letupan kenikmatanku, Nuri lebih mempercepat mengocok, mengulum dan meremas penisku. Benar-benar nikmat sekali dan akhirnya aku tidak kuat menahan dan menyemburlah maniku di dalam mulut Nuri yang langsung ditelan dan dihisap Nuri dengan bersih.

Kemudian Nuri mulai mengubah posisinya tiduran diatas pahaku sambil tangannya memainkan kemaluannya sendiri. Tangan kiriku membantu meremas-remas payudaranya yang sudah tegak sekali dan saya yakin sangat bagus. Sekali-kali aku bungkukkan badanku untuk mencium susunya, sekali-kali aku juga menjilat kemaluannya walaupun agak susah sedikit menjangkaunya. Sebenarnya aku ingin sekali berlama-lama memainkan susu dan kemaluannya akan tetapi saat ini tidak memungkinkan karena aku harus mengemudi di kondisi jalan yang sangat macet. Tidak lama kemudian erangan dan desahan nafasnya tidak beraturan dan pinggulnya bergoyang tidak karuan, rupanya Nuri sudah mulai mencapai klimaksnya dengan memainkan klitorisnya sendiri. Dan beberapa saat kemudian tubuhnya kejang dan kaku sambil tangan kirinya memegang sendiri kepalanya.

“Mas Rudy sorry ya karena aku dari tadi sudah kepingin sekali main dengan Mas Rudy walupun kita baru saja ketemu” katanya

“Mas Rudy nggak marah kan?” tanyanya lagi

“Wah aku senang sekali, apalagi kalau kita bisa main di kamar bukan di dalam mobil” kataku

“Emang Mas Rudy ada waktu untuk Nuri” katanya

“Kenapa tidak, saya kan dalam rangka cuti” kataku

Kemudian dia mengambil HP-nya, ternyata menghubungi ke rumahnya.

“Ma, Kak Seno tidak jadi datang. Sekarang Nuri masih di bandara karena jalannya banjir” katanya

Nuri diam sesaat, mungkin dari seberang sedang bicara.

“OK deh Ma, Nuri tidur di Sheraton Hotel saja ya. Sambil besok sekalian jemput Kak Seno” katanya

Dan kemudian HP-nya ditutup.

“OK kita sekarang menuju ke Sheraton Bandara saja Kak” katanya

Kebetulan hotel Sheraton sudah dekat dan tidak susah untuk menuju ke sana hanya butuh waktu 15 menit di suasana macet seperti ini.

Sesampai di Lobby hotel ternyata nama Nuri sudah ada di bagian Reservasi, rupanya mamanya telah membookingkan dari rumah setelah Nuri sempat menelpon tadi. Nuri benar-benar tidak janggung untuk berdua masuk ke hotel denganku bahkan dia selalu memegang tanganku dan kadang mencium kecil pipiku. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan kunci dan Nuri hanya menyerahkan kartu kreditnya semua urusan lancar.

Karena tidak membawa tas yang besar maka kami tidak membutuhkan room boy untuk membantu membawa tas dan menunjukkan kamar. Kami segera menuju ke lift. Karena lokasi kamar kami hanya di lantai 3, maka di dalam lift Nuri hanya sempat sebentar menciumi bibirku dan meremas-remas penisku. Aku juga meremas-remas pantatnya yang menggairahkan.

Ketika masuk kamar, Nuri langsung menutup pintu dan segera menabrakku memberikan ciuman, akupun segera mengimbangi. Lidah kami saling bertautan, aku langsung saja membuka kaosnya dan meremas susunya yang dari tadi belum sempat aku lihat dengan jelas. Ketika aku mau mulai turun mencium susunya Nuri menghentikan ciumannya dan langsung mengajakku mandi terlebih dahulu.

“Mas kita mandi dulu yuk, biar lebih enak nanti” rajuknya.

Dibukanya semua bajunya, memang benar-benar Nuri mempunyai tubuh yang indah dan putih mulus. Sampai aku nggak tahan melihatnya dan langsung saja kucium pantatnya dari belakang dan sedikit gigitan kecil.

“Mas Rudy nakal sekali sih .. entar aja ya habis mandi” katanya lagi.

Kemudian dia membantu aku untuk melepas baju dan celana sehingga kami berdua sama-sama telanjang bulat. Nuri masih sempat juga sebentar meremas dan membelai penisku yang sudah mulai tegang lagi sambil membimbing aku menuju kamar mandi.

Kami berdua mandi di bawah shower, Nuri sangat sabar sekali menyeka seluruh tubuhku dengan sabun, apalagi penisku. Dia benar-benar menyabuni penisku dengan teliti dan dibilasnya seluruh badanku sambil salah satu tangannya mengelus-elus penisku yang berdiri tegak.

“Mas kenapa sih kok masih berdiri terus, sudah pingin ya “katanya, sambil dia sendiri mulai menyabuni dan membilas tubuhnya. Aku juga bantu sedikit untuk membantu menyabun sambil menggerayangi seluruh tubuhnya. Setelah dia membilas tubuhnya tangannya langsung memainkan kemaluannya lagi. Nuri memberikan tanda ke aku agar aku muncumbuinya.

Tanpa diberi komando yang kedua, aku angkat satu kakinya untuk bertumpu di dinding dan aku mulai menjilati kemaluan sebelah luarnya. Harum sekali baik bagian luar maupun bagian dalamnya, begitu juga kedua bagian dalam pahanya. Klitorisnya mulai aku cium, jilati dan hisap sambil memasukkan jari tengahku untuk merasakan dinding bagian dalam vaginanya. Hanya 3 menit aku mencumbui kemaluannya kemudian aku berdiri untuk melumat bibirnya dan tanganku meremas payudara dan sedikit memelintir pentilnya. Satu tanganku lagi meremas-remas pantatnya dan sekali-kali menelusuri lubang duburnya, kelihatan sekali Nuri sudah mulai terangsang lagi. Kemudian aku benamkan kepalaku menuju kedua susunya yang besar dan masih kencang itu, pentilnya masih berwarna merah muda. Aku cium, jilati dan hisap secara bergantian kedua susunya sambil tangan kananku memainkan lubang kemaluannya. Sekali aku gosok-gosok klitorisnya sampai dia agak menggelinjang.

“Aduh Mas enak sekali, gigit dong pentilku.. cepat Mas” katanya

Tangan kanannya meremas-remas rambutku sedangkan tangan kirinya sedikit mencengkeram punggungku.

“Mas enak Mas.. Mas enak sekali Mas.. terus Mas” desahnya

Setelah cukup lama kumainkan kedua susunya, aku mulai turun menciumi perut pinggang dan lama-lama turun ke arah kemaluannya.

Karena bercampur dengan air, vaginanya tampak sekali menggairahkan, kujilati dinding dalam vaginanya dan sedikit aku hisap. Lidahku berputar masuk sedalam mungkin sambil kugoyangkan kepalaku sehingga hidungku yang tepat diklitorisnya membantu lebih merangsang Nuri. Cairan mulai keluar dari dalam vagina Nuri membuat dia mendesah-desah.

Kemudian aku alihkan ciuman, jilatan dan hisapanku kearah klitorisnya sambil kepalaku bergoyang berputar. Jari tengah kananku masuk ke dalam kemaluannya mengacak-acak bagian dalam vaginanya.

“Est.. aduh.. sstt.. aduh” desahnya.

Membuat aku lebih bersemangat sambil tangan kanan meremas pantat dan sekali-kali pindah naik ke susunya.

Nuri mulai mengerang dan pinggulnya ikut digoyangkan memutar dan tidak lama kemudian pinggulnya maju mundur ditambah erangan yang tidak karuan.

“Mas.. Mas.. aku keluar Mas.. enak sekali Mas” katanya sambil kedua tangannya memegang kepalaku dan menekannya merapat kearah kemaluannya. Cairan yang keluar dari dalam kemaluannya aku telan dan hisap habis sambil terus memainkan klitorisnya.

Aku mengharapkan Nuri akan keluar untuk kedua kalinya, rupanya dia tahu keinginanku dan dia juga mulai membuka kembali kedua pahanya untuk aku nikmati. Sekarang hanya satu tangannya saja yang memegang kepalaku dan satu tangan lainnya membantu membuka kedua vaginanya agar terbuka lebar sehingga jilatan dan hisapanku bisa leluasa. Dan tidak lama kemudian Nuri mencapai puncaknya yang kedua berselang tidak begitu lama. Rupanya dia benar-benar sangat menikmati sekali permaianku di kemaluannya.

Kemudian Nuri menuntunku menuju bathtub, menyuruhku untuk naik dan duduk di pinggir bathtub tersebut. Dia langsung memegang dan mengocok penisku sambil membuka kedua kakiku agar dia bisa duduk dengan enak. Sambil mengocok penisku dijilati ujungnya dan kadang mengulum penisku bagian atas. Jilatan-jilatannya benar-benar enak sekali hingga menuju kedua telurku dan sekali-kali memasukkan kedua telurku ke mulutnya. Sedikit cairan sudah keluar dari penisku yang kemudian dia hisap dan telan.

“Mas Rudy penismu enak dan bagus sekali lho” katanya

Memang kata sebagian cewek yang pernah main dengan aku, ukuran penisku di atas rata-rata orang Indonesia.

Nuri mulai memasukkan penisku kemulutnya dan menggerakan keluar masuk ke dalam mulutnya. Kadang mengocok lagi dengan tangannya dan memasukkan lagi ke dalam mulutnya sambil satu tangannya secara bergantian memilin pentilku dan kadang memasukkan telunjuknya ke dalam mulutku. Tanganku yang awalnya hanya membelai kepalanya mulai aku arahkan untuk meremas susunya dan memilin pentilnya. Permainan mulut Nuri membuat penisku semakin berdenyut-denyut dan aku coba untuk menahan agar jangan sampai keluar dengan cara sekali-kali menahan agar Nuri berhenti sebentar. Walaupun kelihatannya Nuri tidak memberikan celah penisku lepas dari tangan ataupun mulutnya. Akhirnya aku benar-benar sudah tidak tahan lagi sehingga keluarlah maniku di dalam mulut Nuri, dia hisap semua maniku hingga habis sambil terus mengocok penisku dengan mengunakan mulutnya.

Kenikmatan kedua ini benar-benar sangat mengasyikkan berbeda ketika aku keluar sewaktu di mobil tadi.

Nuri kemudian naik di atas pangkuanku sambil menciumi mulutku.

“Mas enak ya? tanyanya

“Nanti malam kita harus lebih enak lagi ya Mas” katanya

Sambil pinggulnya bergoyang maju mundur dan terus menciumi aku.

Setelah puas kami menuju shower lagi untuk membilas dan membersihkan diri, sambil sekali-kali dia mencium bibirku. Tanganku juga tak lepas dari memegang pantatnya yang padat dan mulus sekali. Kemudian kita keluar dan Nuri menghanduki seluruh tubuhku baru kemudian dia mohon aku juga mengeringkan tubuhnya dengan handukku tadi. Nuri kemudian membuka lemari untuk mengambil piyama dan memakaikan ke tubuh dan tangannya yang nakal sekali-kali meremas penisku. Ketika piyama sudah diikat kepingangku kepalanya menerobos mengulum kembali sebentar penisku. Aku kemudian memakaikan piyama ke tubuh Nuri sambil meremas-remas pantatnya.

Aku mengambil sekaleng Bir dan menawari Nuri mau minum apa, ternyata dia minta sebotol air Aqua. Kemudian aku duduk menuju ke sofa, Nuri mengikutiku dan minta aku untuk memangkunya sambil tangannya merangkul belakang kepalaku dan menciumi mulutku lagi. Satu tangannya membimbing tanganku agar menuju kecelah pahanya sambil menonton acara televisi.

“Habis ini kita pesan makan dulu ya Mas, atau kita makan di bawah saja?” tanyanya

“Lebih baik kita makan di kamar saja Nur, aku pingin makan sambil telanjang dengan kamu” kataku

“Malam ini pokok aku adalah milik Mas, jadi Mas bisa membuat sesuka hati Mas” katanya

Nuri rupanya sangat setuju sekali dengan usulanku, kemudian dia berdiri mengambil daftar menu dan menelpon bagian room service.

Pembaca yang setia saya akhiri bagian pertama cerita ini, untuk kelanjutannya anda dapat membuka ke bagian kedua. Mudah-mudahan saya ada waktu karena saat membuat cerita ini aku sedang menunggu Dian. Dian adalah penjaga stand parfum di sebuah toko di daerah Bundaran HI yang sangat terkenal.

Setiap aku cuti memang aku habiskan untuk mencari cewek yang suka sama suka.

E N D

Tags : cerita sedap, melay boleh, cerita setengah baya, cerita 17tahun, artis bugil, koleksi foto bugil, cewek bugil, cewek cantik, cerita panas, cerita seks, cerita daun muda, tante girang, foto telanjang, gambar memek, video bokep, abg telanjang, cerita berahi, cerita ghairah, cerita dewasa, foto bugil, telanjang, artis telanjang, gambar bersetubuh

16
Jun
10

Foto Bugil – Gangbang 2 Cewek Seksi Montok

KLIK Pada Gambar Untuk Memperbesar

cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya, cewek 17 tahun,17 tahun forum,tante girang bugil,gadis telanjang bugil,gadis bugil abg,julia perez bugil,cewek montok bugil,dewi persik bugil,gadis bugil 3gp, artis bugil,foto artis,cewek bugil,telanjang,bugil,17 tahun bugil,bugil gadis ayu,cewe bugil

cerita sexs, cerita ghairah, melayboleh, gambar telanjang, cerita berahi, setengah baya, cewek 17 tahun,17 tahun forum,tante girang bugil,gadis telanjang bugil,gadis bugil abg,julia perez bugil,cewek montok bugil,dewi persik bugil,gadis bugil 3gp, artis bugil,foto artis,cewek bugil,telanjang,bugil,17 tahun bugil,bugil gadis ayu,cewe bugil

14
Jun
10

3 Gadis Cantik Bugil Seksi plus Bonus Cewek Mandi

KLIK Pada Gambar Untuk Memperbesar

cerita dewasa, cerita panas, 17 tahun, setengah baya, julia perez telanjang, gambar bugil, gadis cantik, gadis abg telanjang, artis bugil telanjang, video bugil artis indonesia, gadis nakal, gadis seksi, gadis bugil, gadis telanjang, gadis asia, gadis smu, cantik telanjang, gadis belia, gadis manis, gadis bertudung, cantik bugil, majalah gadis, gadis mandi

Bonus: ABG Mandi bugil di kamar mandi

cerita dewasa, cerita panas, 17 tahun, setengah baya, julia perez telanjang, gambar bugil, gadis cantik, gadis abg telanjang, artis bugil telanjang, video bugil artis indonesia, gadis nakal, gadis seksi, gadis bugil, gadis telanjang, gadis asia, gadis smu, cantik telanjang, gadis belia, gadis manis, gadis bertudung, cantik bugil, majalah gadis, gadis mandi




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.