Posts Tagged ‘gambar bersetubuh

18
Jun
10

Cerita Daun Muda – Nuri Kenalanku di Bandara

Nuri adalah seorang cewek yang aku kenal ketika aku menunggu temanku yang janjinya menjemput aku di Bandara Cengkareng. Kebetulan dia juga menunggu kakaknya dari Surabaya yang akan menikmati libur semesteran di Jakarta. Memang pada saat itu sudah hampir 1 jam hujan lebat mengguyur kota Jakarta khususnya daerah Bandara sehingga hampir di semua daerah di Jakarta dikabarkan banjir. Nuri ternyata adalah salah satu mahasiswi semester 5 Universitas swasta terkenal di daerah Bypass dekat Pulomas. Dengan tinggi badan sekitar 170 dan berat badan sekitar 50 Kg, menggunakan rok jeans mini di atas lutut dan kaos merah dibalut dengan jaket kulit tipis membuat penampilannya sangat menarik sekali. Saya sangat senang sekali ngobrol dengan Nuri, selain wawasannya luas dia selalu aktif mencari topik pembicaraan. Entah sudah berapa lama kita sama-sama menunggu, sehingga dia permisi sebentar untuk menghubungi kakaknya melalui HP. Ternyata pesawat yang ditumpangi kakaknya ttidak dapat mendarat di Cengkareng karena hujan badai pada saat itu. Kami selama menunggu di ruang tunggu tidak merasakan sama sekali deras dan hebatnya hujan diluar, apalagi kami benar-benar asyik dengan obrolan-obrolan tadi.

Mendengar sangat seriusnya cuaca di luar Nuri juga merasa takut untuk pulang mengemudikan mobilnya sendiri. Aku mencoba menghubungi HP-teman saya dengan meminjam HP Nuri (Maklum saya tidak punya HP karena di daerah kerja kami HP tidak bisa berfungsi), ternyata teman saya juga terjebak banjir. Akhirnya aku putuskan untuk menawarkan diri mengemudikan mobil Nuri hingga sampai rumahnya dan nantinya aku akan naik Taksi ke hotel. Nuri setuju sekali dengan usulanku tersebut, saya kemudian meminta kunci mobil Nuri untuk mengambil mobil di parkiran dan Nuri menunggu koper saya. Walaupun telah mengunakan payung yang aku sewa dari anak-anak kecil yang menawarkan jasa payung, tetap saja celana dan sebagian bajuku basah karena hujan angin yang cukup besar. Tidak sulit menemukan mobil Nuri karena warnanya kuning yang sangat menyolok sekali dan jenis mobilnya adalah Toyota Hardtop. Jenis mobil ini juga sering aku pakai di tempat kerja, terkenal dengan ketangguhannya. Apalagi mobil Nuri kelihatan sangat terawat sekali, mungkin dia adalah penggemar mobil jeep.

Setelah menghampiri Nuri, kami kemudian langsung saja meninggalkan Bandara Cengkareng. Ternyata jalan tol Bandara juga macet karena banjir sehingga mobil-mobil pada takut untuk lewat jalan tersebut. Cukup lama juga kami antri di kemacetan yang hampir tidak berjalan tersebut, akan tetapi tidak terasa karena Nuri selalu mengajak aku ngobrol, kadang dia mengubah posisi duduknya dengan seenaknya seperti saya ini adalah kakaknya. Sehingga rok mininya kadang terangkat sangat tinggi dan kemulusan pahanya sangat merangsang aku untuk dapat mencium kemulusannya. Tiba-tiba saja tangannya menggenggam tangan kiriku dan meremas-remasnya, aku balas juga dengan meremas tangannya dan kemudian dia menciumi tanganku dan memasukkan jari telunjukku ke dalam mulutnya dan menjilatinya. Aku kemudian memberanikan diri untuk mencoba mencium bibirnya, rupanya Nuri diam saja dan aku lebih berani lagi dengan menjilati bibirnya yang sangat ranum. Tangan kanan saya mulai bergerak menjamah paha yang dari tadi sangat mengundang tersebut hingga menuju kepangkal pahanya. Hujan lebat, kaca mobil yang gelap, dan antrian kemacetan membuat aku leluasa untuk menikmati kemolekan tubuh Nuri. Tidak beberapa lama kemudian Nuri mulai membalas ciumanku, lidah kami saling bertautan kadang Nuri menggigit kecil bibirku dan kadang menghisap lidahku. Sambil tangannya menuntun tanganku ke daerah kemaluannya dan menggosok-gosokkan, dia kelihatan sangat menikmatinya. Aku kemudian mencoba mengarahkan ciumanku ke lehernya yang mulus dan turun hingga ke buah dadanya yang ternyata besar ketika jaket kulitnya dibuka.

Keasyikan kami tiba-tiba terganggu, karena mobil di depan kami sudah maju agak jauh. Terpaksa kami menghentikan awal kenikmatan tersebut untuk memajukan mobil kami, rupanya Nuri juga agak jengkel dengan kondisi ini. Nuri mengubah duduknya lagi merapat ke aku dan tangannya diletakkan di atas pahaku. Aku mencoba mengganti kaset dengan lagu instrumentnya Kenny G sehingga suasana petang itu di mobil semakin romantis. Tangan kanan Nuri mulai lagi beraksi meremas-remas penisku yang sudah tegang dari tadi, dan tangan kirinya dimasukkan ke dalam roknya untuk menjangkau kemaluannya dan mulai menggosok-gosok sendiri. Tidak beberapa lama kemudian posisi duduknya berubah lagi, kali ini kepalanya menelusup di bawah tangan kiriku yang sedang menambah volume tape menuju ke penisku. Dia menggigit-gigit penisku dari luar celanaku sambil meremas-remas. Kemudian tangannya mulai membuka celana kainku dengan mudahnya, dan penisku yang sudah berdiri tegak kali ini keluar dengan kekarnya. Nuri langsung menjilati dan memasukkan penisku ke dalam mulutnya, sangat terampil dan dasyat sekali permainannya mengulum penisku. Kelihatanya Nuri juga sudah sering melakukan hal ini. Tangan kanannya mulai lagi menggosok-gosok kemaluannya.

Aku benar-benar dibuat melayang tak berdaya, tiba-tiba dia berhenti dan bangun. Rupanya dia ingin melepas celana dalamnya yang kemungkinan mengganggu tanpa malu-malu. Dan kembali lagi mengulum penisku dan memainkan kemaluannya sendiri.

Setelah beberapa saat aku sudah mulai tidak kuat untuk menahan letupan kenikmatanku, Nuri lebih mempercepat mengocok, mengulum dan meremas penisku. Benar-benar nikmat sekali dan akhirnya aku tidak kuat menahan dan menyemburlah maniku di dalam mulut Nuri yang langsung ditelan dan dihisap Nuri dengan bersih.

Kemudian Nuri mulai mengubah posisinya tiduran diatas pahaku sambil tangannya memainkan kemaluannya sendiri. Tangan kiriku membantu meremas-remas payudaranya yang sudah tegak sekali dan saya yakin sangat bagus. Sekali-kali aku bungkukkan badanku untuk mencium susunya, sekali-kali aku juga menjilat kemaluannya walaupun agak susah sedikit menjangkaunya. Sebenarnya aku ingin sekali berlama-lama memainkan susu dan kemaluannya akan tetapi saat ini tidak memungkinkan karena aku harus mengemudi di kondisi jalan yang sangat macet. Tidak lama kemudian erangan dan desahan nafasnya tidak beraturan dan pinggulnya bergoyang tidak karuan, rupanya Nuri sudah mulai mencapai klimaksnya dengan memainkan klitorisnya sendiri. Dan beberapa saat kemudian tubuhnya kejang dan kaku sambil tangan kirinya memegang sendiri kepalanya.

“Mas Rudy sorry ya karena aku dari tadi sudah kepingin sekali main dengan Mas Rudy walupun kita baru saja ketemu” katanya

“Mas Rudy nggak marah kan?” tanyanya lagi

“Wah aku senang sekali, apalagi kalau kita bisa main di kamar bukan di dalam mobil” kataku

“Emang Mas Rudy ada waktu untuk Nuri” katanya

“Kenapa tidak, saya kan dalam rangka cuti” kataku

Kemudian dia mengambil HP-nya, ternyata menghubungi ke rumahnya.

“Ma, Kak Seno tidak jadi datang. Sekarang Nuri masih di bandara karena jalannya banjir” katanya

Nuri diam sesaat, mungkin dari seberang sedang bicara.

“OK deh Ma, Nuri tidur di Sheraton Hotel saja ya. Sambil besok sekalian jemput Kak Seno” katanya

Dan kemudian HP-nya ditutup.

“OK kita sekarang menuju ke Sheraton Bandara saja Kak” katanya

Kebetulan hotel Sheraton sudah dekat dan tidak susah untuk menuju ke sana hanya butuh waktu 15 menit di suasana macet seperti ini.

Sesampai di Lobby hotel ternyata nama Nuri sudah ada di bagian Reservasi, rupanya mamanya telah membookingkan dari rumah setelah Nuri sempat menelpon tadi. Nuri benar-benar tidak janggung untuk berdua masuk ke hotel denganku bahkan dia selalu memegang tanganku dan kadang mencium kecil pipiku. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan kunci dan Nuri hanya menyerahkan kartu kreditnya semua urusan lancar.

Karena tidak membawa tas yang besar maka kami tidak membutuhkan room boy untuk membantu membawa tas dan menunjukkan kamar. Kami segera menuju ke lift. Karena lokasi kamar kami hanya di lantai 3, maka di dalam lift Nuri hanya sempat sebentar menciumi bibirku dan meremas-remas penisku. Aku juga meremas-remas pantatnya yang menggairahkan.

Ketika masuk kamar, Nuri langsung menutup pintu dan segera menabrakku memberikan ciuman, akupun segera mengimbangi. Lidah kami saling bertautan, aku langsung saja membuka kaosnya dan meremas susunya yang dari tadi belum sempat aku lihat dengan jelas. Ketika aku mau mulai turun mencium susunya Nuri menghentikan ciumannya dan langsung mengajakku mandi terlebih dahulu.

“Mas kita mandi dulu yuk, biar lebih enak nanti” rajuknya.

Dibukanya semua bajunya, memang benar-benar Nuri mempunyai tubuh yang indah dan putih mulus. Sampai aku nggak tahan melihatnya dan langsung saja kucium pantatnya dari belakang dan sedikit gigitan kecil.

“Mas Rudy nakal sekali sih .. entar aja ya habis mandi” katanya lagi.

Kemudian dia membantu aku untuk melepas baju dan celana sehingga kami berdua sama-sama telanjang bulat. Nuri masih sempat juga sebentar meremas dan membelai penisku yang sudah mulai tegang lagi sambil membimbing aku menuju kamar mandi.

Kami berdua mandi di bawah shower, Nuri sangat sabar sekali menyeka seluruh tubuhku dengan sabun, apalagi penisku. Dia benar-benar menyabuni penisku dengan teliti dan dibilasnya seluruh badanku sambil salah satu tangannya mengelus-elus penisku yang berdiri tegak.

“Mas kenapa sih kok masih berdiri terus, sudah pingin ya “katanya, sambil dia sendiri mulai menyabuni dan membilas tubuhnya. Aku juga bantu sedikit untuk membantu menyabun sambil menggerayangi seluruh tubuhnya. Setelah dia membilas tubuhnya tangannya langsung memainkan kemaluannya lagi. Nuri memberikan tanda ke aku agar aku muncumbuinya.

Tanpa diberi komando yang kedua, aku angkat satu kakinya untuk bertumpu di dinding dan aku mulai menjilati kemaluan sebelah luarnya. Harum sekali baik bagian luar maupun bagian dalamnya, begitu juga kedua bagian dalam pahanya. Klitorisnya mulai aku cium, jilati dan hisap sambil memasukkan jari tengahku untuk merasakan dinding bagian dalam vaginanya. Hanya 3 menit aku mencumbui kemaluannya kemudian aku berdiri untuk melumat bibirnya dan tanganku meremas payudara dan sedikit memelintir pentilnya. Satu tanganku lagi meremas-remas pantatnya dan sekali-kali menelusuri lubang duburnya, kelihatan sekali Nuri sudah mulai terangsang lagi. Kemudian aku benamkan kepalaku menuju kedua susunya yang besar dan masih kencang itu, pentilnya masih berwarna merah muda. Aku cium, jilati dan hisap secara bergantian kedua susunya sambil tangan kananku memainkan lubang kemaluannya. Sekali aku gosok-gosok klitorisnya sampai dia agak menggelinjang.

“Aduh Mas enak sekali, gigit dong pentilku.. cepat Mas” katanya

Tangan kanannya meremas-remas rambutku sedangkan tangan kirinya sedikit mencengkeram punggungku.

“Mas enak Mas.. Mas enak sekali Mas.. terus Mas” desahnya

Setelah cukup lama kumainkan kedua susunya, aku mulai turun menciumi perut pinggang dan lama-lama turun ke arah kemaluannya.

Karena bercampur dengan air, vaginanya tampak sekali menggairahkan, kujilati dinding dalam vaginanya dan sedikit aku hisap. Lidahku berputar masuk sedalam mungkin sambil kugoyangkan kepalaku sehingga hidungku yang tepat diklitorisnya membantu lebih merangsang Nuri. Cairan mulai keluar dari dalam vagina Nuri membuat dia mendesah-desah.

Kemudian aku alihkan ciuman, jilatan dan hisapanku kearah klitorisnya sambil kepalaku bergoyang berputar. Jari tengah kananku masuk ke dalam kemaluannya mengacak-acak bagian dalam vaginanya.

“Est.. aduh.. sstt.. aduh” desahnya.

Membuat aku lebih bersemangat sambil tangan kanan meremas pantat dan sekali-kali pindah naik ke susunya.

Nuri mulai mengerang dan pinggulnya ikut digoyangkan memutar dan tidak lama kemudian pinggulnya maju mundur ditambah erangan yang tidak karuan.

“Mas.. Mas.. aku keluar Mas.. enak sekali Mas” katanya sambil kedua tangannya memegang kepalaku dan menekannya merapat kearah kemaluannya. Cairan yang keluar dari dalam kemaluannya aku telan dan hisap habis sambil terus memainkan klitorisnya.

Aku mengharapkan Nuri akan keluar untuk kedua kalinya, rupanya dia tahu keinginanku dan dia juga mulai membuka kembali kedua pahanya untuk aku nikmati. Sekarang hanya satu tangannya saja yang memegang kepalaku dan satu tangan lainnya membantu membuka kedua vaginanya agar terbuka lebar sehingga jilatan dan hisapanku bisa leluasa. Dan tidak lama kemudian Nuri mencapai puncaknya yang kedua berselang tidak begitu lama. Rupanya dia benar-benar sangat menikmati sekali permaianku di kemaluannya.

Kemudian Nuri menuntunku menuju bathtub, menyuruhku untuk naik dan duduk di pinggir bathtub tersebut. Dia langsung memegang dan mengocok penisku sambil membuka kedua kakiku agar dia bisa duduk dengan enak. Sambil mengocok penisku dijilati ujungnya dan kadang mengulum penisku bagian atas. Jilatan-jilatannya benar-benar enak sekali hingga menuju kedua telurku dan sekali-kali memasukkan kedua telurku ke mulutnya. Sedikit cairan sudah keluar dari penisku yang kemudian dia hisap dan telan.

“Mas Rudy penismu enak dan bagus sekali lho” katanya

Memang kata sebagian cewek yang pernah main dengan aku, ukuran penisku di atas rata-rata orang Indonesia.

Nuri mulai memasukkan penisku kemulutnya dan menggerakan keluar masuk ke dalam mulutnya. Kadang mengocok lagi dengan tangannya dan memasukkan lagi ke dalam mulutnya sambil satu tangannya secara bergantian memilin pentilku dan kadang memasukkan telunjuknya ke dalam mulutku. Tanganku yang awalnya hanya membelai kepalanya mulai aku arahkan untuk meremas susunya dan memilin pentilnya. Permainan mulut Nuri membuat penisku semakin berdenyut-denyut dan aku coba untuk menahan agar jangan sampai keluar dengan cara sekali-kali menahan agar Nuri berhenti sebentar. Walaupun kelihatannya Nuri tidak memberikan celah penisku lepas dari tangan ataupun mulutnya. Akhirnya aku benar-benar sudah tidak tahan lagi sehingga keluarlah maniku di dalam mulut Nuri, dia hisap semua maniku hingga habis sambil terus mengocok penisku dengan mengunakan mulutnya.

Kenikmatan kedua ini benar-benar sangat mengasyikkan berbeda ketika aku keluar sewaktu di mobil tadi.

Nuri kemudian naik di atas pangkuanku sambil menciumi mulutku.

“Mas enak ya? tanyanya

“Nanti malam kita harus lebih enak lagi ya Mas” katanya

Sambil pinggulnya bergoyang maju mundur dan terus menciumi aku.

Setelah puas kami menuju shower lagi untuk membilas dan membersihkan diri, sambil sekali-kali dia mencium bibirku. Tanganku juga tak lepas dari memegang pantatnya yang padat dan mulus sekali. Kemudian kita keluar dan Nuri menghanduki seluruh tubuhku baru kemudian dia mohon aku juga mengeringkan tubuhnya dengan handukku tadi. Nuri kemudian membuka lemari untuk mengambil piyama dan memakaikan ke tubuh dan tangannya yang nakal sekali-kali meremas penisku. Ketika piyama sudah diikat kepingangku kepalanya menerobos mengulum kembali sebentar penisku. Aku kemudian memakaikan piyama ke tubuh Nuri sambil meremas-remas pantatnya.

Aku mengambil sekaleng Bir dan menawari Nuri mau minum apa, ternyata dia minta sebotol air Aqua. Kemudian aku duduk menuju ke sofa, Nuri mengikutiku dan minta aku untuk memangkunya sambil tangannya merangkul belakang kepalaku dan menciumi mulutku lagi. Satu tangannya membimbing tanganku agar menuju kecelah pahanya sambil menonton acara televisi.

“Habis ini kita pesan makan dulu ya Mas, atau kita makan di bawah saja?” tanyanya

“Lebih baik kita makan di kamar saja Nur, aku pingin makan sambil telanjang dengan kamu” kataku

“Malam ini pokok aku adalah milik Mas, jadi Mas bisa membuat sesuka hati Mas” katanya

Nuri rupanya sangat setuju sekali dengan usulanku, kemudian dia berdiri mengambil daftar menu dan menelpon bagian room service.

Pembaca yang setia saya akhiri bagian pertama cerita ini, untuk kelanjutannya anda dapat membuka ke bagian kedua. Mudah-mudahan saya ada waktu karena saat membuat cerita ini aku sedang menunggu Dian. Dian adalah penjaga stand parfum di sebuah toko di daerah Bundaran HI yang sangat terkenal.

Setiap aku cuti memang aku habiskan untuk mencari cewek yang suka sama suka.

E N D

Tags : cerita sedap, melay boleh, cerita setengah baya, cerita 17tahun, artis bugil, koleksi foto bugil, cewek bugil, cewek cantik, cerita panas, cerita seks, cerita daun muda, tante girang, foto telanjang, gambar memek, video bokep, abg telanjang, cerita berahi, cerita ghairah, cerita dewasa, foto bugil, telanjang, artis telanjang, gambar bersetubuh

12
Jun
10

Ngentot koq Masih aja Pakek Kondom…

KLIK Pada Gambar Untuk Memperbesar

melay boleh, cerita setengah baya, cerita 17tahun, artis bugil, koleksi foto bugil, cewek bugil, cewek cantik, cerita panas, cerita seks, cerita daun muda, tante girang, foto telanjang, gambar memek, video bokep, abg telanjang, cerita berahi, cerita ghairah, cerita dewasa, foto bugil, telanjang, artis telanjang, gambar bersetubuh

melay boleh, cerita setengah baya, cerita 17tahun, artis bugil, koleksi foto bugil, cewek bugil, cewek cantik, cerita panas, cerita seks, cerita daun muda, tante girang, foto telanjang, gambar memek, video bokep, abg telanjang, cerita berahi, cerita ghairah, cerita dewasa, foto bugil, telanjang, artis telanjang, gambar bersetubuh

31
May
10

Gambar Fantasis Cewek Masturbasi sama Boneka

KLIK Pada Gambar Untuk Memperbesar

toket, melay boleh, cerita setengah baya, cerita 17tahun, artis bugil, koleksi foto bugil, cewek bugil, cewek cantik, cerita panas, cerita seks, cerita daun muda, tante girang, foto telanjang, gambar memek, video bokep, abg telanjang, cerita berahi, cerita ghairah, cerita dewasa, foto bugil, telanjang, artis telanjang, gambar bersetubuh

toket, melay boleh, cerita setengah baya, cerita 17tahun, artis bugil, koleksi foto bugil, cewek bugil, cewek cantik, cerita panas, cerita seks, cerita daun muda, tante girang, foto telanjang, gambar memek, video bokep, abg telanjang, cerita berahi, cerita ghairah, cerita dewasa, foto bugil, telanjang, artis telanjang, gambar bersetubuh

28
May
10

Pose Bugil Cewek Cantik Seksi

KLIK Pada Gambar Untuk Memperbesar

cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik, artis bugil, foto artis bugil, gadis bugil, indo bugil, jilbab bugil, photo bugil, abg bugil, foto cewek bugil, smp bugil, smu bugil, video bugil, gambar bersetubuh, gambar cewek bugil, memek bugil, bugil, bokep indonesia, jilbab ngentot, cerita dewasa, tante girang

cerita seks, cerita tante, video abg, amoy bugil, cewek cantik, artis bugil, foto artis bugil, gadis bugil, indo bugil, jilbab bugil, photo bugil, abg bugil, foto cewek bugil, smp bugil, smu bugil, video bugil, gambar bersetubuh, gambar cewek bugil, memek bugil, bugil, bokep indonesia, jilbab ngentot, cerita dewasa, tante girang

26
May
10

2 Dara Montok Narsis Foto Bugil

KLIK Pada Gambar Untuk Memperbesar

ABG 1

toket montok, cerita merangsang, bugil, artis telanjang, koleksi foto bugil, abg bugil, cewek 17 tahun,17 tahun forum,gadis 17 tahun,tante girang bugil,gadis telanjang bugil,gadis bugil abg,julia perez bugil,cewek montok bugil,dewi persik bugil,gadis bugil 3gp,cerita dewasa,gambar bersetubuh

ABG 2

toket montok, cerita merangsang, bugil, artis telanjang, koleksi foto bugil, abg bugil, cewek 17 tahun,17 tahun forum,gadis 17 tahun,tante girang bugil,gadis telanjang bugil,gadis bugil abg,julia perez bugil,cewek montok bugil,dewi persik bugil,gadis bugil 3gp,cerita dewasa,gambar bersetubuh

21
May
10

Cerita 17tahun – Service Plus SPG Susu

Pagi itu aku harus lebih bagi ke studio foto Maxi, salah satu studio foto terbesar di kotaku. Ada beberapa foto bencana alam yang harus kucetak untuk dikirim segera kepada Supri, kawan lamaku yang jadi agen berita luar negeri, berbasis di Jakarta. Sudah dua tahun ini, kujalani profesi fotografer freelance untuk Supri. Lumayan juga hasilnya, bisa buat nambah biaya hidupku yang selama ini hanya menggantung nasib sebagai tukang foto panggilan. Maklum peluang kerja dikotaku agak sulit, kendatipun aku sarjana pertanian dengan nilai yang tak jelek-jelek amat.

“Wah.. wah.. sialan, kok malah hujan.. numpang teduh ya Bu,” entah sial apa pagi itu, hujan mendadak turun tanpa mendung, aku pun terpaksa menghentikan laju sepeda motorku dan segera berteduh disebuah warung pinggir jalan.

“Ndak apa Dik, memang hujannya deras, kalau diteruskan nanti basah semua bajunya,” jawab pemilik warung, ibu berusia baya seumur ibuku.

“Saya pesan kopi susunya Bu, jangan banyak-banyak gulanya ya,” pintaku setelah mengambil duduk dalam warung itu. Sambil menunggu pesananku, kuamati kamera Nikon dalam tas cangklong, untung kamera itu tidak sampai terembes air.

Warung tempat kuberteduh terlihat sangat rapi dan bersih, walaupun ukurannya kecil. Sungguh, aku baru kali itu singgah disana, meskipun sehari-hari kerab melintasi jalan di depannya. Pagi itu, ada tiga orang yang turut berteduh sambil sarapan, kelihatannya mereka itu sopir dan kenek angkot yang pangkalannya tak seberapa jauh dari warung itu.

Belum lagi kopi susu yang kupesan tiba dihadapanku, kulihat dua wanita muda masuk ke warung.

“Uhh, gila hujannya ya Fin.., untung sudah sampai sini,” kata yang berbadan agak gemuk pada temanya yang lebih langsing. Dari penampilan mereka aku bisa menebak kalau mereka adalah sales promotion girl (SPG), dibelakang baju kaos yang mereka pakai ada sablonan bertulis Susu Siip (sengaja disamarkan), produk susu baru buatan lokal. Keduanya langsung duduk dibangku panjang tepat di depanku.

“Ini Dik kopi susunya, apa nggak sekalian pesan sarapan Dik?” ibu pemilik warung membawakan pesananku.

“Makasih Bu, ini saja cukup. Saya sudah sarapan kok,” jawabku, Ibu itu pun berlalu, setelah sempat menawarkan menu pada dua wanita muda dihadapanku.

“Hm maaf Mas, apa tidak mau coba susu kami?” sebuah suara wanita mengejutkan aku. Hampir saja aku tersedak kopi yang sedang kuseruput dari cangkirnya, sebagian kopi malah tumpah mengotori lengan bajuku.

“Duh maaf, kaget ya Mas. Tuh jadi kotor bajunya,” wanita yang agak gemuk menyodorkan tisue kepadaku.

“Ohh, nggak apa Mbak, makasih ya,” kuterima tisue pemberiannya dan membersihkan lengan bajuku.

“Maaf, susu apa maksud Mbak?” aku bertanya.

“Hik.. Hik.. Mas ini rupanya kaget dengar susu kita Fin,” canda sigemuk, si langsing tersenyum saja.

“Ini loh Mas, susu siip. Susu baru buatan lokal tapi oke punya. Harganya murah kok, masih promosi Mas, ada hadiahnya kalau beli banyak,” si langsing menjelaskan, ia juga menerangkan harga dan hadiahnya.

Sebenarnya aku ingin lebih lama diwarung itu supaya bisa lebih lama bersama dua wanita SPG susu itu, tapi nampaknya hujan sudah mulai berhenti dan aku harus melanjutkan perjalanan karena waktunya sudah mepet untuk aku mengirim foto kepada Supri.

“Saya tertarik Mbak, tapi kayaknya saya harus lanjutkan perjalanan nih, tuh hujannya sudah berhenti. Emm, gimana kalau saya kasih alamat saya, ini kartu nama saya dan kalau boleh Mbak berdua tulis namanya disini ya,” kusodorkan selembar kartu namaku sekaligus meminta mereka menulis namanya dibuku saku yang kubawa.

“Oh Mas Henky to namanya. Pulang kerjanya jam berapa Mas biar bisa ketemu nanti kalau kami kerumahnya,” si gemuk yang ternyata bernama Lina bertanya sambil senyum-senyum padaku.

“Jam empat sore juga saya sudah dirumah kok. Mbak Lina dan Mbak Wati boleh kesana sekitar jam itu, saya tunggu ya,” jawabku. Wati yang langsing juga tersenyum.

Aku kemudian membayar kopi susu pesananku dan meninggalkan warung, untuk segera ke studio foto Maxi. Untung aku belum terlambat mengirim foto-foto pesanan Supri itu.

*****

Jam 1 siang aku sudah selesai mengirim foto pesanan Supri, dan sudah bisa santai dirumah kontrakanku yang agak jauh dari kota. Oh ya pembaca, umurku saat itu sudah menginjak 28 tahun, aku coba mandiri merantau dikota ini setelah menyelesaikan kuliahku yang juga dikota ini. Soalnya kalau kembali ke kampung, mungkin aku hanya jadi petani, membantu bapak dan ibuku menggarap sawah mereka.

Kuputar lagu-lagu melankolisnya Katon Bagaskara di VCD Player sambil kunikmati berbaring dikasur tanpa dipan kamarku. Foto Anis kupandangi, pacarku itu sudah tiga minggu ini pindah ke Irian Jaya, bersama pindah tugas bapaknya yang tentara. Kayaknya sulit melanjutkan tali kasih kami, apalagi jarak kami sekarang jauh. Dan sepertinya ini takdirku, berkali-kali gagal kawin gara-gara terpisah tiba-tiba, jadi jomblo sampai umur segitu.

Membayangkan kenangan manis bersama Anis, aku akhirnya lelap tertidur ditemani tembang manis Katon. Sampai akhirnya gedoran pintu kontrakan membangunkanku. Astaga sudah jam setengah 5 sore, aku segera membukakan pintu utama kontrakanku untuk melihat siapa yang datang.

“Sore Mas.., duh baru bangun ya? Maaf ya mengganggu lagi,” ternyata yang datang Lina dan Wati, SPG Susu yang kujumpai pagi tadi.

“Oh Mbak Lina dan Mbak Wati.., saya pikir nggak jadi datang. Silahkan masuk yuk, saya basuh muka sebentar ya,” kupersilahkan mereka masuk dan aku kekamar mandi membasuh mukaku.

Sore itu Lina dan Wati tidak lagi menggunakan seragam SPG, mereka pakai casual. Lina walau agak gendut jadi terlihat seksi mengenakan jeans ketat dipadu kaos merah ketat pula, sedangkan Wati yang langsing semakin asyik pakai rok span mini dipadu kaos kuning ketat.

*****

Rumah kontrakanku type 21, jadi hanya ada ruang tamu dan kamar tidur yang ukurannya kecil-kecil juga, selebihnya dapur dan kamar mandi juga sangat mini dibagian belakang. Setelah basuh muka, aku menemani mereka diruang tamu, tempat duduknya pun kursi bambu.

“Wah ternyata Mas Hengky ini tukang foto ya, boleh dong kapan-kapan kita difoto Mas?” Lina buka bicara saat aku duduk bersama mereka.

“Tentu boleh, kapan Mbak mau datang aja kesini,” jawabku.

Selanjutnya kami kembali bicara masalah produk susu yang mereka pasarkan. Bergantian bicara, Lina dan Wati menjelaskan kalau susu yang mereka jual ada beberapa macam dengan kegunaan yang beragam. Ada susu untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak usia sekolah, balita, bayi, orangtua, pertumbuhan remaja, sampai susu greng untuk menambah vitalitas pria. Nah, untuk susu penambah vitalitas pria itu, bicara mereka sudah berani agak porno dan mesum, membuat aku blingsatan mendengarnya.

“Hmm, boleh-boleh.. Saya ambil susu grengnya dua pak, nanti kalau bagus saya tambah lagi lain kali,” aku memotong bicara mereka yang semakin ngawur.

“Nah gitu dong Mas, biar istri Mas senang kalau suaminya greng,” Wati kembali bercanda.

“Duh.. Mbak, saya belum kawin nih. Maksud saya susu greng itu saya pakai buat kerja, supaya tetap fit kalau kerja,” kataku. Jawabanku itu membuat mereka saling pandang, lalu keduanya tertawa sendiri.

“Wah kita kira Mas sudah punya istri, ternyata masih bujang. Kok ganteng-ganteng belum laku sih?” Lina menggoda.

Suasana terasa langsung akrab bersama dua SPG susu itu. Mereka pun menceritakan latar belakang mereka tanpa malu kepadaku. Lina, wanita berumur 26 tahun, dulunya karyawati sebuah bank, lalu berhenti karena dinikahi rekan sekerjanya. Tapi kini dia janda tanpa anak sejak suaminya sakit dan meninggal, tiga tahun lalu. Sedangkan Wati, bernasib sama. Wanita 24 tahun itu, pernah menikah dengan lelaki sekampungnya, tetapi kemudian jadi janda gantung sejak suaminya jadi TKI dan tak ada kabarnya sejak 4 tahun lalu. Keduanya terpaksa menjadi SPG untuk menghidupi diri.

“Kami malu Mas, sudah kawin masih bergantung pada orangtua, makanya kami kerja begini,” kata Wati.

“Kalau Mas mau, gimana kalau saya seduhkan susu greng itu. Sekedar coba Mas, siapa tahu Mas jadi pingin beli lebih banyak?” Lina menawarkanku setelah obrolan kami semakin akrab.

Belum sempat kujawab dia sudah bangkit dan menanyakan dimana letak dapur, ia pun menyeduhkan secangkir susu greng buatku. Susu buatan Lina itu kucicipi, lalu kuteguk habis, kemudian kembali ngobrol dengan mereka. Saat itu jam menunjuk angka tujuh malam. Lima belas menit setelah meneguk susu buatan Lina, aku merasakan dadaku bergemuruh dan panas sekujur tubuh, agak pusing juga.

“Ohh.. Kok saya pusing jadinya Mbak? Kenapa ya? Ahh..,” aku meremasi rambutku sambil bersandar di kursi bambu.

“Agak pusing ya Mas, itu memang reaksinya kalau pertama minum Mas. Mana coba saya pijitin lehernya,” Wati pindah duduk kesampingku sambil memijiti tengkuk leherku, agak enakan rasanya setelah jemari lentik Wati memijatiku.

“Nah, biar lebih cepat sembuh saya juga bantu pijit ya,” Lina pun bangkit dan duduk disampingku, posisiku jadi berada ditengah keduanya. Tapi, astaga, Lina bukannya memijit leherku malah menjamah celana depanku dan memijiti penisku yang mendadak tegang dibalik celana.

“Ahh Mbaak.., mmfphh.. Ehmm,” belum selesai kalimat dari bibirku, bibir Wati segera menyumpal dan melumat bibirku. Gila pikirku, aku hendak menahan aksi mereka tapi aku pun terlanjur menikmati, apalagi reaksi susu sip yang kuteguk memang mujarab, birahiku langsung naik. Akhirnya kubalas kuluman bibir Wati, kusedot bibir tipisnya yang mirip Enno Lerian itu.

“Waduh.., gede juga Hengky juniornya Mas,” ucapan Lina kudengar tanpa melihatnya karena wajah Wati yang berpagutan denganku menutupi. Tapi aku tahu kalau saat itu Lina sudah membuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku yang tegang dari celana. Sesaat setelah itu, kurasakan benda kenyal dan basah melumuri penisku, rupanya Lina menjilati penisku.

“Ahh.., tidak Mbak.., jangan Mbak,” kudorong tubuh Wati dan Lina, aku jadi panik kalau sampai ada warga yang melihat adegan kami.

“Ayolah Mas.. Kan sudah tanggung. Nanti pusing lagi loh,” Lina seperti tak puas, Wati pun menimpali.

“Maksud saya jangan kita lakukan disini, takut kalau ketahuan Pak RT. Kita pindah kekamar aja yah,” aku mengajak keduanya pindah ke kamar tidurku, setelah mengunci pintu utama kontrakanku.

Sampai di kamarku, bagaikan balita yang akan dimandikan ibunya, pakaianku segera dilucuti dua SPG itu, dan mereka pun melepasi seluruh pakaiannya. Wah tubuh mereka nampak masih terawat, mungkin karena lama menjanda. Sebelum melanjutkan permainan tadi, kuputar lagi lagu Katon Bagaskara dengan volume agak keras supaya suara kami tak terdengar keluar.

Setelah itu, aku rebah dikasurku dan Lina segera mengulangi aksinya menjilati, menghisap penisku yang semakin mengeras. Lina bagaikan serigala lapar yang mendapatkan daging kambing kesukaannya. Sedangkan Wati berbaring disisiku dan kami kembali berpagutan bibir, bermain lidah dalam kecupan hangat. Dalam posisi itu tanganku mulai aktif meraba-raba susu Wati disampingku, kenyal dan hangat sekali susu itu, lebih sip sari susu sip yang mereka jual kepadaku.

“Oh Mas, saya sudah nggak tahan Mas,” Lina mengeluh dan melepaskan kulumannya dipenisku.

“Ayo Lin, kamu duluan.. Tapi cepat yahh,” Wati menyuruh Lina. Wanita bertubuh agak gemuk itu segera menunggangiku, menempatkan vagina basahnya diujung penisku Lina berposisi jongkok dan bless, penisku menembusi vaginanya.

“Ohh.. Aaauhh.. Mass hengg,” Lina meracau sambil menggenjot pinggulnya naik turun dengan posisi jongkok diatasku. Kurasakan nikmatnya vagina Lina, apalagi lemak pahanya ikut menjepit di penisku.

Wati yang turut terbakar birahinya segera menumpangi wajahku dengan posisi jongkok juga, bibir vaginanya tepat berada dihadapan bibirku langsung kusambut dengan jilatan lidah dan isapan kecil. Posisi mereka yang berhadapan diatas tubuhku memudahkan keduanya saling pagut bibir, sambil pinggulnya memutar, naik turun, menekan, diwajah dan penisku.

Lima belas menit setelah itu, Lina mempercepat gerakannya dan erangannya pun semakin erotis terdengar.

“Ahh Mass.., sayaa kliimmaakss.. Ohh ammphhuunnhh,” Lina mengejang diatasku, lalu ambruk berbaring disamping kananku. Melihat Lina KO, Wati kemudian turun dari wajahku dan segera mengambil posisi Lina, dia mau juga memasukkan penisku ke memeknya.

“Ehh tunnggu Mbak Wati, tunggu,” kuhentikan Wati.

Aku bangkit dan memeluknya lalu membaringkannya dikasur, sehingga akulah yang kini diatas tubuhnya.

“Mass.. Aku pingin seperti Lina Masshh.. Puasian aku ya.. Meemmppffhh.. Ouhh Mass,” Wati tersengal-sengal kuserang cumbuan, sementara penis tegangku sudah amblas dimekinya.

“Ohh enakhhnya memekmu Watthh.. Enakhh ughh,”

“Engh.. Genjot yang kerass Mass, koontollmu juga ennahhkk.. Ohh Mass,” Wati dan aku memanjat tebing kenikmatan kami hingga dua puluh menit, sampai akhirnya Wati pun mengejang dalam tindihanku.

“Amphhunn Mass.. Ohh nikhhmatt bangghett Masshh..,” Wati mengecup dadaku dan mencakar punggungku menahan kenikmatan yang asyik.

“Iyah Watt.. Inii untukkhhmuhh.. Ohh.. Oohh,” aku pun menumpahkan berliter spermaku ke dalam vagina Wati.

Setelah sama-sama puas, dua SPG susu itu pun berlalu dari rumahku, kutambahkan dua lembar ratusan ribu untuk mereka. Aku pun kembali tidur dan menghayalkan kenikmatan tadi.

E N D

Tags : indo hot, toket, melay boleh, cerita setengah baya, cerita 17tahun, artis bugil, koleksi foto bugil, cewek bugil, cewek cantik, cerita panas, cerita seks, cerita daun muda, tante girang, foto telanjang, gambar memek, video bokep, abg telanjang, cerita berahi, cerita ghairah, cerita dewasa, foto bugil, telanjang, artis telanjang, gambar bersetubuh

19
May
10

Cerita 17tahun – Si Perjaka Windhu

“Prologue”

“Heehh..!” Windu menghela nafas panjang. Gontai melangkah menelusuri trotoar sepanjang jalan By-pass di depan Jayabaya. Langit bertambah gelap, yang tersisa hanya guratan jingga di ufuk barat.

“Belum pernah beginian yah..? Wah, masih perjaka doong..? Tenang mas, pelan-pelan saja.. Jangan gugup gitu ahh..” masih teringat kata-kata wanita di panti pijat tadi, dengan senyum yang menggoda tapi ditafsirkannya sebagai sindiran.

“Hei, cowok..!” Windu terkejut mencari sumber suara yang terdengar aneh itu. Sesosok tubuh tinggi semampai sedang berdiri di dekat halte sambil tersenyum padanya.

“Ditemenin yuk..!” sosok tinggi bak peragawati itu mengedipkan mata.

“Bangsat! Bencong!” makinya.

“Heii.. cakep.. ayoo doong.. Suka nyepong kan?”

Windu mempercepat langkahnya sambil terus memaki dalam hati. Suara aneh itu masih terus memanggil. Kini ia mulai tertawa terbahak-bahak. Tawa yang juga ditafsirkannya sebagai ledekan atas apa yang baru saja dilakukannya. Lari! Ia lari meninggalkan seorang wanita pemijat yang sedang tergolek telanjang bulat di atas dipan di sebuah panti pijat di kawasan Jakarta Timur.

Peristiwa itu berulang kembali di benaknya, bak film-film BF yang bosan ditontonnya.

Episode 1: Malam Keparat

“Malam pak.. Belum pernah ke sini yah?” resepsionis di panti pijat itu tersenyum pada Windu yang masih agak kikuk. Mau keluar, malu. Sudah terlanjur ada di dalam.

“AC atau biasa?” wanita setengah baya itu kembali bertanya.

“Ehmm.. AC boleh..” Windu memberat-beratkan suaranya agar terdengar berwibawa. Tapi yang keluar justru suara gemetar.

“Silakan pak..” si resepsionis itu berjalan ke arah dalam ruangan, Windu mengikuti dari belakang, menelusuri lorong yang diterangi lampu temaram. Kiri kanan terlihat kamar-kamar yang hanya ditutupi selembar hordeng yang warnanya tidak jelas. Di depan sejumlah kamar ada sepasang selop menggeletak.

Mereka sampai di ujung lorong. Di sebelah kanan ada tangga kayu yang menuju ke atas, sementara di dekat anak tangga, sejumlah wanita dengan dandanan menor sedang duduk sambil ngobrol. Obrolan mereka terhenti saat Windu dan si resepsionis melewati mereka dan berbelok menaiki tangga kayu.

“Wi.. buat aku doong!” beberapa di antara mereka menegur si resepsionis yang ternyata bernama Dewi. Windu hanya tersenyum kaku sambil terus naik ke atas tangga, berbelok ke kiri menuju deretan kamar berpintu. Dewi, si resepsionis membuka salah satu pintu, menyalakan lampu dan AC yang bunyinya sudah seperti mesin diesel. Windu berdiri kikuk di depan pintu.

“Sempat lihat yang duduk-duduk tadi, pak? Mungkin ada yang ditaksir, atau mau saya pilihkan saja?” tawar Dewi.

Dewi mendekati ujung tangga, matanya melirik ke bawah lalu melihat ke arah Windu.

“Itu Wiwit, anak Malang. Baru sebulan di sini. Kalau yang lagi merokok itu sudah senior. Namanya Nani. Pijitannya terkenal enak. Kalau mau servis ekstra langsung ke mereka. Bisa tawar-tawaran kok, pak..! Nah, yang itu, Titi, anak Sukabumi.. Kalau untuk servis ekstra, Titi ini jagonya. Pijatannya juga oke punya.” Dewi nyerocos mempromosikan wanita-wanita yang sedang ngobrol di bawah.

“Yang bagus deh.. ” Windu berucap pelan.

“Kalau begitu, bapak masuk dulu, rileks saja, nanti saya suruh si.. emm.. bagaimana kalau Titi. Dijamin oke. Kalau tidak puas, jangan kesini lagi deh pak!” si resepsionis tersenyum sambil menuruni tangga.

Windu masuk ke kamar berukuran sekitar 2×3 meter itu lalu duduk di atas tempat tidur. Dadanya berdetak keras. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Kacamata minusnya mulai berembun. Hembusan AC tidak mampu mengusir kegelisahannya.

Episode 2: Si Mungil

“Malam, oom!” sosok mungil berambut pendek itu sudah berdiri di depan pintu, mengejutkan Windu yang masih berusaha menenangkan diri.

“Panggil saya Titi. Oom siapa..?” si tubuh mungil itu melangkah dan duduk di kursi depan tempat tidur. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu meraih asbak dari bawah kursi.

“Ehmm.. Win.. eh, Wawan..!” jawab Windu.

Windu terkesima melihat tubuh mungil yang duduk di depannya itu. Dari wajahnya, Windu menaksir usianya yang paling baru sekitar 18-an.

“Mau langsung pijit..? Atau mau ngobrol dulu, atau mau yang lain, terserah si oom deh!” si mungil itu mulai menyalakan rokok Sampurna hijaunya.

Ia menghembuskan asap rokok ke arah Windu sambil menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya. Paha putih mulusnya tersembul dari balik rok pendek warna coklat yang dipakainya.

“Langsung boleh!” Windu berusaha mengendalikan kegelisahannya.

“Oke! Bajunya lepas doong!” si mungil mematikan rokok di asbak, melepas blus coklatnya dan mengantungkannya di belakang pintu. Gerendel di pintu dipasangnya lalu ia melangkah ke arah washtafel dan mulai mencuci tangan.

Dada Windu tambah berdebar tidak menentu. Saat seperti itu akhirnya tiba juga. Akhirnya ia akan merasakan tubuh seorang wanita yang selama ini cuma bisa dilihatnya di film-film sambil ngeloco alias bermasturbasi. Tapi lama-lama ia penasaran juga. Dari mailing list di internet, Windu mendapatkan alamat beberapa tempat di mana ia bisa melepaskan kelajangannya. Dari mailing list itu juga ia tahu soal tarif dan tempat yang paling bagus. Setelah berkali-kali berpikir panjang, dengan bermodalkan uang satu juta kiriman ayahnya yang tuan tanah di kampung, kali ini Windu memberanikan dirinya. Alasannya akan dipakai les komputer. Akhirnya ia memberanikan diri untuk datang ke salah satu tempat yang direkomendasikan seorang pengirim mailing list. Dan kini ia tengah berada di hadapan seorang wanita mungil, menggunakan rok pendek dan baju tanpa lengan, tipis berwarna putih. Sayup di balik baju tipis itu ia melihat dua titik hitam berseberangan.

“Bangsat! Si mungil ternyata tidak pakai BH.” dalam hati.

Debaran di dada Windu semakin tidak menentu. Ia melepas kemeja dan celana panjangnya, lalu duduk di pinggir tempat tidur dengan hanya bercelana pendek sambil berusaha mengatur dirinya agar tidak nampak grogi. Si mungil mengambil lotion di rak sebelah atas washtafel lalu berbalik ke arah Windu.

“Baru pertama kali yah, Oom..! Tenang aja deh.. Engga usah grogi gitu..!” si mungil tersenyum.

“Asu! Ketahuan juga!” Windu mengumpat dalam hati.

Ia tidak ingat lagi apakah ia mulai terangsang atau tidak. Yang dipikirkannya cuma bagaimana ia menguasai diri. Dalam hitungan sepersekian detik, wajah ibunya di kampung berkelebat di kepalanya. Ibu yang rajin menasehati untuk rajin belajar, rajin sholat dan jauhi berzinah.

“Ah, persetan..! persetan!” dalam hati Windu.

Windu berbaring menelungkup di ranjang berlapis seprei putih yang masih bau pewangi. Kepalanya ditelungkupkan di atas bantal, sambil terus berusaha menahan debaran jantungnya yang tambah tidak menentu. Apalagi saat sepasang tangan halus mulai menyentuh punggungnya dan mulai memijat perlahan.

“Wah, si Oom tegang bener.. Tenang Oom.. Habis dipijat, dijamin tegangnya hilang. Paling jadi tegang yang lain..” si mungil mulai nakal dengan ucapannya, sambil memperkeras pijatannya di punggung Windu. Sesekali ia menambahkan lotion.

“Wah, hebat juga si mungil ini..” Windu mulai bisa menikmati pijatan di punggungnya. Suasana ruangan senyap. Yang terdengar hanya deruman AC dan derikan tempat tidur. Sesekali si mungil nyeletuk dengan kata-kata nakalnya.

“Celananya, Titi lepas yah mas.. Nanti kotor lho kena lotion!”

“Mas.. ia memanggil mas..!” dalam hati Windu.

Entah mengapa panggilan “mas” itu membuatnya terangsang. Perlahan si mungil menarik turun celana pendek yang dipakai Windu.

“Pinggulnya angkat dulu dong, mas..! Ihh males nih!” ia merasakan pantatnya dicubit.

Windu menurut. Isi kepalanya sudah penuh dengan berbagai pikiran yang paling jorok. Celana pendeknya tersangkut sesuatu benda kenyal yang mulai menegang. Dengan sekali sentak, si mungil akhirnya berhasil melepasnya dan melemparkan celana itu ke kursi.

“Nah, kan begini lebih enak.. Iiihh pantatnya bohay juga!” si mungil menepuk pantat Windu.

Dengan santai si mungil naik ke ranjang dan duduk di atas pantat Windu dan melanjutkan memijat. Beberapa tetes keringat jatuh di punggungnya. Dadanya kembali berdebar keras saat pantatnya merasakan gesekan sesuatu benda kasar di selangkangan si mungil.

“Kapan dia buka celana dalamnya?” Windu yakin si mungil tak bercelana dalam.

Gesekan itu terus bergerak turun hingga ke paha, saat si mungil bergerak. Windu merasakan batang kemaluannya menegang keras. Tidak terasa sudah setengah jam lebih pijatan itu berlangsung dari punggung sampai ke kaki.

“Mas kok diam aja sih.. Engga enak yah pijatan Titi?” si mungil berbisik menunduk dan berbisik di telinga Windu. Sepasang benda kenyal menempel di punggungnya.

“Enak.. enak kok..! Lagi nikmatin aja..!” Windu menjawab sekenanya.

“Mau yang lebih enak? Tapi kena bayar ekstra lho..” tiba-tiba tangan mungil itu sudah menelusup di antara selangkangan Windu dan menyambar batang kemaluan Windu yang sudah sangat menegang. Tanpa menunggu jawaban Windu, tangan yang masih belepotan lotion itu mulai mengurut batang kemaluan Windu yang terjepit himpitan tubuhnya. Windu mengangkat pinggulnya agar si mungil lebih leluasa mengurut benda keramat itu.

“Mau yah, mas.. dijamin deh..”

Dada Windu kembali berdebar tidak menentu. Tangan kanan si mungil terus mengurut sementara tangan kirinya mulai membuka belahan pantat Windu. Dan tiba-tiba jempol kiri si mungil mulai mendesak masuk ke lubang pantat, sementara tangan kanannya bertambah keras meremas dan memijat batang kemaluan Windu yang sudah tidak menentu kerasnya. Rasanya luar biasa. Baru kali ini batang kemaluan itu merasakan sentuhan tangan lain, selain tangannya. Ia merasa di awang-awang. Sesuatu mulai terasa mendesak ingin keluar dari dalam dirinya.

“Pegel ah Mas tangan Titi.. Sini balik badannya..”

Windu menurut. Ia membalikkan badan dan telentang di atas ranjang. Tubuh kedua orang itu bermandikan keringat. Dengan sigap si mungil kini duduk di atas perut Windu lalu mulai menunduk menciumi dadanya yang bidang.

“Mas badannya bagus.. Titi jadi terangsang nih!” si mungil mulai mendesah.

Gesekan aneh itu kini terasa di perut dan mulai menurun ke arah bawah, semakin ke bawah, terus. Windu menahan nafas. Debaran di dadanya kini terasa sangat cepat, apalagi saat ia merasakan gesekan kasar bercampur cairan hangat di batang kemaluannya. Akhirnya saat itu tiba juga. Nafsunya bercampur rasa gugup. Mukanya memerah. Si mungil menghentikan gerakan pinggulnya dan menatap wajah Windu.

“Mas belum pernah beginian yah..? Wah, masih perjaka doong..? Tenang mas, pelan-pelan saja.. Jangan gugup gitu ahh..” si mungil tersenyum.

Perlahan ia bangkit dari tempat tidur lalu mengambil sesuatu dari tasnya.

“Pertama, kita pakai ini dulu. Biar aman..!” dengan cekatan, si mungil menyobek bungkusan kecil itu dan mengeluarkan sebuah benda berwarna merah jambu dari dalamnya. Kondom!

“Sini Titi pasangin yah mas” dimasukkannya kondom yang masih tergulung itu di mulutnya dan langsung berjongkok di pinggir tempat tidur.

Ia melirik sejenak, tersenyum, lalu langsung memasukkan mulutnya ke batang kemaluan Windu dan mengulumnya.

“Ah!” sejenak Windu terpekik merasakan kehangatan mulut si mungil di batang kemaluannya, apalagi saat mulut itu mulai mengulum.

Terasa batang kemaluannya mulai terjepit oleh benda aneh yang terasa pas sekali. Si mungil masih meneruskan mengulum dan ketika ia mencabut kulumannya, batang kemaluan besar Windu sudah terbungkus kondom.

“Seperti inikah rasanya menggunakan kondom?” dalam hati Windu.

Ia memegang batang kemaluannya yang nampak aneh terbungkus karet berwarna pink itu.

“Eit.. jangan dipegang dong. Inikan urusan Titi..! Mas Wawan rileks aja..”

Si mungil kini menanggalkan baju putih tipisnya, lalu roknya. Di hadapan Windu kini berdiri sesosok tubuh telanjang. Payudara si mungil ternyata tak semungil tubuhnya. Kedua benda bulat itu benar-benar ekstra besar dan menggantung. Jantungnya terasa mau copot melihat pemandangan indah itu. Tubuhnya terbujur kaku, batang kemaluannya yang terbungkus karet berdenyut-denyut tidak menentu. Si mungil kembali naik ke tempat tidur. Ia duduk di atas dada Windu sedemikian rupa sehingga di hadapannya kini terpampang jelas rimbunan hitam yang terbelah di tengahnya menampakkan sebentuk daging berwarna kemerahan. Benda itu memancarkan bau aneh yang sangat merangsang. Si mungil memasukkan jarinya ke sela-selau benda itu, menggosok-gosoknya sambil mengerang pelan. Perasaan Windu campur aduk. Benda yang selama ini cuma dilihatnya dari majalah dan video porno sekarang terpampang jelas hanya beberapa senti meter dari mukanya yang bertambah merah.

Si mungil mulai bergerak turun sambil membungkuk menciumi telinga, leher, dada, terus ke perut Windu. Payudaranya berayun-ayun mengikuti gerakan tubuhnya. Windu menahan nafas menanti detik-detik di saat akhirnya benda itu akan tiba di tujuan. Tubuh mungil itu kini duduk mengangkang di antara pinggul Windu.

“Oke, mas.. rileks aja.. Kita mulai yah..” pinggulnya digerak-gerakkan dan sesekali menyentuh batang kemaluan Windu yang sangat mengeras.

Ia mulai menurunkan pinggulnya ke bawah mencari batang kemaluan Windu dan siap menelannya. Begitu dirasakannya sudah berada di posisi yang pas, si mungil menekan pinggulnya ke bawah dengan keras. Windu menahan nafas. Wajah ibunya yang selalu penuh nasehat berkelebat di kepalanya lalu berganti dengan wajah ayahnya yang berhasil ditipu untuk mengirimkan uang dengan alasan les komputer, lalu berganti lagi dengan wajah nakal si mungil.

“Ahh!” batang kemaluan Windu melejit ke arah samping, lolos dari terkaman mulut bagian bawah si mungil. Kembali ia bangkit, tangannya mencari-cari batang kemaluan Windu di bawah selangkangannya, menegakkannya sehingga pas berada di liang kewanitaannya. Ia melirik sebentar ke arah Windu yang nampak sangat tegang, tersenyum nakal, dan kembali menekan pinggulnya.

“Mmhh.. ahh!! Bandel nih..!!” batang kemaluan Windu kembali melejit ke samping.

Kelebatan wajah ibu dan ayahnya kembali muncul. Windu memejamkan mata berusaha mengusir wajah kedua orang itu. Si mungil meraih lagi batang kemaluan Windu dan mengarahkannya di posisi yang pas dan kembali menekan pinggulnya.

“Lho, kok mulai kendor..! Jangan tegang dong, mas.. Santai aja.” Windu tidak tahu harus berkata apa.

Dalam hitungan detik saja ia mendapati batang kemaluannya sudah melemas. Wajah Windu pucat pasi.

“Emm, aku mau ke kamar mandi sebentar..!” Windu menggeser tubuh telanjangnya sehingga mau tak mau si mungil bergerak ke samping membiarkan Windu bangkit dari tempat tidur. “Jangan lama-lama yah.. Tenang saja, mas.. masih banyak waktu.” mata si mungil mengikuti tubuh telanjang Windu yang bergerak gontai ke arah kamar mandi.

Rasa simpatinya mulai muncul melihat Windu yang serba kikuk. Belum pernah ia menemui pelanggan yang seperti ini.

Di kamar mandi, Windu terduduk di atas kloset. Kondom yang dipakainya terjatuh ke lantai kamar mandi, karena batang kemaluan yang sudah kembali menciut. Dicobanya meremas-remas, tetapi tidak ada pengaruhnya. Benda itu malah tambah menciut. Windu terduduk lemas dengan wajah pucat pasi. Tidak dihiraukannya suara panggilan si mungil dari dalam kamar.

“Kenapa aku?” dibenaknya mengalir seribu tanya.

Ia keluar dari kamar mandi, dan mendapati si mungil masih tergeletak telanjang bulat di atas tempat tidur. Secepatnya ia meraih semua pakaian dan mengenakannya kembali. Tak dihiraukannya serbuan pertanyaan si mungil. Windu cuma ingin keluar secepatnya dari tempat itu. Di depan, kembali ia bertemu dengan Dewi si resepsionis.

“Sudah, pak..?” pertanyaan Dewi tidak digubris. Dikeluarkannya uang satu juta keparat itu dari kantongnya lalu diserahkan kepada Dewi, dan secepatnya keluar.

Beberapa orang yang sedang duduk di ruang tamu dibuat terheran-heran. Ada yang berbisik-bisik sambil tertawa. Semuanya tak digubrisnya. Ia terus berjalan dan berjalan menjauh dari rumah keparat itu.

“Kenapa?” pertanyaan itu terus mengalir tidak henti-henti di kepalanya.

Ia berjalan secepat mungkin, setengah berlari, sampai akhirnya lelah sendiri. Lampu-lampu jalanan sepanjang Bypass mulai menyala seolah menyoroti dirinya. Windu menunduk. Ia berjalan gontai. Berjalan dan terus berjalan.

Epilogue: Bangsaatt!

Dengan tubuh penuh keringat, Windu memasuki kamar kosnya. Tak dihiraukan panggilan teman-temannya yang sedang nongkrong di warung indomie depan kos-kosannya. Ia cuma ingin sendiri.

“Kenapa..?” pertanyaan itu terus menembaki kepalanya sampai pusing.

Ia melepas seluruh pakaiannya dan memandangi batang kemaluannya. Ia terduduk di pinggir tempat tidurnya yang penuh dengan majalah porno. Pelan-pelan ia mulai meremas benda kecil itu. Pikirannya melayang ke si mungil yang mungkin masih tidur telanjang di panti pijat tadi. Dibayangkannya payudara yang berayun-ayun di depan matanya, belahan liang kewanitaannya yang kemerahan dan basah, desahan nafasnya, tetesan keringat di dadanya. Windu meremas dan mengocok, tidak dirasakannya batang kemaluan keparat itu sudah menegang sekeras-kerasnya.

Yang ada di kepalanya hanya si mungil yang telanjang bulat, di sela-sela pertanyaan mengapa yang terus memenuhi kepalanya.

Ia terus meremas, mengocok, meremas. Sesuatu terasa mendesak keluar dari dalam tubuhnya. Nafasnya mendesah. Windu terus mengocok dan meremas sekuat tenaga. Semakin cepat, semakin keras. Terus mengocok dan meremas. Tubuhnya menegang. Matanya memerah, air matanya mulai menetes.

Langit semakin gelap, malam semakin sepi. Di sela-sela dengkuran anak-anak kos yang berbaur dengan orkes nyanyian serangga malam, terdengar teriakan desahan bercampur tangisan dari kamar Windu. Desahan yang semakin lama semakin keras dan akhirnya berubah menjadi teriakan memecah malam.

“Bangsaatt!!”

Tubuh telanjang Windu yang bermandikan keringat terbujur di lantai kamarnya. Cairan putih berceceran di sekujur lantai di sekitarnya. Tangannya masih mengenggam batang kemaluan keparat itu. Nafasnya masih memburu, di sela-sela isak tangisnya. Tidak didengarnya ketukan di pintu yang berulang-ulang memanggil namanya dengan nada penuh kekhawatiran. Ia menangis dan terus menangis.

TAMAT

Tags : indo hot, melay boleh, cerita setengah baya, cerita 17tahun, artis bugil, koleksi foto bugil, cewek bugil, cewek cantik, cerita panas, cerita seks, cerita daun muda, tante girang, foto telanjang, gambar memek, video bokep, abg telanjang, cerita berahi, cerita ghairah, cerita dewasa, foto bugil, telanjang, artis telanjang, gambar bersetubuh

16
Oct
09

Foto Bugil – Maria Ozawa II

Preview

.

KLIK Pada Gambar untuk Memperbesar

Foto Bugil – Maria Ozawa II

maria ozawa nude | maria ozawa hardcore | maria ozawa lesbian | lesbian | miyabi | maria ozawa | maria ozawa bugil | telanjang maria ozawa | maria ozawa miyabi | miyabi maria ozawa | maria miyabi ozawa | miyabi ozawa | ozawa | gambar bersetubuh | gambar bugil cewek cantik | gambar bogel | galeri gambar cewek bugil | koleksi gambar bogelmaria ozawa nude | maria ozawa hardcore | maria ozawa lesbian | lesbian | miyabi | maria ozawa | maria ozawa bugil | telanjang maria ozawa | maria ozawa miyabi | miyabi maria ozawa | maria miyabi ozawa | miyabi ozawa | ozawa | gambar bersetubuh | gambar bugil cewek cantik | gambar bogel | galeri gambar cewek bugil | koleksi gambar bogelmaria ozawa nude | maria ozawa hardcore | maria ozawa lesbian | lesbian | miyabi | maria ozawa | maria ozawa bugil | telanjang maria ozawa | maria ozawa miyabi | miyabi maria ozawa | maria miyabi ozawa | miyabi ozawa | ozawa | gambar bersetubuh | gambar bugil cewek cantik | gambar bogel | galeri gambar cewek bugil | koleksi gambar bogelmaria ozawa nude | maria ozawa hardcore | maria ozawa lesbian | lesbian | miyabi | maria ozawa | maria ozawa bugil | telanjang maria ozawa | maria ozawa miyabi | miyabi maria ozawa | maria miyabi ozawa | miyabi ozawa | ozawa | gambar bersetubuh | gambar bugil cewek cantik | gambar bogel | galeri gambar cewek bugil | koleksi gambar bogel

06
Oct
09

Video Sex – Gangbang cewek smu

Preview

.

KLIK Pada Player untuk Memainkan

Video Sex – Gangbang cewek smu
3gp Video Sex Gangbang cewek smu. Cewek smu ini di gangbang oleh 3 orang, namun nampaknya si cewek ini menikmati banget.. nah lo!

3gp gratis
.

Download Video Sex-nya ….KLIK disini




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.